
Selama 4 hari 3 malam, nyatanya Johan mendapatkan mimpi yang benar benar sangat amat panjang. Di hari pertama Johan tertidur, nyatanya Johan bertemu dengan Greisha di padang rumput yang membentang luas. Johan pun berdiri di bawah sebuah satu satunya pohon yang berada di tengah tengah luasnya padang rumput. Di bawah pohon tersebut, nyatanya terdapat Greisha yang sedang bersandar di salah satu batang pohon disana.
“yo sudah lama ngga ketemu” ucap Greisha sang Dewi Alam.
“su-sudah lama tidak bertemu” jawab Johan menundukkan kepalanya.
“bukannya dari dulu aku sudah memberitahukan kepadamu. Jangan bersifat terlalu formal kepadaku. Anggap aja aku adalah seniormu” ucap sang dewi alam, Greisha.
“i-iya maaf maaf” ucap Johan.
“nyoh, minumlah selagi menunggu tubuhmu sadar” ucap Greisha seraya melemparkan sebuah kelapa ke arah Johan.
Johan pun menangkap kelapa tersebut dan kemudian menggoyang goyangkan kelapa itu. Johan pun mendekatkan kelapa tersebut ke arah telinganya agar memastikan ada tidaknya air kelapa didalamnya.
“tenang saja, meski kau meminumnya berkali kali, air di dalam kelapa itu tidak akan habis” sahut Greisha.
“ehh? Mana bisa begitu?” tanya Johan begitu terheran.
“kau menanyakan mengapa alam memberikanku hal ajaib seperti itu? itu karena sudah jelas aku adalah dewi alam. Itu sudah tidak perlu di pertanyakan lagi” ucap sang dewi alam seraya menidurkan tubuhnya di bawah pohon tersebut.
“ajaib, bener bener ajaib” ucap Johan benar benar terkesan.
“neh Johan, kemarilah dan berbaringlah di sampingku” ucap sang dewi alam.
“ba-baik” tegas Johan.
Johan pun menidurkan dirinya di samping dewi alam di bawah pohon tersebut. Seraya melihat langit langit yang tertutupi oleh lebatnya dedaunan, mereka masih mendapati bintik bercak berwarna biru dari langit cerah yang tidak tertutup awan. Suasana begitu menenagkan bersama dengan kicauan burung beserta angin sepoi sepoi.
“neh Johan” ucap Greisha.
“ada apa dewi?” tanya Johan.
“apa kau ada perempuan yang kau sukai?” tanya sang dewi alam.
“ada, satu perempuan yang baru saja aku temui kemarin di desa tempat kampung halamanku” jawab Johan.
“benarkah? Namanya siapa?” tanya Greisha.
“emm, dia anaknya sedikit aneh. saat kita pertama kali bertemu, saat itu aku sedang bersedih dan bersandar di pohon. Kemudian secara tiba tiba, aku sama sekali tidak mendengar satupun langkah kaki, namun anak perempuan tersebut tiba tiba duduk disampingku. Saat aku menanyakan namanya, dia menjawab kalau dia sama sekali tidak diberi nama oleh orang tuanya saat dirinya lahir. Dan juga dirinya berkata kalau dia disuruh kerja saat dia baru lahir. Aku tidak mengerti apa maksudnya tapi aku yakin kalau dia sangat kesepian disana” jawab Johan.
“kalau begitu, bagaimana kau bisa memanggilnya?” tanya Greisha.
“dia memohon kepadaku agar aku memberinya nama seperti orang pada umumnya. Maka dari itu, aku memberinya nama Odessa Ai. Ada filosofi didalam nama tersebut dan akan sedikit lebih panjang jika aku menceritakannya kepadamu sekarang” ucap Johan.
“tidak apa, ceritakan saja” ucap Greisha.
