Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 39, Di kamar Berdua



“tidak boleh” sahut semua temannya bersamaan.


“eh?” tanya Johan terkejut.


“apa kau masih belum mengerti” ucap Kahfi menepuk jidat.


“sekarang kondisimu itu masih belum pulih sepenuhnya. Apalagi kau habis jatuh dan tidak bisa berjalan jauh. Bagaimana kau bisa pergi ke sana” tegas Nyoman kepada Johan.


“dia benar, bagaimana kalau disana ada hantu dan kau tidak bisa berlari” ucap Farel mendramatisir keadaan.


“tapi, aku sudah bisa jalan kok” ucap Johan.


“tetap saja, kalau kau bersih keras mau kesana, pergi saja sendiri. Kita tidak akan menemanimu” tegas ancam Emilia.


“ba-baiklah” jawab Johan memasang raut wajah murung serta sedikit menundukkan kepalanya.


“sekarang, apa kamu mau makan? kamu nggak akan makan bubur rumah sakit lagi” ujar Emilia.


“kalau mau makan, turunlah di sini. Kita menyisakan beberapa buatmu” ucap Kahfi.


“ada menu apa disana?” tanya Johan.


“ada nasi goreng seafood dan juga nasi goreng sosis. Tapi kalau rasanya agak terlalu manis, itu berarti salah Nyoman” ucap Jehian.


“ehh? Terlalu manis? Apa kalian membuatnya sendiri?” tanya Johan.


“bukan begitu, kita membelinya. Dan kata Nyoman, dia ingin menambah kecap. Tapi dia malah menumpahkannya sedikit terlalu banyak di nasi gorengnya. Mungkin itu akan jadi terlalu manis” jawab Jehian seraya melirik tajam Nyoman.


“hehehe, maaf maaf. Aku ngga sengaja kok. Tapi nasi gorengnya masih tetep enak kok. Soalnya aku goreng lagi di wajan” jelas Nyoman.


“wah, enak tuh. Aku mau” ucap Johan seraya membuka selimutnya menggunakan tangan kirinya.


Saat dirinya membuka selimutnya, nyatanya semua orang terkejut bukan main. Pasalnya saat itu, pakaian Johan yang saat itu mengenakan kemeja putih seketika dipenuhi oleh darah merah begitu gelap. Begitupula dengan selimutnya yang saat itu sudah dipenuhi oleh darahnya.


“eh?” tanya Johan sedikit terekjut.


“haaaahhhhh‼” teriak semua teman temannya sangat amat terkejut.


“apa yang terjadi?” tanya Johan sedikit terkejut.


“apaaa yangg terjadi‼??” teriak semua teman temannya sangat amat luar biasa terkejut.


“sstttttt, jangan teriak teriak napa. Berisik” sahut Johan membesit.


“apa yang terjadi? kenapa banyak darah?” tanya Jehian begitu terekjut.


“mungkin tangan kiriku sedang kambuh dan lukanya terbuka lagi” jawab Johan seraya memamparkan jelas tangan kirinya.


Saat itu pula mereka semua mendapati kalau saja perban di tangan kirinya benar benar sudah basah akan darah. Bahkan ada tetesan darah segar dari basahnya perban tersebut.


“iya, sudah kuduga. Tangan kiriku kambuh lagi. Kenapa pendarahannya tidak cepat berhenti?” ucap Johan bertanya tanya.


“mungkin karena luka nya yang begitu besar dan lebar membuat pendarahannya tidak kunjung berhenti” jawab Emilia.


“kalau sebesar itu, sudah seharunya luka ku ini di jahit. Mungkin karena aku jatuh tadi atau kalau tidak aku yang ketiduran dan menindas tanganku sendiri” ucap Johan.


“itu mungkin saja” ujar Farel.


“kalau begitu, cepat lepas bajumu dan gantilah pakaianmu itu” ucap Kahfi.


“heh?” ucap Emilia sedikit terkejut.


“baik” jawab Johan.


“heehh?” ucap Emilia lumayan terkejut.


Johan pun saat itu seketika melepaskan baju kemeja nya tersebut disana. Seketika saat itu Emilia membalikkan badannya dan menutup rapat kedua matanya menggunakan kedua telapak tangannya.


