
“kupas bawang dan siapkan air. Kemudian di dalam wadah bawang goreng, disana terdapat beberapa jenis bawnag goreng dan kacang tanah. Kamu coba makan satu persatu itu dan simpulkan dari ketiga wadah tersebut, mana yang paling cocok untuk sup nanti” ucap Johan memerintah Emilia.
Saat itu, Johan hanya duduk santai di depan meja sembari melihat Emilia yang tengah memasak dari perintah dan instruksi dari Johan.
Semua yang di perintahkan Johan dengan sempurna dilaksanakan oleh Emilia. Hal itu membuat Johan begitu terkejut akan kemampuan memasak Emilia. Pada dasarnya, Johan bisa memasak karena dirinya selalu ikut memasak bersama dengan neneknya di desa dahulu. Dan semenjak itu pula Johan bisa mengingat kenangannya saat memasak bersama dengan sang nenek.
“aku benar benar rindu dengan masakan nenek. Aku jadi ingat kalau aku, kakek dan nenek pernah menangkap ikan bersama di danau dan kita bertiga memasaknya bersama” fikir Johan dalam hati.
Secara tiba tiba, saat Johan sedang melamun tentang ingatannya mengenai masakan sang nenek, Johan mendengar suara Emilia yang sedikit kesakitan. Mendengar hal itu, Johan spontan tersadar dan kemudian melihat kondisi Emilia.
Dia begitu terkejut saat Johan mendapati Emilia secara tidak sengaja menggores jarinya sendiri dengan pisau dapur. Dikarenakan pisau tersebut baru saja digunakan untuk memotong bawang, maka dari itu serat dan minyak yang ada di dalam bawang masih menempel di pisau tersebut. Hal itu memuat luka Emilia begitu perih sebab minyak dari bawang tersebut langsung tersentuh dengan luka di jari Emilia itu.
“a-apa yang kau lakukan? Jangan melamun kalau sedang memasak” sahut Johan seketika menghampiri Emilia di meja masak tersebut.
“ma-maaf, aku hanya sedikit-“ ucap Emilia.
“berikan padaku” sahut Johan seraya menyahut pisau dari tangan Emilia.
Johan pun seketika mencuci pisau tersebut menggunakan air mengalir dari wastafel dapur dan kemudian meletakannya di wadah pisau. Selepas itu, dengan begitu sergap, Johan memegang tangan kanan Emilia dan melihat luka di jari telunjuk Emilia. Johan seketika memasukkan jari telunjuk Emilia kedalam mulutnya untuk menjilati luka Emilia.
“a-apa yang kau lakukan?” tanya Emilia begitu terkejut.
“air liur adalah antibakteri paling ampuh dalam luka” jawab Johan.
“iya aku tau, tapi kenapa kau yang malah menjilatnya? Aku bisa sendiri tau!” sahut Emilia.
“kamu habis makan kacang dan bawang goreng, Takutnya nanti luka mu malah ebih terinfeksi dan makin perih. Lebih baik kamu duduk di tempatku tadi dan lihat aku masak” tegas Johan seraya menutup luka Emilia menggunakan plester.
“ba-baik, makasih banyak” jelas Emilia tersipu malu.
Saat itu pula Emilia pun duduk di kursi Johan tadi dan melihat Johan yang tengah memasak. Dengan begitu lihai, Johan memotong beberapa siung bawang putih, bawang merah, bawang bombay, cabe, dan lain lain. Semuanya dilakukan dengan begitu cepat dan sempurna tanpa ada kecelakaan sedikitpun.
Hal itu membuat Emilia begitu terpukau dengan skill memasak Johan yang begitu ahli.
“dikarenakan kita masih belum mengetahui bahan bahannya, maka dari itu kita harus menyiapkan kuah kaldunya terlebih dahulu dan kemudian memasukkan bahan bahannya nanti” ucap Johan seraya memasukkan santan ke dalam panci.
“i-iya” jawab Emilia.
“tuangkan santan di dalam panci dan kemudian masukkan bumbu yang sudah di haluskan di dalam blender tadi kedalam santan tersebut. Jangan lupa gunakan api yang super duper kecil agar kuahnya tidak begitu menguap. Yang penting kuahnya dan bumbu bumbu tersebut sedikit tercampur. Sekarang kita hanya menunggu bahan bahannya untuk di masukkan kedalam kuah ini” ucap Johan.
“darimana kau bisa memasak dengan begitu ahli seperti ini?” tanya Emilia.
“emm, aku tidak sekolah memasak. Aku hanya di ajari oleh nenek dan kakekku di desa. Aku seringkali ikut masak bersama dengan mereka berdua di sebuah tungku api yang masih menggunakan kayu bakar” ucap Johan seraya melepas celemek nya dan menggantungnya di tempatnya berada.
“kalau begitu, apa ini adalah resep nenekmu?” tanya Emilia.
“iya, biasanya ini digunakan untuk ikan air tawar. Tapi menurutku, aku akan mengurangi kadar kental dari kuah agar lebih cocok untuk jamur dan tahu yang memiliki stuktur yang lebih lembut. Ini adalah resep yang ku ubah sendiri dimana sebelumnya ini digunakan dalam membuat sup ikan air tawar yang begitu amis jika dimasak bersamaan dengan sayuran” ucap Johan seraya duduk di samping Emilia.
