Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 18, Keberangkatan menuju Engkobappe



Mereka pun dipulangkan ke rumah mereka masing masing dan kemudian menyiapkan diri mereka masing masing. Johan mengganti pakaiannya menjadi kemeja rapih berwarna putih bersama dengan celana hitam panjang dan sepatu hitam pula. Johan pun mengambil dompet serta charger hp miliknya itu. Johan pun seketika duduk di sofa ruang tamu hanya untuk sekedar menunggu orang orang menjemputnya.


Sesaat setelah itu, bell rumah pun berbunyi, Johan membukakan pintu dan kemudian datanglah Emilia dengan pakaian rapih namun masih terlihat begitu anggun. Johan pun menyuruhnya untuk masuk kedalam rumah untuk menunggu orang lain datang kerumahnya.


Pada akhirnya, Johan pun duduk bersampingan bersama dengan Emilia. Di situasi yang benar benar canggung, tidak ada satupun orang yang saling berbicara. Sunyi dan sepi nya suara membuat Emilia benar benar tidak nyaman dalam situasi seperti itu.


“a-apa kamu mau minum dulu?” tanya Johan.


“tidak usah, aku udah bawa minum sendiri” ucap Emilia.


“ehh? Kamu bawa minum apa? Apa itu kopi? Atau hanya teh?” tanya Johan.


“aku hanya membawa minuman bersoda” ucap Emilia.


“waaaahhhh, aku mau. Aku minta” ucap Johan dengan manja suaranya.


“eiitss, nggak akan. Kamu gaboleh minum minuman bersoda dulu” ucap Emilia dengan tegas.


“hufftt, padahal aku pengen” ucap Johan menunduk seraya membuat ekspresi murung.


“percuma saja, walau kamu memasang raut muka kasihan, aku nggak akan memberikan soda ini kepadamu. Nunggu nanti kalo kamu udah baikan” ucap Emilia.


“terserahlah” ucap Johan.


Sesaat setelah itu, terdengar suara bell dari pintu depan. Johan pun berdiri untuk membukakan pintu namun Emilia menyuruhnya untuk tetap duduk di tempatnya.


“udah, kamu duduk aja. Biar aku yang bukain pintu” ucap Emilia.


“i-iya, makasih banyak” ucap Johan kembali duduk disana.


Emilia pun beranjak dari sofa dan kemudian berjalan menuju pintu depan. Selepas itu, Emilia membukakan pintu untuk mempersilahkan orang tersebut masuk. Namun, nyatanya mereka hanyalah Nyoman, Farel dan Jehian dengan pakaian formal dan rapih sedang berdiri di depan rumah.


“ehh cepet banget kalian dateng?” tanya Emilia.


“harusnya aku yang tanya seperti itu kepadamu, cepet banget Emilia dateng” ucap Jehian.


“abis ngapain kalian berdua di rumah yang sepi?” tanya Nyoman seraya menggoda Emilia.


“ti-tidak, kita nggak akan ngapa ngapain. Sekarang, masuk aja. Johan udah di sofa ruang tamu” ucap Emilia.


“i-iya” jawab mereka bertiga.


Mereka semua pun berjalan masuk kedalam rumah. Mereka berjalan hingga ke ruang tamu dan melihat kalau Johan tengah duduk di sofa sembari memainkan HP nya dan memutar lagu di earphone miliknya itu. Ketiga sahabatnya itupun duduk di sofa dengan sedikit ketakutan dengan Johan. Entah kenapa, namun mereka sedikit takut kepada Johan. Mereka berfikir kalau Johan sudah benar benar mengalami depresi dan trama berat hingga kepribadian Johan berubah menjadi preman yang suka memukuli orang lain.


“pe-permisi” ucap mereka bertiga seraya duduk perlahan di sofa berhadapan langsung dengan Johan.


“hmm” gumam Johan tengah menunduk bermain HP sembari menjawab salam ketiga sahabatnya.


Emilia pun seketika duduk di samping Johan dengan santainya. Berbeda dengan ketiga sahabat Johan itu, mereka bertiga menatap serius Johan dengan tatapan tajamnya karena waspada akan kelakuan yang akan dilakukan oleh Johan.


“kenapa kalian melihat Johan seperti itu?” tanya Emilia.


“ti-tidak apa apa, kita hanya was was dan berjaga jaga. Barangkali dia melepas segel Kurama dan berubah menjadi siluman rubah yang psikopat dan haus akan darah” ujar Farel dengan begitu was was.


“iya, takutnya dia kehilangan kendali dan kemudian membunuh kita bertiga” ucap Jehian dengan keringat dingin.


“bagaimana kalau dia mengambil pisau di dapur dan kemudian mengikat kita bertiga di kursi kemudian dia menguliti kita hidup hidup dan kemudian dia mengambil garpu dari dapur dan kemudian dia mencongkel mata kita dan kemudian dia mengambil wadah dan kemudian dia memotong tubuh kita dan kemudian memasukkan tubuh kita ke dalam wad-“ ucap Nyoman terhenti.


Seketika Johan berdiri dari tempat duduknya itu dengan tatapan kosong. Seketika sahabatnya itu begitu kebingungan setengah mati. Johan pun berjalan menuju kearah belakang dengan santainya. Ketiga sahabat itu mulai menghembuskan nafas dalam dalam karena ternyata Johan tidak melakukan apa yang mereka ekspetasikan sebelumnya.


“apa yang kalian fikirkan mengenai Johan? Kenapa kalian berfikir kalau Johan itu jahat?” tanya Emilia.


