
“namaku Callysta. Saat itu kau baru keluar dari ruangan dan berlari dengan begitu cepat tanpa melihat arah depan hingga menabrakku. Dan kau bukannya meminta maaf malah melanjutkan berlari. Tiba tiba saja teman temanmu menanyakan orang yang sedang berlari dengan menggunakan kemeja putih. Dasar bodoh. Dasar ceroboh. Dasar jahat” ucap perempuan itu.
“ehh? Ohhhh ituuu. Aku ingat. Aku benar benar sangat amat luar biasa minta maaf” teriak Johan seraya menundukkan kepalanya dengan begitu rendah.
“sudahlah itu sudah lalu” ucap sang perempuan itu.
“lalu, ada apa? Kenapa kamu ada disini? apa aku mengenalmu? Apa kita ada urusan?” tanya Johan.
“papahku memanggilmu di dalam. Kamu di suruh masuk kedalam rumah” ucap Callysta.
“heh? Papahmu? Aku tidak mengenalnya. Siapa? Kenapa aku harus kerumahmu? Aku tidak kenal siapa siapa” ucap Johan dengan sedikit ketakutan.
“sudahlah ikut saja, pak Abdi juga menyuruhmu masuk kedalam rumah” ucap perempuan itu dengan sedikit paksa.
“pak Abdi? dia siapa? Aku tidak kenal. Siapapun tolong aku. Aku di peras oleh preman” teriak Johan begitu kencang di dalam mobil.
“pak Abdi adalah sopir mobil ini, bodoh!. Kau menumpang di mobil orang tapi tidak tau nama orang itu siapa. Dasar bodoh!” ucap Callysta memegang kepalanya tidak habis fikir.
“ehh? Sopir mobil pick up ini namanya pak Abdi? oalaaaahhhh, hahahahahaha” teriak Johan dengan tawa lepasnya.
“apa sudah selesai tertawanya? Itu tidak lucu” ucap Callysta memasang raut muka datar.
“hehehe, maaf maaf. Tapi kamu nggak bohong kan? Jangan jangan kamu itu adalah preman pasar yang selalu memalak orang yang lewat” ucap Johan.
“apa wajahku seperti preman pasar?” tanya Callysta dengan raut muka datar.
“banget” jawab Johan.
“kurang ajar dasar! Sekarang cepat keluar dan temui pak Abdi dan papahku di dalam” ucap Callysta.
“sebentar dulu, apa nama papahmu itu Mansur?” tanya Johan.
“dasar kurang ajar!” teriak Callysta seraya menyiram sebotol teh kemasan dingin ke arah Johan.
“weh weh weh, ini dingin tau” teriak Johan dengan mengibas kibaskan kausnya yang tersiram air dingin.
“salah siapa suruh panggil nama papahku dengan nama yang ngawur” ucap Callysta dengan nada begitu jutek.
“sekarang cepat keluar dan ikuti aku kerumah” ucap Callysta dengan suara juteknya.
“ba-baik” jawab Johan seraya membuka pintu mobilnya.
Saat itu pula, Johan pun keluar dan berdiri di samping Callysta. Mereka berdua berjalan berdamipingan menuju ke rumah Mansur, sang teman dari pak sopir. Mereka menyebrang jalan dan kemudian berjalan masuk kedalam kamar kost yang bisa dibilang cukup besar. Bahkan bisa dibilang lebih mirip sebuah rumah kontrakan namun begitu kecil.
Callysta memasuki rumah terlebih dahulu sebelum Johan sementara Johan masih berada di luar.
“masuklah” ucap Callysta.
“hmm, iya” jawab Johan.
Johan pun memasuki rumah dan kemudian mendapati jika sang sopir yang bernama Pak Abdi itupun sedang berbincang ria dengan paman Surya. Saat paman Surya hendak menyeruput gelas berisi kopi hangat tersebut, paman Surya melihat Johan yang tengah berdiri di pintu depan.
Melihat itu, sang paman Surya benar benar begitu terkejut akan kehadiran Johan yang dimaksud oleh pak Abdi. Seketika sang paman Surya melepaskan cangkirnya dari telapak tangannya hingga terjatuh pecah dan spontan berjalan menuju hadapan Johan.
