Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 51, Tetua Engkobappe & Johan VS Penebang Hutan



Mereka berlima mulai memasuki wilayah hutan mereka masing masing sehingga mereka tidak dapat melihat tubuh mereka satu sama lain karena terhalang pepohonan. Johan berjalan sendirian dan dikelilingi oleh pohon karet yang tinggi dan gelap, dimana Johan hanya mengandalkan cahaya dari senter yang ia bawa saat itu.


“benar benar sangat menakutkan. Mirip di film horror yang ku tonton kemarin malam. Kenapa aku harus menonton film horor bersama dengan mereka” ucap Johan mengeluh.


Johan menyorot senter dan ke seluruh arah dan mencari keberadaan para penebang pohon. Johan dengan semaksimal mungkin berkonsentrasi untuk meningkatkan indra pendengar dan indra pengelihatannya untuk mencari penebang hutan tersebut.


“aku pernah melewati hutan ini, tapi saat itu aku bersama dengan teman teman papahku dan teman temanku. Dan juga itu melewati hutan jati yang jarak antara pohon satu dengan lainnya sedikit berjauhan. Aku mengulangi peristiwa menakutkan ini lagi untuk yang kedua kalinya. Dan kali ini aku berjalan sendirian” gumam Johan.


“kalau di ingat ingat, saat pagi hari, saat aku ingin bertemu dengan Odessa Ai sebelum aku pulang, aku berjalan dan memilih rute pinggir danau. Karena menurutku, rute itu tidak terlalu menakutkan dan terkena cahaya matahari secara langsung. Dan juga saat itu aku pun melihat pemandangan yang luar biasa indah di danau tersebut” gumam Johan.


“kalau aku berjalan hingga ujung hutan ini, pasti aku akan keluar dari hutan ini dan mendapati daerah yang sudah terbakar habis. Dimana di daerah itu, terdapat rumahku dan pohon kesukaan Odessa. Dan jika aku masih berjalan lurus melewati rumahku, aku akan menemukan pemakaman dimana pemakaman tersebut adalah pemakaman milik papah, mamah, kakek dan nenekku. Kurasa aku sudah mulai mengingat rute di hutan ini” ucap Johan.


“sekarang, aku hanya perlu menca-“ ucap Johan terhenti.


Pasalnya, saat itu pula Johan sedikit mendengarkan suara layaknya gergaji mesin yang berada di ujung depan Johan. Johan benar benar ketakutan setengah mati dan menggigil ketakutan. Sebuah satu hal yang sangat wajar dimana seorang remaja lelaki yang tengah berada di tengah hutan karet yang menjulang tinggi ke langit malam yang begitu gelap dengan derasnya hujan dan dingginnya angin malam.


“a-apa yang harus ku lakukan?” tanya Johan dengan tangan yang begitu bergetar kencang.


“ohh iya, aku harus menyalakan petasanku. Kata pak wakil, kalau jumlah para penebang tersebut ada satu, aku hanya perlu membakar satu petasan, tapi jika jumlah penebang pohon ada tiga, maka aku harus membakar semua petasan itu satu persatu. Tapi jika jumlah penebang tersebut lebih dari tiga, maka aku harus membakar ketiga petasan tersebut secara bersamaan. Kalau begitu, aku akan membakarnya” ucap Johan.


Namun sebelum itu, Johan hanya ingin meyakinkan apakah itu adalah sebuah penebang pohon atau tidak. Maka dari itu, Johan pun dengan begitu nekat mematikan lampu senternya dan kemudian berjalan mengendap endap menuju sumber suara gergaji mesin itu. Begitu gelap dan dingin, Johan berjalan di antara pepohonan yang menjulang tinggi.


“tidak apa apa, Johan. Ini adalah misi. Aku sudah di beri kepercayaan oleh Greisha agar aku bisa menyelesaikan misiku sendiri” fikir Johan menyemangati dirinya sendiri.


