
“dan sekarang, adalah berita bagaimana bisa mamahmu itu masuk kerumah sakit bersamaku. Jadi, kemarin malam, adalah malam dimana saya sudah menyuruh teman teman saya untuk mengirimkan jenazah papah kamu di desa Engkobappe. Maka dari itu, saat teman temanku mengirim jenazah tersebut, aku dan semua temanku dari pihak kepolisian akan memberikan surat pemberitahuan kepada sang istri dari korban kecelakaan itu. Disaat kita sudah berada di dalam rumah, kita menunggu kehadiran dari sang istri korban. Setelah sang istri korban datang, kita memberikan berita duka tersebut kepadanya. Saat itu kita bisa faham kalau kesehatan sang istri sedang terganggu, bahkan saat itu dirinya dalam keadaan muka yang benar benar pucat. Kita pun membawa sang istri untuk melihat pemakaman sang suami di desa Engkobappe. Namun, di tengah tengah perjalanan, saya sebagai sopir mobil polisi tersebut benar benar terkejut akan adanya seekor rusa liar yang tiba tiba saja menyebrang jalan. Melihat itu, aku seketika membanting setir dan pada akhrinya mobil kita menabrak pohon yang besar. Saat itu, sang ibunda pun selamat dengan sangat aman karena sang ibunda terjatuh di tempat yang tidak terkena benturan keras. Namun aku dan teman teman polisiku mengalami luka yang benar benar parah. Ketiga temanku benar benar tidak berdaya dan melemas di dalam mobil tersebut sementara aku yang hanya bisa bergerak bebas. Aku pun memutuskan untuk menyelamatkan mamahmu terlebih dahulu dan kemudian menyelamatkan teman temanku. Namun, setelah aku menyelamatkan mamahmu itu, aku pun berniat untuk menyelamatkan teman temanku. Sayangnya, mungkin karena kebocoran bahan bakar dan terkena mesin yang panas, mobil tersebut meledak dan terbakar di sana. Pada akhirnya, aku sebagai senior dari ketiga teman yang masih junior itu benar benar merasa bersalah sampai sekarang. Akupun tidak tau pasti apakan ketiga teman junior ku itu masih bisa di selamatkan atau tidak, yang pasti aku berdoa agar teman temanku itu masih hidup. Kalau tidak, aku akan mengutuk kehidupanku sendiri karena merasa bersalah” jelas sang paman surya dengan menundukkan kepalanya di sepanjang ceritanya.
Mendengar hal itu, sang Emilia pun berjalan mendekati sang paman Surya dan kemudian memegang telapak tangan sang paman Surya seraya mengelusnya perlahan. Emilia mengelus telapak tangan dari paman Surya yang bergetar begitu kencang itu. Melihat itu, sang paman Surya pun melihat tangan putih halus dengan jari panjang tersebut dengan penuh kedamaian hati. Sang paman Surya mengangkat kepalanya dan kemudian menatap mata Emilia dengan bercak air mata.
Namun, dengan menundukkan kepalanya serta meneteskan air matanya, Johan membentak Emilia di tempat itu pula. Bentak Johan begitu mengagetkan Emilia dan paman Surya di tempat itu.
“jangan sentuh dia!” bentak Johan.
“paman Surya tidak bersalah” jawab Emilia.
“dia bersalah dan sangat bersalah. Dia ceroboh dan sangat ceroboh. Dia polisi yang tidak tau cara mengendarai mobil dengan benar” bentak Johan dengan luapan emosi yang begitu besar.
Faktanya, saat itu Johan benar benar tidak bisa mengendalikan emosi serta kesedihan hati. Bagaikan kesedihan hati perlu di lampiaskan dengan emosi, sampai sampai Johan tidak bisa membedakan keduanya. Pada akhirnya, Johan pun benar benar tenggelam dalam kesedihan hati sebab kepergian sang papah namun dirinya pun masih menganggap paman Surya sebagai orang yang benar benar tidak becus dalam menjaga nyawa seseorang.
“tangan kotor dan hina seperti mu tidak akan layak disentuh oleh siapapun!” teriak Johan.
“ma-maafkan aku, aku memang sudah keterlaluan. Aku memang perlu di hukum” ucap sang paman Surya.
Sang paman Surya benar benar diluputi oleh perasan bersalah dan ketakutan. Dirinya tenggelam dalam kutukan yang dia buat sendiri untuk menghukum dirinya sendiri karena sama sekali tidak becus dalam menjaga orang lain.
“aku memang perlu di hukum karena membiarkan teman temanku mati di dalam mobil. Jika saja kemarin malam temanku yang menyetir mobil, semua ini tidak akan terjadi” ucap sang paman Surya.
“iya, kau memang benar benar orang yang bodoh, tidak becus, tidak bertanggung jawab, tidak pengertian, tidak mengerti perasaan orang lain. Kau memang harus di hukum” teriak Johan benar benar murka.
“ma-maafkan aku, aku benar benar menyesal. Aku sangat menyesal. Aku benar benar merasa bersalah” teriak sang paman Surya.
