Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 48, Buku Kuno



“kira kira, berapa jauh desa itu?” tanya sang sopir.


“sekitar 200 sampai 250 kilometer” jawab Johan.


“kalau hanya segitu, aku bisa hanya dalam 2 sampai 3 jam saja” ujar sang sopir dengan begitu percaya diri.


“woh, mantap” ucap Johan begitu terkesima.


Benar saja, nyatanya saat itu, sang sopir benar benar melaju dalam kecepatan 100-130km/jam. Saat itu, Johan benar benar merasa sedang melayang di ambang awan sebab saking cepatnya laju mobil tersebut.


“kalau boleh tau, kau kesana untuk menemui siapa?” tanya sang sopir.


“hanya untuk menemui tetua disana. Kudengar di sana sedang ada penebangan hutan, maka dari itu aku akan menghentikannya” ucap Johan dengan nada begitu serius.


“penebangan hutan? Bukannya disana memang sudah legal?” tanya sang sopir.


“aku juga kurang tau, tapi kalau memang sudah legal, mengapa mereka malah melakukannya saat malam hari?” tanya balik Johan.


“itu ada benarnya juga, tapi bagaimana juga kalau itu memang legal. Kalau penebang tersebut sudah memiliki surat ijin, untuk apa mereka takut. Mereka pun bebas menebangnya saat siang” ujar sang sopir.


Perjalanan mereka diisi dengan pembicaraan klasik, dimana mereka hanya mengobrol tentang hal hal yang berbau sepak bola. Padahal, Johan benar benar tidak tau sama sekali mengenai dunia olahraga karena dirinya hanya berfokus kepada game dan anime saja.


Sembari perjalanan, Johan memakan roti yang telah ia bawa dari rumah dan memakannya hanya untuk mengganjal perut. Semakin dekat mereka menuju ke lokasi, semakin deras pula hujan yang mereka terobos. Jalanan gelap menyelimuti mereka dan hanya sebatas lampu mobil dan lampu jalan yang menerangi sekitar.


Dua jam berlalu, nyatanya Johan benar benar sudah lelah karena duduk tanpa bisa meluruskan kaki. Isi fikiran Johan hanyalah wajah Odessa yang berada di bawah pohon. pada akhirnya, mobil mereka keluar dari gerbang tol terdekat dari desa Engkobappe dan langsung On The Way menuju dusun secepatnya. Mereka pun di sambut dengan jalanan yang di kelilingi oleh kegelapan tanpa adanya satupun lampu taman.


“apa memang disini selalu gelap seperti ini?” tanya Johan sedikit ketakutan.


“memang seperti inilah jalanan poros dari perbatasan dua kota besar. Jalanan yang bahkan umur aspal lebih tua daripada umur kepala bapakkau” jawab sang sopir.


“apa maksud bapak, jalanan ini memang tidak diberi fasilitas layaknya jalanan umum?” tanya Johan.


“kita, para pedagang yang harus selalu re-stock barang selalu menggunakan Engkobappe sebagai jalan pintas. Kami bisa saja menggunakan jalan tol untuk pergi ke kota sebelah, tapi kita lebih memilih jalan pintas yang bahkan jauh lebih cepat dari jalan tol itu sendiri. Bagaimanapun juga, Engkobappe adalah satu daerah yang bisa di katakan menjadi rest area bagi para pedagang seperti kami. Itulah alasan mengapa perjalanan kita sekarang ini terasa jauh lebih cepat, itu karena kita memang memiliki rute tersendiri” ucap sang sopir.


“bagi kami, Engkobappe adalah tempat dimana hanya dalam satu desa yang berdiri sendiri, dengan satu pemerintahan yang unik. Merkea memanggil ketua desa mereka dengan ucapan Ketua, Wakil, Bendahara dan Sekertaris. Berbeda dengan di desa lainnya yang bahkan mereka memanggil kedudukan tertinggi disana dengan panggilan Pak Kades” ucap sang sopir.


“ehh? Bagaimana bapak bisa tau akan sistem pemerintahan disana?” tanya Johan.


“bukan hanya aku, tapi semua pedagang sangat senang jika membahas desa Engkobappe. Mereka menganggap bahwa desa ini adalah desa yang sangat amat patut untuk di lindungi. Maka dari itu, saat semua pedagang mendengar tentang kebakaran hutan yang berada di Engkobappe, kita benar benar sangat geram kepada pelaku pembakaran hutan itu. orang orang di desa itulah yang selalu memberi kami tempat untuk berteduh dan istirahat. Benar benar desa yang unik” jelas sang sopir.


“kurasa itu ada benarnya juga. sebenarnya, aku sudah pernah ke engkobappe sebelumnya, tapi di perjalananku sebelumnya, perjalanan sangat amat lama. Bahkan kita hampir berada di dalam mobil kurang lebih 8 jam” ujar Johan.


