
Di sepanjang perjalanan, Johan hanya melamun melihat tato di telapak tangan kirinya. Sementara teman temannya yang duduk di sampingnya merasa sedikit tidak nyaman dan heran dengan perilaku aneh yang dilakukan oleh Johan. Bahkan Johan pun sama sekali tidak mengedipkan mata di sepanjang perjalanan itu.
“apa kau yakin kalo Johan sudah sehat?” bisik Jehian kepada Farel.
“aku juga gatau, apa mungkin dia kesambet?” bisik Farel kepada Jehian.
“apa kau tau apa yang terjadi kepada Johan?” bisik Nyoman kepada Emilia.
“aku tidak yakin aku sudah mengetahui semua apa yang terjadi kepada Johan. Apalagi dengan apa yang terjadi kepada papahnya” bisik Emilia kepada Nyoman.
Di sepanjang perjalanannya, nyatanya saat itu mobil yang di pakai oleh Johan dan teman teman sangatlah unik. Dimana di kursi belakang, terdapat empat kursi yang saling berhadapan depan dan belakang dan menyisakan dua kursi bagian depan untuk sopir dan satu penumpang lainnya.
Saat itu, Johan sedang duduk bersebelahan dengan Nyoman sementara Emilia duduk di tengah di antara Jehian dan Farel. Nyoman benar benar menjaga jarak duduk dengan Johan karena dirinya benar benar ketakutan jika Johan berubah kepribadian saat itu juga. Pada nyatanya, ketiga teman Johan tersebut terlalu overprotectective kepada diri mereka masing masing karena merasa parn terhadap film yang selalu mereka tonton.
Di tengah tengah perjalanan, untuk yang pertama kalinya Johan pun menggenggam telapak tangan kirinya dan mengangkat kepalanya. Johan melihat Emilia yang saat itu tengah duduk di hadapannya. Melihat itu, ketiga sahabatnya merasa was was karena Johan yang seketika mengangkat kepalanya.
Seketika, Johan pun menatap tajam mata Nyoman dan membuat Nyoman merinding ketakutan setengah mati. Namun, alasan mengapa Johan menatap Nyoman adalah karena Johan merasa aneh dengan Nyoman. Johan merasa kalau Nyoman, sang sahabat yang paling cerewet dan dengan ucapan yang tidak terkontrol itu terdiam selama perjalanan.
Seketika Johan mengeluarkan obat yang berada di kantongnya dan memberikannya kepada Nyoman. Melihat itu, Nyoman benar benar terkejut dan kebingungan dengan apa yang sebenarnya Johan fikirkan.
“apa kau sakit?” tanya Johan.
“enggak, kenapa kau malah menanyakan itu?” tanya balik Nyoman.
“di sepanjang perjalanan, kau diem aja. Padahal kau selalu berisik di sekolah sekalipun saat aku tidur di meja” ucap Johan.
“eh, emm, anu” ucap Nyoman benar benar gugup.
“minum obat ini kalo merasa mual, perjalanan masih sangat panjang. Kampung halamanku bener bener jauh dari sini” ucap Johan.
“ehh, enggak. Aku ngga mual. Aku cuma masih belum terbiasa, hehehehe” ucpa Nyoman dengan tawa palsunya.
“kalo begitu, makan aja roti tawarku ini. Aku tau kalo kau masih belum sarapan. Mungkin kita akan berada didalam mobil untuk waktu yang sangat lama” ucap Johan seraya memberikan roti nya kepada Nyoman.
“ehh, nggak. Aku ngga lape-“ ucap Nyoman terhenti. Seketika perut Nyoman terdengar keroncongan dan membuat Johan semakin yakin kalau Nyoman menyembunyikan rasa laparnya.
Mendengar hal itu, Johan seketika membukakan bungkusan roti miliknya itu dan memberikan roti tersebut kepada Nyoman.
“roti ini udah kubuka, kalo ngga cepet dimakan, nanti roti nya bisa basi dan kotor. Kau harus cepet makan” ucap Johan memberikan rotinya.
“hehehe, i-iya makasih” ucap Nyoman menerima roti Johan.
Seketika Johan pun mengeluarkan tiga roti lagi dari tas kecilnya dan kemudian membukakan semua bungkusannya itu. Seketika ketiga roti tersebut ia bagikan kepada semua temannya termasuk Emilia.
