Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 49, Pembahasan Hutan dan Wasiat Kakek



Johan pun melihat cover dari buku tersebut tersbuat dari kulit berwarna cokelat tua dengan motif layaknya batik namun model ukirannya jauh lebih rumit dari batik biasa. Hal itu yang membuat Johan tertarik dengan buku ini.


Johan membuka buku tersebut dan hanya mendapati adanya tulisan kuno yang sama sekali tidak bisa dibaca oleh Johan. Tulisan yang sangat mirip dengan tulisan yang berada di benda artefak tua membuat Johan tidak habis fikir dengan cara membacanya.


Tanpa fikir panjang, Johan pun dengan cepat membalikkan halaman buku satu persatu dan berharap jika di dalam buku tersebut ada gambaran yang mungkin bisa Johan ingat. Pada di pertengahan buku, Johan mendapati adanya motif layaknya simbol kuno. Beberapa simbol yang muncul serasa tidak asing bagi Johan.


Ditengah tengah kertas, Johan mendapati adanya lukisan berbentuk simbol kuno. Dimana semakin Johan membalikkan halaman buku tersebut, maka Johan akan menemukan simbol yang lain. hanya ada satu simbol, tanpa ada tulisan apapun di satu halaman kertas. Simbol yang terletak di tengah bagian kertas tanpa adanya tulisan sedikitpun di samping simbol tersebut membuat simbol tersebut semakin jelas saat dipandang.


“wahh, ini beberapa simbol” ucap Johan.


“di halaman ini, simbolnya berbentuk seperti api yang berada di dalam satu tetesan air” ucap Johan.


“di halaman berikutnya, simbolnya berbentuk seperti matahari dengan bintang di sekelilingnya” ucap Johan.


“di halaman baliknya, simbolnya berbentuk seperti yoyo? Ehh nggak, itu lebih mirip seperti kail pancing? Ahh gatau ah, nggak jelas” ucap Johan.


“di halaman berikutnya, simbolnya berbentuk seperti bulu dan rantai” ucap Johan.


“di halaman berikutnya, simbolnya seperti mata yang berwarna merah dikelilingi oleh garis garis aneh” ucap Johan.


“di halaman berikutnya, simbolnya seperti bentuk kepala manusia dengan kepala yang menyerupai bentuk mikroskopis salju” ucap Johan.


“dan terakhir, bentuknya seperti batang pohon dengan dedaunan yang mirip dengan rambut singa” ucap Johan.


“ehh? Pohon dengan rambut singa? POHON DENGAN RAMBUT SINGA‼!” teriak Johan begitu terkejut.


Johan pun segera membuka perban yang menutupi telapak tangan kirinya. Seketika itu pula, Johan pun membandingkan tato yang diberikan oleh Greisha dengan gambar di dalam buku tersebut. Betapa terkejutnya Johan ketika mendapati bahwasanya tato yang berada di telapak tangan kirinya benar benar begitu mirip dengan simbol di dalam buku tersebut.


“ti-tidak mungkin. Sebenarnya ini buku apa?” tanya Johan dengan detak jantung yang begitu kencang berdetak.


Johan pun seketika menutup buku tersebut dan kemudian mengembalikannya ke dalam rak buku semula. Johan kembali duduk di tempat duduknya itu seraya berfikir keras tentang apa sebenarnya buku tersebut.


“ini adalah tato pemberian dari Greisha, sang dewi alam” fikir Johan dalam hati.


“jadi, kalau begitu, apa yang ada di dalam buku tersebut?” fikir Johan begitu keras.


“aku yakin, para tetua itu pastinya tau maksud dari simbol yang ada di tangan kiriku ini. Aku akan menunjukannya kepada mereka berempat” fikir Johan dalam hati.


Tidak lama setelah itu, Johan mendapati keempat tetua sudah sampai di dalam ruangan itu dengan posisi mata yang begitu suntuk karena baru saja terbangun dari tidur. Tubuh mereka masih begitu lemas karena baru saja tidur hanya untuk beberapa jam yang lalu.


