
Dua hari kemudian, di saat Johan mendapatkan ijin untuk pulang dari rumah sakit. Namun, ibunda Johan masih belum di perbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit karena kondisinya yang belum memenuhi syarat untuk bisa pulang ke rumah.
“ahh, anakku Johan hari ini sudah di perbolehkan pulang. kenapa aku masih belum di perbolehkan? Ngeselin banget” tanya sang ibunda Johan dengan merengek jengkel.
“tunggu sebentar lagi, tubuh anda akan sehat dan fit seperti semula” jawab para perawat di dalam kamar sang ibunda.
“bagaimana denganku? kapan aku bisa pulang?” tanya sang paman Surya,
“kalau saudara Surya ingin pulang hari ini, anda di perbolehkan pulang. Anda sudah masuk persyaratan untuk bisa pulang ke rumah” ucap sang perawat.
“baiklah kalau begitu, syukurlah” ucap paman Surya seraya menghela nafas begitu panjang..
“apa kau mau pulang? padahal kita masuk ke dalam rumah sakit di waktu yang sama, tapi kau malah pulang dahulu. Tega teganya kau meninggalkanku seorang diri di rumah sakit yang angker dan menyeramkan ini” ucap sang ibunda Johan memasang raut muka memelas dan mendramatisir suasana.
“tenang aja, aku tidak akan pulang secepat ini” jawab paman Surya sedikit tersenyum.
“waah, benarkah? Terimakasih banyak” ucap sang ibunda Johan dengan pipi yang memerah.
“jangan terbawa perasaan dahulu. Asal kau tau sendiri. Aku ini tinggal di dalam kos kecil di kota ini. mungkin jika dibilang kos, itu terlalu kasar. Lebih tepatnya sebuah kotrakat kecil. Kalau aku pulang ke tempat tinggalku di kontrakan itu, siapa yang akan merawatku?” jelas paman Surya.
“bagaimana dengan istrimu?” tanya sang ibunda Johan.
“kita bercerai baru baru ini dan dia memenangkan dalam sidang saat merebutkan hak asuh anak” jawab sang paman Surya.
“sayang sekali” ujar sang ibunda Johan turut prihatin.
Disisi lain, Johan yang saat itu telah berganti pakaian mengenakan pakaian kemeja putih dengan bawahan celana panjang hitam beserta sepatu putih miliknya sudah siap untuk pulang. Pada akhirnya, Johan sudah diperbolehkan berjalan kaki walaupun kakinya saat itu masih begitu lemas. Maka dari itu, stamina yang dimiliki oleh Johan masih belum penuh seutuhnya.
“apa kau baik baik saja? apa kau mau memakai kursi roda?” tanya Kahfi.
“tidak apa, aku bisa” jawab Johan dengan tatapan yang meyakinkan.
Mereka semua pun berjalan perlahan menuju ke kamar sang ibunda dan paman Surya untuk meminta ijin terlebih dahulu. Sesampainya mereka disana. Mereka di sambut hangat oleh sang ibunda Johan dan paman Surya yang tengah meminum secangkir teh hangat.
“ehh? Kalian semua ada disini. Apa kalian tidak sekolah? Padahal ini udah jam 8 pagi. Apa jangan jangan kalian malah bolos sekolah?” tanya ibunda Johan.
“itu benar, apa kalian tidak sekolah? Sekarang masih hari kamis dan bukanlah hari libur” sahut paman Surya.
“maka dari itu, ktia semua meminta ijin kepada tante” ucap Kahfi.
“hah? minta ijin apa?” tanya sang ibunda.
“jadi, kita semua mau kembali ke desa. Maka dari itu, aku mita ijin sama mamah supaya mamah kasih ijin Johan buat pergi ke desa Engkoba-“ ucap Johan terhenti.
“tidak boleh” sahut ibunda Johan dengan tegas.
“ehh? Cuma sebentar kok mah” ucap Johan.