“jadi, malam itu. saat aku mengetahui kebenaran dari pembakar hutan tersebut, aku benar benar kecewa, marah, sedih dan takut. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu dan meneror isi otakku. Aku pun kemudian memutuskan untuk singgah dan berdiri di satu pohon. Nama pohon tersebut adalah pohon Hornbeam. Pohon tersebut benar benar unik, nyatanya meski itu adalah pohon Hornbeam, tapi pohon tersebut berbunga Sakura. Benar benar ajaib. Setelah itu, saat aku bersedih, aku berdiri di depan pohon tersebut dan melihat bayangan ibu kandungku di pohon tersebut. Selepas itpun aku menangis seraya memeluk pohon tersebut erat erat. Perlahan mataku sakit karena terlalu banyak menangis dan pada akhirnya aku hanya duduk bersandar di pohon tersebut. Seperti apa yang kukatakan tadi, aku sama sekali tidak mendengar langkah kaki sedikitpun. Dan tidak lama setelah itu, perempuan itu duduk disampingku dengan begitu cerianya. Kita berbincang tentang diri kita masing masing. Dan aku yakin dia melakukan hal itu karena dia tau jika saat itu aku sedang bersedih. Selepas itu, dia pun memohon kepadaku agar dirinya di beri nama. Aku pun menanyakan tentang hal kesukaannya dan dia menjawab kalau dia sangat suka dengan pohon tersebut. Dikarenakan pohon tersebut adalah pohon Hornbeam yang hanya tumbuh di Ukraina dan berbunga Sakura yang hanya tumbuh di Jepang, maka aku mengambil nama kota dengan populasi terpadat dari negara Ukraina dan salah satu kata sifat dalam bahasa Jepang. Aku menamainya Odessa Ai. Odessa berasal dari nama kota terpadat penduduk keempat di negara Ukraina sementara Ai berasal dari bahasa Jepang yang bermakna Cinta. Odessa di lambangkan dari Pohon Hornbeam yang hanya tumbuh di negara Ukraina dan Ai dilambangkan dari bunga Sakura yang hanya tumbuh di Jepang” jelas Johan panjang lebar.
“jadi? apa menurutmu nama pemberianmu itu bagus? Bagaimana kalau dia kecewa?” tanya Greisha.
“sebelumnya aku sangat ragu dan bahkan tidak berbakat dalam menemukan nama. Namun, saat dirinya menerima nama pemberianku itu, dia pun meneteskan air mata. Aku benar benar takut karena aku berfikir kalau dirinya akan bersedih dengan nama sejelek itu, namun dia ternyata menangis karena haru sebab aku memberikan nama yang bagus menurutnya. Maka dia pun menerima nama Odessa Ai dengan penuh kegembiraan hati dan tanpa paksaan” jawab Johan.
“aku jadi penasaran bagaimana rupa Odessa Ai milikmu itu” ucap Greisha.
“hah? mi-milikku?” tanya Johan dengan pipi memerah.
“ehh? Jadi kalian belum jadian?” tanya balik Greisha.
“kenapa tidak kau tembak perlahan?” tanya Greisha.
“hah? maksudnya?” tanya Johan.
“maksudku adalah, perlahan kau pegang tangannya dan kemudian tatap matanya. Setelah itu, kau berkata kepadanya kalau kau menyukainya dan kau ingin menjadi pacarnya” ucap Greisha.
“hah? ku-ku-kurasa it-itu ti-tidak mu-mungkin” ujar Johan begitu gugup dengan pipi memerah.
“dasar lelaki sampah. Kau harus memiliki keberanian yang tinggi untuk bisa mendapatkan hatinya. Jangan sampai kau menyesal jika waktunya sudah terlambat dan dia sudah dimiliki oleh orang lain” sahut Greisha.
“apa kau memiliki saran bagaimana cara mendapatkan hati seorang perempuan?” tanya Johan.
“itu mudah” jawab Greisha seketika duduk di tempat itu.
“kau hanya harus melakukan hal yang kuperintahkan” ucap Greisha duduk menghadap kearah Johan.
“bagaimana caranya? Katakan padaku” sahut Johan duduk berhadapan dengan Greisha. Mereka pun sudah seperti sepasang guru dan murid yang tengah berlajar di sekolah sercara berhadap hadapan.
“hal pertama yang harus kau lakukan adalah kau harus terlihat menarik di matanya” ucap Greisha.
“terlihat menarik? Maksudnya?” tanya Johan.
“kau harus membuat dirimu seolah olah kau adalah orang yang berbeda dengan orang lain. Misalnya kau harus menanamkan kedalam kepala perempuan itu kalau kau lebih keren dari laki laki lain. Atau tidak, kau lebih menyenangkan dan lebih lucu dari lelaki lain. Buatlah dirimu menarik di hadapannya dengan kemampuanmu” ucap Greisha.
“tapi kau tau sendiri kalau aku hanyalah sebatas wibu otaku yang tidak ada kerennya sama sekali” ucap Johan.
