
“iya, nama. Seperti orang lain pada umumnya, aku juga ingin mempunyai nama” ucap perempuan itu.
“tapi aku benar benar tidak bisa memberikan nama yang indah” jawab Johan.
“ayolah, beri aku nama. Aku ingin sekali mendapatkan nama” ucap perempuan itu seraya membuat ekspresi muka memelas.
“hmm, baiklah. nama perempuan yang indah” ucap Johan seraya menganggukkan kepalanya.
“nahh, makasih banyak. Jadi namaku siapa? Nama yang cocok?” tanya perempuan itu.
“apa kamu sebelumnya pernah di beri nama panggilan?” tanya balik Johan.
“nama panggilan?, kurasa aku belum pernah di berikan nama” ucap perempuan itu.
“hmm, kurasa ini akan sedikit susah. Apa kamu menyukai suatu benda?” tanya Johan.
“aku menyukai suatu benda? Bagaimana kalau pohon ini?” tanya perempuan itu seraya menunjuk ke arah pohon Hornbeam yang tengah mereka berdua gunakan untuk bersandar.
“hah? apa tidak ada barang lain selain pohon? Masa kamu beneran suka sama pohon?” tanya Johan begitu meragukan.
“tidak apa, aku suka dengan pohon ini” jawab perempuan itu.
“okelah kalo begitu. Aku tau jenis nama pohon ini dan bunga yang mekar disini. Pohon ini bernama Hornbeam dan berbunga Sakura. Asal dari pohon Hornbeam adalah dari negara Ukraina sementara bunga Sakura berasal dari negara Jepang. Mungkin aku akan memberikan nama kepadamu Odessa Ai” ucap Johan.
“hah? Odessa Ai? Bagaimana kau mendapat nama itu?” tanya perempuan tersebut.
“Odessa berasal dari salah satu kota terpadat ketiga di negara Ukraina. Odessa di lambangkan dari Pohon Hornbeam yang berasal dari Ukraina pula. Sementara Ai dari bahasa Jepang yang berarti Cinta. Ai di lambangkan dari bunga Sakura yang berasal dari Jepang. Maka dari itu, namamu akan sangat cocok bernama Odessa Ai” ujar Johan.
“Odessa Ai? Namaku adalah Odessa Ai?” ucap perempuan tersebut tersenyum seraya meneteskan air mata.
“ehh? Kenapa kamu malah nangis? Kalo jelek bilang aja, aku akan memikirkan nama lain yang mungkin lebih indah dan cocok buatmu” ucap Johan begitu panik saat melihat Odessa Ai meneteskan air mata.
“Odessa Ai, itu namaku?” tanya perempuan itu.
“aku tidak akan memaksamu menggunakan nama itu jika kau tidak ingin menggunakannya. Kalau jelek, bilang aja. Aku akan cari nama lain yang sedikit lebih indah” jawab Johan begitu panik.
“tidak apa, Odessa Ai menurutku nama yang benar benar sangat indah. Terimakasih telah memberiku nama” ucap perempuan itu tersenyum tulus seraya meneteskan air matanya.
Melihat hal itu, Johan seketika terpesona dengan cantik paras wajah Odessa Ai. Mata yang berkaca kaca, rambut hitam yang panjang nan terurai, lentik bulu mata yang indah dengan pipi yang memerah seakan akan menghipnotis fikiran Johan dan membuat Johan seakan akan melupakan semua hal yang membuatnya bersedih saat lalu.
Wajah yang polos, dengan bibir yang cerah dan kecil tersebut benar benar memanjakan mata Johan. Mereka berdua tidak berhenti untuk saling memandang mata satu sama lain. Odessa Ai yang melihat mata yang memerah milik Johan sebab terlalu banyak menangis sementara Johan yang melihat putih bersihnya bola mata Odessa.
Namun, seketika mereka tersadar akan apa yang sedang mereka lakukan. Mereka berdua spontan membuang pandangan mereka ke arah yang berjauhan. Fikiran Johan saat itu sudah benar benar tenang dan hangat kembali. Seakan akan, Johan mendapatkan kebahagiaan baru yang mampu membuka gembok hatinya yang gelap dan dingin itu. Johan sudah mengisi kosongnay hati menggunakan Odessa Ai di dalamnya..
“Odessa Ai? Menurutku itu tidak terlalu buruk. Dia begitu imut kalau memiliki nama seindah itu. Odessa Ai” fikir Johan dalam hati.
“emm, anu. Aku harus memanggilmu Odessa atau Ai?” tanya Johan.
“seharusnya aku yang bertanya seperti itu sama kamu. Aku harus memanggilmu siapa?” tanya balik Odessa kepada Johan.
“ehh iya juga, aku masih belum kasih tau namaku, hahahaha” ucap Mahesa Johan tertawa begitu lepas.
“namaku Mahesa Johan. Kau bisa memanggilku Johan” ucap Johan dengan begitu percaya dirinya.
“ohh, iya. Johan. Aku akan memanggilmu Johan. Aku memanggilmu Johan dan kamu harus memanggilku Odessa. Benar kan?” ucap Odessa Ai memanggil nama Johan begitu halus.
