
Mereka berbincang bincang hingga mereka tidak sadar waktu. Dikarenakan mereka sudah terlalu banyak mengobrol, mereka tidak sadar jika saat itu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Mereka mulai menguap karena mengantuk dalam keadaan begitu kenyang.
“kok aku ngantuk banget ya” ucap Emilia.
“kalo ngantuk, kamu boleh tidur di kasurku. Aku udah ganti dengan spray dan selimut baru kok. Yang tadi bekas darah, itu sudah aku taruh di keranjang pakaian kotor” ucap Johan.
“waah, enaknya. Kita semua juga ngantuk nih” ucap Nyoman.
“cuma Lia yang perempuan disini, dan kita semua para lelaki harus ngalah sama yang perempuan. Lagipula, apa kalian tidak pulang saja? apa kalian mau menginap di rumahku?” tanya Johan.
“iya, ktia mau menginap” ucap mereka semua terkecuali Kahfi.
“heh? Kalian mau menginap? Apa kalian udah gila? Kalian benar benar merepotkan tuan rumah” ucap Kahfi.
“iya, kita akan merepotkan Johan. Bolehkan, Johan?” tanya Nyoman.
“ngga boleh” jawab singkat johan.
“kau ini seperti papahmu. Terakhirkali kita semua ingin menginap di sini, papahmu benar benar menarik bajuku untuk keluar rumah dan mengusirku. Dan sebaliknya aku benar benar susah untuk di atur dan aku memaksa untuk tidur disini. Pada akhirnya, papahmu itu mengalah dan mengijinkanku untuk menginap disini” ucap Jehian.
“saat itu, Jehian dan aku benar benar keras kepala dan ingin sekali menginap di rumah ini” ucap Farel.
“padahal papahku udah bilang kalo kalian bakal di cari sama orang tua kalian, tapi kalian semua masih bersih keras buat nginap disini” ucap Johan.
“kenapa kalian bener bener pengen buat nginap disini?” tanya Kahfi.
“saat itu mau pergantian tahun tanggal 31 desember. Maka dari itu kita bener bener pengen buat nginap bareng” ucap Nyoman.
“bener bener keras kepala” ucap Kahfi.
“untungnya saat itu aku masih belum mengenal kalian semua, jadi aku masih belum tau kegilaan perilaku kalian berempat” ucap Emilia.
“sebaiknya kau jangan ikutan buat menginap disini, atau kau akan tertular virus gila mereka semua” ucap Kahfi kepada kakaknya Emilia.
“tenang saja” ucap Emilia.
“syukurlah, kau tidak akan ikut bersama dengan mereka” ucap Kahfi menghela nafas.
“tenang saja, aku sudah tertular virus gila milik mereka dari awal” ucap Emilia sedikit tertawa.
“ehhh?” ucap Kahfi dengan nafas yang menyumbat.
“kalau begitu, kapan kita akan pergi ke desa?” tanya Johan.
“setelah kau meminta maaf kepada mamahmu” jawab Emilia.
“tapi, sebelum minta maaf, aku ingin memastikan satu hal kepadamu. Di desa itu sudah tidak ada apa apa lagi. Kakek dan nenekmu sudah meninggal sementara rumahmu juga sudah terbakar habis. Jadi, untuk apa kau pergi ke desa itu lagi sedangkan di sana sudah tidak ada apa lagi” tanya Kahfi.
“ehh? Kenapa kalian malah bertanya? Itu adalah desaku, dan itu adalah desa yang dirawat oleh kakekku dan di rusak oleh papahku. Sedangkan aku adalah cucu dari mantan tetua desa disana. Mengapa aku pergi ke desa? Itu bukanlah pertanyaan yang penting. Karena aku menyukai desaku sendiri. Aku sering berenang di danau dan memancing disana. Bagaimanapun juga, aku menagnggap kalau pergi ke desa adalah satu hiburan untukku” jawab Johan.
“kalau hanya sebatas liburan, aku ikut” sahut Kahfi.
“ehh? Kok kau malah yang paling semangat?” tanya Emilia sedikit terkejut.
“karena aku masih belum sekalipun melihat desa tempat lahir Johan. Aku jadi penasaran. Kalian semua berkata kalau itu adalah desa yang indah walau pasokan listrik disana masih belum merasa. Aku jadi penasaran seperti apa tempat itu” ucap Kahfi.
“kau pasti akan terkejut” ucap Johan.
“iya, kau pasti benar benar akan memiliki fikiran untuk pindah rumah kesana” ucap Farel.
“hah? memangnya ada apa?” tanya Kahfi.