Saat sang paman Surya berdiri di hadapan Johan, beliau seketika menampar begitu keras pipi Johan hingga kepala Johan terpental dengan begitu jauh. Melihat hal itu, Callysta dan pak Abdi pun begitu terkejut dengan apa yang telah paman Surya lakukan.
“apa yang kau lakukan?” teriak pak Abdi membentak paman Surya.
“dia sudah kabur dari rumah dan membuat mamahnya serta semua teman temannya khawatir. Dia sesekali perlu di beri pelajaran begitu tegas” ucap paman Surya seraya menampar pipi kiri Johan dengan begitu keras hingga kepala Johan terbentur dinding sampingnya.
“pah, sudah! Itu sudah terlalu berlebihan” teriak Callysta.
“itu benar, kau sudah benar benar keterlaluan” bentak pak Abdi.
Dengan begitu emosi karena tamparan tersebut, Johan pun seketika menendang tubuh paman Surya dengan begitu kecang hingga tubuh paman Surya terpental jauh kebelakang. Seketika saat tubuh paman Surya sedang tergeletak di lantai, Johan melompat dan menginjak perut paman Surya dengan begitu keras. Saat itu pula Johan memukuli wajah paman Surya bertubi tubi dengan pukulan yang begitu keras.
Pukulan di daerah wajah yang begitu beruntun dan keras mengakibatkan pendarahan di daerah hidung. Sesaat setelah itu, dengan perlawanan yang begitu keras, paman Surya pun mengangkat kerah baju Johan dan kemudian melemparnya jauh ke depan. Johan pun terjatuh di lantai yang benar benar keras.
“apanya yang polisi, kau hanyalah sopir yang tidak becus menangani penumpang. Kau membiarkan temanmu terbunuh di depan matamu sendiri. Dasar polisi payah” teriak Johan mengejek paman Surya.
“jaga omonganmu, dasar bocah tengik!” teriak paman Surya sudah kehabisan kesabaran.
Paman Surya pun berjalan menuju ke arah Johan dengan sedikit cepat sementara Johan masih tergeletak di lantai. Saat paman Surya hendak mencengkram kerah baju Johan, nyatanya dengan begitu tiba tiba, kaki Johan menendang dengan super keras dagu sang paman Surya hingga lidahnya tergigit dan mengeluarkan darah. Paman Surya pun seketika terpental ke belakang dengan memegangi mulutnya itu.
Spontan Johan berdiri dan berlari dengan begitu kencang menuju ke arah paman Surya dan kemudian menendang perut paman Surya dengan super duper keras hingga paman Surya terpental benar benar jauh kebelakang dan terbentur oleh dinding dengan begitu keras. Seketika paman Surya pun duduk tak berdaya dengan menahan sakit seraya bersandar di dinding tersebut.
Melihat hal itu, pak Abdi benar benar sudah kehabisan kesabaran saat melihat mereka berdua bertengkar di ruang tamu yang begitu sempit. Untungnya mereka tidak mengenai furnitur rumah satupun dan membuat semua perabotan rumah aman aman saja. Callysta pun berdiri di hadapan Johan dengan tatapan mata yang begitu tajam. Dengan begitu marah, Callysta menampar pipi Johan dengan begitu keras.
Tamparan Callysta benar benar lemah hingga kepala Johan tidak terpental sedikitpun. Malah yang ada, telapak tangan Callysta merasa panas saat menampar Johan.
“aku tidak ingin menyakiti perempuan, maaf” ucap Johan.
“sudahlah kalian berdua. Apalagi buatmu. Kau ini benar benar kekanak kanakan sekali. Kau itu polisi dan harus menyelesaikan masalah dengan fikiran dingin. Benar benar tidak bisa di andalkan” ucap pak Abdi kepada paman Surya.
“ma-maaf” ucap paman Surya dengan kondisi terpuruk.
“kau sudah melihat kehebatan dari seorang anak yang melawan 14 orang dewasa sendirian” ucap pak Abdi.
“ehh? Pak abdi kok tau?” tanya Johan begitu terkejut.
“apa kau fikir kalau para tetua itu tidak menceritakannya kepadaku?” tanya balik pak Abdi kepada Johan.
“aku kira itu hanya sebagai rahasia pribadi” jawab Johan.
“kalau begitu, kalian berdua duduklah di sofa dengan fikiran dan hati yang dingin. Aku minta untuk Callysta agar mengambilkan air putih untuk mereka berdua” ucap pak Abdi.