“kalian semua makanlah, aku tau kalian juga terburu buru ikut aku kemari dan masih belum sempat untuk sarapan. Makanlah roti ini” ucap Johan memberikan roti nya.
“i-iya makasih” ucap Emilia, Jehian dan Farel menerima roti pemberian Johan.
Mereka pun memakan roti itu dengan perlahan. Keadaan kembali canggung dimana mereka hanya mendengar suara satu persatu kunyahan dari tulang rahang mereka yang tengah mengunyah roti. Saat itu, Johan hanya menatap mata mereka satu persatu saat mereka sedang menikmati roti pemberian Johan.
“ada apa? Kenapa kau melihati kami seperti itu?” tanya Farel.
“enggak, gapapa. aku cuma nyesel aja” ucap Johan.
“ehh, kenapa?” tanya Jehian.
“aku cuma bawa roti empat, dan aku kasih kepada kalian semua satu persatu. Jadi aku ngga kebagian roti. Padahal aku laper banget” ucap Johan seraya memegangi perutnya yang keroncongan.
“haaaahhh?” teriak mereka semua begitu terkejut.
“kalo kau laper, kenapa malah kasih roti ini kepada kita semua?” tanya Nyoman.
“yahh, enggak. Aku ngarasa sedikit nggak enak kepada kalian karena aku mengajak kalian untuk berziarah tapi aku malah membiarkan kalian kelaperan” jawab Johan.
“hanya itu alesanmu?” tanya Farel.
“emm, aku rasa, sejak aku pingsan dari taman, kalian semua semakin menjauh entah kenapa. Mungkin kalian sudah menemukan teman lain. Bahkan, dari tadi kita ngga ngobrol satupun padahal kita ada di satu mobil dan saling berhadapan. Aku gatau topik apa yang harus di bahas jadi aku kasih roti ini kepada kalian. Tapi malah aku sendiri yang nggak kebagian roti” ucap Johan.
“dasar kepala badut” ucap Jehian menepuk jidat.
“maap maap” sahut Johan.
“dasar kepala badut” ucap Nyoman sedikit tertawa.
“dasar badut bodoh” ucap Emilia tersenyum tawa.
“iya, dia bener bener bodoh” ucap Nyoman tertawa lepas.
Pada akhirnya, mereka pun bisa mengatasi keadaan yang canggung itu didalam mobil. Mereka mulai mengobrol seperti biasa dan mulai menjalani pembicaraan dengan normal. Satu persatu, canda gurau serta tawa mulai mereka bangun di dalam mobil tersebut. Hingga mereka bisa menghibur Johan hingga Johan bisa tertawa.
“padahal aku dan Farel udah bilang kepada Nyoman kalo di sana ada guru BP, tapi dia masih aja keras kepala. Pada akhirnya, Nyoman terkena hukuman Poin di buku kesiswaan” ucap Jehian dengan tawa lepasnya.
“itu karena kalian nggak kasih tau dari awal, aku yang kena hukuman” ucap Nyoman memasang raut muka marah.
“tapi tetep aja kan itu nggak adil, kenapa cuma Nyoman yang harus di hukum” ucap Emilia dengan tawa riangnya.
“hahaha, iya” ucap Johan dengan tawa palsunya.
Saat Johan mengeluarkan tawa palsunya itu, semua orang seketika berfikir dalam otak mereka masing masing bahwasanya mereka menganggap kalau itu memang benar benar tawa palsu. Terutama dari pemikiran Emilia yang memang benar benar peka akan fikiran Johan. Emilia benar benar meyakini kalau tawa yang keluar dari mulut Johan hanyalah sebatas tawa palsu agar Johan menghormati cerita dari teman temannya.
“padahal kamu ngga ingin ketawa, dan juga kamu ngga merasa kalo itu lucu, tapi kenapa kamu maksain buat ketawa?” fikir Emilia dalam hati.
“ketahuan banget kalo dia pura pura ketawa” fikir Jehian.
“dia pasti cuma pura pura ketawa” fikir Farel.
“kenapa dia malah ketawa seperti itu? apa dia cuma pura pura ketawa?” fikir Nyoman dalam hati.
Pada akhirnya, keadaan pun semakin terkendali. Mereka semakin dekat dan pada akhirnya mereka bisa akrab seperti semula. Di salah satu rest area, mereka berhenti hanya sekedar istirahat. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang sejak mereka melakukan perjalanan selama 3 jam.
