
“kita mau kemana?” tanya Odessa.
“untuk sekarang, kita akan berbelanja pakaian di mall” jawab Johan.
“kamu bilang kita mau pergi berbelanja?” tanya Odessa.
“di dalam mall, kita bisa membeli segalanya. Bahkan ada bahan masakan didalamnya” jawab Johan.
“hmmm, okelah kalau begitu” jawab Odessa sedikit menganggukkan kepalanya.
Johan pun segera menarik gas motornya. Perlahan, motor mereka bergerak menjauhi rumah dan mulai memasuki area jalan raya. Padatnya pengendara motor maupun mobil ditambah lagi dengan udara yang begitu panas tidak menjadikan perjalanan mereka sebagai perjalanan yang menyenangkan.
Odessa sedikit terganggu dengan adanya asap mobil yang berwarna begitu hitam, asap motor yang memenuhi jalanan dan begitu pula dengan suara kebisingan dari motor yang memakai knalpot bising.
Semua itu belum Odessa rasakan sebelumnya di desa karena Odessa hidup di alam yang masih begitu asri dan damai serta jauh akan polusi udara maupun polusi suara.
“panas banget inimah” ucap Odessa.
“panas? Apa apa kita harus sedikit kencang?” tanya Johan.
“iya tolong” jawab Odessa.
“kalau begitu, aku akan mengambil jalan yang memutar asalkan kita tidak terjebak macet disini” ucap Johan.
“hmm, iya” jawab Odessa sedikit menganggukkan kepalanya.
Saat itu pula, Johan membanting setir dan belok ke salah satu jalan dimana jalan tersebut akan mengarah ke perumahan elite para orang berekonomi tinggi. Jalanan tersebut begitu sepi dan dihiasi oleh pohon pohon yang menjulang tinggi di masing masing pinggiran jalan.
“ini namanya jalan apa?” tanya Odessa.
“ini jalan Ijen Boulevard. Jalan ini sudah terkenal bahkan kamu bisa mencarinya di gugel” jawab Johan.
“keren juga ya. Dan disini sudah sedikit mendingan dari yang tadi. Disini memiliki hawa yang dingin. Namun karena cahaya matahari siang hari, hawa disini berubah menjadi hangat” jelas Odessa.
“bener kan? Disini emang enak banget, apalagi kalo malem” jawab Johan.
“malem? Aku pengen kesini lagi malem hari” jawab Odessa.
“tapi kan-“ ucap Johan terhenti.
“aku mau nya malem nanti. Pokoknya aku mau kesini” sahut Odessa dengan nada yang begitu manja.
“hmm, iya iyaa” jawab Johan dengan begitu pasrah menuruti apa keinginan Odessa.
Mereka bersepeda di atas motor, diiring oleh udara yang hangat dan tidak begitu panas, mereka seringkali bersembunyi di balik bayangan pepohonan yang menjulang tinggi di jalan itu. Nyatanya, dalam 10 menit, mereka pun sampai di mall yang mereka inginkan. Johan segera memarkirkan motornya di parkiran bawah tanah dan kemudian melepas helm mereka berdua. Selepas itu, mereka pun segera masuk kedalam mall.
“gimana di dalem mall?” tanya Johan kepada Odessa.
“enak juga, tapi disini banyak orang dan banyak juga yang fokus dengan gawai mereka masing masing. Banyak yang berjalan bergerombol dan disini begitu dingin tidak sepanas di luar. Tidak seperti rumahmu yang hangat, di dalam sini lebih ke arah bersuhu dingin” jawab Odessa.
“apa kamu suka?” tanya Johan.
“lumayan juga” jawab Odessa.
“kalau begitu, di lantai satu ini, disini kita hanya menemukan pakaian untuk laki laki, dan di lantai dua nanti, kita akan menemukan pakaian untuk perempuan. Jadi, kamu harus temenin aku belanja dulu di sini barulah nanti kita yang akan mencari pakaian untukmu. Apa boleh?” tanya Johan.
“terserah juga, aku akan menemanimu belanja dan ikut kasih saran” jawab Odessa.
“kalau begitu, aku hanya sebentar kok. Kita akan berbelanja milikmu setelah aku sudah membeli pakaianku” jelas Johan.