Dengan begitu perlahan mengendap endap, detak jantung Johan benar benar sudah berdetak dengan kencang. Johan sangat ketakutan hingga ingin berteriak dan sembunyi di salah satu semak semak seraya menutuk kedua matanya dan kedua telinganya. Tapi Johan berfikir kalau dirinya akan mengacaukan semua rencananya saat itu jika Johan melakukan hal seperti itu.


Semakin Johan berjalan mengendap endap dan bersembunyi di balik pohon, suara gergaji mesin pun semakin kuat dan benar benar dekat. “sudah di pastikan, mereka adalah penebang pohon” fikir Johan.


Dengan mengandalkan indera pendengarannya, Johan pun mendengar suara pembicaraan antara orang orang penebang tersebut. Dengan begitu banyaknya suara dengan nada yang berbeda beda, Johan berfikir kalau disana terdapat 5 orang lelaki dengan satu penebang utama yang tengah membawa satu gergaji mesin.


“apa kita harus menebang ini juga? kita sudah banyak menebang pohon karet ini” tanya salah seorang penebang kepada teman penebang lainnya.


“iya, kita harus membawa sebanyak banyaknya kayu agar keuntungan kita semakin besar” jawab salah satu teman penebang lainnya.


Mendengar percakapan mereka yang benar benar menunjukkan identitas mereka sebagai penebang, membuat Johan benar benar sudah membulatkan tekadnya untuk menyalakan ketiga petasan tersebut bersamaan dan membuat tanda kepada keempat tetua tersebut.


Seketika Johan berjalan menjauh dari para penebang tersebut hingga jarak beberapa batang pohon karet dan kemudian mulai mengeluarkan ketiga petasannya bersama dengan korek api. Seketika itu pula Johan membakar ketiga petasan tersebut sekaligus dan kemudian meletakkannya ke tanah.


Dengan beberapa detik, seketika petasan sang ketua, sang wakil, sang bendahara, sang sekertaris dan milik Johan meledak bersamaan. Kelimabelas petasan meledak secara bersamaan di kelima arah yang berbeda. Hal itu membuat mereka berlima benar benar terkejut bukan main atas jumlah dari para penebang tersebut.


“hah? kita menyalakan kelimabelas petasan secara bersamaan? Jadi mereka berempat juga menemukan penebang yang jumlahnya lebih dari tiga. Ini gawat. Mau tidak mau, aku harus bertarung disini. Maafkan aku karena aku tidak bisa bergabung kedalam pertarungan kalian semua” ucap sang wakil di wilayah rawa dan perkebunan buah.


“kita berlima meledakkan limabelas petasan secara bersamaan? Itu berarti lebih dari limabelas orang penebang yang telah tersebar di hutan ini. Terpaksa aku harus bertarung di daerahku sendiri tanpa harus pergi ke daerah orang lain” ucap sang ketua di wilayah perbatasan danau.


“ini pertanda kalau kita berlima menemukan penebang lebih dari tiga orang. Maafkan aku karena aku tidak bisa datang ke daerah kalian masing masing” ucap sang bendahara di wilayah pohon jati.


“ini gawat, bagaimana para penebang bisa sebanyak ini? terpaksa aku harus melumpuhkan beberapa penebang hutan ini daerahku sendirian” ucap sang sekertaris di wilayah pohon pinus.


“mereka juga menemukan para penebang hutan? Jadi kita benar benar tidak bisa menolong satu sama lain. Sebenarnya seberapa banyak manusia yang ingin merusak bumi ini? aku akan menangkap kalian semua” ucap Johan dengan begitu emosi.


Mendengar limabelas petasan yang meledak bersamaan membuat para penebang hutan benar benar terkejut akan beberapa ledakan tersebut. Mereka menganggap bahwa ada sebuah tembakan dari sebuah senjata api yang berasal dari pihak kepolisian perhutanan.


Maka dari itu, salah satu pemimpin dari keseluruhan pemburu tersebut pun mengeluarkan sebuah pistol dan kemudian menembakkannya ke arah langit. Ia menembakkan pistol tersebut sebanyak 4 kali dan memberi pertanda bahwasanya semua anak buahnya harus mundur terlebih dahulu.


