
“ehh, aku kelepasan. Hehehe” ucap Greisha seraya tertawa kecil.
“apa yang terjadi? apa kau punya anak?” tanya Johan begitu terkejut.
“kenapa? Apa kau tertarik dengan anakku?” tanya balik Greisha.
“sangat, pasti dia gagah berani, pasti sangat tampan melebihiku” ucap Johan.
“sayangnya semua anak anakku berkelamin perempuan dan tidak ada satupun anakku yang berkelamin laki laki. Mungkin ada beberapa yang berkelamin laki laki, namun aku sangat amat jarang menemuinya” ucap Greisha.
“sayang sekali, padahal seharusnya kau bisa merawat anak laki laki yang tempan. Aku yakin kau pasti sangat menginginkannya” ucap Johan.
“iya, seperti tebakanmu tadi. Aku lebih menyukai lelaki yang masih bersifat kekanak kanakan” Jelas Greisha.
“jadi, apa kau mau menceritakan anak anakmu sebelum kita melanjutkan hal ketiga?” tanya Johan.
“baiklah, aku akan menceritakan anak anakku kepadamu. Dikarekanan semua anak anakku adalah peremuan, barangkali ini akan membantu” ucap Greisha.
“baik” ucap Johan.
“jadi, sebagai dewi alam, aku sama sekali tidak bisa berkembang biak. Anak anak yang kumaksud adalah roh” jelas Greisha.
“hah? Roh?” tanya Johan.
“iya, itu roh. Aku memiliki anak anak yang kubuat sendiri dengan kekuatanku. Aku menciptakan mereka untuk membantuku menjaga alam. Roh tersebut bertugas untuk menjaga setiap unsur dari alam. Seperti halnya roh penjaga danau, roh penjaga gunung, roh penjaga kuil suci, roh penjaga air terjun, roh penjaga pohon, dan lain lain. Semuanya bertugas untuk menjaga tubuh mereka” ucap Greisha.
“apa yang dimaksud tubuh?” tanya Johan.
“pada dasarnya mereka sama sekali tidak bisa dilihat oleh manusia karena mereka hanyalah roh. Seperti apa yang kukatakan sebelumnya, barang penjagaan mereka adalah tubuh mereka sendiri. Jika roh sungai gagal menjaga sungai dan kemudian sungai tersebut tercemari oleh limbah pabrik yang beracun, maka dari itu tubuh fisik roh tersebut juga akan terkena racun. Maka dari itu, antara tubuh dan jiwa dari roh tersebut saling berbalik” jelas Greisha.
“jadi, semua roh itu tidak terlihat?” tanya Johan.
“iya, mereka tidak bisa terlihat oleh manusia kecuali roh tersebut dengan sengaja menampakkan dirinya sendiri kepada orang yang mereka anggap bukanlah ancaman. Karena bisa saja orang asing yang mereka temui akan mencemari atau merusak penjagaan mereka dan merusak tubuh mereka” ucap Greisha.
“kalau begitu, sebagai pencipta dari roh tersebut, apa kau bisa melihat mereka?” tanya Johan.
“aku hanya bisa melihat roh anakku yang sudah mati” jawab Greisha.
“sudah mati? Apakah roh bisa mati?” tanya Johan.
“roh bisa mati jika barang penjagaan mereka sudah rusak dan mati pula. Roh pohon akan mati jika pohon mereka di bakar begitupula dengan yang lainnya” jelas Greisha.
“kalau begitu, jika pohon tersebut dibakar, maka otomatis nyawa dari roh pohon tersebut juga ikut terbakar?” tanya Johan.
“iya, itu benar” jawab Greisha.
“aku sangat faham hal tiu. Tapi apa maksudnya kau hanya bisa melihat roh yang mati?” tanya Johan.
“roh yang mati akan di kembalikan ke rumah mereka yang ada di dunia lain dan tersimpan di satu tempat tertentu yang berada di dalam liontin yang terdapat di barang penjagaan mereka. Seperti halnya anakku penjaga sungai Jamehaya, dia sudah gagal dalam menjaga sungai mereka, maka dari itu mereka akan di kembalikan di dalam satu liontin yang berada di dunia lain dan dalam kondisi liontin tersebut tenggelam di dasar sungai Jamehaya” ucap Greisha.
“Jamehaya? Apa itu?” tanya Johan.
“itu tidak penting, itu hanya nama sungai yang mereka jaga” jawab Greisha.
“jadi untuk sekarang kau tidak bisa melihat roh yang menjaga alam di bumi?” tanya Johan.
“iya, itu benar” jawab Greisha.
“kalau begitu, apa kau sudah menengar berita mengenai desaku?” tanya Johan.
“sudah” jawab Greisha.
“apa kau tau siapa yang membakarnya?” tanya Johan menatap tajam mata Greisha.
“seperti yang kau tau sendiri, memang benar jika papahmu lah yang membakarnya” jawab Greisha.