“kalau begitu, kau harus menonjolkan satu keahlianmu, apa kau punya keahlian?” tanya Greisha sedikit ragu.
“dari nada bicaramu itu, sepertinya kau meremehkanku. Aku adalah orang yang paling humoris di sekolah dan aku selalu membuat orang lain tertawa” ucap Johan membanggakan diri.
“kalau begitu, buatlah Odessa tertawa selalu saat bertemu denganmu” ucap Greisha.
“baik, aku faham” ucap Johan seraya menganggukkan kepalanya.
“hal kedua yang harus diperhatikan adalah sifat dan perilakumu. Tidak semua perempuan menyukai lelaki yang dewasa. Banyak dari perempuan di luar sana yang bahkan menyukai lelaki yang bersifat lebih muda dan lebih kekanak kanakan darinya. Perempuan yang seperti itu biasanya berharap bahwa dirinya memiliki adik namun harapannya tidak terpenuhi. Maka dari itu perempuan seperti itu sangat menyuaki lelaki yang bersifat kekanak kanakan karena menganggap kalau dirinya adalah kakak perempuan. Sebaliknya. banyak dari perempuan di luar sana yang menyukai lelaki yang bersifat dewasa. Perempuan yang seperti itu biasanya adalah perempuan yang sangat ingin memiliki seorang abang lelaki di keluarganya namun keinginannya tidak terpenuhi. Maka dari itu perempuan seperti itu adalah perempuan yang sangat menyukai lelaki yang bersifat dewasa karena menganggap kalau dirinya adalah seorang adik perempuan yang bandel dari seorang abang lelaki yang lebih dewasa. Sekarang, kau harus menganalisa karakteristik Odessa. Menurutmu, Odessa adalah perempuan kekanak kanakan yang lebih ingin memiliki lelaki dewasa atau sebaliknya Odessa adalah perempuan yang dewasa dan lebih ingin memiliki lelaki yang kekanak kanakan?” jelas Greisha.
“kau benar, kau pintar banget. Dewi alam benar benar hebat. Kau benar benar mengerti pemikiran seorang perempuan” ucap Johan benar benar kagum.
“itu karena sudah jelas aku adalah perempuan” Jelas Greisha.
“kalau begitu, aku akan mencoba menebak Karakteristik Dewi Alam, Greisha terlebih dahulu. Saat aku pertama kali meihat Dewi di sini, aku melihat pembawaan yang tenang dan tidak gegabah. Aku melihat dewi adalah orang yang benar benar tenang. Cara berbicara Dewi juga tidak terbelit belit dan juga Dewi tidak perlu menarik nafas yang panjang karena sepertinya dewi sudah tau apa yang akan dewi katakan. Cara berbicara dewi juga sangat tenang dan tidak perlu berteriak untuk meyakinkan orang lain. Dari prediksiku, dewi memiliki minat untuk memiliki hubungan dengan lelaki yang bersifat lebih kekanak kanakan. Karena sepertinya dewi sangat kesepian dan ingin memiliki seorang lelaki yang bersifat kekanak kanakan yang bisa menghibur dewi saat dewi sedang kesepian” ucap Johan dengan penuh semangat.
“itulah mengapa aku selalu mengunjungi mimpimu, Johan” fikir Greisha dalam hati.
“halo? Dewi? Apa anda baik baik saja? kenapa dewi malam melamun?” tanya Johan.
“kenapa kamu sekalipun tidak peka?” fikir Greisha bertanya tanya.
“apa Dewi sedang sakit? ehh kurasa itu tidak mungkin. Memangnya seorang dewi bisa sakit?” ucap Johan.
“entah kenapa aku sedikit merasa sakit hati ketika kau mengatakan kalau kau menyukai seseorang. Dan bahkan orang itu adalah anakku sendiri. Kau menceritakannya dengan begitu bahagia serta senyum yang sangat amat lebar. Kelihatannya, kau benar benar sangat menyukainya” fikir Greisha dalam hati.
“yahh, kurasa aku akan mengalah kepada anakku sendiri. Bagaimanapun juga umurku sudah ribuan tahun. Aku tidak boleh egois kepada anakku sendiri” ucap Greisha dengan lantang.
“heh? A-anak? Mengalah? Apa maksudnya? Apa yang dewi fikirkan hingga dewi melamlun lama? Apa dewi memiliki anak?” tanya Johan dengan begitu terkejut.