
“itu Johan” teriak sang sekertaris seraya berlari ke arah Johan yang tengah memeluk pohon.
“iya, dia benar. Cepat evakuasi dia” teriak sang ketua.
“tapi kenapa dia malah memeluk pohon itu? ada apa dengannya?” ucap sang wakil bertanya tanya.
Maka dari itu, mereka berempat pun dengan begitu cekatan mengevakuasi semua korban yang tergeletak di desa itu. Keempat lelaki tersebut mengumpulkan semua korban yang saat itu bekerja sebagai penebang hutan. Satu jam penuh, tanpa adanya bantuan dari satupun orang, mereka berempat pun mengevakuasi dan membawa semua penebang liar yang saat itu tengah tergeletak tanpa bisa melakukan apapun.
Pada akhirnya, jam 5 pagi mereka berhasil mengevakuasi seluruh korban disana. Mereka meletakkan korban disatu ruangan khusus dimana mereka hanya tidur di kasur kapuk yang sedikir keras. Disana, kedua kaki mereka di balut oleh sebuah kain agar menghentikan pendarahan mereka.
Disana, masih tidak sedikit orang yang tergeletak pingsan dan adapula yang masih tersadar dengan rasa sakit yang masih menyiksa tubuhnya. Total dari keseluruhan orang yang tertangkap dan telah terbaring lemah adalah berjumlah 39 orang penebang yang tengah terbaring disana termasuk mantan kedua bawahan papah Johan itu.
Duapuluh diantaranya sudah tidak sadarkan diri sementara sembilanbelas diantaranya masih tersadar dengan rasa sakit yang menerkam kedua kakinya. Saat itu mereka sudah di beri obat obatan yang mereka beli menggunakan dana desa.
“kalian tenang saja, kita sudah menghentikan pendarahan kalian. Untuk sekarang, jangan terlalu banyak bergerak atau kalian akan mati kehabisan darah” tegas sang bendahara.
“siapa, siapa yang memberitahukanmu jika ada operasi pembabatan hutan?” tanya salah seorang lelaki disana.
“kalian tidak perlu tahu, yang pasti lelaki itu adalah penyelamat sumber daya desa kami. Kami tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menebang pohon milik desa kami. Sebentar lagi, semua teman temanmu akan sadar, dan satu persatu dari kalian akan kami interogasi. Tunggu sebentar lagi dan kalian semua akan sadar” tegas sang bendahara dengan berjalan keluar ruangan tersebut.
“yahh, orang itu pergi” ucap salah seorang lelaki disana
“ini semua karena bos. Dia bilang kalau di hutan ini benar benar tidak ada polisi perhutani. Tapi nyatanya kita malah terkena imbasnya” ucap salah seorang lelaki dengan suara begitu kesal.
“tapi benarkan? Tidak ada polisi perhutani” ucap sang ketua penebangan tersebut.
“anda bilang tidak akan ada yang mengganggu kita dalam penebangan hutan” ucap lelaki tersebut.
“aku memang mengatakan seperti itu. Tapi aku juga tidak menyangka bahwa kita akan di serang oleh orang orang biasa hanya menggunakan pisau biasa. Benar benar orang yang tidak waras. Bahkan jika mereka menangkap kita semua disini, pasti masih banyak orang yang akan menebang pohon disini selama tidak ada polisi perhutani. Mereka melakukan hal yang sia sia” ucap sang ketua.
“kau benar, mereka tidak akan pernah bisa menangani banyaknya orang yang ingin mendapatkan pohon yang berkualitas tinggi disini. Apalagi ada satu pohon yang benar benar langka dan sangat amat berkualitas di samping danau dan rumah bekas. Itu adalah pohon yang memiliki harga jual yang luar biasa mahal” ucap lelaki itu.
“kau benar, aku juga sudah melihatnya. Tapi kenapa mereka berdua tidak bisa menangani satu pohon saja. Tapi, mereka berkata kalau ada seorang anak perempuan yang mengganggu mereka” ucap sang ketua.
“hah? perempuan? Siapa itu?” tanya lelaki tersebut.
