
Sesampainya mereka dirumah, mereka berdua pun nyatanya meletakkan semua barang belanjaan mereka di atas sofa ruang tengah. Odessa mempersiapkan bahan bahan yang telah mereka berdua buat di meja dapur sementara Johan membereskan pakaian mereka berdua dikamarnya yang berada di lantai atas.
Setelah itu, Johan pun segera menyusul Odessa di lantai bawah dan membantu Odessa dalam memasak. Namun saat Johan berjalan di tengah tangga, terdapat sang ibunda dan sang paman Surya yang tengah duduk di meja makan seraya mengobrol bersama dengan Odessa yang berada di dapur.
“nak Odessa, tante ingin tanya, apa boleh?” tanya sang ibunda kepada Odessa.
“tanya aja, tante. Silahkan” jawab Odessa.
“apa kamu bisa memasak?” tanya sang ibunda.
“kalau memasak yang biasa biasa, mungkin aku sedikit lebih unggul dariapda Johan. Yaahh, meskipun aku jarang memasak di desa, tapi aku masih mengingat semua tata cara dan resep resepnya dari nenekku” jawab Odessa.
“kebetulan banget, Johan bisa memasak juga karena neneknya itu” sahut sang paman Surya.
“ehh, be-benarkah?” tanya Odessa dengan begitu terkejut.
“jadi kita belajar dari orang yang sama” fikir Odessa dalam hati.
“kalau begitu, apa aku bsia membantu?” sahut Johan sedikit berteriak dari tengah tangga.
“waahh, kebetulan sekali. Kita akan makan enak hari ini” ucap sang paman Surya.
“hey paman, sejak kapan kau akan disini dan sampai kapan kau akan selalu disini?” tanya Johan dengan nada begitu jengkel.
“ehh? Emm anu. Aku disini hanya tamu. Sekali lagi, hanya tamu” tegas paman Surya.
“kau tidak mencoba untuk menikahi mamahku kan?” tanya Johan dengan tatapan begitu tajam seraya bernada begitu kejam.
“yaahh, se-sebenarnya aku juga setuj-“ ucap sang paman Surya terrhenti.
Seketika kaki sang ibunda pun menginjak kaki paman Surya dengan begitu kencang mengisyaratkan kalau paman Surya harus berhenti berbicara saat itu pula. Paman Surya pun sedikit berteriak kesakitan dilanjut dengan sang ibunda yang seketika memotong pembicaraan.
“ehh, anu, nak Johan. Apa kamu masih mau lanjut sekolah?” sahut sang ibunda.
“sa-sakit tau!” bisik paman Surya kepada sang ibunda.
“kita masih belum waktunya untuk memberitahukannya!” tegas sang ibunda kepada paman Surya dengan berbisik.
“sekolah? Iya juga. tugasku juga masih banyak yang kosong dan juga aku harus mengikuti ujian susulan” teriak Johan dengan begitut terkejut.
“sekolah? Apa itu menyenangkan?” tanya Odessa dengan begitu polosnya.
“eh? Haaahhh!?” teriak paman Surya, Johan dan mamahnya berteriak karena saking terkejutnya.
“a-ada apa? Kenapa kalian malah berteriak?” tanya Odessa.
“bu-bukannya begitu, tapi apa memang kamu ini masih belum sekolah?” tanya sang paman Surya.
“belum” jawab Odessa.
“tapi apa kamu sudah bisa membaca dan menulis?” tanya sang ibunda.
“aku hanya bisa membaca, menulis, dan menghitung. Setidaknya hanya itu bekalku untuk berada di dunia ini” jawba Odessa.
“bekal?” tanya mereka semua begitu kebingungan.
“ma-maksudku, hanya itu yang kutahu. Karena sejak kecil, aku sudah disuruh bekerja oleh orang tuaku. Dan jika aku tidak bisa menulis, menghitung dan membaca, aku tidak akan diterima di pekerjaan itu” jawab Odessa.
“memangnya pekerjaanmu itu apa?” tanya paman Surya.
“ma-maaf paman. Bukannya aku tidak ingin memberitahukan nama pekerjaanku, tapi memang itu adalah satu privasiku saja. Mungkin aku tidak ingin oranglain mengetahuinya” jawab Odessa.
“yaahh benar juga, akan sangat sensitif jika menanyakan tentang nama pekerjaan dan biaya upah bulanan” jawab paman Surya seraya menggaruk kepalanya itu.
“ehh, se-sebntar. Aku menerima telfon dari walikelasku” sahut Johan seraya memegang ponselnya itu.
Saat itu pula, Johan pun kembali ke lantai atas yaitu ke kamarnya sendiri hanya untuk sekedar mengobrol di telfon bersama dengan guru walikelasnya. Secara kebetulan, mereka berdua membahas tentang niali dan tugas tugas Johan yang kosong dan diharapkan untuk segera di tambal.
Selama kurang lebih 20 menit, sang ibu guru walikelas Johan menelfon Johan di dalam telfon tersebut sementara Johan mencatatat semuanya sekaligus. Dibutuuhkan waktu yang sangat amat lama untuk menjelaskan banyaknya tugas Johan yang kosong dan menumpuk tersebut. Bahkan Johan saat itu seketika migrain karena mendengar tugasnya yang begitu menggunung.