“hooaaahhmmm” nguap semua tetua disana.


“ma-maaf telah menganggu tidur kalian” teriak tegas Johan seraya menundukkan kepalanya.


“cepat, apa yang ingin kau katakan? Apa yang begitu penting sampai kau kemari di tengah malam seperti ini?” tanya sang bendahara dengan badan yang masih membungkuk.


“sebelumnya, aku ingin kalian minum air putih terlebih dahulu, karena aku yakin kalau ini akan sedikit agak lama. Aku ingin kalian berempat tetap fokus” ujar Johan.


“hmm, iya” ucap sang sekertaris.


Saat itu pua Johan pun memberikan empat botol air mineral yang telah ia beli sebelumnya di warung tempat dirinya membeli kopi bersama dengan sang sopir di halte bus. Johan pun menyuruh mereka untuk meminum air tersebut. Mereka berempat pun akhirnya meminum air putih tersebut seraya duduk di kursi mereka masing masing.


“kalau sudah segar, aku akan membicarakan satu hal yang penting” sahut Johan.


“Ada apa?” tanya sang wakil.


“sebelumnya, aku ingin memberitahukan sesuatu kepada kalian mengenai kondisi keamanan dari hutan ini. Hutan ini benar benar tidak ada pengamanan yang khusus. Apalagi setelah adanya kebakaran hutan. Banyak sekali warga di desa ini yang mengungsi di tempat ini karena tempat tinggal mereka hangus terbakar. Oleh karena itu, banyak warga yang memang dari awal mata pencahariaannya berasal dari hutan menjadi hilang dan bisa dibilang kehilangan pekerjaan. Hal itu bisa mengakibatkan kurangnya keamanan yang ada di dalam hutan ini” jelas Johan.


“teruskan statement mu” ujar sang ketua.


“aku ingin memberitahukan sesuatu kepada kalian, bahwasanya saat ini telah terjadi penebangan hutan besar besaran di hutan kita. Dikarenakan saat ini masih terjadi hujan yang begitu deras, maka dari itu para penebang sedang beristir-“ ucap Johan terhenti.


“sebentar dulu, maaf mencela perkataanmu. Tapi kau mendapatkan informasi ini dari mana? Dan juga siapa yang memberitahukan ini kepadamu?. Apakah kau memiliki bukti yang kuat atas adanya tuduhan tentang penebangan liar di hutan ini?” sahut sang wakil.


“ada seseorang yang memberitahukan ini kepadaku, maka dari itu aku segera pergi dari rumah dalam kondisi masih sakit dan memaksakan tubuhku untuk pergi kemari” tegas Johan.


“pokoknya ada seseorang yang memberitahukan kepadaku. Jika aku menceritakannya kepada kalian, aku yakin kalian tidak akan percaya. Aku ingin kalian segera melindungi hutan ini dari pembabatan hutan” tegas Johan.


“sebelum itu, kalau kita ingin menjaga agar hutan ini terlindungi, pastinya kita membutuhkan tenaga manusia yang harus bisa terjaga untuk selalu menjaga hutan ini. Namun, berbicara seperti itu tidak semudah saat dilakukan” ucap sang sekertaris.


“maksudnya?” tanya Johan.


“saat ini, para pengungsi sedang kelaparan, dan puji tuhan baru saja kita mendapatkan suplay makanan dari bantuan yang datang dari kota. Untuk sementara waktu, kita bisa menutupi kelaparan warga yang tengah mengungsi disini” ucap sang bendahara.


“pertanyaan untuk bendahara, apakah dana dari desa tidak cukup untuk mencukupi kelaparan warga yang mengungsi?” tanya Johan.