“aku juga kurang tau. Tapi sepertinya perempuan itu adalah pemilik pohon kesayangannya. Bahkan dia sudah terluka berapa kalipun perempuan tersebut masih belum saja menyerah dan ingin menghalangi pohon tersebut. Benar benar pohon yang unik” ucap sang ketua.
“kalau begitu, akan lebih baik menyingkirkan perempuan tersebut terlebih dahulu dan kemudian menebang pohon itu. Mungkin itu akan lebih baik” ucap lelaki tersebut.
“iya, itu benar. Aku akan memberitahukan bos besar untuk melaporkan kejadian ini. Pasti bos besar akan sangat senang jika mendengar berita tentang satu pohon yang begitu berharga” ucap sang ketua tersebut.
“kau benar, kita akan menebang pohon tersebut dan kemudian mengambil keuntungan yang besar darisana” jawab lelaki tersebut.
Disisi lain, Johan yang tengah tertidur di kamar khusus tamu masih belum saja bangun karena kelelahan yang begitu hebat. Saat itu, Johan benar benar dalam kondisi yang sangat kelelahan dan hanya bisa disembuhkan dengan istirahat yang begitu lama. Seperti biasa, Johan pun bermimpi bertemu dengan Greisha, sang dewi alam di tengah tengah padang rumput yang luas nan segar.
Johan berdiri di bawah pohon tengah melihat sang dewi alam sedang rebahan santuy di rerumputan seraya menatap indahnya langit biru.
“permisi, aku datang” ucap Johan.
“ehh, nak Johan” jawab sang dewi alam seketika berdiri dari rebahan santuynya.
Greisha pun sedikit berlari ke arah Johan dengan membentangkan kedua lengannya itu. Dengan pelukan hangat, Greisha menyambut dengan tangis air mata. Pelukan eratnya itu ditunjukkan kepada Johan yang sudah menyelamatkan alam walaupun itu menggunakan cara yang terlalu kasar.
“terimakasih, aku sangat berterimakasih” ucap greisha dengan tangis air matanya.
“ka-kamu nggak perlu se formal itu sama aku. Kamu sendiri yang bilang kalau kita tidak perlu se formal ini. kau sudah memabntumu dan aku sudah membantuku. Itu hal yang sangat normal bukan?” ucap Johan dengan sedikit tawa senyumnya.
“tidak apa apa, kau sudah menyelamatkan alamku. Kau sudah melakukan yang terbaik dengan memberitahukan simbol yang kuberikan kepada orang yang tepat” ucap Greisha memeluk tubuh Johan dengan lebih erat.
“yaahh, mereka berempat adalah orang orang kepercayaan milik kakekku, jadi aku pun percaya kepada mereka. Dan aku juga kagum kalau mereka benar benar masih berstamina padahal umur mereka sepertinya sudah menginjak 30 an” ujar Johan.
“aku sudah melihat mereka sejak dulu. Mereka adalah mantan penebang hutan. Namun sejak bertemu dengan kakekmu sang tetua desa, mereka menjadi berhenti menebang hutan dan memilih untuk berkebun dan bertani. Aku melihat mereka menjaga dan merawat tanaman mereka dengan baik. Maka dari itu, roh kebun pun benar benar kagum dengan mereka berempat” ucap Greisha.
“aku juga kagum dengan mereka berempat. Aku harap mereka masih bisa memimpin desa ini dengan baik” jawab Johan seraya memeluk tubuh Greisha balik.
Sesaat setelah itu, Johan pun terbangun dari tidurnya. Johan terbangun di kasur yang empuk bersama dengan sang ketua yang tengah membaca koran dan meminum secangkir kopi sembari duduk di samping jendela dan menatap langit fajar yang menyambut dunia dengan hangat sinarnya.
Johan memegangi kepalanya yang begitu pusing. Dirinya berusaha untuk duduk di kasur tersebut. Melihat Johan yang sudah bangun secepat ini, sang ketua pun berjalan mendatangi Johan disana.
“padahal ini masih jam 6 pagi dan kau sudah bangun. Bagaimana kondisimu? Apa sudah baikan?” tanya sang ketua.