“tugas matematika hanya ada 14 nilai yang kosong” tegas sang wali kelas tersebut.
“untung saja, itu jauh lebih sedikit dari tugas bahasa indonesiaku yang sudah kosong lebih dari 40 tugas” ucap Johan.
“dengar ya, Johan. Dengan kondisi nilai kamu yang begitu parah seperti ini, ibu dengan jelas akan mengatakan kalau kemungkinan kamu bisa naik kelas hanya sebesar 5 persen. Kamu harus menyelesaikan semuanya dengan tuntas dan dengan nilai yang baik. Apa kamu faham?” tanya sang ibu walikelas dengan begitu tegas.
“ba-baik. Namun, maaf sebelumnya, tolong jelaskan halaman mana saja yang harus ku kerjakan untuk mata pelajaran Biologi?” tanya Johan.
“astaga, apa kamut idak mencatatnya. Tugas biologi kamu sudah kosong kurang lebih 23 tugas. Ibu akan mulai menyebutkan ulang sekarang. Catat ini. Halaman 17, halaman 21, halaman 27, halaman 33, halaman 34, halaman 38………..” dengan panjang lebar sang walikelas menjelaskan satu persatu halaman yang ditugaskan untuk Johan.
“kalau begitu, untuk ujian susulan, kau harus mengambil formulir soalnya di sekolah dan kerjakan di rumahmu. Sebagai ganti dari pengawas ujian, kami sudah memberi pesan kepada kedua orangtuamu agar kamu bisa mengerjakan ujian dengan jujur. Ambil formulir ujian susulanmu di sekolah sekarang juga, ibu tunggu di ruang guru” tegas sang ibu wali kelas.
“emm, anu ibu. Maaf. Tapi kalau tenggat dari semua tugasku, apa aku diberi waktu satu bulan?” tanya Johan.
“lebih tepatnya, kamu harus mengerjakan semua itu dalam waktu 1 minggu saja” tegas sang ibu.
“ehh, ta-tapi bu-“ ucap Johan terhenti.
Setelah 20 menit berlalu dengan begitu kepenatan, Johan benar benar mendapati jika satu lembar buku catatannya dipenuhi oleh banyaknya tugas dari halaman yang harus dirinya kerjakan. Pada dasarnya, Johan hanya diberi waktu kuranglebih 1 minggu saja untuk mengerjakan semuanya.
Johan pun dengan begitu pusingnya merasa begitu keberatan dengan semua tugasnya yang menumpuk tersebut. Namun apa daya ketika Johan yang saat itu berfikir kalau semua tugas tugasnya adalah imbas dari perbuatannya sendiri yaitu membolos sekolah selama 3 bulan lamanya.
“aaaahhhh, ini gila banget” teriak Johan di dalam kamarnya seorang diri.
Saat itu pula, Johan memutuskan untuk turun kebawah hendak membantu Odessa untuk hanya untuk sekedar membantunya memasak di dapur. Namun saat dirinya membuka pintu kamarnya, Johan benar benar terkejut dengan nikmat dan sedapnya bau masakan yang menyebar di seluruh penjuru rumah.
Saat Johan turun dari kamarnya, Johan mendapati jika semua masakan sudah siap makan di atas meja makan. Yang anehnya, Johan mendapati jika sang ibunda dan sang paman Surya menangis di meja makan tersebut.
“a-apa yang terjadi? kenapa kalian berdua menangis?” tanya Johan.
“aku juga tidak tau, saat mereka memakan masakanku, mereka seketika menangis. Aku tidak tau apa yang terjadi” jawab Odessa.
“nak Johan, duduklah disini sebentar saja dan cobalah masakan Odessa” ucap sang paman Surya seraya menetskan air mata.
“asal kau tau, masakan Odessa menurutku sudah benar benar luar biasa jauh lebih enak dari masakanmu. Dan kita menangis gara gara saking enaknya masakan dari Odessa” jawab sang ibunda dengan isak tangisnya.
“itu lebay banget!. Jijik banget dasar orang gila” teriak Johan dengan tersulut emosi.
“setidaknya, kau cobalah masakan dari Odessa terlebih dahulu sebelum menganggap kami menangis seperti orang gila hanya karena masakan biasa” ucap sang paman Surya.
Saat itu pula, Johan pun duduk di kursi makan dan kemudian mengambil beberapa suap beberapa masakan yang telah di masak oleh Odessa disana. Saat itu, Johan mengambil tumis jamur tiram buatan Odessa dan beberapa nasi putih hangat.
Disaat Johan menyuap makanannya kedalam mulut, Johan seketika memukul meja dengan begitu keras hingga membuat semua orang disana begitu terkejut. Saat itu pula, Johan berdiri di tempatnya dan kemudian menundukkan kepalanya.