Namun, sesaat setelah itu, secara bersamaan, Emilia menampar keras pipi Johan sementara sang ibunda menampar keras pipi sang paman Surya. Mereka menampar keras secara bersamaan untuk menyelamatkan kesadaran dari orang yang di tamparnya itu agar tidak tenggelam dan terhanyut kedalam emosi sesaat diantara perasaan marah dan bersalah.
“sadarlah kamu” teriak Emilia dan ibunda kepada Johan dan paman Surya.
Seketika Johan dan paman surya pun terhenti dan kemudian menenangkan dirinya sendiri. Johan pun seketika meneteskan air mata bersama dengan sang paman Johan yang meneteskan air mata pula. Seketika secara bersamaan pula, Emilia memeluk erat tubuh Johan bersama dengan sang ibunda yang memeluk tubuh paman Surya dengan erat pula.
“kau tidak bersalah, sekali lagi aku katakan dengan jelas, kau tidak bersalah. Itu hanya murni seratus persen kecelakaan. Jangan membuatmu lemah karena menyalahkan dirimu sendiri” ucap sang ibunda dalam pelukannya itu.
“ada apa denganmu, dia tidak bersalah. Kendalikan emosimu itu dasar bodoh. Kita seharusnya berterimakasih kepadanya karena telah membantu papah dalam pengevakuasian jenazah milik papah kamu. Dan juga kau harus berterimakasih atas jasanya dalam menyelamatkan nyawa mamah kamu. Kalau tidak ada paman Surya, mungkin mamah kamu juga akan ikut meninggal disana” ucap Emilia dalam pelukan eratnya itu.
“akhirnya mamah tau alasan mengapa aku menyembunyikan kematian kakek, karena aku juga tidak ingin mamah dan papah merasa sedih. aku yakin, pasti mamah berusaha untuk menyembunyikan kematian papah karena tidak ingin Johan sedih. Apa benar itu mah?” tanya Johan seraya menundukkan kepala dan dengan tatapan mata yang sayu ke arah lantai.
“iya, mamah melakukan itu sama sepertimu. Jujur saja, menyembunyikannya adalah tindakan yang menurut mamah tepat saat itu” jawab sang ibunda.
“pada akhirnya, kita melakukan hal yang sama. tapi kita memiliki perbedaan. Bedanya mamah dan aku adalah, jika mamah lebih ingin menunda untuk memberitahukannya, kalau aku lebih memilih untuk menyembunyikannya dan melupakannya” ucap Johan.
“mamah tidak bisa menunda lebih lama lagi, mamah minta maaf” ucap sang ibunda.
“kenapa malah mamah yang minta maaf? Mamah nggak salah. Kita semua ngga salah. Aku minta maaf kepada paman Surya karena aku sudah mengecam dengan kata kata yang kurang enak di hati” ucap Johan menganggukkan kepalanya.
“iya, aku juga minta maaf. Bagaimanapun juga, pagi buta tadi adalah hari pemakaman untuk papah kamu. Dikarenakan mamah kamu sedang dalam rehabilitaasi dan penenagan jiwa, mamah kamu masih tidak di ijinkan untuk mendatangi pemakaman di kampung halamannya yang berada di Engkobappe” ucap paman Surya.
“jadi hari ini adalah hari pemakamannya? Apa kau boleh mendatanginya?” tanya Johan.
“iya, sebagai salah satu dari sanak famili keluarganya, kamu harus datang kepemakaman papah kamu. Mungkin pemakaman akan selesai di jam 10 pagi ini” ucap paman Surya.
“kalau begitu, setelah ini kau akan di jemput oleh beberapa orang untuk mengajakmu pergi ke desa Engkobappe untuk melihat pemakaman papah kamu. Sebaiknya kamu bersiap dari sekarang. Tapi jangan lupa setelah itu, kau harus segera kembali ke rumah sakit. Bagaimanapun juga, di desa itu telah terjadi kebarakan hutan yang benar benar dahsyat, jadi masih banyak sekali debu dan sisa sisa pembakaran disana. Maka dari itu, kau harus segera kembali ke rumah sakit” jelas paman Surya.
“ka-kalau begitu, sebaiknya aku pamit pulan-“ ucap Emilia terhenti.
“tunggu dulu nak Emilia” sahut sang ibunda memotong perkataan Emilia.
“ada apa tante?” tanya Emilia.
“tante minta tolong sama kamu agar kamu ikut sama Johan kesana. Dan juga ajak teman teman kamu yang kemarin malam itu untuk pergi bersama dengan Johan” ucap sang ibunda.
“ehh? Maksud tante, Nyoman, Farel dan Jehian?” tanya Emilia begitu terkejut.
“iya, ajak mereka bertiga kesana. Tante bener bener merasa nggaenak kalo Johan sendiri yang berangkat” ucap sang ibunda.
‘ba-baik tante, kita berempat bakal jaga dan ikut sama Johan” ucap Emilia.
Saat itu pula Johan pun seketika mendapatkan ijin untuk pulang sementara ke rumah hanya untuk bersiap. Dalam keadaan tubuh yang masih lemas, Johan di pulangkan kerumahnya begitu pula dengan Emilia.