
Beberapa menit kemudian, mereka pun akhirnya selesai membaluri tubuh mereka dengan sabun dan kemudian hendak membilas tubuh mereka menggunakan air.
“jarang sekali kita bisa mandi bareng seperti ini” ucap Johan.
“lain kali kita akan mandi bareng lagi, oke?” tanya Jehian dengan begitu semangat.
“tidak akan” teriak spontan Kahfi.
“heh Johan” kata Jehian.
“ada apa?” tanya Johan.
“apa kau mengenal perempuan yang bernama Callysta?” tanya Jehian.
“nggak” jawab Johan.
“apa kau pernah mendengar namanya?” tanya Jehian.
“nggak” jawab Johan.
“apa kau pernah-“ ucap Jehian terhenti.
“kalau kubilang nggak ya enggak!” ucap Johan tersulut emosi.
“leh kok ngamok?” ucap Jehian dengan suara lantangnya.
“dasar Jehian, dia saja bahkan tidak tau siapa perempuan yang kau maksud” ucap Kahfi.
“kenapa kau begitu ingin mengejarnya?” tanya Farel.
“karena dia telah melambaikan tangannya kepadaku” jawab Jehian dengan pipi yang memerah.
“pppfffftttt” ucap mereka semua menahan tawa.
“heh? Ada apa dengan kalian? ini adalah suatu keajaiban dimana jomblo bertahun tahun akan mengakhiri siklus kejombloannya” ucap Jehian.
“jangan terlalu banyak bermimpi” jawab Nyoman seraya membilas tubuhnya menggunakan air.
“tapi dia sudah melambaikan tangannya kepadaku, jadi aku terbawa perasaan. Mungkin saja dia punya perasaan yang sama denganku” ucap Jehian dengan perasaan penuh berharap.
“bermimpi boleh saja, tapi jangan sampai menjadi kacang lupa kulit” ucap Johan.
“tenang aja, aku kacang hijau kok” ucap Jehian diikuti oleh tawa semua temannya.
Beberapa menit kemudian, mereka pun akhirnya menyelesaikan mandi panjang mereka. Benar benar asyik karena saat itu Jehian benar benar membawa suasana menjadi sangat asyik hingga Johan tidak bisa mengingat kesedihannya lagi. Bagaimanapun juga, Johan sangat amat bersyukur karena memiliki teman seperti mereka yang selalu menghiburnya selalu di manapun dna kapanpun Johan sedang bersedih.
Mereka pun keluar dari kamar mandi hanya mengenakan sebuah handuk yang menutupi bagian bawah mereka. Pada dasarnya, mereka sama sekali tidak membawa pakaian ganti, maka dari itu Johan memutuskan untuk meminjamkan pakaian untuk mereka.
Johan dan semua temannya pun akhirnya memasuki kamar di lantai atas. Johan saat itu membuka dengan tangan kirinya yang saat itu sudah tidak ada perban yang melilit karena Johan melepasnya saat mandi. Mereka pun mendapati kalau semua futon dan spray selimut kasur Johan sudah siap. Itu karena Emilia sendiri yang menyiapkannya sebelumnya.
“apa kau sendiri yang melakukannya?” tanya Kahfi.
“hmm, aku melihat caranya dari YouTube dan kemudian mempraktekannya. Tapi mungkin futon milik Jehian agak sedikit berantakan. Jadi kau bisa memperbaikinya sendiri” ucap Emilia.
“apa kau juga memasang spray dan selimut di kasur milik Johan?” tanya Kahfi.
“iya” jawab Emilia menganggukkan kepalanya.
“te-terimakasih banyak” ucap Johan.
“ehh, it-itu tidak apa, santai aja” ucap Emilia sedikit menganggukkan kepalanya.
“rambut Johan yang masih basah dan berantakan, ditambah lagi dengan kulit putih Johan membuat jantungku benar benar berasa seperti ingin meledak. Benar benar memang satu satunya. Dan tidak akan pernah tergantikan. Jika ada yang menggantinya, kurasa yang akan memutuskannya adalah aku sendiri” ucap Emilia dalam hati.
“kalau begitu, kita akan mengganti pakaian kita” ucap Johan.
“yapp, aku yang akan menggantinya” sahut Emilia dengan suara lantang.
“ehhhhh?” teriak mereka semua begitu terkejut.
“kak Lia, kau sudah keterlaluan” ucap Kahfi menatap tajam mata Emilia.
“ma-maaf, aku salah ucap. Maksudku silahkan masuk, aku akan keluar” ucap Emilia berlari menutupi wajahnya yang memerah malu.
“apa yang ku katakan, aku malah salah tingkah saat melihat Johan yang dalam keadaan seperti itu” fikir Emilia dalam hati.