“itu karena kau menggunakan jalan tol untuk menuju ke kota terlebih dahulu kemudian menuju ke desa. Sekarang ini, aku menggunakan jalur luar tol yang memang medannya sedikit berbahaya karena jalanan yang begitu gelap dan licin. Tapi dengan ini, kita bisa sampai ke desa dengan sangat amat cepat” jawab sang sopir itu.


Sesampainya di desa Engkobappe, nyatanya mereka di sambut oleh sebuah gapura kecil. Beberapa rumah di pinggir jalan bersama dengan beberapa pohon yang mengelilingi rumah tersebut benar benar menjadikan bahwasanya Engkobappe adalah desa di tengah hutan.


“jadi, katanya kau tau dimana letak para pengungsi dan letak kantor desa ini” ucap sang sopir.


“emm, kebetulan sekali. Para pengungsi desa ini mengungsi di gedung kantor desa. Bisa dibilang, mungkin mereka tidak memiliki gedung yang lebih besar daripada itu” ucap Johan.


“kau benar juga, bagaimanapun juga, rumah rumah di desa ini masih menggunakan balok kayu. Dan juga rumah mereka di kelilingi oleh pepohonan. Akan sangat mudah terbakar di dalam situasi dan kondisi seperti ini” ucap sang sopir.


“hahaha iya, rumah mereka mirip seperti rumah milik Upin & Ipin” ucap Johan.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke gedung tempat pengungsi desa tersebut berada bersama dengan panduan arah dari Johan. Sesampainya mereka di depan gedung, nyatanya saat itu, suara hujan begitu berisik sebab saat itu, gedung tersebut dikelilingi oleh seng di teras kantor desa tersebut.


“benar benar luar biasa deras” ucap sang sopir.


“ternyata Greisha benar, walau mereka menggunakan jas hujan, gergaji mesin mereka akan kemasukan air. Walau mereka menggunakan payung, pastinya akan membutuhkan dua orang dalam menebang, satu sebagai menebang pohon menggunakan gergaji mesin dan satu lagi yang memegangi payung untuk orang yang menebang pohon. Greisha sudah benar benar mengulur sangat banyak waktu, sekarang giliranku untuk bertugas menyampaikan perbuatan mereka kepada para petinggi desa” fikir Johan dalam hati.


“para pengungsi ada disini, aku akan meminta beberapa bantuan dari dalam agar mereka bisa membantumu agar mereka bisa mengangkut bahan pangan dari pick up mu ini” ucap Johan.


“baik, terimakasih banyak” ucap sang sopir.


Saat itu pula, Johan pun berjalan memasuki gedung dengan mengetuk pintu tersebut beberapa kali. Hingga sampai ketiga kalinya, barulah ada seseorang yang membukakan pintu tersebut dari dalam.


“i-iya” ucap seorang lelaki yang membukakan pintu dari dalam.


“ma-maaf, saya Johan, Mahesa Johan” ucap Johan.


“heh? Johan? Kau siapa?” tanya lelaki tersebut.


“pokoknya, apa saya bisa menemui ketua?” tanya Johan.


“kau siapa? Kenapa kau ingin bertemu dengan ketua? Memangnya ada urusan apa kau dengannya?” tanya lelaki itu.


“pokoknya, ini sangat penting” tegas Johan.


“Mahesa Johan” jawab Johan.


“baiklah, aku akan memberitahukannya” ucap lelaki itu berjalan memasuki ruangan dalam.


Setelah beberapa menit menunggu, pada akhirnya sang tetua pun berjalan keluar dengan membawa dua cangkir kopi di kedua tangannya. Sang tetua pun kemudian menghampiri Johan yang tengah berdiri di depan pintu.


“ehh, nak Johan. Sudah lama tidak kemari. Bagaimana kondisimu?” tanya sang tetua.


“saya baik baik saja, pak ketua” ucap Johan dengan begitu tegas.


“kalau begitu, ayo masuk kedalam. Ngomong ngomong, apa kau tidak membawa teman temanmu lagi untuk menginap disini?” tanya sang ketua.


“tidak, saya pergi sendiri tanpa teman teman saya. Tapi saya berangkat bersama seorang lelaki di luar sana yang sedang membawa pick up berisi makanan untuk para pengungsi” tegas Johan.


“woaahh, itu sangat bagus. Kalau begitu, bawa orang itu kemari” ucap sang ketua.


“baik” jawab Johan.


Johan pun berjalan menuju pak sopir yang berada di dalam mobil pick up. Johan menyuruh pak sopir untuk mendatangi pak ketua terlebih dahulu sebelum mengangkut isi dari mobil pick up tersebut. Setelah itu, mereka berdua pun segera mendatangi pak ketua yang berada di pintu depan.


“jadi, apa yang kau bawa?” tanya sang ketua.


“saya hanyalah pedagang sekaligus kurir pengantar barang dari satu perusahaan besar di kota. Atas nama perusahaan, kita memberikan beberapa bungkusan roti gandum serta susu sapi berperisa. Anda bisa menandatanganinya di selmbaran tersebut sebagai tanda terima dari selaku tetua desa ini” ucap lelaki tersebut dengan begitu tegas.


