Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 26, Membaiknya hubungan Odessa Ai pt.2



“haaahhhhh, damai banget” fikir Johan seraya menghembuskan nafasnya dalam dalam.


“ohh iya, bagaimana dengan Odessa Ai? Aku tidak berniat untuk menembaknya. Tapi jika aku menembaknya, apa dia mau menjadi pacarku? Emm, tidak tidak. Aku harus lebih mendekati hatinya dan mengetahui perasaannya kepadaku” fikir Johan dalam hati.


“huuffftt, padahal aku hanya memikirkannya, tapi kenapa aku malah salah tingkah sendiri. Dasar otak baperan” fikir Johan dalam hati dengan pipi yang memerah.


Namun, selepas Johan menyeruput kopi yang telah dingin miliknya itu, Johan mendapati Emilia yang terbangun dari tidurnya. Emilia duduk di ranjang dalam keadaan tubuh yang masih suntuk dan lemas.


“air, tolong ambilkan aku air putih” ucap Emilia dengan mata yang masih terpejam.


“Ai? ehh? Ohh, iya iya. Airnya ada di dalam mobil” jawab Johan seraya berlari menuju ke parkiran mobil.


Johan pun berjalan melewati aula besar tempat warga mengungsi. Dan sepertinya, para pengungsi beberapa sudah ada yang bangun. Johan pun berjalan keluar gedung dan kemudian berjalalan menuju ke mobil. Selepas itu, Johan membuka pintu mobil yang tidak terkunci dan kemudian mengambil sebotol air putih miliknya.


Johan pun membawa botol air mineral tersebut dan kemudian berjalan kembali ke kamarnya. Johan kembali menutup pintu kamar dan kemudian memberikan sebotol air mineral tersebut kepada Emilia. Lantas Emilia seketika meneguk air putih tersebut beberapa kali untuk memuaskan dahaganya.


“gimana, apa udah seger?” tanya Johan seraya duduk di kursi samping ranjang itu.


“heh? Siapa? Ohh Johan” ucap Emilia dengan santainya.


“HAH? JOHAN? KENAPA KAMU TIDAK TIDUR SEMENTARA AKU TIDUR DI KASURMU?” teriak Emilia begitu terkejut saat melihat dirinya tertidur di ranjang yang seharunya di gunakan oleh Johan.


“selamat pagi” ucap Johan seraya tersenyum lebar.


“pa-pagi. Maaf, aku malah ketiduran di kasurmu” ucap Emilia menundukkan kepalanya.


“tidak, itu nggak apa. Aku yang memindahkan tubuhmu disini. Lagipula aku juga sudah tidak mengantuk. Aku juga merasa tidak enak jika membiarkanmu ketiduran di sampingku” ujar Johan.


“kalo begitu, apa sekarang kamu udah tidak apa? Apa kamu masih sakit?” tanya Emilia seraya menatap kedua mata Johan.


“seperti yang kau lihat sendiri, staminaku sudah penuh” jawab Johan seraya memamerkan otot lengannya.


“tapi tetap saja, kamu masih belum boleh melakukan hal berat” ujar Emilia dengan tegas.


“ohh iya, kenapa kemarin malam kalian bisa menemukanku? Dan juga dimana aku malam itu? lagipula kenapa aku bisa pingsan?” tanya Johan dengan begitu terheran.


“kemarin malam, saat kita semua menuju ke pemakaman papah kamu dan sekaligus diberitahu bahwasanya papah kamu adalah orang yang menjadi dalang pembakaran hutan ini, kamu tiba tiba saja menghilang dari pemakaman. Kita pun mencarimu semalaman dan pada akhirnya kita bisa menemukanmu sendirian sedang tidur di bawah pohon. Setelah kita periksa, ternyata kamu hanya kelelahan dan stress berat” jelas Emilia.


“hmm, jadi aku sendirian di bawah pohon. Lalu, bagaimana kondisiku saat itu?” tanya Johan.


“entah kenapa kamu seperti sangat nyaman dan nyenyak di bawah pohon itu. Bahkan kamu sampai sedikit menunjukkan senyummu saat tidur di bawah pohon tersebut” ucap Emilia.


“hmm, jadi begitu. Setidaknya, pertemuanku dengan Odessa Ai tidak hanya mimpi” ucap Johan menggumam.


“hah? apa? Kau bilang apa?” tanya Emilia sedikit berteriak.


“makasih banyak saat itu karena sudah menolongku disana” jawab Johan mengalihkan pembicaraan.


“lainkali, kalau mau berpergian, kamu harus bilang kepada orang lain. Dan juga lebih hati hati” tegas Emilia.


“baik, aku bener bener terbantu akan itu” jawab Johan sedikit menundukkan kepalanya.


“sekarang, aku laper. Aku ingin makan. Apa disini ada supermarket?” tanya Emilia.


“jangankan supermarket, bahkan disini masih belum ada listrik yang menerangi jalanan” jawab Johan.


