
“kami pulang” teriak Johan melangkahkan kaki memasuki rumah.
“wuihh, paman Surya sudah berpakaian polisi seperti itu, paman mau kemana?” tanya Odessa.
“dikarenakan tubuhku sudah pulih, aku tidak boleh terus malas malasan dan harus kembali bekerja. Kebetulan sekali, malam ini paman sedang ada dalam misi” ucap paman Surya membanggakan dirinya sendiri.
“waahhh, misi? Apa misi paman Surya untuk menangkap para hackers kejam yang akan menguasai sistem keamanan negara? Apa paman Surya akan pergi untuk menjadi intel dan memata matai musuh? Apa paman Surya akan menjadi seor-“ ucap Johan dengan semangatnya itu.
“paman tidak akan melakukan tugas merepotkan itu” sahut paman Surya memotong ucapan Johan.
“paman mau kemana?” tanya Odessa.
“paman disuruh patroli menjaga keamanan daerah pedesaan. Dan itupula karena atasan paman yang menyuruhnya. Padahal sekarang ini hari libur, tapi entah kenapa paman hari ini disuruh masuk kerja” jawab paman Surya.
“yaelahhhh, aku fikir paman akan bertarung melawan para penjahat dan saling menembak satu sama lain” jawab Johan dengan nada merendahkan.
“apa kau mau pamanmu ini mati tertembak?” tanya paman Surya dengan tersulut emosi.
“yaahh, setidaknya kau sudah melakukan tugasmu dengan baik” jawab Johan.
“dasar anak kurang ajar” ujar paman Surya dengan begitu kesal.
“apa yang kalian bawa itu?” tanya sang ibunda.
“Johan membelikan barang kesukaanku, tante” jawab Odessa.
“waahh, apa itu makanan?” tanya sang ibunda.
“bukan, aku cuma membelikannya pot bunga untuk dalam rumah. Hanya sebagai hiasan doang” jawab Johan.
“liat sini, tante pingin liat” ucap sang ibunda.
“nih tante” jawab Odessa seraya berjalan ke arah ibunda Johan.
“nak Johan, apa kau bisa ikut denganku bentar?” tanya pak Abdi kepada Johan.
“ada apa pak?” tanya Johan.
“udah, ikut aja” jawab pak Abdi.
“o-oke” jawab Johan.
Disaat Odessa sedang memperlihatkan pot miliknya dan milik Johan kepada mamah Johan, pak Abdi dan Johan berjalan keluar rumah untuk membicarakan hal yang serius. Hal itu disampaikan oleh pak Abdi ketika mereka berdua berada di luar rumah.
“aku akan membicarakan tentang Adam Abraham. Apa kau mau menemuinya?” tanya pak Abdi.
“ba-bagaimana pak Abdi bisa tau?” tanya Johan begitu terkejut.
“Farel yang memberitahukannya kepadaku. Dia bilang kalau mungkin saja Johan tertarik dengan lelaki bernama Adam Abraham” jawab pak Abdi.
“jadi Farel sudah mengetahui kalau aku ingin bertemu dengan Adam. Bagaimana dia bisa tau?” tanya Johan.
“aku tidak tau mengenai masalah ini. Yang pasti, jika kau ingin menemuinya, katakan lokasinya padaku. Saat pulang bersama dengan Odessa ke desa nanti, kita akan mampir ke tempat Adam Abraham berada” jelas pak Abdi.
“dia bilang kita akan ketemuan di danau tempat Riana Dassilva berada. Tapi jujur saja, aku tidak tau dimana letak danau itu berada” ucap Johan.
“kalau begitu, sebaiknya kau telfon saja sekarang dan tanyakan keberadaannya. Kemudian koordinasikan letak pertemuan kalian berdua agar malam nanti tidak terlalu mepet dengan jadwal” ujar pak Abdi.
“benar juga” jawab Johan.
Johan segera mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya dan kemudian menelfon Adam Abraham. Saat itu, Johan menelfon sebanak 3 kali, namun Adam tidak menjawabnya juga. Pada akhirnya, saat Johan menelfon Adam untuk ke empat kalinya, barulah Adam mengangkat telefon itu.
“iya halo, Johan? Ada apa?” tanya Adam Abraham.
“sekarang kau ada dimana?” tanya Johan.
