
“gawat, kenapa dia bisa tau tato ku? Apa semua orang akan marah jika aku ketahuan memiliki tato?” fikir Johan bertanya tanya.
“siapa yang menggambar ini? dan kenapa kamu mentato tanganmu sendiri?” tanya Emilia dengan tegas.
“aku tidak mentato tanganku” ucap Johan.
“terus, ini apa?” tanya Emilia mencengkram keras telapak tangan kiri Johan.
“ciat ciat ciat, sebenarnya itu hanyalah stempel dengan cat tinta permanen. Sebentar lagi tinta nya juga bisa ilang kok” ucap Johan kesakitan karena cengkraman tangan Emilia.
“boong” ujar Emilia menatap tajam mata Johan.
“beneran aku ngga boong” jelas Johan.
Sesaat setelah itu, secara tiba tiba sang kakek dari Johan pun membuka pintu kamar Johan tanpa permisi. Mendengar suara pintu terbuka seperti itu membuat Emilia seketika melepaskan tangan Johan dari genggamannya tersebut. Johan yang seketika menatap seseorang yang membuka kamarnya pun benar benar terkejut akan kehadiran kakeknya kedalam kamarnya. Johan pun beranjak dari sana dan menyuruh sang kakek untuk duduk di kursi nya tadi.
“ehh, kakek? kok kakek ada disini?” tanya Johan dengan begitu terkejutnya.
“apa yang kalian berdua lakukan?” tanya sang kakek dengan tatapan tajamnya.
“ehh? Ka-kakek? Kakek ada disini? ada apa kek?” tanya Johan begitu terkejut.
“kakek kemari cuma mau bicara sama nak Jonah” ucap sang kakek dengan suara seraknya.
“namaku Johan kek, bukan Jonah” ucap Johan dengan nada kesal.
“eh?, hehehe, maaf” ujar sang kakek sedikit tertawa.
“jadi, kakek mau bilang apa? Tumben banget kakek kemari sendirian. Biasanya kakek kemari dengan nenek. Sekarang nenek dimana? Apa nenek di lantai bawah?” tanya Johan.
“maka dari itu, kakek mau mengajak nak Johan untuk berziarah di kuburan nenek kamu yang ada di kampung kakek” ucap sang kakek dengan nada merendah.
“hah? a-apa maksudnya kek? Nenek dimana? Nenek dimana, kek?” tanya Johan sedikit berteriak. Nyatanya saat itu Johan masih tidak mengira jika orang yang paling dia hormati dan dia sayang dikatakan sudah meninggal dunia. Johan masih syok dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang kakek.
“iya, nenek kamu baru saja meninggal, dan nenek kamu bener bener kamu melihat kampung dimana kamu di besarkan oleh nenek kamu disana. Setidaknya untuk yang terakhirkalinya, nenek kamu ingin nak Johan melihat dunia luar” ucap sang kakek.
“nggak, itu nggak mungkin. Padahal terakhirkali Johan pergi sama nenek, dirinya begitu sehat” ucap Johan dengan suara serak basahnya.
“apa nak Johan udah lupa kalo terakhirkali nak Johan pergi ke desa sekitar 3 tahun lalu, dan itupun karena nak Johan udah nggak betah tinggal disana” sahut sang kakek.
“jadi, apa kakek mau membawaku ke pemakaman nenek sekarang juga?” tanya Johan.
“kakek ngga maksa buat nak Johan untuk pergi ke desa, karena kakek tau kao kamu bener bener ngga tahan buat tinggal disana” ucap sang kakek.
“gapapa kek, aku mau ziarah kesana” ujar Johan dengan keyakinannya.
“hmm, baiklah kalo begitu, kakek mau kebawah dulu buat ngajak papah kamu kedesa” ucap sang kakek membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan keluar kamar.
“iya kek, makasih” ucap Johan.
“ohh iya, kakek punya permintaan buat kamu, tolong bawa perempuan itu ke pemakaman” ucap sang kakek sembari berjalan keluar kamar.
“ehh? Maksud kakek saya? kenapa saya harus ikut kek?” tanya Emilia begitu terkejut.
“iya, kamu. Kau ikut aja sama Johan. Kakek kasihan dengan Johan yang nggak punya temen disana” ucap sang kakek mulai menjauh dari kamar itu.
Pada akhirnya, sang kakek pun menuruni tangga dan kemudian berjalan menemui sang papah Johan yang tengah menangis di ruang tengah. Disaat it pula terdapat sang istri yang menenangkan isak tangis suaminya yang tengah berduka atas kehilangan ibu kandungnya.
