Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 75, Pernikahan Ibunda?



Johan pun segera turun dan kemudian mengganti pakaiannya di kamar mandi. Selepas itu, Johan menyalakan kran air wastafel kamar mandi hanya untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Johan pun berjalan ke arah dapur yang sudah bersih bersama dengan mamahnya dan paman Surya dalam keadaan sudah memakai celemek bersih.


“kerja bagus. Kalian berdua cepet juga ya” ucap Johan kepada paman Surya dan mamahnya.


“jelas cepet dong” jawab sang ibunda.


“kalau begitu, kita akan masak sekarang juga” ajak Johan.


“baik” jawab mereka semua.


“maaf mengganggu, tapi apa aku bisa balik sekarang? Aku ada urusan mendadak. Ada barang yang harus ku kirim dari perusahaan sekarang juga. Aku akan kembali saat barang itu sudah selesai” ucap pak Abdi seraya berjalan menuju ke arah mereka.


“Ehh? Mendadak banget” ucap sang ibunda.


“tidak apa apa, santai saja. Aku pasti akan kembali dan makan masakan Johan. Aku udah laper gila” ucap pak Abdi seraya memegangi perutnya.


“kalau begitu, cepat kembali selagi makanannya hangat” ucap Johan seraya mengikat tali celemek punggungnya.


“siapp” jawab pak Abdi.


Pak Abdi pun berjalan keluar rumah dan kemudian terdengar suara mesin mobil pak Abdi yang mulai menjauh dari rumahnya. Saat itu pula, mereka bertiga pun melanjutkan proses masak mereka. Saat itu, mereka hendak memasak hidangan simpel. Mereka menggoreng jamur tepung beserta semur usus ayam bersama dengan nasi putih yang hangat nan lembab.


Hanya dalam 15 menit, mereka berhasil menyelesaikan masakan mereka berkat bantuan Johan. Dan pastinya ada tambahan dari Johan didalam masakannya. Johan pun berjalan ke lantai atas dalam keadaan masih menggunakan celemek masak. Johan membuka pintu kamarnya dan mendapati jika saat itu, mereka semua sedang memakan snack yang sudah mereka beli sebelumnya dari supermarket.


“oyy, apa kau tidak ingin join? Kemarilah dan makan semua snack ini bersama sama. Kita akan menonton film setelah ini” ucap Jehian dengan dalam kondisi mulut yang penuh.


“setidaknya sebelum kalian makan sncak, lebih baik kalian makan nasi dahulu. Cepatlah turun, aku baru saja memasak bersama dengan paman Surya dan mamah” ajak Johan.


“haaahhh? Kau membantunya? Apa kau sudah bodoh!?” teriak Farel.


“dasar kau itu, benar benar pengganggu, dasar yatim piatu” ucap Nyoman.


“jaga omonganmu, Nyoman!” sahut Johan dnegan raut wajah begitu kesal.


“apa kau tidak sadar? Kau hanya menjadi semprotan anti nyamuk mereka” ucap Jehian.


“benar benar tidak peka dengan keadaan” ucap Kahfi.


“padahal kita sudah memberikan waktu kepada mereka agar mereka bisa memasak bersama. Tapi kau malah mengacaukannya” ucap Emilia.


“ehh? Apa kalian tidak suka jika aku yang masak?” tanya Johan.


“bukan begitu, bodoh!” bentak mereka semua.


“dasar tidak peka” ucap Emilia.


“aku tidak tau apa yang kalian maksud. Tapi masakannya sudah selesai. Ayo kita makan bersama” ajak Johan.


“kau benar benar sudah kelewatan” ujar Jehian beranjak dari tempat duduknya.


Saat itu pula, Jehian pun menarik paksa Johan untuk masuk kedalam kamar. Saat itu pula, Jehian pun berteriak dengan begitu keras ke arah bawah tangga kepada paman Surya dan sang ibunda.


“Johan dan kita semua masih makan snack, kalian berdua makan saja duluan!” teriak Jehian dengan begitu keras.


“ehh, apa yang kau katakan? Masa hanya mereka berdua yang makan?” tanya Johan.