“a-apa kau udah gila. Disini banyak orang” teriak Emilia luar biasa terkejut.


“eh? Memangnya kenapa?” tanya Kahfi.


“itu sudah jadi hal yang lumrah bagi lelaki” ucap Jehian.


“ini tidak jadi masalah kok” ucap Johan.


“bukan begitu, tapi aku ini perempuan loh” teriak Emilia.


“tidak masalah kan?” tanya Nyoman.


“itu tidak senonoh. Aku ini perempuan sendiri di kamar ini bersama dengan lima orang laki laki. Bagaimana kalau kalian anu” teriak Emilia.


“tenang aja, kita tidak akan pernah memiliki pemikiran seperti itu. Itu bener bener udah keterlaluan. Lagipula perempuan itu harus dijaga, bukan di rusak” ucap Johan.


“kalau begitu, karena kau perempuan, tolong ambilkan pakaian milik Johan di lemari pakaiannya” ucap Farel.


“ehh? Dimana?” tanya Emilia.


Tidak lama setelah itu, Farel menerima satu telefon dari ponsel miliknya di saku celana kanannya. Itu membuat Farel terkejut dan spontan mengangkat telefon tersebut. Ternyata dirinya di suruh oleh orang tuanya untuk memberikan kunci rumahnya karena saat itu kunci rumah Farel sedang di bawanya.


“iya mah, Farel yang bawa kunci rumah…. Siap Farel akan pulang secepatnya” ucap Farel menutup telefonnya.


“aku mau pulang dulu dan kasih kunci rumah ke mamahku. Sekarang mamahku menunggu di depan rumah dan nggak bsia masuk ke dalam rumah karena kuncinya sedang kubawa” ucap Farel.


“tapi apa kau akan kembali?” tanya Jehian.


“iya, jelas” jawab Farel.


“kalau begitu, bagaimana kau bisa pulang? kau tidak membawa sepeda motor kemari” ucap Jehian.


“iya juga. kalau begitu, antarkan aku kasih kunci rumah, Kahfi” ucap Farel meminta tolong kepada Kahfi.


“kalian berdua cepat balik kemari” ucap Johan.


“siap pak bos” ucap Farel dan Kahfi bersamaan.


Mereka berdua pun seketika beranjak dari kamar dan kemudian meninggalkan rumah tersebut menggunakan sepeda motor yang dibawa Kahfi. Di dalam kamar hanya ada Nyoman, Jehian dan Emilia yang saat itu sedang merawat luka Johan.


“sekarang, ambil pakaian Johan di dalam lemari” ucap Jehian.


“lemari pakaiannya yang mana?” tanya Emilia.


“di sebelah meja belajar” jawab Johan.


Saat itu pula Emilia pun membuka salah satu pintu di lemari pakaian Johan. Emilia mengambilkan kaus hitam polos yang tebal dan kemudian di bawanya menuju ke Johan. Saat Emilia melihat tubuh Johan, nyatanya dia melihat darah yang sudah mengering menempel di kulit tubuh bagian atas Johan.


“ehh? Darahnya sudah mengering di kulitnya. Lebih baik di bersihkan dahulu sebelum di kenakan pakaian” ucap Emilia.


“bagaimana? Apa harus dengan air?” tanya Nyoman.


“iya, memakai air hangat” jawab Emilia.


“kalau begitu, aku akan mengambilkan air dari kamar mandi. Di rumah ini ada pemanas air kan?” tanya Nyoman kepada Johan.


“iya, pemanasnya menyala. Air nya sudah panas. Ambil saja dari sana” jawab Johan.


“siapp” jawab Nyoman seketika beranjak dari tempat duduknya.


“sekarang, tugas Jehian adalah membuka perban di tangan kirinya. Kita akan memberihkan darahnya dari sana” ucap Emilia.


“ehh, tidak apa. Kalau itu, aku bisa membersihkannya sendir-“ ucap Johan tersahut henti.


“jangan bodoh” sahut Emilia.


“ma-maaf, tapi aku bisa melakukannya sendiri” ucap Johan.


“walau kau bisa melakukannya sendiri, tapi itu tidak diperbolehkan. Aku yang akan membersihkannya” ucap Jehian.