“aku sudah tertidur berapa hari?” tanya Johan.
“hah? berapa hari? Kau baru saja tidur selama dua jam” jawab sang ketua.
“heh? Sesingkat itu?” tanya Johan begitu terkejut.
“ada apa? Apa kau haus? Apa kau kebelet pipis?” tanya sang ketua.
“iya, aku minta air putih” jawab Johan.
“sebentar, aku akan ambil” ucap sang ketua berjalan keluar kamar tersebut.
Selang beberapa menit berlalu, sang ketua berjalan memasuki kamar dengan membawa sebotol air mineral. Beliau memberikan botol tersebut kepada Johan dan mempersilahkan Johan untuk meminumnya. Dengan beberapa tegukan yang melegakan dahaga Johan, saat itu Johan benar benar berfikir demamnya sudah turun dan hanya menyisakan rasa pegal dan sakit kepala.
“apa anda memiliki koyo? Atau balsem? Aku serasa ingin menggunakan itu” ucap Johan.
“emm, sebentar aku akan memijatmu” ucap sang ketua.
“Ehh? Tidak usah pak, aku hanya perlu menggunakannya saja” ucap Johan.
“sekarang, buka bajumu dan tidurlah tengkurap. Aku akan memijatmu” ucap sang ketua.
“ba-baik” jawab Johan.
Johan kemudian melepaskan kausnya dan kemudian menidurkan tubuhnya tengkurap. Sang ketua pun segera mengambil balsem dari laci bersama dengan koyo cabe. Sang ketua pun segera mengoleskan koyo cabe ke punggung Johan dengan perlahan. Punggung yang dingin pucat pun mulai di hangatkan oleh balsem yang panas begitu menghangatkan.
Perlahan sang ketua mulai menekan jari jarinya ke beberapa titik di punggungnya. Hal itu membuat Johan sedikit kesakitan dan sedikit geli. Namun dengan tekanan di beberapa daerah tersebut pun membuahkan hasil yang benar benar meringankan beban dan pegal yang ada di punggung Johan.
Selama lima menit penuh, sang ketua memijat punggung Johan, Johan sudah beberapa kali berteriak karena kesakitan atau hanya sebatas geli. Selepas itu, sang ketua memasangkan koyo di tengkuk dan belakang telinga Johan untuk meringankan rasa sakit kepala Johan.
Johan pun kembali menggunakan kaus polosnya dan kemudian meminum air putih yang telah sang ketua bawa sebelumnya. Benar benar ringan dan segar adalah kondisi tubuh Johan yang ia dapatkan setelah dipijat oleh sang ketua.
“benar benar ajaib dan enak banget parah. Berasa enteng banget” ucap Johan.
“benarkan? Aku di ajari oleh kakekmu. Dahulu aku juga pernah dalam kondisi yang benar benar kelelahan, dan kakekmu memijatku. Rasanya benar benar lega dan ringan” jelas sang ketua.
“omong omong, sekarang sudah jam berapa?” tanya Johan.
“sekarang masih jam 6 pagi” jawab sang ketua.
“dimana sopir pick up yang membawa bahan makanan kemarin malam?” tanya Johan.
“dia masih tidur di kamarku. Biarkanlah saja dia. Dia terlalu banyak minum kopi disini dan hasilnya asam lambungnya naik. Dia kemarin malam muntah muntah sampai tubuhnya lemas. Dan mungkin dia akan tertidur selama beberapa jam untuk merilekskan kembali tubuhnya” ucap sang ketua.
“kalau begitu, dimana Odessa?” tanya Johan.
“hah? Odessa?” tanya sang ketua.
“ehh?” tanya Johan balik.
“apa yang kau maksud?” tanya sang ketua begitu terheran.
“anda menemukan tubuhku dimana dan bersama siapa?” tanya Johan.
“aku menemukanmu di pohon luar hutan bersama dengan dua orang lelaki yang sudah dalam kondisi yang benar benar hancur. Saat itu kau malah memeluk pohon tersebut dan tidak sadarkan diri” jawab sang ketua.
“ehh? Memeluk pohon?” tanya Johan.
