Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 90, Bertemunya Farel dan Odessa



Mereka pun sampai di ruangguru dan kemudian memasuki ruangan tersebut sementara Odessa memilih untuk menunggu Johan di luar ruangan. Johan saat itu sedang diceramahi habis habisan oleh sang walikelas karena bolos sekolah dan nilai tugas yang belum tuntas, maka dari itu daripada menunggu dengan dipenuhi perasaan bosan, lebih baik berkeliling melihat lihat ruangan lain. Setidaknya itu yang difikirkan Odessa saat itu.


Johan pun berkeliling kesana kemari hanya untuk melihat lihat ruangan yang lain. Disekolah tersebut masih terdapat banyaknya pohon yang rindang dan lebat. Dan juga banyaknya tanaman gantung yang menggantung di dinding yang sudah lambat laun perlahan menjamur.


Odessa berkeliling melewati kantin, kamar mandi, ruang olahraga, dan lain lain. Hingga sesampainya dirinya bertemu dengan perempuan yang sedang melakukan uji coba di lab ipa bersama dengan para lelaki lainnya. Melihat itu, Odessa sedikit terkejut karena pasalnya hari itu adalah hari minggu dimana seharusnya sekolah diliburkan.


“ehh, ke-kenapa masih ada anak yang bersekolah disana? siapa mereka dan apa yang mereka lakukan di lab IPA?” fikir Odessa bertanya tanya.


“yaudahlah, paling juga nasib mereka sama dengan nasib Johan yang memang harus menambal nilai yang kosong” fikir Odessa seraya berjalan menjauhi lab ipa.


Hingga pada akhirnya, saat Odessa berjalan menjauhi lab tersebut, nyatanya ada seseorang dari dalam lab ipa yang memanggilnya. Suara seorang anak perempuan yang memanggilnya dengan begitu lantang.


“heii perempuan disana” teriak perempuan dari dalam ruangan tersebut dengan begitu lantang.


Mendengar hal itu, dengan seketika Odessa pun membalikkan tubuhnya dan melihat isi dari ruangan lab IPA tersebut. Saat Odessa membalikkan tubuhnya, Farel, Jehian dan Nyoman benar benar erkejut dengan perempuan yang benar benar luar biasa cantik tersebut, begitupula dengan Emilia yang memanggil Odessa disana.


“i-iya? Ada ada yang memanggilku?” tanya balik Odessa dari luar ruangan.


“masuklah di dalam lab ini dan lepas sepatumu” ucap lantang Emilia.


“ba-baik” jawab tegas Odessa.


Saat itu juga, Odessa melepas sepatunya dan hanya memakai kaus kaki saja. Odessa pun berjalan ke arah satu meja yang saat itu sedang di tempati oleh keempat anak tersebut.


“buset, dia cakep gila” bisik Farel kepada Nyoman.


“kira kira, ukuran dadanya berapa ya” bisik Nyoman kepada Jehian.


“padahal aku sudah suka kepada Callysta, tapi entah kenapa dia malah lebih cantik dari Callysta itu sendiri” bisik Jehian kepada Farel.


“apa yang kamu lakukan disini? apa kamu adalah salah satu siswi di sekolah ini? seingatku, aku tidak pernah melihatmu sekolah ini” tanya Emilia.


“ti-tidak” jawab Odessa.


“apa yang kau lakukan disini sedangkan hari ini adalah hari libur” tegas Emilia dengan penuh kecurigaan.


“sudahlah Emilia, dia hanya perempuan biasa. Kalau boleh tau, namamu siapa?” tanya Nyoman.


“jaga mulutmu itu, dasar Nyoman mulut bau” tegas Jehian.


“apa salahnya untuk berkenalan? Lagipula kau juga masih jomblo kan, Jehian” ucap Nyoman.


“sudah sudah, kenapa kalian berdua malah berantem” ucap Farel melerai pertikaian mereka berdua.


“kau jangan ikut ikutan, Farel!” bentak Jehian dan Nyoman bersamaan.


“kalian bertiga diamlah!” bentak Emilia.


“ma-maaf” teriak Jehian, Farel dan Nyoman bersamaan dan membuat ketiganya jinak seketika.


Mendengar keributan mereka berempat, Odessa jadi mengetahui kalau merkea berempat adalah teman teman Johan yang dimaksudkan. Odessa sedikit terkejut karena keempat temannya berada di sekolah sama seperti apa yang dilakukan Johan saat ini.


“gawat, jika Emilia bertemu dengan ku saat aku berduaan dengan Johan, maka hubungan Johan dan Emilia akan memburuk. Aku harus melakukan sesuatu” fikir Odessa dalam hati.


