Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 87, Kahfi ketua geng Motor?



Saat itu pula, Johan dan lelaki tersebut menarik gas mereka sekencang mungkin. Apa yang di fikirkan Johan ternyata benar benar salah seratus persen. Johan berfikir kalau motornya akan jauh lebih lambat dari motor milik lelaki tersebut. Namun nyatanya, di garis start pertama, Johan benar benar mengungguli lelaki tersebut. Bahkan Johan meninggalkan lelaki tersebut dengan sangat jauh.


“ja-jangan bercanda. Lelaki itu? tidak, motor itu? sebenarnya itu motor apa?” ucap lelaki tersebut dengan begitu terkejut.


“sebenarnya itu motor apa. Itu sudah sangat tidak masuk akal” ucap lelaki tersebut melihat motor Johan melaju dengan begitu cepat memimpin di depan.


Saat itu, Johan dengan begitu cepat menarik gasnya hingga dalam kecepatan 100km/jam. Dikarenakan mereka balaan dalam jarak 1 kilometer saja, maka dari itu, hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 40 detik saja untuk mencapai ujung jembatan saja.


Sementara itu, lelaki tersebut menarik gasnya namun dirinya hanya bisa menggunakan kecepatan 85km/jam saja. Maka dari itu, dibutuhkan sekitar 60 detik lebih untuk menuju ke ujung jembatan tersebut.


“benar benar iblis, aku tidak ingin kalah. Aku tidak ingin mengorbankan semua motor teman temanku ini” ucap lelaki tersebut memantabkan tekadnya.


Saat lelaki tersebut sudah mendekati jembatan, dirinya sudah mendapati jika Johan sudah putar balik di ujung jembatan tersebut pertanda kalau dirinya sudah kalau jauh.


“a-apa? Bocah itu sudah putar balik? Cepat sekali” ucap lelaki tersebut menatap motor Johan dengan tatapan begitu terkejut.


Johan kembali melaju dengan begitu cepat hingga dirinya hanya membuthkan waktu 90 detik untuk menyelesaikan 2 kilometer balapannya sementara lelaki tersebut membutuhkan kurang lebih 110 detik. Berbeda 20 detik di balapan akan sangat mempengaruhi perhitungan total kecepatan motor mereka.


Disisi lain, datanglah seorang lelaki menghampiri geng tersebut dengan berjalan kaki. Dengan santainya, lelaki tersebut menghampiri Odessa dan kawan kawannya yang berada di trotoar jalan.


“halo ges” ucap lelaki tersebut.


“gimana? Apa perutmu udah baikan? Udah enakan?” tanya salah seroang teman di geng tersebut.


“kakak perempuanku memasakkan masakan yang bener bener rusak dan membuat perutku bener bener error” jawab lelaki tersebut.


“ohh iya, ini siapa? Perempuan ini siapa? Dan dimana Setya?” tanya lelaki tersebut.


“Setya sedang balapan dengan satu anak lelaki. Dan perempuan ini adalah pacarnya” jawab teman satu gengnya itu.


“ehh, jadi perempuan ini adalah pacarnya? Cakep juga” ucap lelaki tersebut menghampiri Odessa.


“a-apa yang mau kamu lakukan?” tanya Odessa dengan sedikit ketakutan.


“tenang saja, aku tidak akan pernah menyakiti perempuan kok. Hanya saja aku ingin berkenalan denganmu” jawab lelaki tersebut berdiri di samping Odessa.


“nama? Namaku?” tanya Odessa.


“iya, namamu siapa?” tanya lelaki itu.


“namaku Odessa Ai” jawab Odessa.


“Odessa? Nama yang bagus. Sekarang panggil saja aku Kahfi” ucap lelaki tersebut bernama Kahfi.


Nyatanya, Kahfi sang adik dari Emilia adalah salah satu anggota geng disana. Kahfi juga seringkali melakukan riding berkendara bersama dengan kawan kawannya yang ada disana.


“Kahfi?” tanya Odessa.


“panggil saja nama depanku” jawab Kahfi dengan senyum tulusnya.


“ba-baik” jawab Odessa sedikit menganggukkan kepalanya.


“apa Lia memasak di rumahmu lagi?” tanya salah seorang kawan satu gengnya kepada Kahfi.


“iya, dia benar benar payah dalam memasak. Berbeda dengan pacarnya yang sangat amat pintar memasak” jawab Kahfi.


“pacarnya? Ternyata kak Lia udah punya pacar?” tanya kawan satu geng nya.


“yaaahhh, sayang banget. Padahal kak Lia cantiknya bukan main” teriak salah seorang kawan satu gengnya.


“kak Lia? Apa kamu punya kakak perempuan?” tanya Odessa.


“sebenarnya bukan kakak kandung, sih. Dia hanya anak angkat dari kedua orang tuaku. Kita dibesarkan bersama sama di sekolah yang sama dari kecil sampai sekarang” jawab Kahfi.


