Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 80, Odessa dan Lelaki pohon Mangga



“ha-halo” ucap Johan di dalam telefon.


“apa kepentinganmu? Jika kau menelfonku hanya untuk mengejek dan mengolok olokku, aku tidak memiliki waktu untuk itu” tegas Adam dengan suaranya yang begitu jutek.


“ma-maaf. Tapi apakah ini benar nomer dari Adam Abraham?” tanya Johan.


“benar, ini aku, sang orang gila yang kalian panggil. Ada apa? Apa kau adalah salah satu orang yang menelfonku hanya untuk mengolok olok dan membuli ku lagi?” tanya balik Adam.


“sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Johan, kau bisa memanggilku Johan saja” ucap Johan.


“apa aku ada hutang denganmu? Bukannya aku sudah membayar cicilan rumah?” tanya Adam.


“dengar dulu lah kapmred!. Pertama yang harus ku katakan kepadamu adalah, kita berdua ini adalah sama” tegas Johan dalam hati.


“maksudnya?” tanya Adam sedikit kebingungan.


“anggap saja aku pernah bertemu dengan roh penjaga alam” tegas Johan.


“a-apa? Ja-jangan jangan, kau juga bertemu dengan penjaga alam? Katakan dimana aliranmu?” tanya Adam.


“aliran? Dimana aliranku? Aku kurang tau apa aliranku dan aku juga kurang tau maksudmu. Tapi aku akan memperkenalkan diriku dengan begitu jelas dan lengkap” tegas Johan.


“cepat perkenalkan dirimu” jawab Adam.


“simbol kuno murni dari leluhur Engkobappe bermakna Wajayeja Valesveva yang berada di kawasan Valesveva Akuman yang hanya didapatkan dari sentuhan tangan secara langsung dari sang Dewi Alam, Greisha. Aku memilikinya” tegas Johan.


“Greisha? Apa kau pernah bertemu dengannya?” tanya Adam.


“pasti kau juga pernah bertemu dengannya” jawab Johan.


“aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku hanya membaca beberapa artikel yang menceritakan karakter fiksi tersebut. Menurut manusia awam saat ini, Greisha hanyalah legenda dan rumor biasa” jawab Adam.


“tapi aku bertemu dengan Greisha setiap hari” jawab Johan.


“sudahlah itu tidak penting, katakan apa yang kau perlukan” ucap Adam.


“aku mendengar tentang keberanianmu menyelamatkan danau demi melindungi roh yang kau sukai. Aku tau kalau Riana Dassilva adalah seorang roh penjaga danau” tegas Johan.


“jadi kau tau mengenai roh penjaga alam?” tanya balik Adam.


“sudah kubilang, aku ini sama sepertimu. Maka dari itu, aku akan menanyakan hal yang tidak ku ketahui dan mungkin saja kau mengetahuinya. Aku ingin bertemu denganmu di danau yang kau jaga itu. Aku akan menanyakan semuanya kepadamu” ucap Johan.


“kapan?” tanya Adam.


“besok, malam hari, aku akan menanyakan semuanya kepadamu. Aku ingin memastikan sesuatu” ucap Johan.


“memastikan apa?” tanya Adam.


“apakah benar Odessa Ai itu roh pohon atau tidak” jawab Johan.


“aku ingin kau mengingat sesuatu dan ingin menancapkan ini di dalam otakmu itu. Roh alam tidak akan pernah berhubungan badan dan tidak akan pernah mengandung” jelas Adam.


“ehh? Kenapa? Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Johan.


“ini sudah malam. Aku kebelet eeq. Aku matiin dulu. Kau boleh menelfonku lagi besok pagi. Besok hari, aku hanya bisa keluar malam. Apa kau tidak keberatan?” tanya Adam.


“tidak apa apa. Aku juga hanya memiliki waktu malam hari” jawab Johan.


“kalau begitu, kita sudah sepakat untuk bertemu besok malam. Telfon aku kalau kau sudah berangkat. Kau tau kan lokasi danau tersebut?” tanya Adam.


“okelah kalau begitu. Senang rasanya bisa mendengar suara dari lelaki yang senasib sepertiku” jawab Adam.


“aku juga. Terimakasih banyak” jawab Johan.


“sama sama” jawab Adam seketika mematikan telfon tersebut.


Saat itu pula, Johan pun tersenyum dengan begitu lebar seraya menatap bulan yang begitu terang malam itu. Seraya membayangkan akan raut wajah dan ekspresi Odessa Ai di langit malam, Johan berharap kalau Odessa bukanlah roh pohon yang tidak memiliki kehidupan yang begitu menyenangkan.


“aku ingin menua denganmu. Aku yakin kita menatap langit malam yang sama. Kita menikmati dan menghembuskan nafas dari bumi yang sama. Aku ingin menggenggam tanganmu yang kecil dan hangat itu. Aku ingin menggendong anak perempuan kita berdua dan aku ingin melihat ke akrabanmu dengan anak lelaki kita. Kita bisa berbincang dan berbagi cerita bersama di satu meja makan yang sama pula. Aku harap kamu bukanlah roh pohon seperti apa yang ku fikirkan” ucap Johan.