“kalau tidak salah, Nyoman adalah lelaki yang paling susah untuk menjaga mulutnya, maka dari itu dia disebut mulut bau, dan kemudian Jehian adalah orang yang bodoh namun periang. Tidak salah lagi, aku harus mengatakan sejujurkan kepada Farel karena hanya dia yang paling waras diantara mereka berdua” fikir Odessa dalam hati.


“emm, anu. Apa disini ada yang bernama Farel?” tanya Odessa.


“aku” tanya balik Farel nada begitu rendahnya.


“sudah kuduga, Farel akan berkata seperti itu. Itu karena Farel adalah anak yang serius namun tidak mudah tersinggung” fikir Odessa dalam hati.


“apa kita bisa berkata berdua?” tanya Odessa.


“baik” jawab Farel.


Saat itu pula, Farel dan Odessa pun berjalan keluar ruangan lab IPA hanya untuk berbicara berdua saja. Melihat hal itu, Jehian dan Nyoman benar benar luar biasa iri dengan Farel.


“dasar Farel perebut istri orang” teriak Jehian.


“ternyata Farel memakai hoki tahunannya hanya untuk itu” ucap Nyoman.


Disisi lain, Odessa menyeret tubuh Farel menjauhi ruangan lab IPA untuk memastikan tidak ada yang mendengar percakapannya bersama dengan Farel.


“kenapa kita berjalan jauh?” tanya Farel.


“ini mengenai Johan” jelas Odessa.


“sebentar dulu, kau siapa dan kenapa kau bisa mengenal Johan?” tegas Farel.


“kurasa disini sudah aman, tidak akan ada orang yang mendengar kita” ucap Odessa berhenti di tengah tengah lorong kantin.


“sekarang, katakan apa maumu. Kalau kau menanyakan dimana Johan sekarang, dia sedang berada di desa Engkobappe dan kita tidak tau apa apa mengenai dirinya” jelas Farel.


“apa maksudnya tidak tau apa apa? Bukannya kalian adalah temannya?” tanya Odessa.


“aku juga kurang tau, tapi kurasa ada sangat amat banyak hal yang disembunyikan Johan dari kami semua. Sesuatu yang disembunyikan yang berada di desa” ucap Farel.


“disembunyikan? Di dalam desa?” fikir Odessa dalam hati.


“apa Johan menyembunyikan mengenai penebangan hutan di dalam desa?” fikir odesaa.


“apa kalian tau mengenai Johan yang melawan orang dewasa?” tanya Odessa.


“orang dewasa? Maksudmu para penebang?” tanya Farel.


“jadi kau juga tau itu?” tanya balik Odessa.


“iya aku tau itu” jawab Farel.


“apa kau tau sesuatu di dalam desa yang bernama Odessa?” tanya Odessa.


“Odessa? Apa itu? apa sejenis minuman?” tanya balik Farel.


“hmm, jadi Johan menyembunyikanku dari mereka semua. Bahkan mereka tidak tau kalau Johan pergi ke desa hanya untuk menemuiku. Lantas kenapa Johan menyembunyikanku dari lainnya? Atau karena Emilia?” fikir Odessa dalam hati.


“kalau begitu, apa lagi yang akan kau tanyakan mengenai Johan?” tanya Farel.


“apa yang kau tau mengenai Johan?” tanya Odessa.


“sudah kubilang, kita tidak tau apa apa mengenai Johan. Dan juga, kenapa kau begitu penasaran mengenai Johan?” tanya balik Farel.


“karena saat ini, Johan ada di sekolah ini bersamaku. Kalau tidak bercaya, dia sekarang sedang berada di ruang guru” jawab Odessa.


“dia ada di sekolah ini? jangan bercanda. Dia sekarang ada di desa karena dia sendiri yang bilang kepada kami. Kau fikir kau siapa yang sok tau mengeanai Johan?” tanya balik Farel.


“aku adalah alasan mengapa Johan selalu pergi ke desa” jawab Odessa.


“kau adalah alasan? Berarti kau adalah salah satu penduduk di desa tersebut yang sedang mengungsi di sana” ucap Farel dengan sedikit terkejut.


“bi-bisa dibilang begitu, hehee” jawab Odessa.


“kalau begitu, apa yang terjadi kepada Johan?” tanya Farel.


“sudah kubilang kalau dia ada di ruang guru saat ini dan dia tidak menyadari kalau disini juga ada kalian. Itu karena dia ingin aku menemaninya ke sekolah untuk mengambil formulir ujian susulannya. Sekarang, apa kau percaya kepadaku?” tanya Odessa.


