Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 10, Kebakaran di desa Kakek



Johan terbangun dalam keadaan tubuh yang benar benar lemas. Saat Johan terbangun dari tidurnya, bertapa terkejutnya dirinya ketika tau bahwasanya dirinya terbangun saat malam hari. Ia melihat jam dindingnya dan mendapati kalau saat itu sudah pukul setengah enam malam. Johan beranjak dari tempat tidurnya dan kemudian berjalan keluar kamarnya.


Sesaat setelah itu, ia berjalan menuju kamar mandi hanya untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Sempat berniat untuk mandi, nyatanya air malam itu benar benar sangat dingin. Johan pun mengurungkan niatnya untuk mandi dan hanya membasuh mukanya saja.


Selepas itu, Johan pun berjalan menuju lantai bawah dan pergi ke meja makan. Saat itu, ia mendapati kalau papah dan mamahnya tengah makan di meja makan. Melihat hal itu, Johan pun segera menghampiri mereka dan kemudian duduk disana. Seketika itu pula Johan mengambil piring dan nasi di tengah meja makan tersebut dan kemudian mengambil lauk pauk disana.


“apa aku boleh bergabung?” tanya Johan dengan senyum tulusnya.


“iya, silahkan saja” ucap sang papah begitu terkejut keheranan.


“apa papah sudah mendengar kabar mengenai nenek?” tanya Johan.


“sudah” jawab sang papah.


“apa yang akan papah lakukan?” tanya Johan.


“papah sangat ingin berziarah ke makan milik nenekmu itu. Tapi papah benar benar sangat sibuk. Papah memiliki proyek dan sedang bekerja sama dengan para pihak perusahaan yang ingin membeli sebuah wilayah untuk pabriknya” jawab sang papah.


“sebenarnya, bagaimana tugas papah?” tanya Johan.


“papah adlaah ketua koordinator penebangan hutan. Siapapun yang ingin membeli lahan untuk pabrik atau hanya sekedar membeli lahan untuk bangunan lainnya, mereka diwajibkan konsultasi kepada papah. Jika proyek tersebut sudah disetujui, maka papah pun mengarahkan para penebang pohon dan hutan untuk membersihkan lahan yang akan digunakan. Iukutang lebih seperti itu” jawab jelas papah Johan.


“papahmu ini juga sesekali menyuruh bawahannya untuk membersihkan lahan yang akan dibeli di luar kota ini juga. bisa juga di pedesaan maupun perkotaan” sahut sang ibunda seraya menyuap ikan tenggiri kedalam mulutnya.


Sesaat sebelum Johan menyuap makanan menuju mulutnya, nyatanya Johan terkejut dengan lauk yang dimakan oleh sang ibunda di hadapannya. Johan mendapati kalau sang ibunda tengah makan ikan tenggiri. Melihat itu, Johan seketika menyahut dan mengambil lauk sang ibunda dan kemudian meletakkannya ke piring miliknya.


“aku tau mamah suka makan ikan tenggiri, tapi ikan tenggiri itu tidak baik untuk kesehatan janin” ucap Johan seraya menegur sang ibunda.


“hah? apa maksud nak Johan?” tanya sang ibunda.


“mamah sekarang sedang mengandung, jadi mamah tidak boleh makan makanan yang tinggi merkuri. Hal itu bisa membahayakan sistem saraf bagi sang jani-“ ujar Johan terhenti.


“mamah? Mengandung? Apa yang kau katakan itu? hahahahahahaha” ucap sang papah tertawa terbahak bahak.


“heh? Mamah kan mengandung?” tanya Johan kebingungan.


“kamu itu mimpi apa? Kamu fikir mamah hamil? Aneh aneh aja” ucap ibunda tertawa.


“heh? jadi kemarin malam saat mamah dan papah masuk ke kamar Johan, ternyata itu cuma mimpi?” tanya Johan begitu terkejut.


“mimpi mu aneh banget. Lagipula kami berdua juga tidak bisa masuk kedalam kamar kamu karena kamu menguncinya dari dalam” sahut sang papah seraya tertawa terbahak bahak.


“aneh aneh aja kamu ini” ucap sang ibunda.


“ehh? Mimpi itu bener bener sangat realistis. Apa ini suatu pertanda?” ujar Johan bertanya tanya.


“udah jangan mengadi ngadi, cepat makan ikan tenggiri mamah itu” ucap sang papah seraya menyuap sesendok makannya,


“hehehe, iya iya” ucap Johan.


Johan pun menyuap makanan itu seraya berfikir tentang mimpinya itu yang benar benar terasa realistis. Baginya, itu adalah mimpi yang paling nyata yang pernah ia alami. Saat Johan menyuap daging ikan tenggiri kedalam mulutnya itu, seketika Johan terpukau akan rasanya. Johan pun menyuap daging ikan tenggiri itu lebih cepat karena saking enaknya masakan sang ibunda itu.


“makan pelan pelan, kamu tau sendiri kan masakan mamah bener bener enak?” tanya sang ibunda.


“iya mah, ini enak banget gile” ucap Johan.


“iya iya, pelan pelan kalo makan” ujar sang ibunda.


“kita memang tidak pernah makan bersama di satu meja makan yang sama” ucap sang ibunda.


“kalo dipikir pikir, iya juga ya. Baru pertamakali kita makan bersama dengan lengkap di satu meja makan yang sama” ujar Johan.


“baru pertama kali kamu merasakan masakan mamah ketika masih hangat, apa enak?” tanya sang ibunda.


“ini enak banget parah” ujar Johan menyuap makanannya hingga habis tak tersisa.


“ehh, iya juga. kakek kemana? Apa kakek sudah pulang?” tanya Johan.