“jangan terburu buru, carilah sesuai apa yang kamu mau dan jangan sampai salah beli” jawab Odessa.
“bener juga” jawab Johan.
Lantai pertama, mereka disuguhkan dengan pilihan beberapa pakaian untuk lelaki. Banyaknya outfit lelaki yang terpajang di mall lantai satu tersebut. Mau tidak mau, Johan harus membeli pakaiannya terlebih dahulu kemudian barulah kemudian Odessa yang berbelanja untuk pakaiannya.
Hanya 5 menit Johan berkeliling untuk mencari pakaian yang ia sukai, ia membeli sebuah kaus dan sepasang sepatu hitam polos beserta Bucket Hat hitam.
Johan pun membayar semua belanjaannya itu menggunakan kartu debit atm miliknya di kasir. Hanya perlu 5 menit, Johan pun berhasil membeli pakaian yang Johan inginkan.
Dilanjut dengan lantai 2, dimana lantai dua dipenuhi oleh barang barang outfit perempuan. Dimulai dari perhiasan, pakaian, make up, boneka, dan semuanya yang berbau hobi dan outfit perempuan. Disaat itu pula, Odessa begitu tersuguhi dengan banyaknya barang barang yang membuatnya bisa melongo karena saking banyaknya barang yang ia ingin beli.
Mereka berkeliling kesana kemari hanya demi mencari apa yang Odessa inginkan. Dibutuhkan waktu 30 menit sampai pada akhirnya, Odessa memutuskan untuk membeli apa yang ia inginkan itu. Dengan kata lain, Johan begitu capek karena menemani Odessa kesana kemari.
Pada akhirnya, dikarenakan Odessa tidak begitu percaya diri dengan pilihannya dan tidak begitu pintar dalam memilih style, maka dirinya menunjuk salah satu boneka mannequin yang dipasangkan outfit Edgy Style disana. Dengan begitu, Odessa tidak perlu begitu memikirkan tentang apa yang akan dirinya beli.
“aku mau yang di boneka itu” ucap Odessa seraya menunjuk ke arah mannequin depan.
“kamu mau yang ada di boneka itu?” tanya balik Johan.
“iya, maunya yang itu” jawab Odessa.
“kalau begitu, okelah” jawab Johan.
Selanjutnya, mereka berdua pun membawa sebuah tas belanjaan, dimana saat itu Johan hanya membawa 3 buah tas belanja sementara Odessa membawa 5 buah tas belanja. Mau tidak mau, sebagai lelaki yang baik, Johan harus bertanggungjawab membawakan tas milik Odessa saat berjalan di mall.
“apa berat?” tanya Johan.
“ngga begitu berat kok, isinya cuma baju baju doang” jawab Odessa.
“aku akan bawa punyamu” sahut Johan.
“ehh, apa boleh? Kamu udah bawa punya mu” ucap Odessa.
“gapapa, sini kasih aku” ucap Johan.
“hehehe, makasih banyak ya” jawab Odessa seraya memberikan tas belanjaannya itu.
Disaat itu pula, Odessa memberikan kelima tas belanjaannya kepada Johan. Mereka berdua pun kemudian berjalan ke lantai atas kembali ke lantai 3. Di lantai 3, hanya terdapat barang barang memasak untuk dapur dan bahan bahan masakan seperti frozen food, supermarket, barang barang elektronik, perabotan rumah, dan lain sebagainya.
Tidak banyak hal yang mereka bisa lakukan disana. Mereka hanya bisa melihat lihat bahan masakan dan berfikir untuk makan di tempat itu. Mereka hanya bisa melihat lihat perabotan rumah, hingga sampai mereka menemukan satu tempat untuk berjualan bahan bahan masakan disana.
“whh, disini jual bahan masakan” sahut Odessa kepada Johan seraya menunjuk ke arah supermarket.
“tuhkan apa kubilang” jawab Johan.
“kalau begitu, apa kita harus beli sekarang?” tanya Odessa.
“emm, sebentar dulu. Kita akan pergi ke lantai atas terlebih dahulu. Aku denger dari temenku kalo di atas ada satu tempat yang enak banget” ajak Johan.
“tempat bagus? Buat spot foto?” tanya Odessa.
“sepertinya iya” jawab Johan.