“ba-baik” jawab Callysta segera berjalan ke dalam dapur.
Saat itu pula Johan dan paman Surya pun duduk bersebelahan di sofa yang sama seraya menahan sakit mereka masing masing. Bisa dibilang kalau Johan saat itu sudah menang pertarungan di mana ia menang dalam kondisi berdiri sementara paman Surya tak berdaya dalam kondisi duduk terpuruk.
“kalau kalian saling menyerang lagi, aku tidak akan segan segan menampar kalian berdua” ancam tegas sang pak Abdi.
“aku menyerah. Aku tidak ingin di tampar” ucap paman Surya begitu ketakutan.
“heh? Memangnya kenapa? Ada apa dengan tamparan pak Abdi?” tanya Johan.
“kau tidak tau kekuatan tamparanku, dasar Johan. Bahkan aku bisa memecahkan tujuh balok batu bata dengan tamparanku. Bayangkan jika aku menampar tulang tengkorakmu, pasti udah jadi debu” ancam pak Abdi dengan tawa jahatnya.
“buset, ampun dah” ucap Johan sedikit ketakutan.
“nih, minum dulu” ujar Callysta seraya memberikan dua botol air mineral.
“terimakasih” ucap Johan seraya mengambil botol tersebut dan meminumnya.
“harganya 5000 rupiah, kau masih berhutang kepadaku” ucap paman Surya kepada Johan.
“mahal banget, padahal di warung depan rumahku harganya 3500 rupiah” ucap Johan meneguk airnya.
“itu namanya, mengambil keuntungan dari kesempitan” ucap paman Surya meneguk air nya.
“kau sudah mirip pedagang sama sepertiku, dasar semua orang juga sudah bisa berubah” ucap pak Abdi kepada paman Surya.
“sekarang, aku akan menceritakan semuanya mengenai Johan saat kita berada di desa” ucap pak Abdi dengan nada yang mulai serius.
Saat itu pula suasana sudah sedikit mulai mendingin. Ketegangan di ruangan tersebut sudah pelahan mencair dengan keadaan yang sudah mulai bisa terkendali. Pak abdi menceritakan semuanya dengan begitu detail mulai dari jam, hingga nama orangnya.
Semuanya dengan detail pak Abdi ceritakan dari saat malam hari Johan mengejar bis, hingga mereka ke SPBU dan berniat menggunakan uang Johan namun pak Abdi menolaknya. Keadaan mulai dimengerti oleh paman Surya dan Callysta.
“jadi, Johan ke desa hanya berniat menangkap para pelaku penebangan hutan dengan mengarahkan para tetua disana secara langsung? Dan Johan saat itu mengalahkan ketua dari para penebang tersebut sedangkan ketua tersebut membawa pistol? Bahkan Johan menusuk kedua kaki para penebang itu hanya dengan keris dan belati?. Johan mengalahkan 14 orang dewasa sendirian sementara sisanya hanya mengalahkan 6 orang dewasa?. Johan berjalan sendirian di hutan gelap dan menyelamatkan hutan? Itu sudah terlalu banyak berkhayal” ucap paman Surya begitu meremehkan.
“aku ingin memukul hidungnya hingga rata dengan mulut” ucap Johan dengan melirik ke arah wajah paman Surya dan menahan emosinya.
“percayalah kepadaku. Aku mendengarnya langsung dari tetua desa sana dan mendengarnya langsung dari para korban. Merkea di serang oleh layaknya bayangan yang bergerak begitu cepat. Begitu katanya. Bahkan aku sedikit tidak percaya sebelum mendengar perkataan dari korban secara langsung. Apalagi ada dua koraban dari teman papahnya dahulu yang hendak menebang pohon langka. Saat Johan meladeni mereka, Johan benar benar sudah seperti kerasukan Santhos. Dia memukuli kedua lelaki tersebut tanpa ampun bahkan saat kedua lelaki tersebut sudah tidak sadarkan diri, Johan masih saja memukulinya hingga hidungnya rata dengan mulut. Itu hanya perumpamaan” ucap pak Abdi.
“yang bener itu Thanos! Bukan Santhos!” sahut Callysta.
“aku tarik perkataanku tadi, aku takut jika aku menjadi Voldemort yang tidak punya hidung” ucap paman Surya.
“untungnya kau masih bisa sadar diri. Kalau sudah jelek, jangan menambah jelek rupa wajahmu” ucap Johan dengan suara jutek kepada paman Surya.
