Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 84, Bertemunya Odessa dengan Ibunda dan paman Surya



Disaat itu, Johan pun menarik gas dengan begitu kencang di komplek rumah paman Surya. Dengan begitu kencang, Johan pun menarik gas nya dengan begitu kencang di komplek perumahan tersebut. Hanya dalam 5 menit saja, Johan dan Odessa pun sampai di rumah.


Johan pun memarkirkan motornya di depan pagar rumah. Johan turun dari motor sementara Odessa masih duduk diam di atas motor.


“kamu di sini aja dulu. Aku akan ambil dua helm dari dalam. Sebentar lagi, aku akan balik kok” ucap Johan.


“iya, aku akan tunggu disini. Jangan sampai anjing kamu keluar” ucap Odessa.


“iya iya, anjingnya di meja makan kok” jawab Johan.


“heh? Anjing di meja makan?” gumam Odessa dengan begitu terheran.


Saat itu pula, Johan membuka pagar rumahnya dan kemudian mulai masuk kerumah. Johan membuka pintu rumah dan mendapati tidak ada siapapun di dalam sana. Johan memanggil mamahnya dan memanggil paman Surya namun tidak ada balasan dari siapapun juga. Johan berjalan kesana kemari namun Johan tidak melihat siapapun disana.


Saat itu pula, Johan mengambil kunci pintu garasi dari laci meja ruang tengah dan kemudian keluar rumah hanya untuk membuka pintu garasi. Didalam garasi, Johan sedikit kebingungan. Nyatanya helm yang berada di dalam garasi hanya satu.


Johan pun berusaha mengingat dimana helm yang satunya lagi. Maka saat itu juga, Johan teringat jika helm nya itu berada di dalam kamarnya karena kemarin malam, Johan masih menggunakan helm saat masuk kedalam rumah dengan menggunakan jaket yang sedikit basah sebab terkena air gerimis malam hari bersama dengan Callysta.


“ohh iya, kemarin aku masih pake helm di dalam rumah. Helm ku pasti ada di dalam kamar. Dan juga jaketku yang satunya masih di pakai oleh Callysta dan tidak sempat mengembalikannya kemarin malam” fikir Johan dalam hati.


Seketika itu pula, Johan pun membawa helm tersebut dan kemudian keluar dari garasi. Johan mengunci pintu garasi seperti semula dan kemudian berlari kedalam rumah kembali. Johan berlari menuju lantai atas menuju kamarnya itu. Johan membuka pintu kamarnya dan mendapati kalau helmnya berada di pojokan kamarnya.


Johan pun segera mengambil helm tersebut dan kemudian kembali keluar dari kamarnya itu. Saat Johan turun ke lantai bawah, Johan begitu terkejut bukan main. Pasalnya saat itu pula, sang ibunda dan paman Surya membawa Odessa untuk masuk kedalam rumah.


“tunggu dulu tante, katanya Johan ada anjing pakai kemeja putih sedang duduk di meja makan dan memakan sop” ucap Odessa dengan begitu polosnya.


“a-apa yang kalian berdua lakukan?” tanya Johan kepada paman Surya dan sang ibunda.


“duduk sini dulu” ucap paman Surya sedikit menarik tangan Odessa untuk duduk di sofa ruang tengah. Maka dari itu, paman Surya, sang ibunda Johan dan Odessa pun duduk di satu sofa yang sama. Odessa duduk di tengah tengah antara mereka berdua.


“i-iya om” jawab Odessa.


“a-apa kalian yang menyuruh Odessa untuk masuk kedalam rumah?” tanya Johan.


“seharusnya kita yang tanya seperti itu kepadamu. Apa yang kau lakukan kepada perempuan ini? kenapa kau malah menyuruhnya untuk tetap di luar menunggumu yang ada di dalam? Benar benar cowo yang jahat” ucap paman Surya.


“dan juga, katanya kamu mau kerja kelompok bareng Nyoman dirumahnya, tapi kenapa kamu malah keluar sama perempuan?” tanya sang ibunda.