Disisi lain, Johan yang berada di kamar bersama dengan Emilia pun masih syok dengan perkataan sang kakek barusan. Pasalnya, Johan dibesarkan oleh kakek dan nenek di desa itu. kenangan yang begitu mendalam mulai menusuk hati Johan saat dirinya mengingat senyum hangat dari sang nenek.
“maaf, Lia. Kamu malah ikut kebawa semua ini karena permintaan kakek. Aku ngga bisa melawan perkataan kakek. Apa kamu bisa ikut besok pagi?” tanya Johan.
“iya, gapapa. Aku bisa kok. Aku bisa ijin ngga masuk sekolah untuk itu” ucap Emilia tersenyum tulus.
“makasih banyak ya. Dan juga aku sekarang masih butuh sendiri. apa kamu bisa pulang? maaf mengusirmu dari kamarmu” ujar Johan.
“gapapa, aku faham kok” ucap Emilia berdiri dari kursi duduknya.
“makasih banget ya. Aku anterin kamu sampe pintu keluar, apa kamu bisa pulang sendiri?” tanya Johan.
“tenang aja, aku bukan anak kecil” ujar Emilia meyakinkan.
“hmm, bener juga” ucap Johan beranjak dari tempat duduknya.
Johan pun menutupi sebagian tubuhnya menggunakan jaket dan kemudian mengajak Emilia keluar kamarnya. Mereka berdua pun berjalan keluar rumah perlahan. Di perjalanan itu, mereka mendengarkan suara isak tangis sang papah didalam kamarnya. Hal itu membuat Emilia semakin tidak enak berada di rumah keluarga yang sedang berduka. Johan pun membuka pintu rumahnya dan begitu pula dengan pagar rumah.
“maaf ya, udah membawamu dalam masalah, hanya untuk 3 hari” ucap Johan.
“nggapapa, meski itu untuk seminggu itu nggak masalah” ujar Emilia.
“makasih, aku pulang dulu” ujar Emilia membalas lambaian tangan Johan dan kemudian berjalan menjauh dari rumah.
Johan pun kembali menutup pagar dan mengunci pintu rumah dari dalam. Dirinya berjalan menuju lantai atas dengan tatapan kosong sembari melamun memikirkan tentang kebersamaan bersama dengan sang nenek tercinta. Dirinya memasuki kamar dan kemudian mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Dirinya pun mematikan lampu kamarnya dan kemudian menutup selambu jendelanya membuat kondisi di dalam kamar Johan saat itu begitu gelap gulita. Johan tengkurap di kasur miliknya dengan tatapan yang masih kosong. Namun, sesaat setelah itu, tatapan kosong dari mata yang tak berkedip itupun mulai mengeluarkan air mata.
Satu persatu momen indah bersama dengan sang nenek teringat dari otak Johan. Ingatan yang begitu indah seakan akan menusuk hati dan fikirannya. Dirinya pun mulai mengingat momen terindah dari hidupnya disaat dirinya masih berada di bawah asuh sang kakek dan neneknya.
“ahhh lama banget, kapan ikannya mau makan?” tanya Johan seraya memegang tongkat pancing.
“sabar dulu, memancing memang butuh konsentrasi dan kesabaran” ucap sang kakek.
“tapi kalo cuma sabar namun ngga punya skill memancing, kamu nggak akan dapet ikan” ucap sang nenek dengan tawa senyumnya.
“ihh, aku udah sabar, tapi ikannya tidak mau makan umpan pancingku” ujar Johan tersulut emosi.
“sabar dulu, abis ini pasti ikannya mau makan umpan nak Johan” ucap sang nenek.
“apa mungkin ikannya masih diet dan puasa?” tanya Johan.
“iya, itu bener juga, mungkin gara gara itu para ikan ngga mau makan umpan milik kita semua” ucap sang kakek.
Sesaat setelah itu, perlahan pelampung pancing Johan mulai berkedut. Pelampung itu mulai berkedut perlahan dan membuat Johan saat itu begitu senang dan gembira. Semua orang begitu terkejut dengan pelampung Johan yang mulai berkedut. Dan pada akhirnya, saat pelampung itu benar benar tenggelam, Johan menarik dengan begitu cekatan kail pacingnya itu.
“ini dia!” teriak Johan seraya menarik keras tongkat pancingnya.