“dasar bocah laknat” ucap paman Surya melirik ke arah Johan.
“kalau begitu, aku melihat ada cctv yang mengarah langsung ke dalam rumah ini. Apa itu bisa dihapus?” tanya pak Abdi.
“aku akan mengirim rekaman itu ke mamahnya agar mamahnya menjadi lebih tegas kepada anaknya sendiri” ucap paman Surya.
“aku bukan anaknya, aku tidak menganggap dia sebagai mamahku. Dan kau sudah tau itu” tegas Johan.
“tapi dia memperdulikanmu sebagai anaknya. Jika kau tidak ingin menjadikan dia mamahmu, maka biarkanlah dia menjadikanmu sebagai anaknya” ucap paman Surya.
“berisik” ucap Johan.
“dasar bocah gaada akhlak” ucap paman Surya.
“kalau begitu, aku akan mengantarnya ke rumahnya sekarang juga. Terimakasih banyak atas minumannya dan aku benar benar minta maaf dengan perlakuan Johan kepadamu yang begitu kasar. Lain kali, jangan menantang Johan untuk bertengkar lagi, Oke!” ucap pak Abdi berdiri dari sana.
“seharusnya aku yang bererimakasih karena sudah menjengukku yang baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi sepertinya badanku kembali sakit semua gara gara bocah laknat ini” ucap paman Surya.
“berisik, kau yang memulainya dahulu” sahut Johan kepada paman Surya.
“udah salah, masih aja ngotot” gumma paman Surya.
“kalau begitu, aku juga pamit. Maaf ya, Callysta. Aku sudah menabrakmu” ucap Johan kepada Callysta.
“hmm, it-ituu ti-tidak apa apa. Lain kali jika menabrak orang lain, jangan lupa minta maaf” ujar Callysta dengan pipi yang sedikit memerah.
“aku hanya akan minta maaaf sama kamu. Lain kali, aku tidak ingin mengalah papah biadabmu itu” ucap Johan dengan sedikit tawa jahatnya.
“hah? apa maksud Johan barusan? dia hanya minta maaf kepadaku saja? benar benar so sweet banget parah” fikir Callysta dengan pipi yang begitu memerah.
“aku tidak butuh permintaan maafmu” sahut paman Surya dengan suara yang begitu jutek.
“sudahlah kalian berdua, jangan berantem terus. Bocah banget!” sahut pak Abdi menepuk jidatnya.
“kalau begitu, kita berdua pamit terlebih dahulu. Kita benar benar minta maaf karena sudah membawa masalah untuk kalian semua. Apalagi aku yang seharusnya aku tau kalau Johan adalah anak yang sedang kalian cari” ucap pak Abdi.
“tidak apa apa, asalkan dia telah kau jaga dengan baik, aku benar benar senang. Lain kali, ajari dia sopan santun” ucap paman Surya.
“kalau begitu. Kita pamit dulu. Terimakasih banyak” ucap Johan dan pak Abdi keluar rumah tersebut dan berjalan keluar.
Sempat sekali Johan melihat kembali ke arah rumah tersebut dan mendapati kalau Callysta sedang berada di depan pintu rumah. Dengan sedikit kencang, Callysta berteriak kepada Johan seraya sedikit melambaikan tangannya. “hati hati di jalan, Johan”
“hmm, iya. Makasih banyak ya” jawab Johan dengan melambai kecil tangannya.
“heh! Kau kan udah punya Odessa, dan kau masih ingin Callysta. Dasar fakboy” ujar pak Abdi.
“haahh? Asal bapak tau ya, Odessa itu nomer satu dan satu satunya. Tidak ada yang bisa menandingi Odessa” ucap Johan begitu meyakinkan.
“terserahmu, tapi sepertinya Callysta juga suka kepadamu” ucap pak Abdi.
“akumah bodoamat” jawab Johan.
Mereka pun seketika menaiki mobil dan kemudian beranjak dari tempat tersebut. Sempat pak Abdi menanyakan alamat rumah Johan dan hendak mengantarnya sampai rumah seraya menawarkan bantuan untuk pembelaan Johan jika saja sang ibunda Johan menginterogasi habis habisan Johan, namun Johan menolaknya mentah mentah dan hendak menyelesaikannya sendiri dengan bertanggungjawab.