“emm, anu itu mah. Dia itu juga temanku yang ingin mengerjakan tugas sekolah juga. Benar kan, Odessa?” tanya Johan.


“kalau begitu, kalian bisa mengerjakannya berdua di rumah ini kan? Tapi sebelum itu, katakan namamu siapa” ujar sang ibunda kepada Odessa.


“nama? Namaku? Namaku Odessa Ai” jawab Odessa sedikit menganggukkan kepalanya.


“Odessa Ai? Apa kamu bukan berasal dari sini?” tanya paman Surya.


“bu-bukan om” jawab Odessa.


“masalah nama itu tidak penting. Mau Odessa lahir di sini atau di negara lain, itu tidak penting. Yang penting adalah tugas kita berdua. Kita akan mengerjakannya bersama di rumah Nyoman” sahut Johan.


“emm, begitu. Kalau boleh tau, kalian berdua ini habis kemana?” tanya sang ibunda.


“habis keluar buat cari makan kok, tante” jawab Odessa.


“Johan kasih makan kamu apa?” tanya sang ibunda.


“yaahh, kita berdua tadi berhenti di supermarket terdekat untuk beli minum dan roti” jawab Odessa.


“lelaki macam apa Johan ini. Perempuan secantik Odessa malah di kasih roti dan minuman supermarket” ucap paman Surya.


“terserahku lah” sahut Johan dengan nada begitu jutek.


“kalau begitu, biar paman yang membawa Odessa untuk makan siang sebentar lagi bersama dengan anak paman” ucap paman Surya kepada Johan.


“akan kupatahkan lehermu jika kau menyentuh Odessa” sahut Johan dengan tatapan begitu tajam.


“ma-maaf maaf” ucap paman Surya dengan sedikit ketakutan.


“kalau begitu, apa kamu masih gatau rasa masakan dari Johan?” tanya sang ibunda kepada Odessa.


“ma-masih belum. Aku kurang tau masakan Johan” ucap Odessa.


“asal kamu tau, dia benar benar pandai memasak. Bahkan masakannya sangat amat luar biasa jauh lebih enak dari milik tante” ucap sang ibunda kepada Odessa.


“ayolah mah, aku udah ngga mau masak lagi” sahut Johan.


“tapi aku pengen coba masakan milik Johan” ucap Odessa kepada Johan.


“yaahh, bentar lagi kita akan cari bahan masakan dan kemudian memakannya bersama” jawab Johan.


“ngga mau, mau nya sekarang” ucap Odessa dengan nada lantangnya.


“yaahh, kita kan bentar lagi mau ke-“ ucap Johan terhenti.


“sekarang juga!” tegas Odessa.


“sepertinya Johan sedikit jinak jika berada di hadapan Odessa” ucap sang ibunda.


“mau tidak mau, dia harus melayaniku” jelas Odessa.


“kalau boleh tau, kamu dan Odessa itu ada hubungan apa?” tanya paman Surya.


“hubungan?” tanya balik Odessa.


“apa kamu dan Johan pacaran? Atau hanya sekedar teman?” tanya paman Surya dengan begitu penasaran.


“ngga ngga, kita ini cuma tem-“ ucap Johan tersahut henti.


“kita pacaran kok” sahut Odessa.


“eh?” tanya Johan begitu terkejut.


“ohh, jadi kalian sudah berpacaran. Kalau begitu, bagaimana nasib Emilia?” tanya sang ibunda.


“mah, jangan bilang disini” ucap Johan.


“siapa itu Emilia?” tanya Odessa.


“aahahhhh, kalian berdua bener bener mengacaukan semuanyaaaaaa‼” teriak Johan.


Seketika saat itu pula, Johan menarik tangan paman Surya dan tangan ibunda. Johan seketika menarik mereka berdua untuk masuk kedalam kamar sang ibunda di lantai bawah. Johan menutup pintu tersebut dan menguncinya dari dalam. Hanya ada Johan, paman Surya dan ibunda didalam kamar tersebut.