“disana tidak ada apa apa. Tidak ada mall, tidak ada supermarket, tidak ada penerangan jalan, yang ada hanyalah air tawar di danau yang sudah di suling. Tapi kau benar benar akan terpukau dengan keindahan alamnya” ucap Johan.
“terserah lah, aku cuma mau iseng ikutan” ucap Kahfi.
“kalau begitu, kau tidak ada alasan lain untuk pergi ke desa?” tanya Jehian.
“tidak ada, aku hanya ingin pergi ke desa, itu aja” ucap Johan.
“dan juga, aku ingin bertemu dengan Odessa” fikir Johan dalam hati.
“kalau begitu, kita akan pergi ke rumah sakit untuk meminta ijin kepada mamah Johan tiga hari lagi. Selama itu, aku minta kepada Johan agar tidak melakukan aktivitas berat. Dan juga selama itu, kita tidak mungkin bisa selalu ke rumahmu seperti ini. Kita juga harus sekolah. Tapi kita semua akan berjanji kalau saja selepas sekolah kita akan kemari” ucap Jehian.
“dia benar, kita juga masih harus sekolah. Bagaimanapun akan lebih menyenangkan jika pergi ke desa saat weekend” ucap Farel.
“hah? tiga hari lagi? lama banget” ucap Johan.
“itu sudah sangat sempurna. Hari ini adalah hari kamis, tiga hari kedepan adalah hari minggu. Saat itu kita bisa ke desa. Lagipula kau juga harus memulihkan staminamu itu. kau juga harus menyembuhkan luka di tanganmu. Bagaimanapun juga, jika kondisimu masih rapuh, selamanya tidak akan diperbolehkan pergi ke desa oleh mamahmu” ucap Jehian.
“hufftt, terserah lah” ucap Johan menghembuskan nafas pasrah.
“kalau begitu, sudah di pastikan. Kita akan berangkat hari minggu. dan itupun jika mamah Johan mengijinkan” ucap Jehian.
“bagaimana kalo mamah Johan ngga mengijinkan kita?” tanya Nyoman.
Sesaat setelah itu, Johan mengganti topik pembicaraan mereka.
“apa kalian ingin tidur disini? kakekku adalah keturunan orang Jepang loh. Nenek dari kakekku adalah orang Jepang, maka dari itu kakekku seringkali mendapatkan teman orang Jepang. Dikarenakan banyaknya teman kakekku, maka dari itu mereka seringkali menginap di rumah kakekku. Kakekku menggunakan sebuah Futon” ucap Johan.
“hah? Futon?” tanya mereka semua.
“iya, semacam kasur yang simpel namun tidak begitu empuk. Futon bisa di lipat dan diletakkan di lemari. Kakekku meletakkan beberapa futon disini. Jadi, kalo kalian memang bener bener pengen tidur sini. Aku akan menyiapkan futon untuk kalian” jelas Johan.
“emm, sebaiknya kita pul-“ ucap Kahfi terhenti.
“kita pengen tidur disini” sahut mereka semua.
“ehhh? Kita sudah terlalu banyak merepotkan dia. Sebaiknya kita pulang dan biarkan dia istirahat sendiri dirumah. Oke!” tegas Kahfi membujuk semua temannya.
“sekarang, ambil futon mu dan siapkan semuanya untuk kami semua” tegas Jehian kepada Johan tanpa memperdulikan perkataan Kahfi.
“kalau begitu, kalian tunggu sebentar, aku akan menganbil beberapa futon di gudang bawah” ucap Johan seraya beranjak dari kamarnya.
Johan pun membuka pintu kamarnya dan kemduian berjalan keluar hendak menuju ke lantai bawah. Selepas Johan keluar dari kamarnya, Kahfi dengan begitu keras membentak mereka semua di dalam kamar tersebut.
“apa yang kalian lakukan? Kalian sudah menyuruh orang yang masih sakit untuk membawa barang bawaan berat. Aku akan membantunya” tegas Kahfi seraya berdiri hendak menuju ke lantai bawah.
“hentikan itu” ucap Nyoman seraya menarik lengan Kahfi.
“a-ada apa?” tanya Kahfi.
“kita melakukan ini karena alasan kita sendiri” jawab Nyoman.
“apa yang kalian katakan? Apa rencana kalian?” tanya Kahfi sedikit kebingungan.
“kita sama sekali tidak ingin Johan pergi ke desa itu lagi. Bagaimanapun juga, kita harus menyibukkan Johan di sini sampai dia melupakan keinginannya pergi ke desa” ucap Farel dengan nada yang begitu serius.
“hah? apa yang kalian katakan? Bukannya kalian sendiri yang ingin pergi ke desa?” tanya Kahfi begitu terkejut.