“yaahh, mungkin biarkan saja mereka berdua sejenak. Sebenarnya, semenjak kita datang kemari jam 7 tadi, mereka berdua seperti membicarakan hal yang penting. Maka dari itu, kita tidak berani mengganggunya” jelas Jehian.


“hal yang penting? Mereka berdua? apa kalian tau apa yang mereka bicarakan?” tanya Johan.


“kita ingin menjaga privasi mereka berdua” jawab Emilia.


“hmm, yaudahlah. Aku akan menunggu dikamarku sebentar agar mereka berdua bisa bicara. Tapi ini bukan untuk memberikan waktu kepada mereka untuk ngedate kan?” tanya Johan.


“yaahh, sebenarnya kita juga ingin mereka seperti itu” jawab Nyoman.


“jujur saja kita senang melihat mereka berdua saling melengkapi. Sudah seperti pasangan suami istri” jelas Emilia.


“menurut kalian ini menyenangkan dan membahagiakan, tapi entah kenapa aku merasa sedikit terbebani akan hal itu” ucap Johan sedikit bernada murung.


“ada apa? Kenapa?” tanya Farel.


“aku masih sangat ingat kematian mamah kandungku 3 bulan lalu. Dan beberapa hari kemudian, papahku membawa perempuan lain dan berkata kalau perempuan itu adalah istri barunya. Saat itu pula, hatiku hancur berkeping keping. Yaahh, aku tau kalau itu memang untuk kepentinganku dan juga kepentingan papahku, tapi entah kenapa, aku sedikit merasa nyesek di dalam dada ketika ada orang lain yang tidak dikenal tiba tiba amsik kedalam hubungan keluarga. Menurutku itu suatu yang baik namun ganjal” jawab Johan.


“apa yang terjadi? kenapa?” tanya Kahfi.


“aku tau kalau mamahku sudah meninggal dan akupun membutuhkan sosok ibu di dalam kehidupanku. Tapi aku benar benar masih tidak bisa menerimanya. Rasanya seperti ada yang akan merenggut keluargaku yang aman dan hangat itu. Keluarga yang masih utuh dimana kakek, nenek, papah dan mamahku masih berada di satu meja makan yang sama. Aku berfikir kalau perempuan itu akan menjadi pengacau pemandagan jika ia merebut posisi ibu di kursi meja makan. Namun aku harus sadar kalau saja memang aku memerlukan seorang ibu. Tapi tetap saja, kalian tidak akan pernah mungkin bisa merasakan apa yang kurasakan saat itu” jelas Johan.


“yaahh, wajar saja, kau adalah anaknya” ucap Nyoman.


“tapi, kalau misalkan mamahmu yang sekarang menikah dengan paman Surya, apa kau merestuinya?” tanya Emilia.


“aku yang sekarang berada di ambang antara merelakan, mengikhalskan dan tidak peduli. Aku tidak tau harus memilih yang mana. Tapi ketiganya terasa mendorongku untuk merestui hubungan mereka. aku harus merestui hubungan mereka karena pada dasarnya, aku masih membutuhkan pelukan sang ibu dan punggung sang ayah. Tapi balik lagi dengan mereka berdua yang benar benar tidak memiliki hubungan darah denganku. Bahkan aku tidak merasa sakit hati saat mendengar kalau mereka berdua akan menikah. Mereka bukan mamah dan papah kandungku, dan juga ikatanku masih belum kuat. Kebersamaan dan hangatnya keluarga yang kuingat adalah saat aku masih kecil mendengar suara gelak tawa di meja makan bersama dengan kakek, nenek, papah dan mamah kandungku. Sekarang, mereka berempat sudah tidak ada dalam kurun waktu 3 bulan, dan karena dorongan dan semangat dari kalian semua, aku bisa merelakan semuanya” ucap Johan.


“dan juga, ini berkat Odessa” fikir Johan dalam hati.


“kok malah curhat? Dasar bodoh” ujar Nyoman.


“terserahku lah!?, kalau kalian tidak ingin mendengar curhatanku, tidurlah diluar” tegas Johan dengan suara juteknya.


“tapi benar apa yang dikatakan oleh Johan. Ikatan Johan dengan paman Surya dan mamahnya yang sekarang masih belum erat. Aku yakin jika Johan akan merasa senang jika mereka akan menikah dan serumah. Pasti keluarga yang utuh dan hangat akan kembali terlahir dari sana” jelas Emilia.


