
“secara tidak sengaja kartu ini terjatuh dari dalam tasmu. Dan pak sopir pembawa makanan ini yang mengajari kami berempat untuk bermain kartu UNO ini” jelas sang bendahara.
“dahlah, mainlah sepuas kalian. aku juga males main tuh kartu” ucap Johan seraya berjalan ke arah rak meja yang berada di samping kasur tersebut.
Johan pun mengambil sebotol air mineral dan kemudian meneguknya dengan begitu segar. Setelah itu, Johan pun memasukkannya ke dalam tasnya kembali beserta semua barang barangnya yang ada di atas meja. Sebelum itu, Johan melihat di dalam Ponselnya masih tidak ada sinyal dan membuat tidak ada satupun pesan yang masuk.
“benar benar jaringan payah” umpat Johan.
Johan pun segera memasukkan ponsel dan chargernya itu ke dalam tas beserta beberapa barang miliknya lainnya.
“pak sopir, apa kau sudah selesai? Kalau sudah ayo kita pulang” ujar Johan.
“haahhh? Pulang sekarang? Apa kau bercanda?” teriak keempat para tetua itu begitu terkejut.
“menginaplah disini lebih lama” bujuk sang sekertaris.
“nggak mau” jawab Johan dengan suara juteknya.
“aku akan membuatkanmu kopi setiap hari” bujuk sang bendahara.
“nggak mau” jawab Johan dengan suara juteknya.
“aku akan memijatmu kembali” bujuk sang ketua.
“nggak mau, aku harus pulang kerumah. Soalnya aku kemari tanpa ijin orang rumah. Jadi bisa dibilang aku kabur dari rumah” jelas Johan.
“dasar udah gila, bener bener udah gila. Dasar ceroboh. Pasti mamahmu sekarang udah sangat khawatir” ucap sang wakil.
“kalau begitu, kita akan pulang jam 9 nanti” ucap sang sopir seraya menyeruput kopinya.
“bukannya itu tidak terlalu lama?” tanya Johan.
“di jam seperti itu, sudah tidak ada truk yang melintas dan hanya mobil biasa. Jika terlalu pagi, truk masih berkeliaran dan menimbulkan macet jalanan. Untuk sekarang, siapkan saja barang barangmu” jawab sang sopir.
“sudah selesai” jawab Johan menunjukkan tasnya yang sudah rapih.
“cepet banget!. Ohh iya, mengenai sepatumu” ucap sang ketua.
“ehh iya, aku baru ingat kalau aku masih menggunakan sandal disini. Dimana sepatuku?” tanya Johan.
“kita juga tidak tau, tapi yang pasti kita menemukanmu kemarin malam di bawah pohon tanpa menggunakan sepatu dan kakimu sudah lecet semua” jawab sang sekertaris.
“hmm, yaudahlah gapapa. Seingatku aku melepasnya saat melawan duabelas penebang itu. Mungkin sekarang sedang berada di tengah hutan, dan aku udah males buat cari itu sepatu. Biarkan saja sepatu itu disana” ucap Johan.
“lagi lagi kau ceroboh” sahut sang wakil.
“sekarang, ayo kita berangkat. Biarkan para truk itu lewat” teriak Johan dengan begitu semangat.
“bentar dulu. Kita akan berangkat pas jam 8 pagi” sahut sang sopir.
“ayolahhhh, aku udah gabisa nunggu lagi. Disini nggak ada sinyal sama sekali. Aku sudah khawatir dan takut bagaimana jika aku dimarahi sama mamahku dirumah sakit” ucap Johan.
“huhuhuhhhuhuhuhuhhu, psati kau akan di lempar sapu sama mamahmu” ucap sang ketua menakut nakuti Johan.
“apalagi dia akan melemparmu dengan sandal dan menendangmu dengan kakinya. Tenang saja, jika mamahmu menendangmu dengan kakinya, jangan melawan, terima saja. Itu adalah tendangan dari surga. Karena percayalah bahwa surga ada di telapk kaki ibu” ucap sang sekertaris diikuti oleh tawa semua orang disana.
“jangan nakut nakuti gitu dong. Gimana kalo aku di lempar sapu beneran? Bisa bisa sekali lempar dan langsung headshot. Mungkin aku langsung sakaratul maut dan wafat seketika” ucap Johan dengan nada sedikit kesal.
“udah udah udah, aku akan bersiap dahulu. Aku akan ke kamar mandi terlebih dahulu” ucap sang sopir meletakkan kartunya dan beranjak pergi dari sana.
“cepetan!” sahut Johan.
“iya iya, sabar dikit napa” ujar sang sopir itu berjalan keluar kamar.
Selepas itu semua, sang sopir pun kembali dengan dalam keadaan yang sudah begitu segar. Semuanya sudah siap dan hanya tingga keberangkatan mereka saja. Para tetua pun berdiri di depan pintu bersama dengan Aqila, Guntur, Ryu, Fathur, Juan dan Aji. Johan dan pak sopir saat itu sudah dalam kondisi memasuki mobil pick up tersebut.