“aku punya feeling kalo spot foto itu bakal lebih bagus kalo malem” ucap Odessa.
“kalo begitu, gimana kalo kita nanti malem balik lagi kesini? Dan sekalian jalan jalan di streetnight kota?” tanya Odessa.
“jalan jalan di malam hari? Sambil cari cemilan dan dimakan di jalan sambil duduk duduk di kursi samping melihat cahaya dari mobil dan mototr yang lewat? Bener bener ide yang luar biasa mantapp jiwwwaaaa” ucap Johan dengan senyum tawanya.
“gimana??” tanya Odessa tersenyum.
“kita akan senang senang malam nanti. Kita akan belanja bahan bahan kita terlebih dahulu dan kemudian kita bakal masak makanan di rumahku” jelas Johan.
“okeee siaappp” jawab Odessa seraya mengacungkan ibu jarinya itu.
Saat itu pula, mereka membeli beberapa sayuran dan daging disana. Benar benar satu pemborosan uang yang selama ini Johan kumpulkan untuk membeli action figure impiannya. Johan dan Odessa berjalan dari rak ke rak untuk mencari bahan masakan yang mereka inginkan. Mereka membeli beberapa jamur tiram, daun bawang, tahu susu, lobak, minyak wijen, kecap asin, dan lain lain.
Setelah memilih semua bahan bahan tersebut, mereka pun meletakkan semua bahan tersebut di dalam keranjang basket. Dan setelah itu, mereka pun berjalan ke arah kasir untuk membayar semua bahan bahan yang telah mereka pilih sebelumnya.
“kurasa, ini sudah cukup. Apa kita bisa kembali?” tanya Johan.
“iya, aku rasa juga sudah cukup. Kita akan memasaknya bersama di dapur rumahmu” ajak Odessa.
“kalau sudah semua, lebih baik kita pulang” ujar Johan.
“hmm, baik” jawab Odessa seraya menganggukkan kepalanya.
“tapi, aku ada satu tempat yang agak asik buat kita berdua sekarang ini” ucap Johan.
“eh? Apa itu?” tanya Odessa.
“jadi, di lantai 4,ada yang jual es krim paling enak, yaah itu selera pribadi sih, tapi aku yakin kalau kamu juga bakalan suka” jelas Johan.
“es krim? Aku mau” ucap Odessa dengan penuh semangat.
“apalagi saat ini, cuaca di luar bakal panas bangert, jadi kita makan yang dingin seger” ucap Johan.
“iya, aku mau” ucap Odessa.
“kalau begitu, kita beli sebentar kemudian kita akan memakannya di jalan. Gimana?” tanya Johan dengan begitu semangat.
“yap, ide yang luar biasa mantap” Odessa.
Saat itu pula, mereka berdua pun berjalan ke lantai atas hanya berniat membeli es krim apa yang Johan maksud. Di tempat itu, mereka membeli dua eskrim dengan rasa yang berbeda. Johan membeli satu cup es krim berisi jagung sementara Odessa membeli es krim rasa green tea.
Mereka pun kembali ke lantai bawah seraya memakan es krim milik mereka masing masing. Seringkali Johan mencoba rasa es krim milik Odessa dan sebaliknya pula.
“suapin aku” ucap Johan.
“emangnya kamu ngga punya tangan?” tanya Odessa.
“kan tanganku lagi bawa belanjaan banyak dan tangan kiri aku bawa es krim. Aku pengen cobain es krim punyamu” ucap Johan.
“hmm, iya iya sabar” jawab Odessa.
Perlahan Odessa pun menyuap es krim rasanya kepada Johan. Namun, dikarenakan saat itu Odessa sedikit tersandung oleh kakinya sendiri, maka dari itu secara tidak sengaja es krim yang di suapkan oleh Odessa malah mengenai hidung Johan. Bukannya masuk ke dalam mulut malah nyangkut di hidung Johan.
Seketika itu pula Odessa benar benar tertawa terbahak bahak karena ekspresi wajah Johan yang benar benar lucu dan membuatnya tidak bisa menahan tawanya.
“apa kamu sengaja?” tanya Johan dengan ekspresi muka begitu kesal.
“ah-ahku ngga sengaja, hahahahaha” jawab Odessa dengan gelagak tawanya itu.