“emm, miris banget” jelas Emilia.


“tapi itu saat aku masih kecil, aku gatau apa sekarang sudah ada yang berkembang atau belum” sahut Johan.


“apa kita bisa makan sekarang? Perutku keroncongan” ujar Emilia.


“kalau tidak salah, aku masih punya sisa satu roti di dalam mobil. Untuk ganjel perut sementara sampai nanti kita balik pulang dan mampir sementara ke supermarket” jawab Johan.


“apa boleh?” tanya Emilia.


“udah, makan aja. Aku juga udah ngerasa baikan saat minum kopi barusan. Kalo begitu, aku ambilin bentar ya” ujar Johan seraya berjalan keluar kamar.


“iya” jawab Emilia menganggukkan kepala.


Maka, saat itu juga Johan pun segera mengambilkan roti yang ada di dalam mobil tersebut. Ia pun kemudian kembali kedalam kamar sembari membawa roti beserta beberapa snack yang ada didalam mobil tersebut. Johan memberikan semuanya kepada Emilia dan mempersilahkannya untuk makan.


“tapi, kamu nanti makan apa?” tanya Emilia.


“udah, gampang itumah. Aku udah cukup minum kopi” jawab Johan seraya duduk di kursi samping jendela.


Johan pun melihat pemandangan luasnya danau yang berada di bagian timur dari gedung tersebut. Nyatanya, Johan tidak mengira kalau jarak antara gedung dan danau samping kediaman rumah Johan tersebut sedikit lebih dekat dari yang di fikirkan.


“heh? Ternyata dekat juga ya. Padahal kemarin malam aku ngerasa kalo rumahku dan gedung ini sangat jauh. Ternyata sedkit lebih dekat” ucap Johan seraya memandangi danau samping rumahnya itu.


“ohh iya benar, jangan jangan, Odessa masih bermain di pohon itu” fikir Johan.


“apa aku harus kesana? Mungkin aku harus kesana untuk memastikan kalau Odessa benar benar masih bermain di sana” fikir Johan seraya berdiri dari kursinya.


“ehh? Kamu mau kemana?” tanya Emilia dengan penuh makanan didalam mulutnya.


“emm, aku mau jalan jalan sebentar. Tenang aja, aku bisa pulang sendiri kok” tegas Johan.


“okelah” ucap Emilia dengan mengangguukkan kepalanya.


Bisa dibilang, jarak antara gedung dan rumah Johan samping danau adalah perjalanan jalan kaki selama 25 menit. Dimana jarak seperti itu sudah cukup dekat untuk hanya dilalui oleh pejalan kaki. Johan menembus hutan yang begitu luas seorang diri, dimana memang letak dari bekas rumah kakek dan nenek Johan berada di sebrang hutan. Begitupula dengan pohon milik Odessa yang saat itu berada didepan rumah tersebut. Sesampainya disana, Johan hanya memandangi rumahnya tanpa berniat memasuki rumahnya itu. Sementara Johan hanya berniat untuk duduk bersandar di pohon kesukaan Odessa itu.


“hufftt, tenang dan damai banget” ucap Johan seraya duduk dan bersantai di pohon tersebut.


Nyatanya, Johan benar benar bisa menikmati suara kicauan burung, dinginnya angin pagi serta hangatnya cahaya mentari yang tidak terlalu terik. Semua itu menyelimuti Johan di dalam kedamaian batin yang begitu tenang dan aman.


“enak banget disini, aku harap aku punya rumah disini” ucap Johan seraya melihat ke arah danau.


“gimana? Enak kan?” tanya Odessa yang tengah duduk di sampingnya.


“iya, enak banget. Aku jadi ingin punya rumah pribadi di sini” ucap Johan dengan menghembuskan nafas dalam.


“eh?” tanya Johan begitu terkejut akan suara Odessa disampingnya. Seketika Johan menoleh ke arah samping kirinya dan mendapati kalau Odessa benar benar duduk di saming kirinya dengan bersandar di satu batang pohon kayu yang sama.


“gimana, apa kau jadi pindah rumah?” tanya Odessa.


“kok? Kok kamu ada disini?” tanya Johan.


“emm, kenapa ya? Soalnya aku tidak bisa tidur. Maka dari itu, aku cuma bersandar di pohon ini. Sama seperti apa yang kau lakukan” ucap Odessa dengan senyum manisnya.


“gawat, dia senyum? Damage nya parah bos” fikir Johan dalam hati.


“ja-jadi, kamu juga gabisa tidur?” tanya Johan.


“yaps” jawab Odessa.


“aku juga tidak bisa tidur” ucap Johan.


“emmm, begitu” jawab Odessa.


Tidak lama setelah itu, mereka berdua terdiam di dalam kondisi canggung berat. Tidak ada satupun diantara mereka yang memiliki topik pembicaraan untuk mengisi kecanggungan tersebut. Sampai pada akhirnya


“heh, Johan” sapa Odessa.


“hmm?” jawab Johan menggumam.