Johan melihat dari jendela kiri bahwasanya Aqila, Guntur, Ryu, Fathur, Juan dan Aji tengah melambai kecil kepadanya. Maka dari itu, Johan pun membalas lambaian tangan mereka semua.
“hati hati dijalan!” teriak sang ketua.
“iya, terimakasih” teriak Johan dan pak sopir bersamaan.
“kak Johan, cepat kembali” teriak Aqila.
“iya, Aqila. Kak Johan pasti akan kembali” teriak Johan.
“kak Johan, doa Iris selalu menyertai kak Johan. LATOM!” teriak Aji.
“Latom!” teriak Johan dengan senyum begitu bahagia.
Sesaat setelah itu, Johan pun dengan tidak sengaja melihat Odessa yang saat itu sedang berada di balik pohon mangga di depan gedung tersebut. Bukan kenapa kenapa, Odessa hanya melambaikan kecil tangannya kepada Johan dengan senyuman yang benar benar begitu polos.
Johan pun segera balik melambaikan tangannya kepada Odessa dengan senyum yang tulus seryaa sedikit menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, sang sopir pun begitu terkejut dengan kehadiran perempuan cantik yang sedang melambaikan tangannya kepada Johan.
“wohh, dia siapa? Cakep bener. Apa dia pacarmu?” tanya sang sopir dengan begitu terpesona.
“jangan di ambil, dia punyaku” ucap Johan dengan tawa lepasnya.
“yaahh, ternyata dia pacarnya Johan. Padahal aku udah bawa karung di bagasi belakang” ucap sang sopir.
“hahahaha, lucu sekali. Benar benar lucu” ucap Johan tertawa lepas.
“tapi serius, dia cakep bener parah. Namanya siapa?” tanya sang sopir.
“kalo aku punya anak lelaki, aku pengen jodohin dengan si dia” ucap sang sopir.
Saat itu pula, kondisi mesin mobil sudah panas. Dengan lambaian jauh, Johan melambai kepada semua orang yang ada disana sekalipun itu adalah Odessa Ai. Selepas mereka keluar dari gapura desa Engkobappe, mereka benar benar puas akan kedatangan mereka bersama dengan para penduduk disana.
Pasalnya, semua orang akan mendapatkan teman jika pergi ke Engkobappe. Itulah yang difikirkan oleh sang sopir ketika berkomunikasi dan bersosialisasi.
“memangnya anak bapak laki laki atau perempuan?” tanya Johan.
“satu laki laki, dan satu lagi perempuan” jawab sang sopir.
“kalau begitu, kenapa bapak bilang kalau bapak ingin punya anak laki laki?” tanya Johan.
“kedua anak bapak sudah meninggal saat kecelakaan. Aku membawa mobil keluarga dan hendak perjalanan menuju berlibur ke pantai. Itu terjadi sekitar beberapa bulan yang lalu. Saat itu, bapak membawa mobil keluarga dan didalamnya berisi bapak, istri bapak, dan dua anak bapak. Saat itu, hujan benar benar deras dan bapak tidak bisa mengendalikan licinnya jalanan. Saat itu pula, ban mobil bapak tergelincir dan kemudian menabrak pohon. Saat itu, bapak menggunakan sabuk keselamatan sementara istri dan dua anak bapak tidak menggunakannya. Kepala mereka bertiga terbentur dengan begitu keras hingga pendarahan hebat sementara bapak tidak bisa melakukan apa apa. Mungkin itu adalah dosa terbesar di dalam hidup bapak dimana bapak masih menyesali perbuatan bapak saat itu” jelas sang pak sopir dengan raut muka serius memandang jalan raya.
“umur anak bapak berapa tahun?” tanya Johan.
“benar benar masih kecil. Saat itu, anak laki laki bapak masih berumur 8 tahun sementara anak perempuan bapak berumur 5 tahun. Benar benar masih keluarga yang bahagia begitu bapak memandang raut wajah mereka yang begitu senang saat di ajak berlibur. Namun ujungnya, mereka bapak mengakhiri kebahagiaan mereka. Tangan bapak sudah tidak bisa di maafkan lagi. sampai detik ini, bapak sudah membulatkan niat untuk tidak menikah lagi karena trauma dan takut jika kejadian yang lalu terulang kembali. Bahkan kejadian yang lalu masih menghantui bapak ketika tidur” jelas sang sopir.
“bapak masih merasa bersalah akan kesalahan bapak yang lalu dan sampai sekarang bapak masih belum melakukan apa apa?” tanya Johan.
“hah? maksudnya?” tanya Johan.
“aku pernah mendengar salah satu cerita mengenai seorang pendosa yang selalu membuang bayi dan menyesali perbuatannya. Sang pembuang bayi pun bertanggungjawab dengan cara selalu mengunjungi panti asuhan dan memberikan bantuan kepada anak yatim piatu disana. Aku yakin perasaan bersalah bapak pasti akan jauh berkurang” ucap Johan.
“kau benar juga” ucap sang sopir sedikit tersenyum.