“mamah tidak mau tau, kamu baru aja di perbolehkan pulang ke rumah. Harusnya kamu harus beristirahat lebih. Kok malah main main kesana” tegas sang ibunda.
“Tapi mah, itu cuma sebent-“ ucap Johan begitu terpancing emosi.
“kalau tidak di perbolehkan jangan begitu melawan. Lebih baik kita pergi lain hari” sahut Kahfi menenagkan Johan yang tengah terbawa emosi.
“kalau mamah bilang tidak boleh, kamu harus nurut sama mamah. Aku ini mamah kamu dan memperdulikan kesehatan kamu” tegas sang ibunda.
Perdebatan antara ibu dan anak pun benar benar hebat. Dimana semua teman teman Johan benar benar tegang antara perdebatan pertentangan antara Johan dan sang ibunda.
“pokoknya mamah gamau tau, kalo mamah bilang tidak boleh, kamu harus nurut” tegas sang ibunda sedikit ngegas.
“KATA SIAPA KAU MAMAHKU!?” teriak Johan benar benar sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Pada dasarnya Johan benar benar kehilangan kendali karena terbawa emosi.
“JOHAN, HENTIKAN ITU‼” teriak Kahfi menarik pundak kanan Johan.
“KAU HANYALAH SEORANG IBU TIRI DAN BUKANLAH IBU KANDUNG, DAN KAU MAU MELARANG ANAK ORANG LAIN UNTUK MELAKUKAN APA YANG IA SUKAI!?. KAU BUKAN MAMAHKU DAN BUKAN MAMAH KANDUNGKU. JANGAN HENTIKAN AKU‼!” teriak Johan dengan tatapan yang begitu tajamnya ke arah kedua mata sang ibunda.
“HENTIKAN ITU, JOHAN” teriak sang paman Surya membentak Johan.
“KAU SIAPA? KENAPA KAU MALAH MENGURUSI KEHIDUPAN ORANG LAIN? URUS KEHIDUPANMU SENDIRI. DASAR SOPIR YANG NGGAK BECUS” teriak Johan kepada paman Surya.
“JOHAN, ITU SUDAH KETERLALUAN!” teriak Nyoman dan Farel bersamaan.
“cih, dasar orang orang tidak berguna” ucap Johan memalingkan tubuhnya dan kemudian berjalan keluar kamar ibunda.
Johan pun berjalan keluar ruangan dengan sedikit lebih cepat. Saat Johan berada di depan ruangan kamar sang ibunda, dengan begitu kasarnya Johan menutup pintu kamar tersebut. Dikarenakan pintu tesebut adalah pintu geser, maka dari itu suara yang dihasilkan saat Johan membanting pintu tersebut benar benar keras.
Saat itu, Emilia dan semua teman temannya pun masih berada di dalam kamar sang ibunda. Mereka semua begitu terkejut dan sedikit ketakutan akan situasi yang begitu genting tersebut.
Bagaimanapun juga, yang patut di salahkan dari kejadian barusan adalah Johan karena semua yang di katakan oleh sang ibunda itu benar. Johan hanya termakan emosi sesaat dan tidak mampu mengendalikan amarahnya.
“tidak apa kalau Johan marah denganku, asalkan Johan tidak kembali ke desa itu dan kemudian terjadi apa apa kepada Johan” ucap sang ibunda.
“apa tante tidak apa apa?” tanya Emilia.
“tenang saja, Johan selalu seperti itu dirumah. Dia selalu memanggilku nenek tua setiap hari” jawab sang ibunda dengan senyum tulusnya.
“apa kau baik baik saja? itu sudah keterlaluan” tanya paman Surya kepada ibunda Emilia.
“tenang saja, kau juga takut kan kepada Johan?” tanya balik sang ibunda kepada paman Surya.
“iya jelas takut lah, dia benar benar keras dan kejam. Benar benar sangat cocok menjadi preman pasar” jawab paman Surya.
“hahaha, iya kau benar” ucap sang ibunda Johan tertawa lepas.