“apa kamu akan pulang sebentar lagi?” tanya Odessa.


“iya, sebentar lagi. Mungkin aku akan pulang sekitar jam 8 pagi. Untuk sekarang, teman temanku masih tidur. Mungkin setelah mereka terbangun dan bersiap, kita semua akan langsung pergi perjalanan pulang” jawab Johan.


“jadi” ucap Odessa.


“jadi? Jadi apa?” tanya balik Johan.


“jadi, tunggulah disini bersamaku selagi menunggu teman temanmu bangun” ucap Odessa dengan pipi yang memerah.


Mendengar hal itu, pipi Johan pun ikutan memerah pula. Pada akhirnya, Johan menoleh ke arah kiri dan kemudian mendapati jika Odessa tengah menunduk dan menyembunyikan wajah merahnya itu.


“a-apa? Apa aku salah dengar? Apa dia bilang kalo aku suruh disini saja? benarkah itu? apa dia sudah mulai suka kepadaku? Jangan jangan kita berdua memang benar benar takdir” fikir Johan serya memandang wajah Odessa.


“sekarang, apa yang harus ku lakukan? Bagaimana aku membalasnya?” fikir Johan berfikir keras. Pada akhirnya, untuk yang sekian lamanya Johan berfikir, Johan pun berhasil menemukan jawaban atas bagaimana cara untuk membalas perkataan Odessa barusan.


“jadi, kamu ingin aku masih tetap disini?” tanya Johan.


“i-iya, setidaknya disinilah bersamaku sedikit lebih lama” jawab Odessa dengan muka yang semakin memerah.


“kalau begitu, setelah aku pulang, aku akan kembali kesini lagi hanya untuk menemuimu” ucap Johan seraya memegang tangan Odessa. Saat itu Johan sudah benar benar mengumpulkan keberaniannya selama 16 tahun lamanya untuk menggandeng tangan seorang perempuan. Dan pada akhirnya, penantian selama 16 tahun sebagai jomblo ini berjalan dengan sukses.


“gi-gilak a-aku pe-pegang tangannya Odessa. Tangannya kecil, jari jarinya panjang dan putih. Beneran nyaman banget” fikir Johan seraya menatap wajah Odessa.


“a-apa yang Johan lakukan? A-apa kita saling ber gandeng tangan? Un-untuk apa?. Tapi entah kenapa, saat aku menggandeng tangan Johan, perasaanku sedikit lebih tenang” fikir Odessa dalam hati seraya tersenyum indah.


“i-iya, makasih. Aku akan selalu menunggumu di pohon ini jika kamu memang berniat untuk pergi kemari” jawab Odessa seraya menatap kedua mata Johan.


“baiklah, aku akan selalu berada disini” ucap Johan tersenyum kepada Odessa dengan eratnya pegangan tangan mereka.


“sekarang, aku harus bersiap. Aku juga masih belum mempersiapkan barang barangku. Mungkin sekarang, teman temanku sudah terbangun dan bersiap. Aku juga harus melakukan hal yang sama” ucap Johan seketika berdiri dari tempat duduknya.


Johan pun melepaskan pegangan tangannya itu saat dirinya berdiri dari sana. Namun, sesaat setelah tangan mereka terlepas untuk sepersekian detik, seketika Odessa menyahut kembali tangan kiri Johan dengan begitu cepat. Odessa seketika menyahut tangan kiri Johan dengan kedua telapak tangannya itu.


“a-apa kamu janji akan kembali kesini lagi?” tanya Odessa sedikit bereriak.


“a-aku janji. Aku akan kesini dan menemuimu selalu” jawab Johan seraya tersenyum tulus.


“dasar, kamu nggak perlu sampai berteriak seperti itu” ucap Johan seraya mengelus kepala Odessa yang sedang duduk disampingnya itu menggunakan telapak tangan kanannya.


“baiklah, aku sedikit senang mendengar itu” jawab Odessa melepaskan kedua tangannya.


“kalau begitu, aku pulang” ucap Johan seraya melambaikan tangannya.


“hati hati” ucap Odessa seraya menganggukkan kepalanya.


Johan pun berjalan menuju ke arah Gedung kantor desa dengan penuh kegirangan. Pasalnya setelah 16 tahun lamanya dirinya hidup di dunia, beruntungnya Johan karena dirinya bisa bertemu dan bergandeng tangan oleh Odessa. Ia berjalan sembari salah tingkah saat memikirkan bagaimana keberaniannya itu saat dirinya memegang tangan Odessa.


“buset buset buset buset buset. Aku pegangan tangan sama Odessa. Rasanya halus, hangat, jari jarinya kecil dan panjang. Bener bener perfect banget dah” fikir Johan dalam hati dengan penuh kegembiraan.


“dan juga, dia menyuruhku untuk kembali kemari. Apa mungkin jangan jangan dia mulai suka sama aku? aarrrggghhhhh semoga aja iya” fikir Johan dalam hati dengan pipi yang memerah.