“sekali lagi, maafkan aku Johan” fikir Odessa yang bersandar di bahu kanan lelaki disampingnya.


Nyatanya, lelaki itu adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang bersama dengan Odessa malam tadi. Saat itu, lelaki tersebut bersama dengan Odessa bersembunyi di balik pohon mangga untuk mengintip dan menguping apa yang akan Johan katakan kepada para penduduk pengungsian di kantor desa setempat.


“sekarang sudah malam. Mending kamu balik” ucap Odessa kepada lelaki disampingnya.


“kamu juga” jawab lelaki tersebut seraya mengelus kepala Odessa.


“kembalilah” ucap Odessa seketika berdiri dari tempat tersebut.


“iya” jawab lelaki tersebut.


Saat itu pula, lelaki tersebut seketika berjalan kembali kedalam hutan lebat dan meninggalkan Odessa seorang diri di bawah pohon hornbeam miliknya itu. Odessa kemudian duduk kembali dan bersandar di pohonnya itu seraya memegang telapak tangan kirinya sendiri.


“aku harap, aku bisa bersenang senang sepuasnya bersamamu besok hari, Johan. Mungkin besok adalah hari kali terakhir aku bisa berbincang dan tertawa bersamamu” ucap Odessa seraya meneteskan air matanya.


“aku percaya, kita akan saling tersenyum esok hari” “aku percaya, kita akan saling tersenyum esok hari” ucap Odessa dan Johan pada tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.


Di sisi lain, Johan segera menutup jendela kamarnya dan kemudian mematikan lampunya. Dirinya segera meletakkan tubuhnya di kasurnya yang hangat nan empuk kemudian menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut yang hangat nan tebal.


Sembari membaca novel dari platform online di ponsel nya, Johan mendengarkan lagu kesukaannya di aplikasi YouTube melewati earphone yang sudah menancap di kedua lubang telinganya itu.


Perlahan, rasa kantuk mulai membuat kedua kelopak mata Johan begitu berat. Dan pada akhirnya, Johan tertidur dalam kondisi ponsel yang berada di genggamannya.


Malam hari, hujan pun mengguyur kampung halaman Johan. Tidak begitu deras namun tidak begitu lebat pula. Suara hujan dari alam menenagkan hati siapapun yang mendengar instrumen ketenangan jiwa tersebut.


Percikan air memantul dari atap rumah hingga kolong selokan. Dedaunan terbasahi oleh tetesan air dari langit. Angin halus melambai lambai menggerakkan semak belukar pinggiran jalan. Dan saat itupula para binatang mendapatkan air minum yang begitu bersih nan segar dari tibuan tetes air hujan tersebut.


Tengah malam yang begitu tenang. tidak ada satupun suara mesin motor yang lewat sekalipun itu hanya seorang penjual nasi goreng keliling. Di kamar Johan yang begitu gelap, dirinya benar benar begitu nyenyak dalam tidurnya hingga Johan tidak memimpikan apapun dalam tidurnya. Bahkan Johan tidak bermimpi bertemu dengan Greisha seperti biasanya.


Pagi hari, jam 5 pagi. Johan terbangun karena alarm yang telah ia pasang malam kemarin. Johan mengambil ponselnya berniat untuk mematikan alarm tersebut. Namun nyatanya, ponsel Johan mati dengan sendirinya. Setelah ia cek, ternyata ponselnya kehabisan baterai dan mati total otomatis.


“sial, aku lupa mengecas hp ku” gumam Johan dalam kondisi suntuk.


Johan beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju jendela kamarnya. Johan membuka jendela dan mendapati jika mentari begitu terang menyinari pemukimannya. Pantulan sinar matahari terpantul oleh embun dari tetesan air hujan semalam. Dan itu membuat lingkungan Johan begitu membiru segar.


Genangan air yang memenuhi jalanan, embun yang masih menempel di dedaunan, suara mobil dan motor yang mulai keluar dari garasi rumah menyambut Johan ketika Johan membuka jendela kamar rumahnya.


“selamat pagi, dunia penuh keindahan. Hari ini, aku akan mengajak Odessa untuk kencan di kota. Matahari di pagi ini sungguh terang. Aku harap terangnya mentari tidak akan pernah menghilang sampai malam nanti” ucap Johan.


“huffftt, aku sudah tidak sabar” ucap Johan dengan nada begitu semangat.


Johan pun mengganjal jendelanya dengan tongkat besi penyangga jendela agar jendelanya tetap terbuka. Johan mengambil pakaiannya di dalam lemari dan ia letakkan di atas kasurnya. Johan pun beranjak keluar dari kamarnya dan kemudian bersiap menuju kedalam kamar mandi.


Johan berdiri di depan kamar mandi dalam keadaan pintu tertutup. Johan pun mengetuk pintu kamar mandi dan memastikan jika ada tidaknya orang didalam.