“jadi benar apa yang dikatakan oleh teman teman papahku itu” ucap Johan.
“jadi, apa kau masih membenci papahmu?” tanya Greisha.
“tidak mungkin aku membencinya. Walaupun dia melakukan pembunuhan sekalipun, dia masih tetap papahku. Disaat aku berada di dalam rahim ibuku, dia banting tulang dan peras keringat hanya demi bisa memberiku nutrisi yang sesuai saat aku berada di dalam rahim ibuku. Setidaknya itu yang kau katakan kepadaku sebelum aku meminta maaf kepada mereka berdua” ucap Johan.
“sepertinya kata kataku sudah kau lakukan dengan sempurna” sahut Greisha seraya tersenyum dengan tulus.
“tapi aku juga bersyukur karena kebakaran itu tidak mengenai pohon kesukaan Odessa” ucap Johan.
“iya, syukurlah” jawab Greisha.
“kalau kebakaran itu sampai mengenai pohon Odessa, dia pasti sangat amat bersedih. Dia pasti akan menangis disana” ucap Johan.
“baik” jawab tegas Johan.
“hal ketiga yang harus kau lakukan agar kau bisa menaklukan hati seorang wanita adalah……” ucap Greisha dengan panjang lebarnya.
Mereka pun mengobrol dengan sangat lama di bawah pohon tersebut tanpa merasa lapar maupun haus sedikitpun. Panjang lebar mereka bercerita, tidak sedikit dari mereka berdua yang menceritakan tentang orang yang mereka suaki ataupun orang yang mereka banggakan. Bagaimanapun juga, mereka sudah benar benar mirip sebagai ibu dan anak.
Disisi lain, di dunia yang nyata. Johan masih belum terbangun. Di hari ketiga, Johan masih belum saja terbangun. Malam hari di hari ketiga, semua orang benar benar cemas akan keadaan Johan. Emilia yang berada di dalam kamarnya berusaha untuk menghubungi sang ibunda yang tengah di rawat di rumah sakit. Namun sayangnya penggunaan ponsel dilarang bagi pasien.
Farel yang berada di dalam kamarnya itu sedang bermain game online bersama dengan Jehian dan Nyoman. Mereka saling terhubung melalui koneksi discord. Mereka bertiga pun mengobrol dengan topik yang sama yaitu keselamatan Johan. Semalaman penuh mereka bermain game, mereka tidak sedikit membahas tentang keselamatan Johan.
Sementara sang ibunda dan paman Surya juga sedang mengobrol di kamar rumah sakit. Sang ibunda benar benar khawatir dan risau akan keselamatan anaknya sementara sang paman Surya berusaha menenangkannya dengan menghangatkan suasana mengarahkan topik pembicaraan mereka ke arah yang lucu.
Disisi lain, di tengah tengah alam yang gelap nan dingin, angin berhembus kencang dan meniup perlahan perairan dari danau yang tengah memantulkan ribuan terangnya cahaya bintang yang menghiasi gelap nan luasnya langit malam. Odessa Ai tengah duduk di bawah pohon dengan dedaunan yang bergoyang tertiup angin.
“kapan Johan kembali kemari?” fikir Odessa dalam hati.
Keesokan harinya, di pagi hari buta, pada jam 4 pagi saat para perawat hendak memeriksa kesehatan rutin Johan, mereka di kejutkan oleh Johan yang tengah duduk menghadap ke samping kanan ranjang dalam keadaan kaki yang menggantung dan akan menyentuh lantai. Johan menundukkan kepala sembari meminum air putih yang berada di botol air mineral.
Dalam keadaan selimut yang berantakan dan sedikit basah sebab terkena tumpahan air mineral tersebut, tatapan mata Johan masih sangat lemas dan tidak berdaya. Johan begitu membungkuk saat duduk di tempat itu. Seketika para peraawat pun berjalan menghampiri Johan dan kemudian menyuruh Johan agar tetap tertidur di kasurnya.
“a-apa nak Johan sudah baikan? Apa nak Johan sudah sudah sadar? Kalau sudah angkat tangan kananmu tinggi tinggi” ucap salah satu perawat disana.
Mendengar hal itu, Johan pun kebingungan dengan apa yang di suruh oleh sang perawat. Namun Johan tidak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang dikatakan oleh perawat. Johan pun mengangkat lengan kanannya yang begitu berat dan berhasil mengangkatnnya namun masih begitu lemas dan dalam kondisi lengan kanan yang tidak tegas seutuhnya.
“baik, sekarang tekuk jari jari nak Johan hingga nak Johan hanya mengangkat satu jari saja” ujar salah seorang perawat.
Maka Johan pun melakukan apa yang di perintahkan oleh sang perawat. Saat itu, Johan sama sekali tidak bisa membedakan satu di antara kelima jari dari telapak tangan kanannya. Maka dari itu, Johan mengangkat jari yang paling mudah untuk di angkat menurutnya. Dengan sedikit kesadaran yang memenuhi fikiran Johan, nyatanya Johan megangkat dengan begitu tegas jari tengahnya.