“kalo begitu, aku bakal bales di hidungmu” ucap Johan dengan seketika mengoleskan es krim di hidungnya ke arah pipi Odessa.
Merasa kesal dengan itu, Odessa pun kembali mencoret es krim miliknya menggunakan jari telunjuknya. Bisa dibilang mereka malah keasikan bermain saling mencoret es krim yang dingin di tengah keramaian publik.
Odessa berniat untuk mencoret dahu milik Johan dengan telunjuknya yang penuh dengan es krimnya itu. Namun tanpa disengaja, Johan membuka mulutnya. Dan tidak disengaja pula kalau jari telunjuk Odessa itupun masuk kedalam mulut Johan.
Dikarenakan ada es krim di dalamnya, maka Johan masih merasakan manisnya jari yang ada di jari telunjuk Odessa.
“eh?” gumam Johan dengan jari Odessa yang masih ada didalamnya.
“eh?” ucap Odessa dengan begitu terkejut.
“raswanywa mwanis jwuga” ucap Johan dengan menjilat jari telunjuk Odessa.
“i-itu geli” ucap Odessa dengan raut muka menahan gelinya gerakan lidah Johan.
“ohh, ma-maaf” ucap Johan dengan seketika melepaskan jari Odessa dari dalam mulutnya.
“a-apa memang menjilat jari perempuan se enak itu?” tanya Odessa seraya melihat telunjuknya yang basah itu.
“ta-tapi kan jari mu ada es krim nya” jawab Johan.
“aku jadi penasaran” ucap Odessa dengan membuka mulutnya.
Saat itu pula, Odessa pun dengan segera memasukkan jari telunjuknya tersebut kedalam mulutnya. Dengan kata lain, mereka telah melakukan ciuman tidak langsung. Melihat hal itu, Johan benar benar terkejut bukan main. Polosnya seorang Odessa membuatnya menepuk jidat. Johan benar benar tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan Odessa saat itu. Wajah Johan benar benar memerah karena Johan mengerti kalau mereka saat itu sedang melakukan ciuman tidak langsung.
“a-apa? Apa yang kamu lakukan?” tanya Johan dengan sangat terkejut.
“aku? aku hanya melakukan apa yang kamu lakukan barusan” jawab Odessa dengan polosnya.
“iya aku tau, tapi apa kamu tau maksud dari apa yang kamu lakukan barusan?” tanya Johan dengan wajah yang begitu memerah.
“eh? Aku hanya pingin rasain gimana rasanya jilat jari sendiri” jawab Odessa.
“maksudku bukan itu. Asal kamu tau, kita baru saja melakukan ciuman secara tidak langsung” ujar Johan dengan sedikit berteriak.
“ciuman? Tidak langsung?” tanya Odessa dengan begitu polosnya.
“aarrrghhh, perempuan desa memang susah untuk faham” ucap Johan seraya menggeleng gelengkan kepalanya.
“a-apa kamu marah? Apa kamu ngga suka? Apa aku jorok?” tanya Odessa memasang raut wajah memelas.
“bukan begitu astagaanagaaa. Memang yang kamu lakukan itu sedikit jorok, tapi itu tidak apa apa, asalkan kamu harus membersihkan jarimu sendiri terlebih dahulu sebelum menjilatnya. Bayangkan saja jika jarimu itu baru saja masuk kedalam tong sampah, tanganmu pastinya kotor. Jadi, kalau kamu mau makan atau hanya mau menjilat jari mu sendiri, kamu harus membersihkannya dulu” jelas Johan dengan nada sedikit kesal.
“jadi kamu masih marah?” tanya Odessa dengan tatapan begitu polos.
“aku tidak marah sama kamu, aku hanya sedikit membenarkan etikamu. Kalau kamu mau, kita bisa melakukannya bersama” jelas Johan.
“me-melakukannya bersama? Maksudmu kamu mau jilat jariku lagi?” tanya Odessa.
“astagaa nih cewe kenapa gagal faham mulu dah. Anggap saja, saat makan di rumah nanti, aku akan menjilat jarimu. Sekarang, kita harus cepat cepat pulang” ucap Johan sedikit kesal seraya berjalan meninggalkan Odessa.
“ehh, tu-tunggu bentar” ucap Odessa seraya sedikit berlari mendekati Johan jauh didepannya.