Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 89, Pergi ke Sekolah



Saat itu pula, Johan pun melihat pundak dan lengan Odessa yang saat itu tidak ada sehelai kainpun yang menutupi tubuhnya. Dengan begitu, Johan berfikir kalau sebenarnya, Odessa masih belum memakai pakaiannya. Dengan begitu kencang, Johan berteriak dengan begitu kencang seraya menutup kedua matanya menggunakan telapan tangannya.


“ma-maaf, aku tidak tau kalau kamu masih belum memakai pakaianmu” teriak Johan dengan beitu panik.


“kalau begitu, cepat keluar dari kamar ini” teriak balik Odessa.


“i-iya, aku sangat minta maaf” teriak Johan menundukkan kepalanya dan kemudian berlari menuju luar kamarnya.


Saat Johan membuka pintu kamarnya dan kemudian menutupnya kembali, Johan pun duduk di lantai seraya bersandar di pintu kamarnya. Johan masih berfikir atas kebodohannya yang baru saja dirinya lakukan kepada Odessa saat lalu, dan menurutnya itu adalah salah satu hal yang paling memalukan didunia.


“a-apa yang kulakukannn” ucap Johan seraya mengacak acak rambutnya menggunakan dua telapak tangannya.


5 menit berlalu, nyatanya Johan sudah mulai kedinginan sebab dirinya tidak memakai atasan baju sama sekali saat itu. Apalagi Johan baru saja selesai mandi, maka angin meniup tubuh Johan yang basah nan lembab tersebut.


Seketika saat itu, Odessa membuka pintu kamar Johan dan membuat tubuh Johan terjatuh kebelakang. Spontan saat itu, Odessa pun menopang tubuh Johan menggunakan kedua lengannya agar Johan tidak terbentur di lantai.


“ma-maaf” ucap Odessa seraya menopang punggung Johan.


“ti-tidak apa apa” jawab Johan.


Saat itu pula, Johan melihat raut wajah dan ekspresi Odessa yang benar benar cantik baginya, wajah keduanya benar benar begitu dekat, nafas yang keluar dari mulut Johan mengenai leher kecil nan panjang milik Odessa. Tatapan mata keduanya begitu tajam tanpa berkedip sekalipun. Mereka saling memandang untuk beberapa saat hingga akhirnya, mereka telah sadar apa yang telah mereka lakukan.


“kamu cantik banget” gumam Johan seraya menatap mata Odessa tanpa henti.


“eh, apa? Suaramu kurang jelas” ucap Odessa.


“ma-maaf, itu tidak apa apa. Makasih banyak ya. Sekarang giliranku untuk mengganti pakaianku” ucap Johan dengan.


Saat itu pula, Johan pun berdiri di tempat tersebut dan kemudian berjlan ke arah kasur untuk menbambil pakaian barunya yang masih berada di dalam tas belanjaan. Nyatanya, pakaian yang Johan beli lebih simpel dari apa yang Odessa beli. Dengan begitu, harga belanjaan dari pakaian yang Johan beli lebih murah dibandingkan dengan pakaian yang Odessa beli.


“maaf untuk memaksamu keluar dari kamar ini” ucap Johan.


“tenang saja” jawab Odessa.


Saat itu pula, Odessa pun berjalan keluar kamarnya dan kemudian menutup pintu kamar tersebut dari luar. Johan pun segera melepas semua pakaiannya dan kemudian mememakai kaus serta celana barunya itu. Seraya memakai jam tangan, tidak lupa Johan memakai kaus kakinya itu.


Saat itu pula, Johan pun membuka pintu kamarnya dan berjalan ke bawah seraya membawa tas kecil berisi map untuk meletakkan semua berkas soal ujiannya itu. Johan berjalan turun dari kamarnya hanya menggunakan kaus kaki tanpa mengenakan sepatunya karena sepatunya sedang berada di rak sepatu lantai bawah.


Disaat itu juga, dirinya mendapati jika Odessa benar benar anggun dan cantik. Odessa yang saat itu sedang tertawa seraya mendengarkan cerita dari paman Surya dan sang ibunda itupun benar benar terlihat sangat cantik. Rambut hitam yang terurai, kelopak mata yang begitu lebar bersama dengan bola mata yang begitu cerah, lentik indah bulu matanya bersama dengan merah bibirnya membuat Johan saat itu melongo menatap cantiknya Odessa.


Melihat Johan yang sedang melamun menatapi dirinya, Odessa sedikit aneh dengan apa yang dilihat oleh Johan.


“apa yang kamu liat?” tanya Odessa di sofa tengah kepada Johan di tangga.


“sepertinya aku menemukan malaikat” gumam Johan.


“hah? apa? Aku tidak dengar” ucap Odessa.


“lu-lupakan itu. ayo kita berangkat” ajak Johan dengan seketika menggelengkan kepalanya.


“kenapa kamu hanya pakai kaus kaki?” tanya paman Surya.


“sepatuku di rak sepatu luar” jawab Johan.


“kalau begitu, cepat berangkat dan ambil tes ujianmu itu bersama dengan Odessa. Keburu sekolahnya tutup” tegas paman Surya.


“iya iyaaa” jawab Johan.


Saat itu pula, Johan pun segera mengambil sepatunya yang berada di rak depan dan kemudian memakainya, terlihat juga Odessa yang saat itu sedang menunggu di motor Johan yang berada di dalam garasi.