Saat itu pula, perut Kahfi kembali mules seperti tadi. Nyatanya, sebelum Kahfi berangkat untuk kumpul bersama dengan teman teman gengnya itu, Kahfi sempat memakan masakan dari kakaknya yaitu Emilia. Dikarenakan Emilia yang kurang pandai dalam memasak, maka dari itu perut Kahfi tidak berhenti merasakan sakit.


“buset, perutku mules lagi” ucap Kahfi seraya memegangi perutnya sendiri.


“apa perutmu mules lagi?” tanya salah seorang teman di gengnya.


“aku akan membuang masakan buatan kakaku sendiri” ucap Kahfi dengan nada begitu kesakitan.


“aku akan ke toilet umum lagi” teriak Kahfi seraya berlari dengan begitu kencang.


“perutnya mules? Memangnya rasanya sesakit itu?” fikir Odessa bertanya tanya.


Disisi lain, Johan yang masih balapan di tengah jalan benar benar memimpin balapan. Dengan kata lain, lelaki yang bernama Satya itu sudah tertinggal begitu jauh di belakang Johan.


Pada akhirnya, Johan menginjak garis finishnya terlebih dahulu sementara lelaki tersebut maih sekitar berapa ratus meter dibelakangnya. Saat itu pula, seluruh anggota geng motor tersebut benar benar terkejut bukan main. Melongo sambil melotot begitu terkejut adalah ekspresi yang Johan lihat saat itu di wajah mereka semua.


Ia juga melihat Odessa dengan senyum tulus dan bangganya begitu lebar karena Johan menepati janjinya. Selang beberapa detik setelah Johan memarkirkan motornya di bahu jalan, barulah datang lelaki bernama Satya tersebut dengan nafas yang begitu ngos ngosan.


Lelaki itupun seketika membanting helmnya ke arah aspal dengan begitu keras. Semua tatapan mata tertuju padanya. Lelaki itupun seketika berjalan ke arah Johan dan Odessa yang berada di trotoar jalan.


“motormu bener bener cepet” ucap Satya, sang lelaki yang mengajak Johan balapan tadi.


“motormu juga tidak kalah cepet kok” jawab Johan.


Saat itu pula, Setya menjulurkan lengannya. Di dalam genggaman tangannya itu terdapat kunci motor milik Setya yang ia berikan kepada Johan sesuai dengan perjanjian yang telah mereka sepakati sebelumnya.


Setya memberikan kunci motornya dengan sedikit tidak rela dengan motornya itu. Dengan kata lain, Setya masih belum ikhlas dengan kekalahannya. Setya memberikan kunci motornya seraya memalingkan wajahnya ke arah kanan menyembunyikan wajahnya yang malu itu.


“sesuai dengan perjanjian” ucap Satya.


“kalian semua, berikan kunci motor kalian kepada lelaki ini” teriak Satya kepada semua teman temannya.


Namun berbeda dengan Odessa. Dirinya tidak tega untuk melihat wajah kekalahan dari semua para anggota geng motor tersebut. Odessa merasa sedikit kasihan kepada mereka semua karena motor mereka akan di ambil oleh Johan.


“a-apa kamu yakin? bagaimana cara mereka untuk pulang?” bisik Odessa kepada Johan.


“aku tidak peduli dengan mereka” jawab Johan.


“tapi mereka kasihan, gimana kalo mereka dimarahi oleh orangtua mereka karena kehilangan motor mereka?” tanya Odessa.


“aku akan lebih marah lagi kepada mereka jika kamu sampai dibuat boneka mainan oleh mereka semua” tegas Odessa.


“kalau begitu, kembalikan kunci motor mereka dan biarkan mereka pulang dengan motor mereka masing masing” tegas Odessa.


“itu sudah kesepakatan” jawab Johan.


“apa untungnya kamu mengambil motor mereka semua?” tanya Odessa.


“bagiku, aku menang bukan karena ingin mengambil motor mereka semua. Tapi aku ingin menang karena ingin menyelamatkanmu dari mereka semua” jelas Johan.


“sekarang aku sudah selamat, jadi apa ada alasan lain untuk tidak mengembalikan kunci motor mereka?” tanya Odessa.


“yaahh, … it-itu…. Yaudahlah, aku akan balikin motor mereka semua” jawab Johan dengan nada terpaksa.


“nahh, gitu dong, Johanku” ucap Odessa dengan senyum begitu tulusnya.


Saat itu pula, Johan berjalan ke arah Satya yang tengah berdiri tegak di hadapannya. Saat itu pula, Johan menyahut tangan kanan Satya dan kemudian memberikan semua kunci motor keseluruhan dari anggota geng motor tersebut.


Johan memberikan 19 kunci motor kepada Satya untuk mengembalikannya kepada semua anggota geng tersebut. Saat itu pula, Johan membisikkan sesuatu di dekat telinga kanan Satya.