“serumah?” tanya Johan.


“benar juga, kalau mamah dan paman Surya menikah, pilihannya ada dua. Yaitu aku yang akan tinggal di rumah paman Surya bersama dengan Callysta, atau Callysta yang akan tinggal di rumah ini” fikir Johan dalam hati.


“iya, serumah” jawab Emilia.


“jangan terlalu difikirkan, kita juga masih belum tau apakah mereka memang benar saling mencintai dan membutuhkan” jelas Kahfi.


“maka dari itu, kita akan memberikan kesempatan kepada mereka berdua di meja makan ini” ucap Jehian.


“jujur saja, aku selalu teringat pernikahan papahku dengan mamahku yang sekarang. Dan aku masih mengingat rasa sakitnya. Aku harap aku tidak akan merasakan rasa sakit yang sama seperti apa yang kurasakan sebelumnya. Jujur saja, aku masih belum menerima paman Surya untuk menjadi papah baruku. Aku rasa aku masih belum mengenalnya. Bahkan aku dan paman Surya sangat sering berantem hingga saling pukul” jelas Johan.


15 menit berlalu, mereka semua hanya mengobrol santai sambil meminum minuman soda yang telah mereka beli sebelumnya. Sambil memakan snack, mereka bercerita mengenai tempat hiburan di kota mereka.


“beberapa minggu yang lalu, aku sudah sempat kesana. Sepertinya mall disana sudah mendapatkan perbaikan. Dan apa kalian tau, di dalam sana sudah ada taman hijau” ucap Kahfi.


“heehh, itu keren banget” ucap Jehian.


“aku jadi pengen kesana. Sepertinya taman itu seru. Tapi bagaimana caranya ada taman yang berada di dalam mall?” tanya Nyoman.


“jadi, taman itu berada di lantai paling atas. Lantai paling atas disengaja untuk tidak dipasang AC dan memang sengaja hanya menggunakan ucara segar. Di atap tersebut berupa kaca yang bening hingga kita bisa melihat langit biru. Angin segar di pancarkan langsung dari pepohonan yang tumbuh di taman tersebut” jawab Kahfi.


“jadi, lantai paling atas tidak terhubung secara langsung dengan lantai bawahnya?” tanya Jehian.


“iya, itu benar. Kita harus menggunakan lift untuk menuju ke lantai paling atas. Hal itu bertujuan untuk udara AC dari lantai bawahnya tidak terbuang ke seluruh ruangan atas” jawab Kahfi.


“itu keren” ucap Johan.


“ayo kita kesana” jawab Emilia dengan penuh semangat.


“sial, kenapa aku harus ikut dengan mereka?. Padahal aku ingin kesana dengan Odessa. Kalau sampai Emilia tau dengan Odessa, bisa bisa leherku dipatahkan oleh Emilia. Aku harus menjauhkan Odessa dari mereka semua” fikir Johan dalam hati.


“bagaimana kalau kita kesana hari senin? Besok adalah hari minggu dan aku ada urusan dengan temanku di desa. Jadi aku tidak akan di kota untuk seharian” jelas Johan.


“hah? kamu mau ke desa lagi?” tanya Emilia.


“hanya untuk sehari, dan kalian jangan beritahu mamahku kalau aku akan ke desa besok hari, oke!” ucap Johan.


“ta-tapi bagaimana kita memberitahukannya ke mamahmu jika mamahmu bertanya kepada kita semua?” tanya Farel.


“jadi, besok hari, kalian pulanglah ke rumah kalian masing masing. Dan bilang saja kalau aku ada di rumah kalian” jelas Johan.


“boleh juga” jawab Jehian.


“memangnya kau ada urusan apa di desa?” tanya Kahfi mulai sedikit curiga.


“apa kalian sudah mendengar tentang penebangan liar di desa dan aku yang menghentikannya? Setelah kejadian itu, aku pun membentuk suatu komite yang terdiri dari para pemuda seumuranku di desa untuk menjaga dan bersiaga di dalam hutan. Tujuannya adalah menghalau adanya penebangan liar disana. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan konsumsi yang sesuai dengan pekerjaan mereka” jelas Johan.