“aku baru tau kalau dia pandai dalam bertata ucap” fikir Johan dalam hati seraya menatap ke arah pak sopir.


“saya selaku tetua desa ini sangat amat mengucapkan beribu terimakasih atas bantuan ini” jawab sang tetua.


“kalau begitu, anda berkewajiban menandatangani surat penerimaan dari suatu perusahaan secara sah atas penerimaan bantuan dari kita” tegas sang sopir tersebut seraya memberikan sebuah kertas dan pulpen.


“baik” ucap sang.


“tolong bawa sebentar” ucap sang tetua memberikan kedua kopi tersebut kepada Johan.


“ehh, ba-baik” jawab Johan menerima kedua cangkir tersebut.


Sang tetua pun menerima kertas tersebut dan kemudian menandatangani surat tersebut. Sesaat setelah itu, para tetua pun seketika menyuruh para bapak bapak disana untuk membantu mengambil semua bahan pangan yang berada di dalam pick up.


“jika anda masih memiliki urusan lain disini, saya bisa menyediakan penginapan di gedung ini’ ucap sang tetua kepada sang sopir tersebut.


“tidak perlu, pak. Saya bisa tidur di dalam pick up saya sendiri. Saya sudah terbiasa tidur disana. Terimakasih atas tawarannya, hehehe” jawab sang sopir dengan tawanya.


“anggap saja ini adalah ucapan rasa terimakashku kepada anda yang telah jauh jauh mengantarkan bahn pangan ini ke desa kami. Anda akan kami sambut dengan hangat” ucap sang tetua seraya memegang pundak kanan sang sopir.


“terimakasih banyak, saya begitu tersanjung telah di sambut disini. Tapi saya merasa tidak enak hati kepada para pengungsi jika saya yang hanya seorang pendatang dari luar daerah menginap di kamar yang nyaman sementara para pengungsi hanya beralaskan tikar saat tidur ” jawab tegas sang sopir.


“tapi sebelum itu, kurasa Johan memiliki permintaan untuk berbicara empat mata dengan anda” tegas sopir tersebut.


“apa itu benar? Nak Johan?” tanya sang tetua.


“itu benar, pak ketua. Saya ingin berbicara kepada anda, pak wakil, pak bendahara dan pak sekertaris desa ini. Inilah alasanku pergi kemari seorang diri” ucap Johan dengan tegas.


“memangnya ada apa? Apa ini begitu penting?” tanya sang ketua sedikit terkejut.


“kalau tidak se genting ini, saya tidak akan pergi selarut malam seperti ini” tegas Johan.


“silahkan masuk ke ruang rapat, aku akan memanggilkan wakil, bendahara dan sekertiris yang sedang tertidur di kamar mereka” jawab sang tetua.


“baik, terimakasih banyak” jawab Johan.


“untuk sementara, saat aku di dalam, anda bisa mengangkut barang barang di dalam pick up itu. Sebentar lagi, aku pasti akan kembali” ucap Johan.


“jangan khawatir dan lakukan tugasmu sendiri. Biar aku yang melakukan tugasku sendiri” jawab sang sopir tersebut.


“terimakasih banyak” ucap Johan.


Saat itu juga, Johan pun berjalan menuju kedalam hendak pergi ke ruangan rapat dimana ruangan tersebut sama seperti ruangan yang dahulu pernah Johan masuki. Ruangan yang berisikan meja bundar dan beberapa kursi itupun sangat Johan inginkan untuk membahan mengenai penebangan hutan disini. Johan memasuki ruangan tersebut dan duduk di salah satu kursi disana sembari menunggu sang ketua memanggilklan sang wakil, bendahara dan sekertaris di desa tersebut.


“aku benar benar seperti raja di desa ini. bahkan ketua di desa inipun seperti menuruti perintahku. Kakek benar benar hebat, dia bisa memberi namaku hingga bisa seperti ini. Aku jadi merasa terlalu tidak sopan kepada ketua karena aku telah menganggu waktu malam ketua. Tidak hanya ketua, melainkan untuk semua tetua disini” fikir Johan dalam hati.


5 menit berlalu, nyatanya para tetua itu tak kunjung datang kesana. Maka dari itu, muncullah jiwa jiwa rasa penasaran serta usil dari Johan. Ia pun berdiri dari kursinya dan kemudian berjalan mengelilingi dan melihat lihat interior di dalam ruangan tersebut. Hanya ada beberapa rak buku yang sudah sangat amat tua dan lampu jawa yang kuno.


Ditambah lagi dengan hiasan layaknya wayang yang di pajang di dinding ruanagn menambah kesan begitu kental adat istiadat yang masih di pegang sampai sekarang. Di satu rak buku, Johan tertarik pada satu buku yang begitu tua dan kuno. Buku dengan warna kertas yang tidak lagi coklat melainkan begitu kuning serta berdemu dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap alias apek.


“waahh, buku apa ini? serem banget. Ini buku apa? Dan kenapa para tetua memiliki buku se angker ini?” fikir Johan seraya mengambil buku kuno tersebut.