Saat itu juga, Emilia menerima telefon dari ponsel miliknya. Spontan Emilia melihat siapakah yang menelfonnya saat itu. Saat dirinya membuka ponselnya, ia pun terkejut karena yang menelfonya adalah sang ibunda Nyoman.


“iya, halo tante” ucap Emilia dalam telfon dengan ibunda Nyoman.


“halo, nak Lia. Apa Nyoman ada disana?” tanya ibunda Nyoman.


“iya tante, Nyoman dan teman teman lainnya ada disini” jawab Emilia.


“tadi tante berkali kali menelfon HP milik Nyoman tapi dia tidak menjawabnya” ucap sang ibunda Nyoman.


“ada apa, tante?” tanya Emilia.


“sekarang Nyoman dimana?” tanya sang ibunda Nyoman.


“dia sedang ada di dalam kamar mandi, tante. Memangnya ada apa, tante? Biar Lia yang kasih tau ke Nyoman” ucap Emilia.


“em, yaudah. Kalau kamu udah sama Nyoman. Tolong kasih tau ke Nyoman. Nyoman suruh bawa satu temennya terserah siapa. Yang pasti tante suruh Nyoman buat angkat berat berat. Papah Nyoman sekarang sedang ada dinas keluar kota, jadi Nyoman dan temannya yang harus mengambil pesanan tante. Nyoman suruh bawa Farel buat bantuin angkat pesanan tante” ucap sang ibunda.


“ohh, jadi Nyoman suruh bawa satu temen buat bantuin tante bawa angkat barang berat. Gitu tante?” tanya Emilia.


“nahh, sipp” jawab sang ibunda Johan.


“tapi, Farel masih keluar, tante. Kalau sama Jehian apa tidak apa apa tante?” tanya Emilia.


“ehh? Ada apa?” tanya Jehian yang tidak sengaja mendengar namanya disebut.


“terserah, yang pasti jangan kamu. Soalnya barangnya berat” ucap ibunda.


“baik tante, Nyoman dan Jehian pasti bakal kesana sekarang juga” jawab Emilia.


“siap. Makasih ya nak Lia” ucap sang ibunda Nyoman.


“sama sama tante” ucap Emilia.


Seketika ibunda Nyoman pun menutup telefon saat itu pula. Tidak lama setelah Emilia saling mengobrol dengan mamah Nyoman, datanglah Nyoman dengan membawa baskom berisi air hangat yang akan digunakan untuk membersihkan tubuh Johan yang dipenuhi oleh darah kering tersebut.


“Nyoman, apa hp mu mati?” tanya Emilia.


“nggak, nggak mati kok. Ada apa?” tanya Nyoman.


“barusan mamah kamu telefon aku. Katanya kamu dan Jehian suruh ambil barang pesanan mamahmu sekarang juga. Mamahmu tadi udah coba buat telefon hp mu tapi katanya tidak bisa. Jadi mamahmu telefon di hp ku” ucap Emilia.


“ohh iya, aku benar benar lupa. Astagaaa” teriak Nyoman menepuk jidat.


“ada apa?” tanya Jehian.


“papahku keluar kota dan aku harus bantuin mamahku buat angkat angkat barang di rumah. Kalo begitu, ayo ikut bantu aku. Sebentar saja” ucap Nyoman kepada Jehian.


“ehh? Aku? jadi nanti? Johan bagaimana?” tanya Jehian.


“kan ada Emilia” ucap Nyoman.


“udah, gapapa. Lia bisa kok” ucap Nyoman seraya sedikit menarik pakaian Jehian.


“iyadeh, aku ikut bantu” ucap Jehian dengan nada terpaksa.


“tapi kalian berdua akan kembali kemari kan?” tanya Johan.


“santai saja, kita pasti bakal balik kok” jawab Nyoman.


“okelah, hati hati” ucap Johan.


Saat itu juga Jehian dan Nyoman pun beranjak keluar dari kamar dan meninggalkan rumah tersebut menggunakan sepeda motor yang dibawa oleh Nyoman. Di dalam kamar hanya tersisa antara Emilia dan Johan berdua. Jehian, Kahfi, Farel dan Nyoman sudah keluar meninggalkan Johan dan Emilia di kamar berdua. Dan juga, hanya mereka berdua saja yang berada di rumah yang sepi itu.