*dor… dor… dor… dor…


Bunyi tembakan pistol dari sang pemimpin para penebang tersebut.


Mendengar hal itu, seketika semua penebang pun mematikan gergaji mesin mereka dan kemudian berjalan ke arah sebrang hutan, lebih tepatnya ke daerah hutan yang telah terbakar habis. Meliaht hal itu, para tetua termasuk Johan pun mengerti kode dari sang pemimpin dari para penebang tersebut.


“jadi ada isyarat dimana mereka harus mundur. Suara empat tembakan itu adalah isyarat agar mereka semua mundur karena menganggap bahwa kita semua adalah pihak yang berwajib. Kita tidak akan pernah melepaskan kalian semua” ucap ketua.


Begitupula dengan wakil, bendahara, sekertaris dan Johan. Mereka semua berfikir hal yang serupa dengan sang ketua. Mereka tidak akan pernah melepaskan para penebang tersebut dan akan menangkap mereka semua sekaligus.


Dengan begitu keras dan berbahaya, satu persatu dari para tetua pun menusuk kedua kaki para penebang hutan tersebut menggunakan belati dan keris. Sama seperti sang ketua yang menusuk kedua kaki enam orang penebang sekaligus. Sang wakil pun menusuk kedua kaki tujuh orang penebang sekaligus. Sang bendahara pun menusuk kedua kaki lima orang sekaligus sementara sang sekertaris pun menusuk tujuh orang sekaligus.


Hanya Johan yang saat itu sedang tidak beruntung. Pasalnya Johan benar benar tidak mengetahui jika saat itu terdapat duabelas orang penebang yang bersama dengan sang ketua penebang hutan disana. Lagipula sang ketua penebang hutan disana pun mebawa sebuah pistol.


Johan benar benar menyusup dari pohon ke pohon untuk melakukan serangan bayangan dan dadakan. Johan melepas sepatunya kemudian berlari mendekati para penebang pohon tersebut agar suara langkah kakinya tidak terdengar oleh para penebang pohon tersebut.


Benar benar layaknya bayangan, langkah kaki Johan tidak terdengar sedikitpun oleh telinga mereka. Perlahan Johan menusuk kaki para penebang hutan dengan belati dan keris tersebut dari belakang dan kemudian kembali bersembunyi. Lebih tepatnya, Johan menancapkan belati dan kerisnya bersaman di kedua paha para peneang tersebut hingga benar benar menancap dan kemudian menariknya kembali.


Para penebang yang kakinya telah tertusuk pun berteriak kesakitan dan membuat perhatian para teman sesama penebang lainnya bertuju ke arah belakang. Namun, dengan begitu gesit, Johan pun sudah berada di belakang tubuh mereka semua. Johan kembali menusuk kaki mereka semua satu persatu dari belakang hingga mereka terjatuh melemah tak berdaya.


“a-apa yang terjadi? apa kita sedang di tembak dari kejauhan?” tanya sang pemimpin.


Johan kembali melakukan aksinya dengan penuh perasaan marah dan memendam amarah. Johan melakukan hal seperti itu karena rasa bencinya terhadap sang papah yang sudah membakar hutan dan secara tidak sengaja membakar kakeknya sendiri. Dengan begini, Johan bisa menganggap bahwa orang orang penebang yang ada disini adalah wujud sang papah.


Sebelas orang sudah terjatuh dengan kaki yang sudah lubang. Tersisa hanya sang ketua yang saat itu sedang menodongkan pistolnya ke berbagai arah. Dari kelihatannya, sang pemimpin tersebut benar benar sudah sangat ketakutan. Matanya mengeluarkan air mata dan keringat dingin membasahi tubuhnya.


Orang tersebut berteriak meminta tolong namun tidak ada satupun orang yang bisa membantunya. Hingga pada saat saat terakhir, Johan telah berada tepat di belakang tubuh sang pemimpin tersebut. Dengan begitu lihai, Johan menyayat lengan kanan pemimpin tersebut dengan menggunakan keris sementara Johan menyayat tangan kirinya menggunakan belati.