“sebenarnya, kita sudah memiliki dana yang cukup besar untuk menutupi krisis pangan para warga disini bahkan untuk berbulan bulan. Namun faktanya, kita lebih mengepentingkan pembangunan rumah. Itu karena kita merasa kalau dari sekian banyaknya bantuan yang diberikan dari kota besar lain, kebanyakan berupa bahan pangan dan tidak berupa dana berupa uang. Maka dari itu, dengan dana desa, kita memutuskan untuk membangun sebuah layaknya panti atau rumah susun agar bangunan itu mampu menampung ratusan orang yang ada disini. Dengan adanya panti, maka semakin banyak orang yang mampu bekerja dengan normal seperti biasa dan pada akhirnya mereka bisa menutupi krisis ekonomi mereka masing masing. Jika di sangkutpautkan mengenai kompensasi, sebagai pengurus desa, sudah seharusnya kita mengambil kompensasi dari kepala negara secara langsung atas tuntutan kepada pelaku pembakaran hutan. Tapi sayangnya, pelaku sudah ditemukan meninggal sebelum kita mampu menuntut kompensasi dari pihak pengadilan” jelas sang bendahara.


“jadi, kalian masih mengutamakan pembangunan rumah untuk para pengungsi disini?” tanya Johan lebih jelas.


“itu rencana kami. Kita sudah mengkoordinasikan dengan pekerja proyek setempat dan besok hari adalah hari dimana kita akan membangun banyaknya panti untuk anak anak kecil dan beberapa rumah layaknya sebuah kamar kost sederhana. Itupun hanya untuk sementara” jelas bendahara.


“baiklah, kalau begitu, kalian sudah bekerja dalam pembangunan rumah. Tapi apa kalian sudah menjamin adanya suplay pangan dari luar kota?” tanya Johan.


“sebelumnya, kita berempat sudah bersumpah agar kita tidak menggunakan uang hasil donasi seluruh masyarakat dari bantuan bencana kebakaran hutan ini. Hasil dari donasi tersebut sebagian besar kita gunakan sebagai pemenuhan standar gizi bagi anak dibawah umur dan para lansia. Sisanya, untuk para orang dewasa disini, kita memberikan jatah yang lebih sedikit demi penghematan pengeluaran” jawab bendahara.


“apa kau memiliki buku jurnalnya?” tanya Johan.


“semuanya sudah saya catat di buku jurnal pendapatan dan pengeluaran. Dan puji tuhan, dengan adanya program yang kita lakukan barusan, kita bisa melihat bahwasanya presentase naik turunnya pendapatan kita sudah lebih mendominasi ke arah naik. Bisa dibilang, upaya penghematan kita berlangsung dengan lancar tanpa adanya keluhan dari pihak warga pengungsi” jawab bendahara.


“itu benar benar sangat baik, saat ini kita membahas tentang upaya penebangan hutan secara liar. Dikarenakan kondisi desa kita yang masih memprihatinkan, maka dari itu kondisi seperti ini benar benar di pergunakan dan dimanfaatkan oleh orang orang yang hanya ingin mau nya saja. Mereka membabat hutan disaat kita lengah akan pembenaran mengeenai para warga yang mengungsi” ucap Johan.


“lantas, bagaimana cara pencegahan yang ingin kau lakukan?” tanya sang wakil.


“aku ingin mempergerakkan para warga yang mengungsui hanya untuk berjaga” ucap Johan.


“maaf, tapi kau tidak bercanda kan? Kau jauh jauh pergi dari kota hanya untuk meminta agar hutan ini tidak di tebang? Dan meminta warga yang sedang kelaparan untuk berjaga siang dan malam?” tanya sang wakil.


“aku tau ini permintaan bodoh, tapi kita tidak bisa membiarkan pohon ini di tebang seenaknya” ujar Johan.