Dengan tetesan air mata, dengan lantang berkata “mungkin aku sudah gila karena menangis hanya karena masakan yang luar biasa enak. Bahkan aku saja tidak tau bagaimana caranya bisa membuat masakan se enak ini”
Mendengar hal itu, Odessa benar benar terkejut akan apa yang dilakukan oleh Johan. Pasaalnya, saat itu odeasa berfikir kalau Johan dan Odessa sama sama di ajari memasak oleh sang nenek di desa. Lebih tepatnya, di rumah sang nenek dan kakek yang berada di sebrang hutan.
“a-apa yang terjadi? kenapa kamu juga menangis? Apa masakanku tidak enak? Seharusnya aku hanya menemanimu memasak. Karena kalau begini jadinya, aku hanya merusak bahan makanan” tanya Odessa dengan begitu khawatir.
“sebenarnya, masakanmu benar benar sangat amat luar biasa begitu jauh lebih enak daripada masakanku. Dan aku mengakuinya” jawab Johan dengan isak tangis air matanya.
“astagaa, tapi tidak harus menangis juga kan?” ucap Odessa.
“walau begitu, kita bertiga sudah menjadi gila hanya karena masakanmu” sahut paman Surya.
“yaudahlah. Kalau kalian memang suka, habiskan saja. Nanti malam aku dan Johan yang akan memasak lagi” ucap Odessa seraya menyuap makanannya di dalam mulut kecilnya itu.
Saat itu pula, mereka pun melanjutkan makan siang mereka hingga semua makanan sudah habis tak tersisa. Memang benar jika masakan Odessa benar benar membuat Johan melupakan berat dan banyaknya semua tugasnya itu.
“mah, aku baru saja di telfon oleh walkel ku. Katanya aku harus mengikuti ujian susulan” ucap Johan kepada ibunda.
“iya, mamah juga sudah diberitahu sama wali kelasmu itu. Mamah dan paman Surya yang akan menjadi pengawas ujian agar kamu tidak mencontek” jawab sang ibunda.
“kalau begitu, cepat ambil kertas ujianmu di sekolah dan bawa di rumah. Jangan dikerjakan di tempat lain. Kita berdua harus mengawasimu selama ujian” tegas paman Surya.
“iya iya, aku akan kesekolah” ucap Johan dengan nada begitu terpaksa.
“eh? Johan mau ke sekolah?” tanya Odessa dengan begitu terkejut.
“iya, dia mau ke sekolahnya. Apa kamu mau ikut?” tanya paman Surya.
“haahh? Odessa mau ikut ke sekolah?” tanya Johan dengan begitu terkejut.
“sudahlah, tidak apa apa. Odessa juga mengaku belum pernah sekolah selama ini. Biarkanlah dia ikut hanya untuk sebentar saja” jawab sang ibunda.
“yaudah deh iyaaa” jawab Johan dengan nada begitu ramah dan halus.
“kalau begitu, cepat ganti pakaianmu yang baru saja kubelikan di kamarku. Semua pakaianmu masih ada di dalam tas belanjaan. Ganti pakaianmu disana. Aku akan ke kamar mandi terlebih dahulu” tegas Johan serara berjalan ke kamar mandi.
“i-iya” jawab Odessa.
Saat itu pula, Odessa pun berdiri di tempatnya dan kemudian mulai membereskan semua piring dan mangkuk di atas meja makan tersebut. Setelah itu, Odessa pun kemudian mencuci piringnya hingga bersih dan mengeringkannya kemudian menatanya di rak piring.
Setelah itu semua, Odessa pun kemudian berjalan ke lantai atas dan kemudian menutup pintu kamar Johan dari dalam. Odessa pun membuka isi tas belanjaan tersebut dan menemukan satu set pakaian edgy style, beberapa aksesoris seperti topi, dan sepasang sepatu.
Odessa pun segera melepas semua pakaiannya di tempat itu. Namun dengan begitu tidak sengaja, dengan sekeketika Johan membuka pintu kamarnya karena menganggap kalau Odessa sudah selesai mengganti pakaiannya.
Saat itu, Johan pun memasuki kamarnya dengan dalam keadaan telanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek bersamaan dengan Johan sedang mengeringkan rambut dan mukanya menggunakan handuk.
Johan masih belum menyadari jika terdapat Odessa disana karena saat itu, seluruh muka Johan tertutupi oleh handuk besar yang sedang mengeringkan rambut dan mukanya.
Begitu Johan membuka handuknya, Johan melihat kalau Odessa sedang bersembunyi di balik pintu lemari yang tengah terbuka. Saat itu, Odessa tidak berteriak karena menurutnya, itu tidak sopan. Namun mau bagaimanapun juga, Odessa yang hanya memakai pakaian dalam tersebut hanya bisa bersembunyi seraya mengintip Johan yang tengah masuk kedalam kamarnya itu.
“a-apa yang kau lakukan disana?” tanya Johan kepada Odessa yang tengah bersemunyi di balik pintu lemari.
“seharusnya aku yang tanya begitu sama kamu. Kenapa kamu kesini?” tanya balik Odessa dengan sedikit berteriak.
“aku? aku hanya ganti baju” jawab Johan.
“aku juga masih ganti baju” sahut Odessa sedikit bereriak.
“eehh? Ja-jangan jangan, kamu masih belum-“ ucap Johan terhenti.