Seketika saat itu pula pemimpin penebang hutan tersebut menjatuhkan pistolnya dengan dalam kondisi tangan yang sudah terbanjiri darah. Lelaki itu berteriak kesakitan dengan meneteskan air matanya yang begitu deras. Johan pun segera mengambil pistol tersebut dan kemudian menembakkannya ke arah kedua kaki lelaki tersebut.


Teriakan demi teriakan pun menggema di hutan yang gelap nan menakutkan tersebut. Gema suara teriakan lelaki tersebut benar benar menyenangkan bagi Johan. Johan pun dengan gagah berdiri di hadapannya seraya memasang raut muka murka.


Dengan begitu kasar, Johan menarik kerah lelaki tersebut dan menarik dengan paksa ke hadapan mukanya sendiri.


“siapa yang menyuruhmu menebang hutan disini?” tanya Johan dengan begitu menahan amarah.


“ma-maafkan aku, aku benar benar minta ma-“ ucap lelaki tersebut terhenti.


“aku tidak menyuruhmu untuk minta maaf, bodoh” bentak Johan seraya menendang dengan begitu keras pipi lelaki tersebut hingga tubuh lelaki tersebut terpental jauh.


Johan pun dengan penuh amarah mendatangi lelaki tersebut kembali dan menanyakan hal yang serupa.


“siapa yang menyuruhmu melakukan ini?” tanya Johan.


“maaf, ini adalah proyek ku sendiri. Aku membutuhkan kayu dengan jumlah yang banyak dan dalam harga yang murah bahkan aku tidak perlu membayar kayu ini jika aku bisa menebangnya sendiri” ucap lelaki tersebut dengan begitu ketakutan.


“hmm, jadi begitu. Dasar sampah” teriak Johan seraya mendorong tubuh lelaki tersebut hingga terbentur pohon terdekat.


Lelaki tersebut benar benar sudah tidak bisa lari lagi. Dia hanya bisa bersandar di pohon tersebut seraya memandang tubuh Johan yang perlahan berjalan mendekati tubuhnya dengan begitu menakutkan.


Saat itu pula Johan pun mencengkram pipi lelaki tersebut hinnga mulutnya terbuka. Selepas itu, Johan dengan begitu memaksa mengambil dan mencengkram lidah lelaki tersebut.


“kalau kau tidak berbicara dengan jujur, aku tidak akan segan segan untuk membelah lidah kotormu ini” ancam Johan seraya menempelkan belatinya ke lidah tersebut.


“ma-maav, akhe thedak bherbhohong” ucap lelaki tersebut dalam keadaan susah berbicara.


“kalau begitu, apa kau masih memiliki anak buah lain yang masih belum kau perintahkan untuk mundur?” tanya Johan.


“aku sedang memburu pohon hornbeam yang memiliki khasiat yang super. Pohon itu saat ini sedang berada di dekat rumah tua yang sudah terbakar dan di samping danau dan di sebrang hutan ini” ucap lelaki tersebut dengan terbatah batah.


“pohon hornbeam? Jangan jangan itu adalah pohon milik Odessa?” fikir Johan benar benar terkejut.


“saat ini, para anak buahku sedang kesusahan karena ada seorang perempuan yang bersih keras menjaga pohon tersebut” ucap sang lelaki tersebut dengan nafas yang ngos ngosan.


“apa yang kau lakukan kepada perempuan itu?” teriak Johan dengan nada yang benar beanr marah.


“aku tidak melakukan apa apa kepadanya. Aku hanya memerintahkan mereka untuk menebang pohon itu. Tapi aku tidak tau apa yang dilakukan oleh anak buahku yang berhidung belang. Mungkin saat ini, para anak buahku sedang bersenang senang menikmati nikmatnya tubuh perempu-” ucap lelaki tersebut dengan senyum sinis memancing amarah Johan.


“da-dasar kurang ajar!!” sahut teriak Johan benar benar keras dan seketika menusukkan kerisnya ke paha kanan lelaki tersebut.