Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 15, Kecelakaan sang Ibunda



“mohon maaf, tapi kita sudah mengotopsi tubuh korban ke rumah sakit terdekat. Namun hasil yang diperoleh dari jawaban dokter disana adalah nyawa suami anda tidak tertolong” ucap polisi tersebut.


“tidak, itu tidak mungkin” ucap sang ibunda seraya meneteskan air mata dan dengan tatapan kosong tanpa berkedip sekalipun.


“dan juga, kita mendengarkan perkataan terakhirnya. Dia mewasiatkan sesuatu” ucap polisi tersebut.


“a-apa itu? apa itu pak?” tanya sang ibunda begitu terkejut.


“dia ingin dimakamkan di pemakaman bersama dengan kedua orangtuanya. Dia ingin di makamkan di desa tempat kedua orang tuanya di makamkan pula” ucap polisi tersebut.


“dia ingin di makamkan di Engkobappe?” tanya sang ibunda dengan tatapan begitu kosong.


“benar, Engkobappe dusun yang baru saja mendapatkan musibah kebakaran hutan yang benar benar luar biasa dahsyat” jawab sang polisi tersebut.


“sekarang, kita sudah mengotopsi jenazah dari tubuh suami anda. Selepas itu, saya menyuruh bawahan bawahan saya untuk mengirim jenazah tersebut di engkobappe dan kemudian memakamkannya atas ijin penduduk disana. Teman teman saya sudah berangkat dari awal, dan kemungkinan mereka akan kembali dari pemakaman saat jam 10 pagi esok hari” ucap sang polisi tersebut.


“kita juga sudah membayarkan semua barang barang dan keperluan lainnya yang berhubungan dengan proses kematian. Maka dari itu keluarga dari korban tidak perlu lagi mengeluarkan sepeserpun biaya lagi untuk mengurus pemakaman tersebut” ucap sang polisi


“terimakasih, terimakasih banyak” ucap sang ibunda seraya menundukkan kepalanya berkali kali.


“kalau begitu, apakah anda ingin segera menuju ke Engkobappe sekarang juga?” tanya sang polisi tersebut.


“iya, saya ingin pergi sekarang juga” jawab sang ibunda.


“kalau begitu, anda bisa ikut dengan saya dan teman teman saya ini untuk mengantarkan anda kesana” ucap sang polisi tersebut.


“apa boleh?” tanya sang ibunda.


“kita akan membantu keluarga korban sampai saat terakhir pemakanannya” ucap sang polisi tersebut.


“baiklah, terimakasih banyak. Saya sangat berterimakasih” ucap sang ibunda menundukkan kepalanya berkali kali dengan tetesan air matanya tersebut.


Maka mereka semua pun berangkat menuju desa Engkobappe tempat jasad sang papah Johan dimakamkan. Sang ibunda masuk kedalam mobil polisi bersama dengan beberapa polisi lainnya.


Mereka pun menancap gas dan beranjak pergi dari rumah tersebut. Perjalanan sudah lebih dari 10 menit dari mereka yang berangkat dari rumah Johan. Namun, di tengah tengah perjalanan, sang ibunda pun pingsan di tempat duduknya. Sang ibunda terjatuh dengan keras dari tempat duduknya tersebut dan membuat pandangan mereka semua teralihkan.


“hah? ada apa?” tanya sang sopir.


“dia sepertinya pingsan” jawab salah satu temannya.


“cepat bantu dia, dan bangunkan dia segera. Letakkan dia di kurs-“ ucap sang sopir terhenti.


Seketika sang sopir pun membanting setir dan kemudian menabrak satu pohon di taman tersebut. Hingga pada akhirnya, semua orang pun terbentur kepalanya dengan keras. Semua orang disana pun dalam keadaan yang parah dimana kepala mereka di banjiri oleh darah terkecuali sang ibunda karena saat itu sang ibunda telah terjatuh dan tersungkur di bawah kursi dan membuatnya benar benar aman dari benturan keras.


“a-apa kalian baik baik saja? apa kalian mendengarkan suaraku? Kalau kalian mendengarnya, angkat tangan kalian tinggi tinggi dan gerakkan jari kalian” teriak sang sopir dengan dalam kondisi kepala yang terbanjiri darah.


“apa kalian semua masih sadar?” teriak sang sopir.


Seketika terdapat 3 orang yang mengangkat tangannya. Saat sang sopir melihat itu, sang sopir seketika mengenalnya melalui seragam yang mereka kenakan. Namun, disaat sang sopir hendak menyelamatkan teman temannya, secara tiba tiba mesin yang berada di bagian depan mobil pun mulai mengeluarkan asap hitam pekat begitu banyak.


Sang sopir semakin panik dan ketakutan akan hal tersebut. Sang sopir berusaha membuka pintu mobilnya dan keluar, namun sepertinya ia terkunci dari dalam. Tanpa pikir panjang, sang sopir pun mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menendang sangat keras pintu mobil tersebut.