“apa saat itu kau tidak sadarkan diri?” tanya sang ketua.
“aku tidak ingat kalau aku pernah memeluk pohon” jawab Johan.
“kau sudah memeluk pohon tersebut dua kali dan tidak sadarkan diri disana. Sebelumnya, saat kau kabur dari pemakaman papahmu minggu lalu, kau ditemukan saat malam hari dengan kondisi yang sedang memeluk pohon tersebut. Dan sekarang, kau ditemukan sedang memeluk pohon yang sama” ucap sang ketua.
“apa kau tidak menemukan seorang perempuan disana?” tanya Johan.
“perempuan? Apa maksudmu hantu?” tanya sang ketua.
“bukan itu maksudku. Dia adalah manusia biasa. Perempuan seumuranku” ucap Johan.
“emm, apa kau yakin dia itu manusia biasa? Bagaimana kalau itu adalah hantu” ujar sang ketua.
“tidak, aku sangat yakin sekali kalau dia adalah manusia biasa dan satu satunya manusia biasa yang normal” ucap Johan.
“aku tidak menemukan seorang anak perempuan satupun disana” jawab sang ketua.
“hmm, bagaimana ini bisa terjadi? seharusnya Odessa masih dalam kondisi lemah, dan dia tidak mungkin bisa berlari secapat itu menghindari mereka berempat. Apa jangan jangan dia sudah meninggalkanku sebelum tubuhku di angkut oleh para tetua? Mungkin saja dia sudah pulang karena di jemput orang tuanya dan meninggalkan tubuhku disana. Kurasa kalau emang dia di jemput oleh orang tuanya, itu tidak masalah buatku. Yang penting saat itu dia bisa selamat” fikir Johan dalam dalam.
“hey, kenapa? Ada apa? Kenapa malah melamun?” tanya sang ketua.
“tit-tidak apa apa” jawab Johan
“hmm, yaudah kalau begitu. Kalau kau butuh apa apa, langsung aja panggil namaku, aku ada di jendela sini. Kau kembalilah tidur” ujar sang ketua.
“tapi aku sedikit lapar” ucap Johan.
“kami memberikan telur rebus dan madu kepada anak anak dan para lansia. Semetnara kita semua sebagai tetua beserta para orang dewasa hanya malam roti gandum. Kalau kau mau, kita hanya bisa memberikan roti gandum untukmu” ucap sang ketua.
“kondisi kalian miris sekali” ucap Johan.
“yaudah kalau begitu, aku akan ambi-“ ucap sang ketua terhenti.
“tunggu dulu, pak. Aku sudah bawa makanan sendiri dari rumah. Aku sudah bawa roti ku sendiri. Jadi anda tidak perlu lagi memberikan jatah milik desa kepadaku” sahut Johan.
“emm, begitu. Apa kau ingin aku membawakan tasmu?” tanya sang ketua.
“saya sangat meminta tolong sekali” ucap Johan.
“baiklah” jawab sang ketua.
Maka dari itu, sang ketua pun segera mengambilkan tas Johan dari mobil pick up dan kemudian memberikannya kepada Johan di kamar dalam. Johan mengambil ponsel serta roti dari dalam tas dan kemudian memakan roti bungkusan yang telah ia bawa sebelumnya dari rumah.
Johan pun memeriksa pesan di dalam ponselnya tapi sepertinya tidak ada sedikitpun sinyal disana. Johan sama sekali tidak mendapatkan pesan masuk dari siapapun karena sama sekali bukan karena kuota Johan yang habis namun sinyal disana benar benar kosong melompong.
“kira kira, Emilia dan teman teman semuanya sedang apa ya?” fikir Johan bertanya tanya.
“udahlah, ngapain juga aku mikirin mereka. Pasti mereka masih tidur saat ini’' ucap Johan.
Maka, saat itu pula Johan pun segera memakan rotinya sembari menonton video YouTube dari hasil yang telah ia Download sebelumya. Video biasa yang hanya menunjukkan turnamen game dari game kesukaannya itu. Johan menonton video tersebut dengan rebahan santuy di atas kasurnya itu.