
Mereka berlima pulang kerumah mereka masing masing. Tepat pada jam 1 malam, mereka pun sampai kerumah mereka masing masing. Tibalah saatnya untuk mereka beristirahat. Sang ibunda saat itu hanya tinggal sendiri di dalam rumah tanpa ada seorangpun dirumah itu. Paman Surya yang baru saja pulang dengan berjalan kaki dari kantor polisi tempat ia bekerja mendapati kalau Callysta sudah menunggunya di luar seraya memakai jaket milik Johan.
“papah lama banget” ucap Callysta seraya berdidi di depan pintu.
“maafin papah ya nak, papah baru aja kembaliin mobil polisi ke kantor” jawab paman Surya.
“apa papah capek? Apa papah pulang jalan kaki?” tanya Callysta.
“iya, papah pulang jalan kaki” jawab paman Surya.
“itu jaket siapa? Kamu pakai jaket siapa? Dan juga jaket itu terlalu besar untukmu” ucap paman Surya.
“ini jaket milik Johan. Dia meminjamkannya kemarin lalu” jawab Callysta.
“Johan meminjamkanmu? Kapan?” tanya paman Surya.
“kalau tidak salah, kemarin lusa” jawab Callysta.
“kenapa tidak dikembalikan?” tanya paman Surya.
“lupa, hehehe” jawab Callysta sedikit tertawa.
“pah, apa papah mau menceritakan apa yang terjadi kepada Johan?” tanya Callysta.
“jujur saja, papah sangat ingin menceritakannya kepadamu. Tapi menurutku, jika aku yang menceritakannya, kamu tidak akan percaya. Besok sore, setelah kamu pulang sekolah, kamu jenguklah Johan di rumah sakit” jawab paman Surya.
“hmm. Baik” jawab Callysta menganggukkan kepalanya.
“kalau begitu, tidurlah. Sekarang sudah jam 2 pagi. Dan kamu masih belum tidur” ucap paman Surya.
“tapi pah, aku baru aja minum kopi. Aku tidak bisa tid-“ ucap Callysta terhenti.
“aku tidak peduli dengan itu. Cepat tidur atau kau kau akan terlambat masuk sekolah besok pagi!” sahut paman Surya memotong perkatakan Callysta.
“ba-baik” jawab Callysta.
Pada akhirnya, Callysta pun masuk kedalam kamarnya sementara paman Surya masih rebahan santuy di sofa ruang tamu. Dengan bgeitu, paman Surya sudah merasa begitu lelah dan mengantuk. Dan pada kahirnya, paman Surya tertidur di sofa ruang tanu itu.
*tiitt… tiitt. Tiitt
Bunyi alarm kamar Johan. Sang ibunda tertidur di kamar Johan. Ibunda terbangun pada jam 6 pagi. Sang ibunda hanya tertidur selama 4 jam. Maka dair itu, sang ibunda masih dalam keadaan mengantuk.
“sudah jam 6 pagi. Tidak kusangka aku ketiduran di kamar Johan” ucap sang ibunda seraya mengusap matanya.
Sang ibunda pun keluar dari kamar Johan dan turun menuju ke lantai bawah. Ibunda berjalan ke arah kamar mandi dan menyalakan pemanas air. Dengan begitu, ibunda bisa mandi dengan air hangat.
Setelah mandi, ibunda berbelanja di pasar pagi dekat komplek rumah. Hanya sekedar membeli bahan bahan sederhana, ibunda pun pulang sambil membawa bahan belanjaan dan mulai memasaknya.
Selesai memasak, ibunda pun menyajikannya di meja makan. Seperti biasa, ibunda pun membersihkan rumah. Ibunda menyapu rumah, mengepel rumah, mengelap jendela, membersihkan debu, menyapu halaman rumah, membersihkan garasi, dan lain lain. Semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh ibunda dengan begitu sempurna.
Jam 8 pagi, ibunda pun mengganti pakaian dan memesan ojek online. Sudah waktunya sang ibunda untuk menjenguk Johan di rumah sakit. Ibunda membawa masakannya di kotak makan milik Johan. Sang sopir ojek online pun datang untuk menjemput ibunda di depan rumahnya. Spontan ibunda pun mengunci pintu rumah dan kemudian mengunci pagar tersebut.
Sesampainya di halaman rumah sakit, sang ibunda pun membayar sopir tersebut menggunakan uang cash. Setelah itu, ibunda berjalan memasuki rumah sakit hendak menuju ke ruangan tempat Johan dirawat.
“kalau tidak salah, ruangannya berada di lantai 2 nomer 29” fikir ibunda dalam hati.
Ibunda pun memasuki pintu lift dan menekan tombol lantai 2. Sang ibunda mencari kamar nomer 29 dan mendapati jika kamar tersebut berada di ujung lorong yang sedikit gelap dan hanya cahaya matahari saja yang mampu memasuki lorong yang sepi nan gelap itu. Sang ibunda mengetuk pintu kamar Johan dan kemudian membukanya.
Ibunda berjalan melangakah masuk kedalam kamar dan mendapati jika Johan sudah terbangun. Johan sedang duduk bersandar di kasur seraya menatap jendela yang tengah terbuka lebar.
“selamat pagi, Johan” ucap sang ibunda seraya berjalan mendekati Johan.
“mamah? Apa itu mamah?” tanya Johan dengan muka begitu datar.
“halo anakku, mamah datang” jawab sang ibunda.
“tolong tutup jendelanya mah” ucap Johan.
“tidak apa apa. Angin pagi dan cahaya matahari bagus untuk kesehata-“ ucap sang ibunda terhenti.
“tolong, mah” sahut Johan dengan menundukkan kepalanya.