“apa itu benar?” tanya Kahfi.


“apa kau mau ikut sendiri ke desa untuk memastikannya?” tanya balik Johan.


“yaudahlah, terserahmu. Tapi kita tidak bisa berbohong terlalu lama. Kalau sampai mamahmu pergi ke rumah kami, kita tidak ingin berbohong lebih jauh lagi dan akan memberitahukan kepada mamahmu dengan jujur” tegas Kahfi.


“tenang saja, kalian bisa mengatakan hal yang sejujurnya kepada mamahku jika aku memang sudah ketahuan” jawab Johan.


“balik lagi ke topik tadi, menurutmu taman itu masih dalam pembangunan atau sudah diresmikan?” tanya Johan.


“sudah diresmikan dari sekian minggu yang lalu. Dan sekarang para pengunjung sudah bisa mengunjungi tempat itu” jawab Kahfi.


“waaah, tempatnya bagus juga ya” ucap Johan.


“mungkin aku akan mengajak Odessa kesana besok hari. Mungkin dia akan senang saat melihat ini. Aku sudah tidak sabar” fikir Johan dalam hati dengan begitu bersemangat.


5 menit berlalu mereka berbincang, saat itu mereka mendengar suara paman Surya yang sedikit berteriak dari lantai bawah memanggil mereka semua untuk makan. Paman Surya berteriak untuk mengajak Johan dan semua teman temannya untuk makan di meja makan tersebut.


“kalian semua, turunlah!. Cepat makan keburu dingin” teriak paman Surya dari bawah.


Spontan mereka semua segera turun dari kamar dan kemudian duduk di meja makan. Mereka duduk bersama dengan paman Surya dan sang ibunda yang tengah mengunyah makanan.


“kalian makannya lama banget, makanan kalian masih belum habis” ucap Johan.


“karena masakanmu yang bener bener mantap” jelas paman Surya mengacungkan jempolnya.


“apa yang kalian katakan, yang masak adalah kalian. Aku hanya menyiapkan bahan bahannya” jawab Johan.


“jangan merendah seperti itu. tidak ada yang bisa memasak masakan seenak ini selain nak Johan” sahut paman Surya.


Mereka semua segera mengambil piring dan kemudian mulai makan bersama di meja makan tersebut. Dengan canda tawa, mereka tertawa bersama dengan penuh kebahagiaan dan kehangatan. Selang 2 menit semenjak mereka menyuap makanan mereka, datanglah pak abdi dari pintu luar. Pak abdi tiba tiba masuk dengan membawa semacam bungkusan kantong plastik yang ia bawa dari luar.


“permisi, aku masuk” teriak pak Abdi membuka pintu depan.


“silahkan masuk” teriak Johan dari ruang makan.


Pak abdi pun segera melepas jaketnya dan meletakkannya di sofa ruang tengah. Sebelum itu, pak Abdi melepas sepatunya terlebih dahulu. Pak abdi pun duduk dengan dalam keadaan sedikit kelelahan dan dalam nafas yang ngos ngosan.


“mari pak, kita makan” jelas Emilia dari ruang makan.


“yaahh, kalian makan saja dahulu. Aku sudah kenyang” jawab pak Abdi.


“pak Abdi habis makan apa?” tanya Jehian.


“baru saja pak Abdi mengantarkan barang barang dari perusahaan ke cabang lainnya. Di cabang itu, pak Abdi di suruh makan makanan buatan mereka. Mereka memasak sate dan gulai. Padahal kadar kolestrol ku tinggi, tapi kenapa aku malah memakannya. Aku menyesal, benar benar sangat amat luar biasa menyesallllll‼!” ucap pak Abdi dengan begitu mendramatisir keadaan.


“gajelas sumpah” ucap Nyoman.


“ohh iya, nak Johan. Ada orang yang mencarimu di luar rumah. Aku sudah menyuruhnya untuk masuk tapi dia bilang kalau dia hanya ingin bertemu Johan sebentar. Temui dia sekarang, di luar sedikit gerimis” sahut pak Abdi.


“ehh? Siapa?” tanya Johan.