“baik, aku akan memberitahukan konsekuensi bagaimana jika kita mengerahkan para warga untuk berjaga di seluruh hutan. Jika saja, kita mengerahkan para orang tua yang saat ini masih dalam keadaan yang bisa dibilang kekurangan gizi dalam makanannya, mereka tidak akan bisa bekerja dengan baik. Dan apabila kita tetap mengerahkannya, kita sama saja membunuh manusia yang tidak berdosa itu. Kita menyuruh mereka untuk berjaga siang dan malam sementara mereka tidak diberi upah yang bahkan tidak bisa mencukupi gizi mereka. Mereka akan jatuh sakit dan banyak yang tidak sadarkan diri. Bahkan mereka bisa saja di terkam oleh binatang buas saat kondisi mereka masih sungguh lemas. Jika saja korban semakin banyak yang berjatuhan, dan semakin banyak yang sakit sakitan, biaya yang akan dikeluarkan untuk pengobatan mereka akan jauh lebih besar dan bahkan kita bisa menghancurkan bahkan membatalkan proyek kita untuk membangun beberapa bangunan untuk mereka tidur dengan nyaman dan nyeyak. Itu semua demi alasan yang tidak masuk akal yaitu menjaga hutan dari penebangan hutan yang bahkan kita tidak tau apakah memang ada orang yang menebangi hutan atau tidak” jelas bendahara itu.


“aku faham kondisinya, aku tau ini permintaan yang sangat bodoh. Tapi aku hanya ingin menyelamatkan para pohon itu” ucap Johan menetskan air matanya.


“kenapa kau begitu peduli dengan para pohon itu?” tanya sang ketua.


Saat itu pula, Johan pun benar benar kehabisan jawaban atas pertanyaan mendesak dari mereka. Bagaimanapun juga, Johan sama sekali tidak bisa mengandalkan keberadaan Greisha. Johan pun terlalu terpojokkan oleh pertanyaan yang begitu mendesak. Johan berfikir kalau mereka tidak akan mengerti perihal dewi alam maupun Greisha.


Namun seketika itu pula, Johan pun teringat akan buku yang ia temukan di rak buku ruangan tersebut. Terbesit dalam lubuk hati Johan akan bagaimana jika Johan menunjukkan simbol tato yang ada di telapak tangan kirinya itu kepada mereka berempat. Namun sebelum itu, Johan berfikir untuk menanyakan mengenai buku yang menggambarkan simbol milik Johan tersebut.


Johan seketika berdiri dan kemudian berjalan menuju ke rak buku dan mengambil buku kuno tersebut. Sesaat setelah itu, Johan pun meletakkan buku tersebut di hadapan mereka dalam kondisi terbuka pada halaman dimana halam tersebut menggambarkan simbol yang dimiliki Johan.


“aku ingin menanyakan kepada kalian, apa maksudnya ini” ucap Johan seraya menunjuk ke arah buku.


“ini adalah buku peninggalan kakekmu, dan semua huruf serta simbol di buku ini hanyalah beliau yang mengerti” jawab sang ketua.


“apa kalian yakin?” tanya Johan seraya mengangkat telapak tangan kirinya. Johan pun menunjukkan telapak tangan kirinya kepada mereka berempat dengan perlahan membuka jari jari yang tengah menggenggam.


Melihat simbol tersebut, mereka pun terkejut bukan main. Seketika itu pula mereka mengingat wasiat dari sang kakek yang diucapkannya sebelum beliau meninggal. Mereka berempat adalah saksi dimana detik detik sang kakek mengucapkan wasiatnya kepada mereka berempat.


“simbol kuno murni dari leluhur Engkobappe bermakna Wajayeja Valesveva yang berada di kawasan Valesveva Akuman yang hanya didapatkan dari sentuhan tangan secara langsung dari sang Dewi Alam, Greisha. Kau adalah satu satunya manusia yang mampu menjarahi Willsh sebagai penebusan nyawa selama dunia roh belum mati dan Greisha masih belum keluar dari tahta. Sambutlah jiwa murni dari para alam yang menyambutmu” ucap sang ketua.


“apa kalian mengerti simbol ini?” tanya Johan sedikit terkejut.


“kita sama sekali tidak mengerti satupun simbol yang ada di buku ini, bahkan kita sama sekali tidak mampu menerjemahkannya. Tapi kita mengingat wasiat sang kakekmu” jawab sang ketua.


“apa katanya?” tanya Johan.