“namaku Johan, dan aku akan memberikan semua kunci motor kalian semua kepada kalian. Sejujurnya, aku ingin memiliki motor seperti kalian semua. Bagiku, motor kalian begitu keren dan klasik. Tapi karena pacarku ini menyuruhku untuk mengembalikan kunci motor kalian semua, maka dari itu aku akan menurutinya” bisik Johan.


“Johan? Nama yang bagus, kawan” ucap Satya.


“apa kau adalah ketua geng ini?” tanya Johan.


“bukan aku, ketua geng ku sedang sakit perut” jawab Satya.


“katakan padanya kalau jangan mengganggu pengguna jalan disini lagi atau aku akan merusak semua motor kalian semua” tegas Johan.


“ba-baik, kita akan sangat amat berterimakasih atas kebaikanmu” jawab Satya.


“itu bukan kebaikanku, tapi kebaikan pacarku. Kalau tidak ada pacarku disini, pasti motor kalian semua akan berada di dalam garasiku” jawab Johan.


“baiklah, aku akan sangat berterimakasih kepada pacarmu itu” jawab Satya.


“kalau begitu, kita akan balik dulu. Katakan pada semua kawan satu gengmu itu kalau pacarku ini yang menyuruhku untuk mengembalikan motor kalian semua. Jangan terlalu nakal untuk mempermainkan perempuan yang tidak dikenal. Dan juga, lain kali, aku ingin sesekali ikut dengan kalian hanya untuk berkendara bersama” bisik Johan.


“kita akan sangat menyambutmu. Kalau kau ingin meminta tolong perihal kendaraan bermotor, jangan sungkan sungkan untuk menghampiri kami semua” jawab Satya.


“mantap, gitu dong” jawab Johan dengan senyum sinisnya.


Saat itu pula. Johan pun berjalan kembali ke arah Odessa di belakangnya. Johan menaiki motornya dan kemudian menyalakan mesin motornya itu. Odessa pun menaiki jok belakang dan kemudian memakai helmnya kembali sementara saat itu, para anggota geng mereka semua itu melihat mereka berdua dari samping trotoar.


“kasih tau sama ketua geng kalian. Suruh ketua kalian untuk minum rebusan brotowali untuk meredakan nyeri akibat keracunan makanan” jelas Odessa kepada mereka semua.


“ba-baik” jawab semua anggota geng tersebut.


“kita akan pulang, lainkali kita akan balapan lagi dengan motor yang baru” ucap Johan seraya mengacungkan jempolnya.


“aku akan menunggumu lagi di tempat ini” jawab Satya dengan tawa senyumnya.


Saat itu pula, Johan menarik gasnya dan kemudian meninggalkan tempat tersebut. Selang beberapa detik setelah mereka Johan dan Odessa pulang, Kahfi pun datang dengan memegangi perutnya yang masih sakit karena masakan dari Emilia.


“Kahfi!” teriak Satya.


“ohh, kau sudah selesai balapan? Dan dimana Odessa? Dan dimana lelaki yang kau ajak balapan?” tanya Kahfi.


“mereka berdua udah pulang” jawab Satya.


“hmm, jadi Odessa udah pulang?” tanya Kahfi.


“kenapa? Apa kamu udah mulai suka kepada Odessa?” tanya Satya kepada Kahfi.


“siapa juga yang ngga suka sama perempuan secantik dia?” tanya balik Kahfi.


“tapi kan, dia sudah punya pacar?” jawab Satya.


“sayang sekali, apa kalian tau siapa nama pacarnya?” tanya Kahfi.


“kalau tidak salah, namanya adalah Johan” jawab Satya.


Mendengar hal itu, Kahfi benar benar terkejut bukan main. Antara percaya dan tidak percaya, Kahfi saat itu sedang berfikir kalau Johan sedang berada di desa dan sedang bermalam di kantor desa disana.


“tidak hanya satu orang yang memakai nama Johan di bumi ini. Pastinya bukan Johan yang ku kenal” fikir Kahfi dalam hati.


“namanya Johan. Apa kalian tidak tau nama panjangnya?” tanya Kahfi.


“kurang tau juga” jawab Satya.


“hmm, pokoknya bukan Mahesa Johan. Aku yakin dia sekarang sedang ada di desanya itu. Mungkin aku akan minta anter kak Lia cari obat sakit perut di apotek nanti malam” fikir Kahfi dalam hati.


Disisi lain, Johan yang saat itu sedang mengendarai motor bersama dengan Odessa tidak henti hentinya merasa senang. Pasalnya, hati mereka bergetar tidak karuan. Mereka berdua merasa kalau mereka sudah melakukan hal yang benar dengan berteman dengan mereka. Dengan begitu, Odessa dan Johan tidak perlu lagi berurusan lagi dengan mereka.


Pada akhirnya, Johan dan Odessa pun sampai di rumah tepat jam 2 siang. Hal itu dikarenakan Odessa yang selalu saja meminta Johan untuk megajaknya berkeliling taman kota yang begitu rindang nan sejuk.