“aku mau cari makan dulu, apa kalian gamau cari makan?” tanya Johan seraya membuka pintu mobil tersebut.
“nggak ah, kita udah eneg. Kamu cari makan aja di luar sama orang orang itu, kita didalem mobil aja” ucap Emilia.
“yaudah, aku keluar dulu” ucap Johan beranjak keluar mobil dan menutup pintu mobil tersebut.
Johan bersama dengan orang para bawahan papahnya itupun kemudian mencari makan di beberapa tempat makan disana. Disisi lain, Emilia dan teman temannya tidak akan menyian nyiakan kesempatan tersebut. Emilia menceritakan semuanya kepada semua temannya itu mengapa kepribadian Johan yang sebelumnya adalah anak teladan, rajin berolahraga, gemar merawat dirinya menjadi orang yang sama sekali tidak peka dan tidak peduli kepada lingkungan sekitar.
“emm, jadi begitu. Apa perceraian papah dan mamah Johan itu memang benar tiga bulan yang lalu?” tanya Nyoman kepada Emilia.
“iya, aku mendengarnya sendiri dari papah Johan, dan setelah papah Johan telah mengantar kita pulang kemarin malam, beliau pun meninggal karena kecelakaan. Dan sekarang, aku gatau apakah jenazah papah Johan udah di kuburkan atau belum. Tapi, dilihat dari kejadian yang begitu mendadak kemarin malam, mungkin jenazahnya sudah di makamkan” ucap Emilia.
“apa kau tau kenapa papah dan mamah Johan bercerai? Mungkin alasan perceraian mereka benar benar mempengaruhi perubahan karakter Johan” tanya Farel.
“kalau itu, aku masih kurang tau. Tapi yang pasti, aku berani jamin kalau mamah kandung Johan sekarang pindah rumah ke tempat yang jauh hingga Johan tidak bisa bertemu lagi. Karena jika hanya perceraian, Johan bisa saja pulang ke rumah mamah kandungnya itu” ucap Emilia.
“atau jangan jangan, mamah Johan sudah meninggal?” tanya Nyoman.
“heh, jaga omonganmu” sahut Emilia.
“kau benar juga, mamah Johan pasti sekarang sudah pindah rumah. Mungkin keluar negeri” sahut Jehian.
“dia benar, kalau hanya masalah perceraian, Johan bisa saja pulang ke rumah mamah kandungnya itu. Mungkin sang mamah kandung Johan pindah rumah ke tempat yang jauh adalah alasan mengapa saat ini Johan tidak pergi kerumah sang ibunda kandung Johan” ucap Nyoman.
“pokoknya kita semua tidak tau apa yang terjadi dengan Johan. Yang pasti kita semua ingin Johan kembali menjadi semula seperti 3 bulan yang lalu bagaimanapun caranya” ucap Emilia.
“Lia benar, kita merasa kalau kita sudah benar benar jauh dari Johan. Bisa di lihat dari tawa palsu Johan tadi, aku yakin kalian memikirkan tentang tawa palsu Johan saat tadi” ucap Jehian.
“nahh iya benar, aku juga memikirkan kalau Johan saat itu tertawa palsu, padahal tidak ada yang lucu dari jokes itu” ucap Farel.
“yang pasti, kita harus menghibur Johan sampai Johan bisa melupakan kesedihan dan derita mentalnya itu. tidak mudah untuk merubah dan memperbaiki mental seseorang” jelas Emilia.
Sesaat setelah pembicaraan Emilia dan kawan kawan yang cukup lama, pada akhirnya Johan pun kembali masuk kedalam mobil tersebut. Johan pun memasuki mobil dengan keadaan yang kekenyangan serta sedikit mengantuk. Pada akhirnya, Johan memberitahukan rahasia kepada semua kawan kawannya.
“heh temen temen, apa kalian mau tau rahasia?” tanya Johan dengan suara sedikit membisik.
“hah? rahasia? Apaan tuh?” tanya Nyoman, Farel, dan Jehian begitu penasaran.
“kalo begitu, angkat kaki kalian untuk sementara” ucap Johan.
“apaansih, kok malah suruh angkat kaki dulu?” tanya Emilia.
“udah, angkat aja kaki kalian” sahut Johan.
“hmm, i-iya” ucap mereka semua.