“ba-baik” jawab sang ibunda. Ibunda pun menutup jendela dan kain gorden kamar Johan hingga kamar Johan hanya di terangi oleh lampu kamar.
“matikan lampunya, mah. Tolong” ucap Johan.
“tapi, nanti kamarmu akan jadi gelap” jawab ibunda.
“kamarku memang selalu gelap seperti biasanya” jawab Johan.
“ba-baik” jawab sang ibunda mematikan lampu kamar itu. Dengan begitu, tidak ada penerangan sama sekali disana. Hanya ada cahaya matahari yang sedikit menembus kain gorden jendela itu. Kamar Johan telah berubah menjadi kamar yang gelap gulita.
Johan hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menatap selimut yang sedang menutupi bagian bawah tubuhnya. Johan hanya memakai baju pasien berwarna putih dan sedikit terlalu oversize.
“apa kamu mau makan? mamah sudah memasakkanmu masakan dari rumah” tanya sang ibunda.
“aku udah makan” jawab Johan dengan begitu datar.
“kalau begitu, mamah juga membuat jus. Apa nak Johan mau?” tanya sang ibunda.
“tidak” jawab Johan dengan suara datarnya.
“apa kamu sudah meminum obat dari perawat?” tanya ibunda.
“udah” jawab Johan.
“apa nak Johan mau sekolah lagi? nak Johan sudah ketinggalan pelajaran lebih dari 2 bulan” ucap sang ibunda.
“Johan akan sekolah lagi” jawab Johan.
“apa nak Johan bosan di kamar ini?” tanya ibunda.
“tidak” jawab Johan.
“hmm, jadi begitu…” ucap sang ibunda menganggukkan kepalanya.
“apa nak Johan ingin bermain game di hp?” tanya ibunda.
“tidak” jawab Johan.
“kalau begitu, tidurlah dan istirahatlah” ucap sang ibunda.
“aku tidak bisa tidur” jawab Johan.
“tapi kamu harus istirahat” ucap ibunda.
“sudah kubilang kau tidak bisa tidur!” bentak Johan sedikit berteriak dengan begitu tersulut emosi.
“ma-maaf, aku tidak sopan” ucap Johan dengan suara kembali datar.
“kalau kamu butuh apa apa, bilang aja sama mamah” ucap ibunda.
“aku butuh sendiri di kamar ini, tolong” ucap Johan.
“ba-baik. Mamah akan menunggu di luar” jawab ibunda.
“tidak perlu, sudah ada perawat. Mamah pulang aja” ucap Johan.
“ehh, tapi-“ ucap ibunda terhenti.
“sudah ada perawat”sahut Johan memotong perkataan ibunda.
“meski ada perawat, tapi mamahmu juga harus selalu di samp-“ ucap ibunda terhenti.
“sudah ada perawat, tolong” ucap Johan kembali memotong perkataan ibunda.
“baiklah. Mamah akan pulang” jawab ibunda.
“makasih” jawab Johan.
Saat itu pula, sang ibunda mengambil tasnya kembali dan kemudian keluar dari kamar Johan. Saat ibunda membuka kamar tersebut dan hendak keluar, ia dikejutkan dengan adanya paman Surya yang ada di balik pintu. Paman Surya juga sama kagetnya dengan ibunda.
“woaah” ucap terkejut paman Surya.
“ehh ayam ayam” ucap kaget ibunda.
“aku bukan ayam, aku Surya” ucap paman Surya.
“ohh, kamu. Apa yang kamu lakukan disini?” tanya ibunda.
“mau jualan Cangcimen” jawab paman Surya.
“kacang kuaci permen? Tapi kalau kau akan berjualan disini, kamu bisa di tangkap oleh satpa-“ ucap ibuda terhenti.
“udah jelas aku mau jenguk Johan, masih aja nanya” sahut paman Surya.
“ohh, mau jenguk Johan? Emm, kurasa, saat ini, itu bukan ide yang bagus” ucap ibunda.
“ehh? Memangnya kenapa?” tanya ibunda.
“karena moodnya sedang buruk. Bahkan dia ingin aku keluar dari kamarnya” jawab ibunda.
“iya juga. Dia mungkin sedang badmood” jawab paman Surya.
“mungkin jenguklah dia saat semua teman temannya. Mungkin dengan keberadaan teman temannya, moodnya akan semakin membaik” ujar ibunda.
“benar juga” jawab paman Surya.
“apa kamu akan berangkat dinas?” tanya paman Surya.
“jadwalku untuk hari ini adalah malam. Aku akan berangkat malam” jawab paman Surya.
“emm, jadi begitu. Apa kamu sudah sarapan?” tanya ibunda.
“baru saja aku berniat untuk cari sarapan” jawab paman Surya.
“lebih baik kamu sarapan di rumah aja. Aku baru aja masak banyak” sahut ibunda.
“waahh, enak juga tuh. Aku mau” ucap paman Surya.
“yaudah ayo” ucap ibunda.
“baik” jawab paman Surya.
Dengan begitu, paman Surya dan ibunda pun pergi kerumah hanya untuk sekedar sarapan dirumah. Disisi lain, Farel yang sedang masuk sekolah itu sedang menghadapi ujian remidial. Tidak hanya Farel, melainkan masih banyak lagi siswa yang tidak tuntass nilainya di mata pelajaran matematika itu. Hampir 80 persen dari murid di kelas itu tidak tuntas dalam pelajaran matematika. Termasuk Jehian dan Nyoman pula.
Sementara 20 persen sisanya adalah siswa yang sudah tuntas dalam pelajaran itu termasuk salah satunya adalah Emilia. Dikarenakan banyaknya siswa yang tidak tuntas, maka dari itu mau tidak mau, para siswa dan siswi yang memiliki nilai tuntas itupun ikut mengerjakan ujian remidial itu hanya untuk sekedar menambah nilai.