“kenapa mamah Johan malah ketawa lepas? Padahal anaknya baru aja membentaknya di depan mukanya langsung” fikir Nyoman terheran akan ibunda Johan.
“kalau begitu, lebih baik kalian menemani Johan sekarang juga, takutnya dia malah pergi ke desa sendirian” ucap sang ibunda Johan kepada semua teman teman Johan.
“kurasa itu tidak akan mungkin” ujar sang paman Surya dengan sedikit tawanya.
“kau tidak mengenal Johan, jadi kau tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Johan. Dia anaknya begitu nekat dan tidak pantang menyerah, walaupun dia terlalu memaksakan tubuhnya yang lemah itu” ucap sang ibunda Johan kepada paman surya.
“kalau begitu, kita semua pamit dulu ya tante. Kita semua minta maaf atas kegaduhan yang baru saja terjadi” ucap Emilia menundukkan kepalanya diikuti oleh semua teman temannya.
“tidak apa, itu sudah biasa” ucap sang ibunda Johan.
Maka, saat itu juga Emilia dan semua teman temannya beranjak pergi meninggalkan kamar sang ibunda dan mulai mengejar Johan yang entah berantah keberadaannya.
“apa kau tidak apa?” tanya sang paman Surya kepada sang ibunda Johan.
“tidak apa, aku udah bilang kalo aku nggak apa apa” tegas ibunda.
“jangan membohongi perasaanmu sendiri, walau dia bukan anak kandungmu, setidaknya dia pernah membuat hatimu merasa kalau kamu pernah memiliki seorang anak” ucap sang paman Surya.
“apa yang kau bicarakan” ucap sang ibunda tersenyum palsu.
“semua orang tua akan sakit hati jika di bentak oleh anaknya sendiri. Bagaimanapun juga, walau dia bukanlah anak kandungmu, tapi kau sudah menganggap kalau dia adalah anak yang telah kau kandung sendiri. Rasanya sakit saat di bentak oleh anak sendiri” jelas paman Surya.
“bagaimana kau bisa tau?” tanya sang ibunda dengan tetesan air mata yang mulai menetes ke selimut yang ia kenakan.
“karena aku juga pernah menjadi orang tua. Aku juga pernah di bentak oleh anakku sendiri. Dan itu sudah sangat wajar. Ini adalah kehidupan orang tua sementara berdebat dengan anak adalah suatu hal yang normal. Anak yang ngambek karena keinginannya tidak terpenuhi adalah hal yang selalu terjadi di semua tatanan keluarga. Dan kita tidak bisa lari dari putaran roda kehidupan itu” tegas sang paman Surya.
“setidaknya aku tidak ingin menghalangi keinginannya, namun aku juga tidak ingin dia terluka” ucap sang ibunda dengan suara menahan tangis air mata.
“kau benar. Jika aku memiliki anak, aku juga melakukan hal yang sama. Semua orang tua juga akan melarang keinginan anaknya jika keinginan itu membahayakan dan merugikan anaknya sendiri. Namun tugas kita sebagai orang tua adalah untuk menemaninya dan menjaganya serta membimbingnya dari bahaya dan kerugian anak kita sendiri. Sangat di sayangkan kalau keinginan Johan benar benar di tolak saat dirinya ingin pergi ke desa tempat lahirnya sendiri. Jika saja dia memiliki seorang ayah, ayahnya pasti akan menemaninya untuk pergi ke desa itu dan selalu menjaganya di sisinya” ujar sang paman Surya.
“maka, aku meminta tolong kepadamu. Jadilah sosok ayah di kehidupannya” jelas tegas sang ibunda.
“eh?” tanya sang paman Surya begitu terkejut dan kebingungan. Keadaan seketika menjadi hening dan hanya diisi oleh suara kendaraan bermotor di jalan raya. mereka bedua hanya terdiam di satu kamar rumah sakit dan saling menatap mata tanpa berbicara sepatah katapun.