“jadi bisa dibilang ini adalah resep ciptaanmu sendiri?” tanya Emilia.
“pasti masakan mamahmu juga enak seperti masakan nenekmu dan kakekmu itu kan?” tanya Emilia.
“maaf, aku tidak ingin membahasnya sekarang. Hehehe” ucap Johan dengan tersenyum paksa kepada Emilia.
“ma-maaf, aku minta maaf” teriak Emilia dengan begitu bersalah menundukkan kepalanya.
“kenapa kamu malah harus minta maaf? Kan harusnya aku yang minta maaf. Dasar kepala udang” ucap Johan seraya meengetuk kepala Emilia yang tengah menunduk itu.
“aww, sakit” saut Emilia seketika saat kepalanya diketuk.
“tapi apa kamu pernah makan masakan mamah kamu?” tanya Emilia.
“pernah” jawab Johan.
“bagaimana rasanya?” tanya Emilia dengan begitu penasaran.
“benar benar enak, aku pun bener bener heran bagaimana bisa se enak itu. seperti menggunakan mejig” ucap Johan.
“kalau di bandingkan, lebih enak masakanmu, masakan nenekmu, atau masakan mamahmu?” tanya Emilia.
“menurutku ketiganya enak, tapi aku paling suka dengan masakan mamah kandungku sendiri. Bukan mamahku yang sekarang, namun mendiang mamah kandungku. Pernah suatu ketika aku pernah terjatuh dari sepeda dan lututku berdarah. Akupun menangis disana dan kemudian mamah kandungku menggendongku dan menyemangatiku agar aku tidak menyerah dalam belajar membawa sepeda kayuh. Sebelum aku berlatih untuk menaiki sepeda kayuhku lagi, dia membuatkan sayur sop biasa yang bahkan isinya hanyalah sayuran wortel, kentang, dan sosis. Tapi aku benar benar tidak habis fikir kenapa masakan mamahku itu benar benar sangat enak. Hangatnya masakan mamahku masih teringat jelas dan begitu nyaman. Entah kenapa, tapi aku rasa aku selamanya tidak akan pernah bisa menyamai masakan milik mamah kandungku” ucap Johan dengan senyum tulusnya.
“mungkin aku tidak akan bisa memasak makanan se hebat mamah kandungmu itu” ucap Emilia.
“itu tidak benar, tanganmu juga mirip dengan mamahku saat tangan mamahku tersayat pisau saat masak. Akupun melakukan hal yang sama seperti yang tadi. Saat mamahmu sedang memotong sayuran, secara tidak sengaja mamahku menggores jarinya sendiri. Akupun seketika menyahut jari mamahku dan kemudian menjilat luka dari jari mamahku itu. Maka dari itu, saat jarimu tergores, aku seketika melihat sosok mamahku di dalam tubuhmu. Aku melakukan hal yang sama dengan memasakkan masakan untuk mamahku dan membiarkan mamahku melihatku memasak. Menurutku, kamu mengingatkanku kepada mamah kandungku yang sudah meninggal 3 bulan lalu. Dan itu membuatku sedikit senang walau juga sesak di dada” ucap Johan.
“itu tidak salah” ucap Emilia.
“hmm, aku hanya merasa rindu dengan lengkapnya keluargaku sebelumnya. Dimana aku bisa makan di satu meja makan bersama dengan mamah kandungku, papah kandungku, nenek kandungku dan kakek kandungku. Benar benar sangat asyik dimana sebentar lagi aku berulangtahun dan aku berharap di ulang tahunku yang ini aku bisa makan bersama dengan mereka” ucap Johan seraya mengusap matanya.
“aku juga berharap kau bisa begitu” ucap Emilia.
“ma-maaf, aku harus ke kamar mandi sebentar” ucap Johan berjalan dengan mengusap matanya.
Melihat hal itu, Emilia benar benar peka terhadap situasi. Emilia melihat jika Johan telah meneteskan air mata disaat menceritakan semua itu. Johan pergi ke kamar mandi hanya untuk menyembunyikan wajah sedihnya.
“aku benar benar tidak tau bagaimana perasaanmu sekarang ini. Aku memiliki keluarga lengkap dengan nenek, kakek, papah dan mamah serta adik di dalam satu rumah yang sama. Maka dari itu, aku benar benar tidak tau bagaimana rasanya hidup di tengah tengah keluarga yang bahkan semua pilar dari keluarga itu sudah menghilang” fikir Emilia dalam hati seraya menatap jelas punggung Johan yang tengah berjalan ke arah kamar mandi.
Sesaat setelah itu, Emilia pun mendapati jika semua teman temannya sudah kembali kerumah dengan membawa sekantong kresek berisi jamur, tahu susu, telur, serta sayur sawi.
“kami pulang” teriak Jehian seraya berjalan memasuki rumah.
“kita pulang” teriak Nyoman, Kahfi, dan Farel bersamaan.
“cepat bawa bahannya kesini” ucap Emilia sedikit berteriak dari dapur.
“siap” ucap Jehian dari ruang tamu.