“bukan begitu. Kita sama sekali tidak ingin pergi ke desa itu. Bukan karena letaknya yang begitu jauh, tapi memang karena desa itulah sifat Johan seketika berubah. Johan sebelumnya sudah pernah kabur dari makan keluarganya dan memilih untuk pergi jauh dari makan tersebut. Kita benar benar tidak ingin Johan pergi ke sana lagi dan mencelakai dirinya sendiri. Mungkin dengan cara menyibukkan Johan di kota adalah alasan utama kita agar Johan tidak pergi ke desa lagi” ucap Jehian dengan nada yang begitu serius.
“itulah mengapa kalian benar benar bersih keras untuk menghalangi Johan?” tanya Kahfi.
“iya, benar. Semenjak Johan menggigit tangannya sendiri di dalam mobil, kita benar benar membulatkan tekad dan tujuan kita bahwasanya kita harus menghalangi dan menghancurkan keinginan Johan untuk pergi ke desa itu lagi” ucap Nyoman.
“memangnya ada apa di desa itu? kenapa kalian begitu menghalangi Johan untuk pergi ke sana?” tanya Kahfi.
“tidak tau, tapi sepertinya ada yang di sembunyikan oleh Johan. Siapa yang ingin Johan temui disana dan kenapa dia begitu ingin pergi kesana?” jawab Jehian.
Tiba tiba saja, mereka mendengarkan barang jatuh dari tangga bawah. Mereka spontan begitu terkejut dengan suara barang yang jatuh di lantai bawah itu. Mereka seketika beranjak dari kamar dan kemudian melihat keluar kamar Johan.
Sesampainya di depan tangga, nyatanya mereka benar benar terkejut dengan Johan yang menjatuhkan semua futonnya. Nyatanya, dia benar benar membawa 5 futon sekaligus dengan kedua tangannya.
“a-apa yang terjadi?” tanya Emilia kepada Johan.
“bu-bukan apa apa, hahahahaha” ucap Johan dengan tawa lepasnya.
“kenapa kamu malah ketawa?” tanya Emilia.
“bukan apa apa, aku hanya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian di dalam kamar. Menurutku itu begitu lucu saat kalian membicarakanku dari balakang” jawab Johan begitu tertawa lepas.
“hah? kau mendengarnya?” tanya mereka semua begitu terkejut.
“yaahh, itu nggak sengaja. Hehehe” ucap Johan menurunkan nada tawanya.
“jadi? setelah kau tau apa pembicaraan kami, kau tau keresahan kami. Apa pembelaanmu?” tanya Jehian dengan begitu serius.
“aku hanya ingin mengatakan satu hal. Aku pergi ke desa hanya untuk mengunjungi korban pengungsian di gedung itu atas nama kakekku selaku mantan ketua dari desa tersebut. Apa itu masih kurang? Aku kira kalian tidak akan membutuhkan jawaban itu” jawab Johan.
“tidak mungkin, kalau hanya itu, kenapa kau malah menggigit tanganmu sendiri?” tanya Jehian sedikit berteriak.
“yaahh, itu di luar kesadaranku sendiri. Jadi bisa dibilang mungkin aku hanya kerasukan” jawab Johan sembari garukan kepalanya.
“jadi, apa itu sudah memuaskan keingintahuan kalian? hanya itu, dan hanya satu itu saja?. Kalian tidak perlu ikut jika kalian masih sibuk, aku bisa berangkat sendiri. Tapi aku lebih ingin berangkat bersama semua sahabatku ini” ucap Johan dengan tatapan lembutnya.
Seketika saat itu pula pikiran semua sahabat Johan pun nge blank hitam. Bagaimanapun juga, mereka masih benar benar terkejut dan bingung dengan jawaban simpel Johan yang sangat sepele. Mereka tidak habis fikir dengan tujuan Johan yang sebenarnya. Mendengar hal itu, mereka semua pun sepakat untuk tidak memperdulikan masalah itu lagi.
“mungkin saat ini, Johan tidak berbohong” bisik Jehian kepada mereka semua.
“kau benar, aku melihat dari tatapan matanya, dia benar benar yakin akan tujuannya itu. Aku tidak melihat adanya sedikitpun keraguan dalam tatapan matanya” jawab Kahfi sedikit berbisik kepada mereka semua.
“bagaimanapun juga, kita harus tetap waspada. Jangan jangan, Johan masih ada alasan lain” bisik Emilia.
“kurasa itu tidak mungkin. Karena bagaimanapun juga, mungkin tidak ada alasan lain untuk Johan agar dia pergi ke desa. Hanya Johan dan tuhan yang tau” bisik Farel.
“aku se7” bisik Nyoman.
“ehh? Kok kalian semua malah bisik bisik?” ucap Johan kepada semua teman temannya itu.