“kakek sudah pulang dari tadi. Sebenernya kita mau ajak kakek kamu makan bareng, tapi katanya kakek, beliau punya urusan penting. Katanya akan ada orang yang akan membuang limbah pabrik di salah satu sungai yang ada di desa itu” ucap sang papah.


“heh? kakek buru buru pulang hanya gara gara sungai? Aneh banget” ucap Johan.


“kita juga tidak tau, tapi siapa tau kalau kakek memang hobi duduk bersama dengan nenek di samping sungai di desa itu” ucap sang papah.


“emm, begitu” ujar Johan seraya meminum segelas air putih. Johan pun mengambil piring kosong milik mamah dan papah dan kemudian meletakkannya di wastafel dapur. Johan pun mencuci piring piring tersebut dan kemudian meletakkannya kedalam rak piring. Seketika Johan pun berjalan kembali menuju ke ruang tengah.


Saat berjalan, dirinya masih mendapati kalau papah dan mamah masih mengobrol di meja makan sembari meminum kopi hangat milik papah dan susu hangat milik mamah. Johan pun berjalan menuju runag tengah dan kemudian duduk di sofa tersebut. Johan mengambil remote tv dan kemudian menyalakan televisi ruang tengah.


Disaat Johan sedang mencari cari chanell televisi yang menarik, tanpa sengaja Johan terhenti di satu chanell televisi penyiar berita. Johan pun terjebak di chanell tersebut karena remote tv yang macet akibat daya baterai yang melemah.


“apa apaan nih remote? Apa baterainya mulai habis?” ucap Johan seraya memukul remot tv nya itu.


Namun, tanpa sengaja Johan mendengarkan reporter berita yang menyampaikan berita mengenai kebakaran hutan yang terjadi di dusun Engkobappe dimana dusun Engkobappe adalah dusun kampung halaman Johan. Mendengar itu, Johan seketika melongo sebab terkejut bukan main. Pasalnya, saat itu pula Johan melihat cuplikan video didalam berita tersebut. Nyatanya Johan melihat bahwasanya hutan disana habis terbakar sekalipun itu menjalar ke rumah rumah warga yang dimana masih menggunakan dinding berupa anyaman bambu maupun balok kayu.


“kobaran api benar benar cepat untuk merambat hingga saat ini di laporkan telah membakar kurang lebih 60 rumah warga dan diperkirakan terdapat belasan korban jiwa dan puluhan warga yang mengalami luka bakar. Tim pemadam kebakaran mengerahkan seluruh upaya untuk menghentikan kobaran api yang semakin ganas tersebut. 60% hutan dengan berbagai macam pohon di tempat itu hangus terbakar sementara masih terdapat 40% pepohonan yang tidak terkena dampak efek kebakaran itu. Dihimbau untuk seluruh warga untuk selalu waspada dengan kesehatan serta tidak lupa pula selalu membuang sampah pada tempatnya” ujar sang reporter itu dalam pembawaan beritanya.


Mendengar hal itu, seketika Johan menjatuhkan remote tv nya tersebut dengan seketika hingga suara tersebut mengejutkan sang papah dan mamah yang saat itu tengah berada di meja makan. mereka pun seketika menghampiri suara dari barang dan jatuh tersebut. Setelah mereka berdua menuju ke ruang tengah, mereka mendapati kalau Johan saat itu tengah memasang kembali baterai remote tv tersebut sebab saat itu baterai dari remote tv itu berceceran keluar karena jatuh.


“apa yang terjadi? Ada apa?” tanya sang mamah.


“ehh, enggak mah. Aku cuma kaget doang kok. Soalnya tadi ada berita soal kampung halaman aku yang sekarang sedang kebakaran” ucap Johan seraya memasang kembali baterai remote tersebut.


“hah? yang bener kamu? Kebakaran? Kok bisa?” tanya sang papah dengan wajah yang begitu panik.


“aku agak khawatir, soalnya tadi ada keterangan kalo kebarakan itu bener bener gede dan merenggut belasan korban jiwa” ucap Johan.


“kalo begitu, apa aku boleh ke kampung sekarang juga? kakek kemarin pagi mengajakku buat ke kampung, dan juga mengajak Lia. Tapi sepertinya aku ingin berangkat sekarang dan berangkat sendir-“ ucap Johan terhenti.


“jangan bodoh! Disana masih berbahaya. Papah tidak akan pernah mengijinkanmu” sahut sang papah.


“tapi pah, kita tidak tau siapa saja korban dari bencana kebakaran itu” sahut Johan.


“sudah ada tim penyelamat yang pergi kesana kan? Mereka sudah profesional” ucap sang mamah.


“hmm, okelah. Besok aja aku kesana” ujar Johan.


“iya. Gitu dong anak mamah. Sekarang kamu tidur aja, kita akan mencari tau semuanya besok hari” ucap sang mamah seraya mengelus kepala Johan.


“hmm” ucap Johan menggumam seraya berjalan menuju lantai atas. Nyatanya Johan benar benar takut jika salah satu korban dari kebarakan itu adalah kakeknya sendiri. Nyatanya, rumah kakeknya itu terbuat dari balok kayu yang sangat mudah sekali terbakar. Maka dari itu Johan benar benar khawatir akan keadaan kakeknya.


Johan membuka pintu kamarnya dan kemudian mengunci pintu tersebut dari dalam. Saat itu pula Johan merebahkan tubuhnya dan kemudian memasukkan tubuhnya kedalam selimut. Johan menyumpat kedua lubang telinganya iu menggunakan earphone miliknya. Saat itu pula Johan semakin suntuk dan pada akhirnya dirinya tertidur lelap dengan kondisi tengah menyetel lagu.