Saat itu pula Johan dan semua teman temannya pun segera menutup pintu kamar dan mengenakan pakaian mereka masing masing. Dikarenakan mereka semua tidak membawa pakaian ganti, maka dari itu untuk sementara Johan meminjamkannya kepada teman temannya.
“kalian pakailah piyamaku. Aku punya banyak” ucap Johan.
“siap” jawab Jehian.
Selepas mereka mengenakan piyama, Johan menyuruh mereka semua untuk tetap di dalam kamarnya sementara dirinya hendak berbicara empat mata dengan Emilia.
“ada yang harus kubicarakan dengan Emilia dibawah, kalian tetap disini” ucap Johan seraya berjalan keluar kamar.
Saat itu, Johan pun berjalan dengan begitu perlahan seraya melihati telapak tangan kirinya yang saat itu masih terdapat sebuah tato dari Greisha. Selepas itu, Johan mendapati jika saja Emilia berada di ruang tengah sedang duduk di sofa sembari bermain ponsel miliknya.
“sekarang sudah malam, walau kamu adalah perempuan, tapi kamu bisa pake piyamaku kok” ucap Johan berjalan mendekati emilia.
“makasih banyak, tapi aku sedikit tidak enak badan malam ini. Mungkin aku tidak mandi malam” jawab Emilia.
“kalau masih tidak enak badan, minumlah paracetamol di kotak P3K. Obat itu sedikit membuat kantuk” ucap Johan dengan seketika duduk di samping Emilia.
“itu tidak perlu, makasih banyak” jelas Emilia.
“emm, Emilia. Ada yang harus ku bicarakan denganmu masalah yang tadi” ucap Johan dengan begitu gugup.
“aku tadi begitu tempramental karena alasan yang begitu tidak jelas. Aku juga sudah terlalu banyak berbohong kepada kalian semua karena menurutku akan begitu tidak penting jika memberitahukan semuanya kepada kalian. Maka dari itu, aku sungguh ingin minta ma-“ ucap Johan terhenti.
“yang lalu biarlah berlalu” sahut Emilia seraya menempelkan jari telunjuknya di bibir Johan.
“Kamu benar. Itu adalah salah satu yang sangat benar. Tapi kamu mengatakannya seolah olah itu adalah hal yang mudah untuk dilakukan” ucap Johan.
“tenang saja, selama ada orang yang kau cintai di sampingmu, kau akan melupakan segalanya dan akan selalu memikirkan tentang perempuan yang kau sukai itu” ucap Emilia.
“sesungguhnya, aku sangat ingin duduk berdua denganmu seperti ini, Johan” fikir Emilia dalam hati seraya menatap lembut kedua mata Johan.
“kau benar, saat aku duduk bersama dengan perempuan yang kusukai, aku merasa kalau semua beban yang ada di pundakku berasa menghilang” ucap Johan dengan senyum lebarnya.
“sesungguhnya, aku sangat ingin pergi ke desa dan kemudian bertemu dengan Odessa” fikir Johan seraya membayangkan wajah Odessa Ai dari lubuk hatinya.
“jadi, apa kamu nggak marah sama aku?” tanya Johan dengan suara begitu merendah.
“kenapa juga aku harus marah sama kamu?” tanya balik Emilia dengan sedikit tertawa.
Sesaat setelah itu, Emilia pun meletakkan kepalanya di atas bahu Johan seperti apa yang telah ia lakukan sebelumnya di dalam mobil. Emilia dengan begitu mengantuk meletakkan kepalanya di pundak sebelah kiri Johan seraya mematikan ponselnya sendiri.
“heh Johan” ucap Emilia dengan kepala yang berada di pundak kiri Johan.
“ada apa?” tanya Johan.
“kapan kira kira kamu bisa masuk sekolah lagi?” tanya Emilia.
“aku juga kurang tau, tapi sepertinya aku tidak akan naik kelas karena aku terlalu banyak bolos” jawab Johan.
“pokoknya kamu harus naik kelas” ucap Emilia.
“siap, kanjeng” jawab Johan dengan sedikit tawanya.
Perlahan, mata Emilia sudah benar benar di ambang kantuk. Pada akhirnya, Emilia pun tertidur di atas pundak Johan. Melihat hal itu, Johan pun begitu sedikit menyayangkan akan Emilia yang memiliki rasa kepadanya namun dirinya tidak memiliki perasaan yang sama kepada Emilia.
“ma-maaf, Emilia. Aku sekalipun tidak menyukaimu dan hanya menyukai odessa” fikir Johan seraya mengusap kepala Emilia.
“jangan lepaskan tanganmu dari kepalaku, terus elus aku. sentuh kepalaku dengan tangan hangatmu itu” fikir Emilia dalam hati.
Sesaat setelah itu, Johan pun mengangkat tubuh Emilia dan kemudian berjalan memasuki kamarnya yang berada di lantai atas. Johan membuka pintu kamarnya dan kemudian mendapati kalau saja semua teman temannya sedang rebahan santuy di futon mereka masing masing seraya menatap langit langit kamar.