“ohh iya, aku lupa. Hari ini temanku keluar dari rumah sakit. Dan aku ingin menjenguknya. Apa kau bisa menungguku sebentar di dalam mobil sementara aku akan masuk kedalam rumah temanku?” tanya sang sopir.
“terserah bapak, tapi siapa nama teman bapak itu?” tanya Johan.
“aku tidak ingat nama aslinya, tapi dia di panggil Mansur. Itu bukan nama aslinya” ucap sang sopir.
“ohh, jadi si mansur yang bapak bicarakan dengan om om makelar kemarin malam?” tanya Johan.
“yoi” jawab sang sopir.
Saat itu pula sang sopir berhenti sejenak di SPBU untuk mengisi bahan bakar mobil pick up tersebut saat di rest area dalam area TOL.
“nih pak, uangnya buat beli bensin. Uang bapak simpan saja” ucap Johan memberikan uangnya sebesar dua ratus ribu rupiah.
“ehh tidak usah. Itu tidak perlu. Lagian ini juga bukan uang bapak melainkan uang dari perusahaan hanya sekedar uang pengiriman. Mereka memberikan ini kepada bapak untuk membayar tol dan membeli bensin serta keperluan lainnya. Sudah bawa saja uangmu itu” ucap sang sopir menolak.
“hmm, okelah pak” ujar Johan meletakkan uangnya kembali ke dalam dompet.
Mereka pun melanjutkan perjalanan selama kurang lebih tiga setengah jam. Karena saat itu, disana sudah terdapat banyak mobil yang menggunakan jalan yang sama, dan terpaksa mau tidak mau sang sopir tidak bisa terlalu ngebut saat pulang. kaca jendela yang terbuka lebar membuat udara segar masuk bersama dengan sinar mentari yang masih belum terlalu panas.
Perjalanan mereka sangat di hibur oleh cuaca yang begitu mendukung dimana langit biru membentang di langit tanpa adanya awan sedikitpun. Hingga sampai jam 11.30 mereka sudah sampai di halte bus tempat mereka bertemu. Saat itu, sang sopir tidak langsung berhenti di halte bus melainkan terus jalan terus menuju ke rumah Mansur, teman dari pak sopir.
Nyatanya, rumah dari Mansur tersebut tidak terlalu jauh dari halte bus. Hanya berjarak berkisar kurang lebih 3 kilometer darisana. Sang sopir pun berhenti di salah satu kamar kost yang sedikit besar dengan teras yang begitu bersih. Sang sopir pun memarkirkan mobil di sebrang jalan dan kemudian memasang rem tangan.
Sang sopir pun mengambil se kardus besar berisi kopi yang telah ia beli di desa untuk ia berikan kepada temannya yang baru saja keluar dari rumah sakit itu.
“apa itu?” tanya Johan.
“kopi dari desa. Aku akan memberikannya sekardus untuknya” jawab sang sopir.
“buset banyak banget” ucap Johan.
“tenang aja, aku udah ada bagian sendiri kok. Aku udah stock 3 kardus” ucap sang sopir.
“udah gila kali” ujar Johan begitu terheran.
Sang sopir pun membuka pintu mobil dan membawa kerdus tersebut. “tunggu sebentar aja” ucap sang sopir.
“santai aja pak, jenguk teman bapak itu” jawab Johan.
Sang sopir pun kemudian menutup pintu mobil tersebut dan kemudian menyebrang jalanan yang bisa dibilang sedikit lebih ramai dari biasanya. Johan pun menunggu sang sopir seraya membuka ponselnya. Saat itu sinyal dari ponselnya sudah penuh namun tidak ada satupun panggilan maupun pesan yang masuk.
“heh? Apa orang orang rumah masih belum bangun jam segini? Sekarang sudah mau jam 12 tapi orang orang di rumah masih belum telfon maupun chat aku?” teriak Johan dalam mobil.
“dasar mereka jahat banget, padahal seharusnya aku dicari dan di pedulikan” ucap Johan dengan suara yang menyedihkan.
“ehh, tapi kalau di fikir fikir. Aku kan memang tidak mengisi paket kuota dari bulan lalu karena aku terlalu sering menggunakan wifi rumah” ucap Johan dengan menggaruk kepalanya sendiri.
“dasaarr bodohnya akuuu! Kenapa aku tidak mepersiapkan ini sebelumnyaaa” teriak Johan dalam hati.
“dasar bodoh!” ucap seorang perempuan yang menatapnya dari jendela luar.
Mendengar hal itu, Johan benar benar terkejut akan kehadiran perempuan itu.
“whoaaaahh! Si-siapa?” teriak Johan dengan begitu kencang.
“dasar bodoh, kau bahkan tidak minta maaf denganku” ucap perempuan tersebut dengan tatapan mata yang begitu tajam.
“si-siapa? Aku tidak mengenalmu. Pasti kamu salah orang” ucap Johan dengan tatapan sedikit takut.
“aku adalah perempuan yang kau tabrak saat kau berlari dan menuruni tangga rumah sakit” ucap perempuan tersebut.
“eh?” tanya Johan masih berusaha mengingat kejadian lalu.