Melihat itu, seketika para perawat pun sedikit terkejut dan begitu menahan tertawa. Sang perawat tersebut menyuruh Johan untuk menurunkan jari yang tidak sopan itu dan kemudian menyuruh Johan untuk kembali berbaring di tempat tidurnya seperti semula. Pada akhirnya, Johan pun deengan perlahan meletakkan tubuhnya di kasur tersebut seraya menahan lemasnya tubuh.
Johan pun kembali berbaring dengan begitu lemasnya di dampingi oleh beberapa perawat disana. Mereka pun kembali menutup tubuh Johan menggunakan selimut perlahan sembari menyiapkan perlatannya untuk kembali memeriksa tubuh Johan. Tidak lama setelah itu, Johan kembali di periksa keadannya untuk yang terakhirkalinya sebelum dirinya bebas dan diperbolehkan untuk di jenguk oleh sanak famili serta teman temannya.
Para perawat disana berfikir kalau Johan sudah bisa menguasai dan mengendalikan dirinya sendiri. Dilihat dari banayaknya obat yang dikonsumsi, kebanyakan dari obat obatan tersebut adalah obatan yang di gunakan untuk penyembuhan mental seseorang. Singkatnya obat tersebut adalah obat penenang.
“tubuhmu sudah benar benar stabil, tapi fisikmu masih belum baik. Kau masih di larang untuk bergerak lebih” ucap salah seorang perawat kepada Johan.
“baik” jawab Johan.
“kalau begitu, hari ini kita akan mempersilahkan semua orang agar mereka semua bisa menjengukmu. Apa kau keberatan?” tanya sang perawat.
“tidak apa, itu terserah mereka” jawab Johan dengan tegas.
“kalau begitu, kami akan membereskan peralatan kami dan kemudian memanggilkan semua orang diluar sana. Mungkin kita akan mengumpulkan semua orang dalam tiga puluh menit” ucap salah seorang perawat tersebut.
“terimakasih banyak, aku sangat terbantu akan hal itu. Aku benar benar sangat ingin bertemu dengan mereka dan kemudian membicarakan semuanya kepada semua orang” jawab Johan dengan suara serak basahnya.
“kami akan membawa semua teman dan saudaramu dalam 30 menit. Selebihnya kau harus bersabar dahulu” ucap salah seorang perawat disana.
“baik, terimakasih banyak” jawab Johan.
Mereka semua pun seketika kembali dari ruangan Johan dengan membawa semua peralatan medis milik mereka. Pada akhirnya, 30 menit berlalu. Sang ibunda bersama dengan paman Surya sedang berada di depan pintu kamar Johan dengan membawa kursi roda bersama dengan Emilia dan ketiga temannya itu.
“apa kalian juga ingin menjenguk Johan?” tanya sang ibunda.
“iya, tante. Saat perawat menelfonku, aku buru buru buat jemput Jehian, Nyoman dan Farel. Kita semua akan menjenguknya. Apa tante udah jenguk Johan?” tanya Emilia.
“masih belum, ini tante baru aja mau masuk, tapi katanya nunggu sebentar” ucap sang ibunda.
Selama setengah jam mereka menunggu, mereka yang selama ini masih belum terbiasa bangun pagi buta secara tiba tiba syok akan berita mengenai Johan yang telah siuman dan tersadar. Dinginnya pagi hari dan sejuknya udara yang masih belum terkontaminasi polusi udara menyelimuti tubuh segar mereka semua.
“ini dingin banget gilak” ucap Farel sedikit menggigil.
“iya, dingin banget” ucap Jehian pula.
“apa apaan kalian berdua. Seharusnya kalian bersemangat karena ini sangat pagi sekali” ucap paman Surya.
“tapi kita belum terbiasa bangun sepagi ini. ini masih dingin banget” jawab Nyoman.
“tips untuk kalian agar kalian tidak kedingiann saat pagi hari adalah, bakar jantung kalian” ucap paman Surya dengan suara begitu semangat.
“apa paman udah ikutan gila seperti Johan?” tanya Emilia.
“maksud paman, kalian harus membakar semangat dalam tubuh kalian. biarkan jiwa muda kalian merasakan panasnya siksa api neraka dalam tubuh kalian” ucap paman Surya dengan raut wajah luar biasa begitu bersemangat.
“kurasa dia sudah benar benar gila” ucap Nyoman.
Sesaat setelah itu, mereka semua pun di kejutkan dengan kehadiran sang perawat yang keluar dari kamar Johan. Selepas itu, sang perawat pun memperbolehkan mereka semua untuk masuk dan menjenguk Johan disana. Satu persatu dari mereka memasuki kamar Johan seraya menahan suara agar mereka tidak menghasilkan suara yang terlalu berisik.