“apa kau tidak menyadarinya? Ketika kita menonton film dimana ada satu karakter yang selalu tersiksa batin dan mentalnya, itu bisa mempengaruhi perilaku kesehariannya. Orang tersebut bisa saja membunuh manusia lain dan tertawa terbahak bahak karena merasa puas dan meras-“ ucap Jehian terhenti.


“tapi-“ ucap Nyoman terhenti.


Seketika datanglah Johan dengan membawa lima buah garpu, se bilah pisau, dan sebuah wadah makanan kecil. Johan berjalan dengan santainya menuju ruang tamu tersebut. Seketika ketiga sahabatnya itupun berteriak ketakutan dan berfikir kalau Johan benar benar akan melakukannya.


Johan pun meletakkan semua barang bawaannya itu ke meja ruang tamu tersebut. Johan membuka wadah makanan tersebut dan ternyata berisi setengah potong buah melon dingin dari kulkas. Johan pun seketika memotong melon tersebut menjadi kecil agar mudah untuk di makan. Johan pun meletakkan potongan melon tersebut kedalam wadah makanan itu. Johan pun mengambil sebuah garpu dan kemudian menusukkannya ke sepotong melon kemudian memakan melon tersebut.


“nyoh, silahkan makan” ucap Johan sembari duduk dan kembali bermain HP nya.


“i-iya. Makasih banyak” ucap semua sahabatnya itu seraya mengambil garpu dan menusukkan melon tersebut. Ketiga sahabatnya itupun memakan melom dingin dan segar tersebut seraya menghembuskan nafas lega karena Johan benar benar tidak akan melakukannya. Ketiga sahabatnya tersebut kemudian memakan melon mereka hingga habis.


Emilia pun segera mengambil salah satu garpu dan kemudian hendak menusukkan melon kedalam garpu nya itu. Namun, seketika Johan memegang tangan Emilia dan menghentikan Emilia untuk mengambil melon tersebut.


“jangan makan, nanti kamu keracunan” ucap Johan.


“hhaaaahhh? Melonnya ada racunnya?” teriak ketiga sahabatnya itu begitu terkejut.


“hah? ada apa?” tanya Johan kepada ketiga sahabatnya itu.


“apa kau mau meracuni kami bertiga?” tanya ketiga sahabatnya itu.


“hah? ada apa?” teriak Johan.


“apa kau mau membunuh sahabatmu sendiri?” teriak mereka bertiga.


Seketika Emilia pun melepaskan earphone yang menyumbat lubang telinga Johan tersebut. Ketiga sahabatnya itupun berteriak dengan lebih keras lagi di depan wajah Johan secara langsung.


“apa kau mau meracuni kita semua?” teriak mereka bertiga.


“huusss, jangan teriak teriak. Nanti di denger tetangga” ucap Johan.


“kau meletakkan racun kedalam melon ini?” tanya Jehian dengan begitu ketakutan.


“ehh? Kenapa juga aku melakukan itu?” tanya Johan terheran.


“tapi, kau bilang kepada Emilia kalo melon itu ada racunnya” ucap Farel dengan keringat dingin.


“ohh, jadi kalian mengira kalau aku meletakkan racun kedalam melon? Nggak lah. Tadi sebelum kalian datang kerumah, Emilia sudah meminum minuman soda, jadi kupikir kalo dia memakan buah melon, dia akan sakit perut” ucap Johan.


“oh” ucap ketiga sahabatnya itu menghela nafas lega.


Selepas itu semua, seketika terdapat suara bell rumah yang berbunyi. Spontan Emilia beranjak dari sofa dan kemudian berjalan untuk membukakan pintu rumah tersebut. Saat Emilia telah membukakan pintu, nyatanya terdapat beberapa orang yang memakai pakaian rapih tengah berdiri di depan pintu rumah.


“selamat siang, apakah ini benar kediaman milik ananda Johan Mahesa?” tanya orang tersebut.


“benar” jawan Emilia.


“apa ananda dan teman temannya sudah siap untuk berziarah ke makam?” tanya orang tersebut.


“sudah, semuanya sudah berkumpul dan bersiap. Apa kita akan berangkat sekarang?” tanya Emilia.


“iya, kita akan berangkat sekarang” jawab orang tersebut.


“baik, saya akan memanggilkan semuanya” ucap Emilia seraya berjalan memasuki rumah.


Emilia pun segera menyuruh semuanya untuk bersiap dan berangkat. Johan dan ketiga temannya tersebut beranjak dari sofa dan berjalan keluar rumah. Tidak lupa setelah semua orang keluar rumah, Johan mengunci pintu rumah dan meletakkan kunci nya ke saku celana kanannya.


Selepas itu semua, nyatanya beberapa orang yang menjemput Johan dan semua temannya itupun memperkenalkan dirinya masing masing. Mereka mengaku sebagai bawahan dari sang papah Johan selama papah Johan bekerja menjadi koordinator penebangan hutan. Mereka mengaku kalau papah Johan memiliki bawahan berupa orang orang tersebut. Dan pada akhirnya, saat para bawahan tersebut mengetahui berita mengenai atasan mereka yang meninggal, seketika para bawahan itu menuju ke rumah sakit dan bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk menjemput Johan sebagai salah seorang sanak famili dari keluarga korban.


Para bawahan itupun masuk kedalam satu mobil sementara Johan dan semua temannya itu masuk kedalam mobil satunya lagi. Mereka pun segera tancap gas dan kemudian menuju ke desa tempat sang papah di makamkan bersama dengan sang nenek dan sang kakek Johan.