Saat itu pula, Johan mengeluarkan motornya bersama dengan Odessa yang telah duduk memeluk dengan begitu erat Johan di atas motor tersebut. Seperti biasa, Johan menarik gasnya dan kemudian mengendarai motornya. Hanya sekitar 10 menit perjalanan, Johan dan Odessa pun sampai di pintu gerbang sekolah Johan.


Johan memarikirkan motornya di parkiran dan kemudian mengajak Odessa untuk masuk kedalam ruang guru yang berada di dalam. Mereka berdua menyusuri lorong demi lorong, ruang demi ruang hanya untuk menuju ke ruang guru yang letaknya memang agak jauh.


“apa masih jauh?” tanya Odessa.


“sebentar lagi udah sampe kok. Menurutmu, sekolah itu bagaimana?” tanya Johan.


“setiap kelas kurang lebih berisikan 30 orang. Dan kita sudah melewati lebih dari 10 kelas” jawab Johan.


“hmm, jadi begitu. Menurutku apa itu sangat seru memiliki teman?” tanya Odessa.


“memiliki teman? Jujur saja aku tidak memliki banyak teman disekolah ini. Bahkan dari ratusan orang yang ada disini, aku hanya bisa menatap mata teman temanku saja” jawab Johan.


“temanmu ada berapa?” tanya Odessa.


“ada 5” jawab Johan.


“siapa saja?” tanya Odessa.


“ada yang bernama Nyoman, dia benar benar asal bicara dan tidak tau kapan harus mengontrol ucapannya. Kemudian ada yang bernama Jehian, dia adalah teman yang menurutku paling bodoh namun paling ceria diantara kita. Kemudian ada lagi yang bernama Farel, menurutku dia anaknya serius namun asik. Farel lebih susah tersenyum namun tidak mudah tersinggung. Kemudian ada lagi yang bernama Emilia. Dia adalah teman perempuanku satu satunya. Dia benar benar baik hati dan murah senyum serta selalu jujur dimanapun dan kapanpun dirinya berada. Dan yang terkahir ada Kahfi, dia adalah adik dari Emilia. Aku masih belum terlalu akrab dengan Kahfi karena Kahfi takut kalau aku akan mengambil kakaknya. Padahal kita hanya sebatas teman belaka” jelas Johan.


“tunggu sebentar, Emilia dan Kahfi?” tanya Odessa.


“ada apa? Apa kamu mengenalnya?” tanya balik Johan.


“ti-tidak, aku hanya familiar dengan namanya saja” jawab Odessa.


“kalau tidak salah, Kahfi addalah salah satu anggota ketua geng motor yang sakit perut siang tadi. Tidak salah lagi, Emilia adalah kakak perempuan yang memasakkan masakan yang berbahaya untuk adiknya itu, maka dari itu Kahfi sakit perut siang tadi” fikir Odessa dalam hati.


“ohh iya, aku ingin menceritakanmu sesuatu mengenai Emilia agar nanti tidak akan ada salah faham diantara kita berdua” ucap Johan.


“Emilia?” tanya balik Odessa.


“iya, perempuan yang menyukaiku” jawab Johan.


“perempuan yang menyukaimu? Apa kamu menyukainya balik?” tanya Odessa dengan tatapan begitu tajam.


“ti-tidak mungkin lah, aku hanya menyukai Odessa ku ini” jawab Johan.


“bohong” sahut Odessa seraya menggembungkan pipinya.


“yaudah kalo begitu, nanti aku akan belikan eskrim seperti yang tadi” bujuk Johan.


“janji?” tanya Odessa.


“iya iya, janji” jawab Johan menganggukkan kepalanya.


“kalau begitu, ceritakan saja. Aku akan dengarkan” ucap Odessa.


“jadi Emilia adalah ketua kelasku. Dia adalah perempuan yang paling pintar dan paling cantik di sekolah ini. Setidaknya itu yang para murid jantan katakan mengenai Emilia. Ada rumor yang beredar jika Emilia menyukaiku, namun aku tidak menyukainya. Hingga pada satu hari, dia menembakku di danau taman kota dan menginginkanku menjadi pacarnya. Mendengar hal itu, aku benar benar tidak tau harus menjawab apa karena itu adalah pengakuan cinta pertamaku” jelas Johan.


“jadi, apa kamu menerimanya?” tanya Odessa.


“aku tidak mencintainya dan aku tau kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan, namun jika aku menolaknya maka aku akan dibencinya. Aku tidak ingin kita saling bermusuhan dan aku ingin kita selalu menjadi teman. Maka dari itu, sampai sekarang aku masih belum memberi kepastian kepadanya namun dirinya sudah menganggap kalau aku adalah pacarnya” jelas Johan.


“jadi kamu terjebak diantara rasa bersalah dan perasaan yang tidak menyenangkan. Apa ada yang tau kalau kamu tidak menyukai Emilia?” tanya Odessa.


“Farel, Jehian dan Nyoman adalah teman temanku yang tau kalau aku tidak mencintai Emilia” jawab Johan.


“hmm, jadi begitu” ucap Odessa seraya menganggukkan kepalanya.


“apa kamu ngga marah?” tanya Johan.


“kenapa aku harus marah? Kalau aku berada di posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama” jawab Odessa.


“ma-makasih” jawab Johan.


“sama sama” jawab Odessa.


“kenapa aku tidak memiliki topik pembicaraan lain? benar benar lelaki yang payah” fikir Johan dalam hati.