Tidak disangka sangka, ikan mujair yang masih kecil berhasil di tangkap oleh Johan. Ikan itu benar benar kecil hingga perbancingan ukuran tubuh ikan itu masih lebih kecil dibandingkan dengan sebuah kaset DVD. Seketika itu Johan benar benar kecewa dengan pencapaiannya karena dirinya hanya berhasil mendapatkan ikan kecil.
“ehh? Ikannya kok?” tanya Johan begitu terkejut.
“hahahahahaha, ikannya se upil” ucap sang nenek tertawa begitu lepas.
“padahal aku udah seneng banget” ucap Johan benar benar kecewa.
Sesaat setelah itu, pelampung pancing sang nenek pun mulai berkedut. Perlahan pelampung itu mulai tenggelam. Pada saat itu pula, sang nenek menarik kuat pancingnya. Seketika Johan dan sang kakek pun benar benar terkejut dengan ukuran besarnya ikan yang berhasil di tangkap oleh sang nenek. Pasalnya ikan itu benar benar besar hingga melebihi ukuran sebuah laptop.
“waaaahhhh gede banget gilak” teriak Johan begitu terkesan dengan ukuran ikan itu.
“ikannya bener bener gile” ujar sang kakek melongo.
“hmm, bener kan? Nenekmu ini bener bener jago kalo masalah memancing. Tidak ada yang bisa mengalahkan nenek saat memancing di sungai ini. aku yang menguasai sungai ini” ucap sang nenek membanggakan dirinya,
“nenek jago banget. nenek udah dapet ikan besar. Kapan aku bisa memancing da mendapatkan ikan sebesar itu?” tanya Johan.
“tenang saja. kamu akan mendapatkan ikan yang jauh lebih besar dari ini. kamu pasti bisa mengalahkan nenek” usang sang nenek mengelus kepala Johan.
“baiklah kalo begitu, karena Johan dan nenek udah dapet, sekarang giliran kakek yang harus menangkap ikan” ucap sang kakek seraya memandang tajam danau tersebut.
“heh? Memangnya kakek bisa dapet ikan? Kail kakek aja belum berkedut. Gimana kakek mau dapet ik-“ ucap Johan terhenti.
Seketika sang kakek pun melompat dari hulu sungai dan kemudian berendang kedalam sungai hingga danau. Cipratan air pun berhasil mengenai tubuh Johan sehingga baju yang dipakai Johan saat itu benar benar basah kuyup. Johan pun bener bener terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh sang kakek.
“kek? Apa yang kakek lakukan? Bajuku basah semua!” teriak Johan terselut emosi.
“hahaha, kalo kakekmu udah menyerah, kakekmu biasanya mencari ikan langsung dengan berenang. Dasar sifatnya dari dulu nggak pernah berubah” ucap sang nenek tertawa lepas.
“kalo begitu, apa kamu ngag ikutan nyebur?” tanya sang kakek.
“gamau ah, dingin” sahut Johan.
“gapapa, kamu kan bisa renang. Ayo cari ikan sama kakek” ucap sang kakek.
“gimana caranya? Ngga mungkin bisa” sahut Johan.
“kata siapa ngga bisa” tanya sang kakek. Seketika sang kakek pun menunjukkan belatinya yang sudah menusuk dua perut ikan yang masih segar. Johan pun benar benar terkejut dengan apa yang sudah dilakukan oleh sang kakek. Dirinya pun terkagum dengan skill menangkap ikan dari sang kakek.
“wohh, gilak bener” ucap Johan.
“bener kan? Sekarang, ayo lompat masuk kedalam dan tangkap semua ikannya” ajak sang kakek seraya mengacungkan satu jempolnya dan mengedipkan satu matanya.
“oke, aku lompat!” teriak Johan seraya melompat tinggi dan masuk kedalam danau. Seketika itu pula baju yang dikenakan sang nenek terciprat air dan membuat pakaian sang nenek benar benar basah kuyup. Sang nenek pun mulai tertarik dengan itu dan membuat sang nenek kemudian melakukan hal yang sama.
Sang nenek pun mulai masuk kedalam air dan kemudian ikut mencari ikan menggunakan belati. Namun, bukannya mencari ikan, mereka bertiga malah bemain ciprat air. Mereka bermain air hingga senja. Dimana tawa lepas keluar dari Johan juga nenek dan kakeknya.
Semua kebersamaan itu seakan akan membuat Johan merasa kalau kebersamaan keluarga adalah kebahagiaan yang paling berkesan di dalam hidupnya. Semua tawa dan senyum ceria sekarang sudah menjadi fana dan tidak akan pernah bisa terulang kembali. seakan akan, hanya mimpi yang bisa mempersatukan kebahagiaan itu.