“kalian benar benar sudah seperti beban keluarga” ucap Johan seraya menggendong tubuh Emilia.
“jangan berisik, kau harus merasakannya sendiri. ini benar benar tenang” ucap Jehian.
“dia benar, entah kenapa aku benar benar sangat luar biasa tenang dan damai” jawab Nyoman.
“rasanya aku bisa menghirup udara dengan begitu leluasa” ucap Kahfi dengan menghembuskan nafas begitu lega.
“kita bahkan tidak ingin berbicara karena itu bisa merusak ketenangan kita” ucap Farel.
“iya, kau benar. Kita benar benar sangat tenang. Ini nyaman sekali. Sangat amat nyaman. Luarbiasa nyaman” ucap Jehian.
“terserah kalian” sahut Johan seraya meletakkan tubuh Emilia di ranjang kasurnya.
“ehh? Ternyata Emilia udah tidur” ucap Jehian seraya melirik ke arah Johan.
“daripada dia tertidur di sofa ruang tengah, lebih baik dia tidur di kasurku saja” jawab Johan.
“kau harus merasakannya bersama kita semua. Ini benar benar kimochi” ucap Farel.
“sebentar, aku mau kunci pintu bawah dan matikan lampu” ucap Johan seraya berjalan keluar kamarnya.
Selepas itu, Johan berjalan ke bawah hanya sekedar mengunci pintu rumah dan mematikan semua lampu bawah. Setelah Johan melakukan semua tugasnya, sudah saatnya untuk tubuhnya beristirahat. Pada dasarnya, ini masih jam 9 malam dan biasanya di jam seperti ini, Johan baru saja terbangun dan melakukan aktivitas malamnya.
Johan pun segera memasuki futon miliknya yang berada di paling samping kanan sebelah lemari. Johan memasukkan kakinya kedalam selimut dan kemudian membentangkan kedua kakinya di dalam sana. Johan benar benar sangat menikmati waktu istirahatnya ini. Pada dasarnya Johan sudah benar benar kelelahan dan begitu lemas. Maka dari itu , Johan begitu luarbiasa menikmati di dalam nyaman dan hangatnya futon.
“ahhh, enaknya” ucap Johan seraya melemaskan tubuhnya di futon tersebut.
“bagaimana? Enak kan?” tanya Jehian.
“harusnya aku yang tanya begitu kepada kalian. Bagaimana rasanya mencoba futon untuk yang pertama kalinya?” tanya balik Johan.
“sebenarnya aku sudah menginginkan ini dari dahulu. Itu karena saat aku menonton anime Tonikaku Kawaii, disana banyak sekali adegan yang menunjukkan adanya futon. Maka dari itu, aku sangat menikmati untuk yang sekarang” jawab Farel.
“sama” ucap Jehian.
“sama, aku juga” ucap Nyoman.
“aku tidak menonton anime, jadi aku tidak tau apa maksud kalian” ucap Kahfi.
“kalau kalian masih ingin bersemedi seperti ini, terserah kalian. Aku sudah benar benar mengantuk dan pengen tidur. Selamat tidur para beban keluarga” ucap Johan memejamkan matanya.
“hmm, selamat tidur juga badut” ucap Kahfi.
Namun sebelum itu, Jehian mematikan lampu kamar tersebut hingga kamar tersebut benar benar gelap gulita. Saat itu pula Johan meletakkan lengan kanannya di atas kedua matanya. Saat itu pula, Johan pun tertidur dengan begitu pulas. Diikuti oleh teman temannya, satu persatu dari mereka pada akhirnya tertidur disana.
Jam 12 malam, dimana saat itu turun hujan yang lebat, suara berisik dari tetesan air yang menjatuhi seng di depan rumah Johan begitu berisik. Namun hal itu sama sekali tidak membuat tidur mereka terganggu. Johan begitu nyenyak dari tidurnya karena saat itu dirinya lagi lagi bermimpi bertemu dengan Greisha, sang dewi alam.
“aku kembali kesini lagi” ucap Johan berada di dunia mimpinya.
“selamat datang” ucap Greisha seketika berjalan menghampiri Johan.
“akhirnya kau datang” ucap greisha dengan nada yang begitu lega.
“ehh? Ada apa?” tanya Johan.
“aku ingin memberitahukan sesuatu dan ingin menyuruhmu sesuatu sekarang juga” ucap Greisha dengan ekspresi begitu panik.
“melakukan apa? Kau sepertinya sedang buru buru. Ada apa? Biasanya kamu tiduran di rerumputan dan menikmati langit bir-“ ucap Johan terhenti.
“sekarang bukan waktunya untuk bersantai santai” sahut Greisha sedikit gegabah.
“ehh? Ada apa memangnya?” tanya Johan sedikit panik.