Hingga pada akhirnya, pintu mobil tersebut berhasil terlepas dari badan mobil dan terlempar jauh ke tengah jalan. Seketika sang sopir pun berlari keluar dengan kondisi kepala penuh darah dan pergelangan kaki yang keseleo sebab terlalu memaksakan kakinya untuk menendang pintu mobil.


Sang sopir pun berlari dengan pincang. Dirinya pun berlari menjauh dari mobil tersebut karena ketakutan akan mobilnya yang bisa saja terbakar atau bahkan meledak disana. Saat dirinya sudah cukup jauh, dirinya membalikkan badan dan melihat mobil polisinya tersebut mengeluarkan asap yang gelap nan hitam serta pekat dengan jumlah yang sangat banyak.


“sial, kakiku keseleo” ucap sang sopir menahan kesakitan.


“ohh, iya. Perempuan itu” ucap sang sopir tersebut benar benar kelupaan.


Sang sopir pun seketika berlari menuju mobilnya kembali dengan kaki yan pincang. Sesampainya dirinya di bagian belakang mobil, dirinya pun berusaha dengan sangat amat luar biasa keras untuk membuka pintu belakang. Hingga sampai dia kualahan untuk menarik pintu tersebut.


Hingga pada akhirnya, dirinya berhasil menarik dan membuka pintu belakangnya. Namun sayangnya tubuhnya harus terlempar kebelakang dan terjatuh dengan keras. Sesaat setelah itu, sang sopir pun mencari dimanakah letak perempuan yang sebenarnya adalah ibunda Johan. Sesaat setelah dia mencari cari, ternyata sang ibunda Johan pun dengan aman dan tidak terluka sama sekali sedang terhimpit oleh beberapa kursi mobil di bagian tengah mobil.


Dirinya pun melihat teman temannya pula di kursi tengah yang bahkan keadaannya lebih miris. Kedua temannya tersebut dalam kondisi terjepit diantara kursi tengah dan kursi depan. Dan satu lagi temannya telah terlempar keras hingga ke kursi depan dan membuat kepala orang tersebut terbentur dengan sangat amat keras.


Melihat hal itu, sang sopir pun seketika melepaskan kursi mobil dengan susah payah dan kemudian membuangnya keluar mobil. Selepas itu, sang sopir lebih memilih untuk menyelamatkan tubuh sang ibunda terlebih dahulu sebelum tubuh teman temannya itu. Sang sopir pun menggendong tubuh lemas milik sang ibunda Johan dan membawanya menuju trotoar jalan.


“maaf, aku sedikit kasar saat mengangkatmu. Tapi sekarang kamu udah baik baik saja” ucap sang sopir kepada sang ibunda yang saat itu masih tidak sadarkan diri.


“sekarang, aku harus menyelamatkan teman temanku. Aku harus melepas kursi depan agar aku bisa menarik dan membawa kedua temanku itu” fikir sang sopir dalam hati seraya membulatkan tekadnya.


Sang sopir pun seketika berlari dan mendekat ke arah mobil tersebut. Namun, saat dirinya sudah sedikit lebih dekat, seketika mobil tersebut meledak dengan keras dan membuat sekujur mobil terbakar karena kebocoran bahan bakar. Melihat hal itu, sang sopir pun seketika terkejut karena suara ledakkan tersebut.


Tidak hanya terkejut, nyatanya sang sopir pun seketika menangis di sana karena sangat amat merasa bersalah atas perlakuannya. Dirinya malah menyelamatkan perempuan yaitu sang ibunda Johan namun tidak menyelamatkan teman temannya. Sang sopir menangis deras seraya menyalahkan dirinya sendiri atas insiden itu.


“kenapa aku tidak melihat jalan ketika menyetir? Kenapa aku tidak bisa menyelamatkan teman temanku? Kenapa aku selemah ini? aku bahkan sama sekali tidak berguna di kepolisian ini. Mungkin jika yang menyetir bukanlah aku, semua ini tidak akan terjadi. Jika yang selamat ini bukanlah aku dan temanku, pasti temanku itu sudah menyelamatkan semua orang khususnya aku. Kenapa aku selemah ini?” teriak sang sopir di tengah jalanan yang kosong nan sepi.


Hangatnya ledakkan api tersebut menyelimuti tubuh sang sopir bersama dengan semua kenangan yang pernah teringat di kepala sang sopir. Dirinya pun seketika melemaskan tubuhnya di aspal yang dingin bersama dengan angin malam yang menyelimutinya.


Hingga sampai saat dirinya sudah tidak kuat lagi menahan kesakitan, pada akhirnya tubuhnya terbaring tengkurap di aspal jalanan diikuti dengan darah yang tidak berhenti mengalir. Pada akhirnya, ia pun tidak kuasa untuk menahan semua ini dan memutuskan untuk membiarkan tubuhnya berada di bawah alam sadar. Ia pun terbujur lemas pingsan di sana.