“ehh? Kok malah melamun? Dan juga muka mu memerah. Apa kamu sakit?” tanya Odessa Ai seraya menyentuh jidat Johan.
Seketika Johan benar benar tidak bisa mengendalikan nafasnya itu. Nyatanya Johan tidak bisa mengatur nafasnya dan tidak mampu juga menahan beratnya nafas di tengah tenagh udara dingin. Tubuh Johan tidak kuat untuk mengatur detak jantung yang begitu kencang dan mengatur laju stabil pernafasannya.
“ehh iya, kamu demam” ucap Odessa begitu terkejut.
“ehh? Aku demam?” tanya Johan terkejut sendiri.
“apa kau pusing?” tanya Odessa dengan begitu khawatir.
Seketika Johan baru saja merasakan kalau secara tiba tiba, kepalanya mulai pusing. Matanya berkunang kunang, telinganya mendengung keras, dan nyatanya Johan merasa kalau punggungnya begitu berat. Semakin lama, Johan semakin tidak mampu mengendalikan tubuhnya. Dan pada akhirnya, Johan memejamkan kedua matanya seraya melemaskan tubuhnya. tubuh Johan terjatuh ke tanah dengan lumayan keras.
Sesaat setelah itu, sebelum Johan pingsan, Johan melihat telapak tangan kirinya itu. Tato di tangan Johan masih tetap utuh di telapak tangan kirinya. Melihat itu, Johan benar benar merasa sangat bersyukur karena Johan bisa memastikan bahwa pertemuannya dengan Odessa Ai benar benar terjadi di dunia nyata dan bukan sedang bermimpi.
Johan yang saat itu sudah tidak bisa mengendalikan fikiran dan tubuhnya mulai menutup kelopak matanya perlahan dan merilekskan dirinya. Johan benar benar sangat senang di sisa akhir kesadarannya itu. Pada akhirnya, Johan pingsan dengan tenang dan seketika tergeletak di sana.
Pada akhirnya, Johan terbangun di tengah tengah padang rumput yang luas dan hijau. Pemandangan yang benar benar indah dimana Johan tertiup angin sepoi sepoi. Disaat Johan memandang luasnya padang rumput, nyatanya Johan melihat sang dewi alam yaitu Greisha sedang rebahan santuy di padang rumput tersebut. Johan pun menghampiri Greisha dengan perasaan yang amat senang dan bahagia.
“permishiiee” ucap Johan begitu berbahagia.
“buset, ada apa kamu? Kok keliatannya kamu bener bener bahagia? Ada apa?” tanya Greisha.
“aku baru aja ketemu ama cewe cakep banget parah” jawab Johan seraya membaringkan tubuhnya di samping Greisha.
“terus?” tanya Greisha.
“terus aku kasih dia nama” ucap Johan.
“hah? maksudnya kasih dia nama?” tanya Greisha.
“dia sebelumnya ngga inget namanya, jadi aku kasih dia nama” jawab Johan.
“terus? Kau kasih dia nama apa?” tanya Greisha.
“namanya adalah Odessa Ai” ucap Johan.
“heh? Bwhahabwhabahwbhabawh kau bener bener nggak berbakat kalo kasih nama” ucap Greisha benar benar tertawa terbahak bahak.
“berisik, dia juga suka nama yang kuberikan” sahut Johan dengan sedikit kesal.
“pasti dia menangis karena saking jeleknya nama yang kau kasih” ucap Greisha masih dengan tawanya terbahak bahak.
“ehh, iya juga ya. Pas aku kasih dia nama, dia langsung nangis. Apa mungkin namaku beneran jelek?” tanya Johan mengelus dagu.
“bwabahwbahwhawwbwah. Beneran namamu jelek banget” jawab Greisha semakin tertawa terbahak bahak.
“dahlah, males. aku mau bangun dulu. Nggak asik ah ngobrol sama dewi alam” ucap Johan seraya menggigit tangan kirinya sendiri.
Tidak lama setelah itu, Johan terbangun dari tidurnya. Saat itu, dirinya sedang berada di satu ruangan dan tengah terbaring di satu kasur yang empuk. Johan pun terbangun dan menegakkan tubuhnya seraya berupaya untuk duduk di atas ranjang tersebut. Setelah ia duduk di ranjang tersebut, dia mendapati kalau Nyoman, Jehian serta Farel tengah tertidur di ranjang sampingnya.
Sementara itu Emilia tengah tertidur dalam keadaan tengah duduk di kursi dan meletakkan kepalanya di ranjang Johan. Malam itu, benar benar malam yang sangat dingin, Johan melihat Emilia yang tengah tidur di sampingnya merasa tidak enak hati. Saat itu juga, Johan pun beranjak turun dari ranjangnya dan hendak memindahkan tubuh Emilia.
Johan segera mengangkat dan menggendong tubuh Emilia dengan perlahan dan kemudian meletakkan tubuh Emilia di ranjang yang baru saja Johan pakai. Setelah ia meletakkan tubuh Emilia, Johan pun menyelimuti tubuh Emilia menggunakan selimutnya. Saat itu, Johan benar benar haus dan ingin minum air putih. Nyatanya saat ia melihat jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi.