Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 54, Kekhawatiran Orang Rumah



Disisi lain, di kamar Johan, saat jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, mereka pun masih tertidur pulas di atas kasur mereka masing masing. Di saat itu pula sang ibunda dan paman Surya diperbolehkan pulang kerumah sepagi itu.


Jam 5 pagi, saat paman surya mengantarkan sang ibunda untuk pulang kerumah, mereka berdua menaiki mobil dengan memesan driver online. Saat itu juga, mereka pun sampai di depan pagar rumah Johan. Sang ibunda pun mengetuk pintu rumah dan tidak mendapati siapapun yang keluar.


Saat sang ibunda mencoba membuka pintu rumahnya, ia sedikit terkejut saat mendapati bahwa pintu tersebut tidak terkunci. Mereka berdua pun masuk dan kemudian melihat bahwasanya ada beberapa sandal dan sepatu yang tengah terjajar rapih di rak sepatu dekat pintu masuk.


“ini sepatu dan sandal siapa?” tanya sang paman Surya.


“mungkin ini adalah sepatu dan sandal dari teman teman Johan” jawab sang ibunda.


“Apa mereka menginap disini?” tanya sang paman Surya.


“aku menyuruh mereka untuk menjaga Johan di rumah agar Johan tidak memiliki pemikiran untuk pergi ke desa itu sendirian. Aku meminta tolong kepada teman temannya agar teman temannya itu bisa menemani Johan di rumah” jawab sang ibunda.


Mereka berdua pun segera berjalan menuju ke lantai atas dan hendak menuju ke kamar Johan hendak memberikan kejutan kepada mereka semua bahwa sang ibunda dan paman Surya sudah pulang dari rumah sakit. Saat ibunda dan paman surya berdiri di depan kamar Johan, mereka benar benar ingin menciptakan suasana yang seru dan bahagia karena menyambut kehadiran mereka berdua.


“mungkin mereka semua masih tidur di dalam” ujar sang paman Surya.


“maka dari itu, kita harus membangunkan mereka semua dan menyemangati mereka agar kita bisa masak masak dan makan makan di lantai bawah bersama” ucap sang ibunda dengan begitu semangat.


“justru kita harus membiarkan mereka untuk tidur lebih lama lagi” sahut sang paman Surya.


“sudahlah tidak apa apa, sesekali kita harus menyiksa mereka” ucap sang ibunda dengan nada begitu jahat.


“kurasa kau harus pergi ke psikiater” gumam paman Surya.


Di saat itu juga, sang ibunda pun seketika membuka pintu kamar Johan dengan begitu bersemangat. Sang ibunda dan paman Surya mendapati jika mereka semua sedang tidur dengan nyenyak di futon dan kasur mereka masing masing. Emilia yang berada di kasur atas itupun memasang raut muka sedikit kesakitan dan itu membuat paman Surya dan sang ibunda sedikit terkejut dengan ekspresi wajah Emilia yang lirih kesakitan itu.


Mereka berdua pun menghampiri Emilia yang saat itu tengah tidur di kasur atas dan mengecek suhu badannya. Setelah di cek, ternyata saat itu Emilia sedang demam tinggi. Mendengar hal itu, seketika sang ibunda pun mengambil kompres tempel instan yang telah tersedia di kotak P3K.


“dia benar benar panas” ucap sang ibunda.


“kau benar” jawab sang paman Surya.


Saat itu pula mereka pun mendapati semua teman temannya sedang tertidur pulas di futon namun tidak ada Johan disana.


“ehh, Johan kok gaada?” tanya sang ibunda.


“iya juga, apa dia memang sering bab pagi?” tanya sang paman Surya.


“aku juga kurang tau. Tapi kurasa dia sedang ada di dalam kamar mandi” ucap sang ibunda.


“mungkin juga” jawab sang paman Surya.


Di bawah terdapat 5 futon yang berjajar dimana keempat futon tersebut tengah diisi oleh Kahfi, Farel, Jehian dan Nyoman. Ada satu futon yang kosong dan futon tersebut adalah jatah milik Johan.


Setelah beberapa menit kemudian, Johan tidak kunjung kembali dari kamar mandi. Hal itu membuat sang ibunda sedikit cemas dan memutuskan untuk mengeceknya langsung ke kamar mandi bawah.


Sang ibunda memeriksanya sendiri di kamar mandi bawah dengan cara mengetuk pintu kamar mandi, tapi tidak ada satupun jawaban di dalamnya. Hingga sampai sang ibunda membuka pintu kamar mandi, ia terkejut bahwasanya tidak ada siapa siapa di dalam kamar mandi ini.


Sang ibunda pun mulai panik dan kemudian mencari Johan di semua tempat di rumahnya itu. Sang ibunda memeriksa sepeda kayuh dan motor Johan namun keduanya masih tetap terparkir di dalam garasi. Ia memeriksa di kamar sang papah dan kamarnya namun kedua kamar tersebut juga kosong.


Ia memeriksa di dapur, gudang, dan lain lain namun ia sama sekali tidak dapat mendapati Johan. Saat sang ibunda mencari Johan, ia benar benar tidak habis fikir dengan apa yang di lakukan Johan di jam sepagi ini. Sang ibunda kembali kedalam kamar Johan di lantai atas dan kemudian menyuruh paman Surya untuk mencarinya di luar rumah.


“Johan benar benar tidak ada di manapun. Apa kau bisa mencarinya di luar?” tanya sang ibunda.


“tenang saja, aku harus mencarinya dimana?” tanya sang paman Surya.


“biasanya Johan akan pergi ke supermarket dan kemudian duduk duduk di kursi taman. Kau carilah dia di taman atau di supermarket, aku akan berusaha menelfonnya dari rumah” ujar sang ibunda.


“baik” jawab sang paman Surya sedikit mengangguk.


Maka, paman Surya segera pergi menuju ke garasi bawah dan kemudian mengambil sepeda kayuh milik Johan dan kemudian beranjak pergi menuju ke supermarket dan ke taman. Sementara itu, sang ibunda saat itu benar benar tidak tega untuk membangunkan teman teman Johan dan memutuskan untuk menunggu sebentar lagi. Sudah hampir 20 kali sang ibunda menelfon ponsel milik Johan, namun hasilnya nihil tak berdering.


“bagaimana ini, bagaimana ini?” ucap sang ibunda seraya menempelkan ponselnya ke telinga dengan menggigit jari jarinya. Tatapan mata sang ibunda benar benar ketakutan dan panik. Ibunda benar benar panik berkeringat dingin dan begitu khawatir akan kondisi Johan.


“dimana Johan? Dimana dia? apa jangan jangan dia kabur saat aku membentaknya kemarin? Sudah dua kali aku membentaknya dan membuatnya kabur dari rumah. Aku takut jika dia tidak kembali dengan selamat. Kemarin malam benar benar deras. Aku takut klaau Johan demam karena kehujanan. Apa Johan sudah makan? apa Johan kedinginan?” fikir sang ibunda menggigit jari jarinya.


“Johan, jawab telfon mamahmu ini, nak” ucap sang ibunda dengan raut muka yang begitu risau khawatir. Dekat jantung sang ibunda benar benar sudah terlewat cepat. Sang ibunda benar benar takut akan apa yang akan terjadi kepada Johan jika Johan keluar rumah sendiran.


Saat itu pula, Emilia yang tertidurpun segera terbangun sebab mendengar ucapan sang ibunda yang tengah duduk di samping kasurnya itu. Emilia membuka mata dan mendapati jika sang ibunda Johan tengah duduk di kasurnya dan dalam keadaan begitu khawatir.


“ta-tante?” ucap Emilia dengan suara serak basahnya.


“ehh? Nak Lia? Apa kamu udah bangun? Apa kamu masih pusing?” tanya sang ibunda.


“kalau begitu, kembalilah tidur” ujar sang ibunda.


“eh? Apa aku demam?” tanya Emilia seraya memegang kompres tempel di dahinya.


“badan kamu sedikit panas tadi. Jadi tante kasih kamu kompres biar agak mendingan. Sekarang duduklah dan minum air putih yang banyak” ucap sang ibunda seraya memberikan sebotol air mineral di dalam tasnya.


“baik, terimakasih banyak, tante” ucap Emilia menerima air tersebut dan kemudian berusaha duduk di kasurnya itu. Saat Emilia membuka segel botol air mineral itu dan kemudian meneguk air putih tersebut, secara tiba tiba sang paman Surya berlari masuk ke dalam kamar dengan nafas yang ngos ngosan seraya melaporkan Johan kepada sang ibunda.


“Johan tidak ada di mana mana” ucap sang paman Surya dengan nafas yang ngos ngosan.


Mendengar hal itu, Emilia benar benar terkejut bukan main dan kemudian tersedak sat minum. Emilia batuk batuk seraya memukul dadanya sendiri. Mendengar hal itu, seketika Emilia melihat kelima futon yang ada di bawah dan mendapati jika hanya ada futon yang sedang ditempati oleh Kahfi, Jehian, Nyoman dan Farel.


“di-dimana Johan?” tanya Emilia.


“seharusnya tante yang bertanya seperti itu sama kamu” ucap sang ibunda.


Sesaat setelah itu, Emilia pun beranjak dari kasurnya dan kemudian mengambil bantal di atas kasur tersebut. Seketika saat itu Emilia pun memukuli kepala Jehian dengan bantal beberapa kali hingga Jehian terbangun.


“tolong, meteorrr” teriak Jehian dalam kondisi masih tidak sadarkan diri.


“heh, bangun bodoh!” teriak Emilia dengan masih memukuli kepada Jehian.


Sesaat setelah itu, Jehian pun membuka matanya secara tiba tiba. Namun secara tiba tiba pula Emilia masih memukul kepala Jehian dengan keras. Hal itu membuat refleks Jehian tidak mampu mengimbangi pukulan tersebut dan pada akhirnya bantalnya pun mengenai mata Jehian.


“aaahhhh matakuu. Kenapa kau malah memukulku, dasar belalang kupu kupu” teriak Jehian.


“habisnya kau tidak bangun bangun” ucap Emilia.


“aku harap mataku masih bisa melihat masa depan walaupun masa depanku begitu gelap layaknya blekhol” ucap Jehian.


Sesaat setelah itu, Emilia pun mulai membangunkan semua teman temannya satu persatu. Emilia membangunkan Farel, membangunkan Nyoman dan kemudian membangunkan Kahfi. Saat mereka semua terbangun, mereka benar benar terkejut jika di dalam kamar mereka sudah terdapat sang ibunda bersama dengan paman Surya.


“ehh? Paman Surya?” ucap Kahfi.


“selamat pagi” jawab paman Surya.


“dari kapan kalian pulang kerumah?” tanya Farel.


“baru aja, tadi jam 5 pagi” jawab sang paman Surya.


“ehh, dimana Johan?” tanya Nyoman seraya melihat futon milik Johan yang masih kosong.


“seharusnya aku yang tanya begitu kepadamu” ucap Emilia.


“ehh? Bukannya Johan tidur lebih dulu dari kita? iyakan?” ujar Nyoman.


“iya, dia tidur duluan daripada kita. Kita berempat sedang pusreng sedangkan Johan tidur terlebih dulu. Dia tidur dengan begitu berisik” ucap Jehian.


“kalau tidak salah, dia tertidur satu jam sebelum kita semua tidur. Sedangkan Emilia sudah tertidur lebih dahulu” ucap Kahfi.


“itu karena aku tidak enak badan” sahut Emilia


“Johan bilang kalau dia sudah benar benar capek” ucap Farel.


“apa kalian tidak mendengar Johan pergi dari rumah?” tanya sang ibunda.


“sama sekali tidak. Bahkan kita tidak menyadari kalau Johan sudah tidak ada di samping kita” jawab Jehian.


“apa kau menyadarinya?” tanya sang paman surya kepada sang ibunda.


“ada apa?” tanya sang ibunda.


“lampu dapur dan lampu ruang tamu menyala saat kita baru saja datang. Kalau Johan keluar saat pagi hari, dia tidak akan menyalakan lampu. Dia pasti keluar saat matahari masih jauh dari kata terbit. Dan juga saat kita datang, bahkan dia tidak mengunci pintu rumah. Itu menandakan kalau Johan hanya keluar sekali dari rumah dan tidak pernah pulang sama sekali sampai sekarang. Bisa dibilang, Johan pergi namun belum pernah pulang” jelas sang paman Surya.


“tajem banget pemikirannya” ucap Farel.


“paman suyra benar. Sebelum kita semua tertidur, Johan turun kebawah hanya untuk mematikan lampu tengha dan dapur kemudian kembali ke dalam kamar ini” sahut Kahfi.


“ohh iya, aku ingat sekali dia melakukan itu. kira kira, Johan kemana ya?” tanya Jehian.


“dasar Johan, kamu kemana? Pulang nak!” ucap sang ibunda masih dengan berusaha menelfon ponsel Johan.