“dasar kalian berdua. Bisa ngga sih jangan ganggu” ucap Johan dengan nada begitu kesal.


“masalah Emilia, itu aku akan jujur kepada kalian” jelas Johan.


“apa yang akan kau jelaskan?” tanya paman Surya.


“sebenarnya, dia yang suka sama aku, tapi aku nya enggak. Aku udah cuek kepadanya tapi dia masih suka sama aku dan bahkan dia malah anggep aku sebagai pacarnya padahal enggak!” jelas Johan dengan sedikit berteriak.


“kenapa kamu ngga bilang langsung kepada Emilia?” tanya sang ibunda.


“karena aku takut kalau aku sampai kasih tau sama dia, kita ngga bisa temenan lagi. Dia bakal menjauh dan ngga mau main seperti biasanya. Dia pasti ngga mau main sama aku, sama Nyoman, sama Jehian, dan sama Farel” jawab Johan.


“tapi kamu ngga akan bisa menyembunyikan kebohongan. Itu sudah seperti kamu menyembunyikan bangkai di dalam kamar tanpa jendela” jelas paman Surya.


“jadi, aku tidak tau apa yang harus ku katakan kepada Emilia. Bahkan aku masih takut jika Emilia tau kalah aku sudah memilih Odessa dibanding dia. Padahal dia beneran baik sama aku” ucap Johan.


“eh malah curhat” gumam Johan.


“aku tau masalahmu. Tapi mau tidak mau, kamu harus kasih tau sama Emilia dengan cara sehalus mungkin” ucap paman Surya.


“kalau begitu, kalian hanya perlu diam dan jangan kasih tau siapa siapa. Bahkan Farel, Jehian, Kahfi, dan Nyoman pun sudah tau kalau aku sebenernya udah ngga suka Emilia. Jadi jangan bahas bahas Emilia di depan Odessa dan sebaliknya” jelas Johan.


“atau kalau tidak, aku tidak akan memasakkan makanan untuk kalian” tegas Johan.


“si-siap” jawab mereka berdua.


“aku dan Odessa sebentar lagi akan cari bahan masakan untuk kita memasak di rumah ini. Dan kalian jangan sesekali mengacaukannya seperti tadi. Dan juga, jangan bawa bawa nama anak paman Surya disini” ucap Johan.


“maksudmu Callysta?” tanya paman Surya.


“iya itu” jawab Johan.


“okelah kalau begitu. Aku akan keluar bersama dengan Odessa sekarang juga” ucap Johan seraya membuka kunci kamar dan kemudian membuka pintu kamar.


“dan juga, kalian jangan melakukan hal yang aneh aneh saat aku keluar dengan Odessa di rumah ini” ancam Johan.


“memangnya aku suaminya yang bisa me-“ ucap paman Surya terhenti.


“terserahmu” sahut Johan seraya berjalan keluar dari kamar.


Saat itu pula, Johan pun kembali berjalan ke arah Odessa yang tengah duduk di kursi sofa ruang tengah. Johan menemuinya disaat Odessa sedang melihat lihat ruangan tengah rumah Johan.


Seketika saat itu pula, Johan pun menarik lengan kanan Odessa dengan begitu cepat sehingga tuuh Odessa tertarik. Johan saat itu juga membawa dua helm nya sekaligus dan kemudian berjalan keluar rumah.


“tu-tunggu apa yang terjadi?” tanya Odessa dengan tubuh yang masih tertarik keluar rumah.


“mereka sudah mulai gila, jangan hiraukan mereka berdua” jawab Johan menarik tubuh Odessa.


“dan juga, siapa itu Emilia?” tanya Odessa.


“dia itu kakakku” jawab Johan.


“ohh begitu” jawab Odessa.


Saat itu pula, Johan dan Odessa pun berada di luar pagar rumah. Disana, mereka memakai helm mereka masing masing. Johan pun menyalakan mesin motor dan kemudian Odessa menaiki motor tersebut.