“siapa namamu?” tanya Farel.


“aku tidak ingin memberikan namaku padamu” jawab Odessa.


“kalau begitu, aku juga tidak akan pernah mempercayaimu” tegas Farel.


“itu terserah kepadamu apa kau mau percaya kepadaku atau tidak. Yang pasti, aku lebih tau mengenai Johan daripada kalian semua dan aku ingin memberitahukan semuanya kepadamu saja” tegas Odessa.


“hanya kepadaku? Kenapa tidak yang lain?” tanya Farel.


“aku tau permasalahan mengenai Emilia dan Johan. Emilia adalah perempuan yang menyukai Johan sementara Johan tidak menyukai Emilia. Apa itu benar?” tanya Odessa.


“ba-bagaimana kau bisa tau?” tanya Farel dengan begitu terkejut.


“dan aku ingin memberitahukan satu hal kepadamu. Aku adalah pacar Johan yang sebenarnya” tegas Odessa.


“pa-pacar? Apa kau adalah perempuan desa yang disukai Johan dan menjadi alasan mengapa Johan bersih keras selalu pergi ke desa?” tanya Farel.


“bukan hanya karenaku, tapi karena desa. Dikarenakan di desa saat ini sedang banyaknya penebangan hutan secara ilegal, maka dari itu Johan mengajakku kemari” ucap Odessa.


“mengajakmu? Sejak kapan?” tanya Farel.


“tadi pagi” jawab Odessa.


“aku faham maksudmu sekarang. Kau berkata seperti ini kepadaku hanya karena kau tidak ngin Emilia bertemu dengan Johan saat Johan berada di sampingmu karena takut hubungan Emilia dan Johan memburuk. Apa itu benar?” tanya Farel.


“sangat benar, sangat tepat menyerahkan urusan ini kepadamu” ucap Odessa.


“asal kau tau, aku tidak akan melakukan hal itu kalau kau tidak memberitahukan namamu kepadaku” ucap Farel.


“berjanjilah kalau kau tidak akan menyebarkan namaku kepada seorangpun terkecuali kepada Johan sendiri” tegas Odessa.


“memangnya kenapa?” tanya Farel.


“karena aku meminta namaku sendiri kepada Johan, dan namaku ini adalah pemberian Johan” jawab Odessa.


“nama pemberian Johan? Apa aku tidak salah dengar. Kasus ini benar benar mirip dengan kasus yang dirasakan oleh Adam Abraham saat ingin melindungi danaunya itu” fikir Farel dalam hati.


“kalau begitu, katakan namamu” ucap Farel.


“namaku adalah Odessa Ai, aku adalah alasan mengapa Johan pergi ke desa untuk menyelamatkanku” ucap Odessa.


“Odessa Ai? Nama yang cantik” ucap Farel.


“makasih banyak” jawab Odessa dengan tersenyum begitu indah.


“aku harus memanggilmu apa? Aku memanggilu Odessa? Atau memanggilmu Ai?” anya Farel.


“itu terserahmu, yang pati jangan beritahukan semua ini kepada siapapun juga sekalipun itu adalah Jehian atau Nyoman” ucap Odessa.


“hmm, iya” jawab Farel.


“kalau begitu, apa mau ikut ke ruang guru bersamaku? Apa kau mau melihat Johan?” tanya Odessa.


“tidak usah, atau kalau tidak Emilia, Jehian dan Nyoman akau mencariku dan menemukan Johan di ruang guru” jawab Farel.


“kalau begitu, aku sangat berterimakasih kepadamu” ucap Odessa seraya menundukkan kepalanya.


“a-angkat kepalamu dan jangan biarkan kepala orang lain berada di atasmu” sahut Farel seketika mengangkat tubuh Odessa.


“ba-baik” jawab Odessa.


“kalau begitu, aku akan kembali ke dalam lab IPA, sementara kamu kembalilah ke ruangguru bersama dengan Johan. Ingat, sebentar lagi aku, Emilia, Jehian dan Nyoman akan pulang sekolah, maka dari itu, kalian berdua cepat tinggalkan sekolah ini” tegas Farel.


“baik, terimakasih banyak untuk semuanya” ucap Odessa.


“sama sama” jawab Farel.


Saat itu pula, mereka pun berjalan ke arah tujuan mereka masing masing. Odessa berjalan ke arah ruangguru sementara Farel berjalan ke arah lab IPA untuk menemui Emilia beserta temannya yang lain.