“aku sekarang ada di rumah” jawab Adam Abraham.
“rumahmu dimana?” tanya Johan.
“rumahku ada di simpang jalan permata jingga. Memang agak jauh dari danau, apa kau ingin ketemuan disana?” tanya Adam.
“simpang jalan permata jingga? Itu lumayan dekat dengan rumahku” jawab Johan.
“benarkah?” tanya Adam sedikit terkejut.
“sekarnag bukan waktunya untuk kaget. Lebih baik, kita ketemuan di taman kota” tegas Johan.
“eh? Kenapa harus disana?” tanya Adam.
“sudahlah, jangan kebanyakan biacara. Nanti jam 7 malam, pastikan kalau kau sudah ada disana” tegas Johan.
“iya iya” jawab Adam.
“kalau begitu, aku akan mematikan telfonnya. Jangan lupa jam 7 malam nanti” tegas Johan.
“iya iyaa, dasar bawel” jawab Adam mematikan telfonnya.
Johan pun kembali meletakkan ponselnya di saku kanan celananya. Johan sedikit lega karena Adam mau mengikuti arahan darinya. Johan juga sedikit lega dan senang karena dirinya akan bertemu dengan jawaban yang selama ini Johan nantikan.
“bagaimana?” tanya pak Abdi.
“kita sudah sepakat untuk ketemuan di taman kota. Jadi sebelum kita nanti pergi ke desa, kita akan mampir dulu ke taman kota. Apaa pak Abdi bisa?” tanya balik Johan.
“tenang saja. Aku tidak terburu buru kok” jawab pak Abdi.
“terimakasih banyak, pak” jawab Johan dengan raut muka begitu gembira.
“apa kau masih ingin berjalan jalan dan bermain bersama dengan Odessa sebelum Odessa pulang?” tanya pak Abdi.
“sebenarnya, aku ingin mengajak Odessa untuk pergi ke mall untuk melihat taman buatan di lantai paling atas. Tapi sepertinya, itu tidak bisa” jawab Johan.
“kenapa tidak bisa? Ajaklah Odessa pergi kemanapun dan kapanpun kau mau sebelum Odessa pulang. Setidaknya, kau dan Odessa tidak dirumah saja saat Odessa akan pulang” tegas pak Abdi.
“kau benar juga. aku akan berangkat sekarang juga” jawab Johan dengan nada begitu semangat.
“nahh, gitu dong” jawab pak Abdi.
Dengan semangat yang membara, Johan pun berlari kedalam rumah dan akan mengajak Odessa untuk pergi ke mall tempat taman buatan itu berada. Dengan suara yang begitu lantang, Johan mengajak Odessa untuk pergi ke sana.
“heh, Odessa!. Ayo kita pergi ke mall yang tadi” ajak Johan dengan lantang suaranya.
“hah? ke mall lagi? maksudmu ke taman yang ada di lantai atas mall itu?” tanya Odessa.
“iya, benar. Pasti pemandangan disana sangat indah apalagi saat malam hari. Aku yakin sekali kalau pemandangan kota saat malam hari akan jauh lebih indah” jawab Johan.
“siappp, pak polisi” jawab Johan dengan sedikit tertawa.
“nak Johan, pinjamkan jaket untuk Odessa” ucap sang ibunda.
“baik mamahh” jawab Johan.
Seketika itupun Johan berlari menuju ke lantai atas untuk menuju ke dalam kamarnya. Dirinya kembali ke lantai bawah seraya membawa dua buah jaket dan tidak lupa untuk mengambil dompetnya.
Mereka berdua berpamitan kepada semua orang di dalam rumah dan kemudian berjalan keluar rumah. Seperti biasa, Johan mengeluarkan motornya dan kembali menutup pagar rumah. Johan menarik gasnya dan pergi meninggalkan rumah.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di mall yang mereka tuju. Hanya dalam 15 menit saja, mereka sudah sampai di mall tersebut. Johan memarkirkan motornya di parkiran bawah tanah. Mereka berdua berjalan menaiki lantai demi lantai hendak menuju ke lantai paling atas. Namun sebelum itu, mereka membeli es krim di kedai yang sama seperti siang hari saat lalu.
Pada akhirnya, mereka pun sampai di lantai paling atas. Di sana terdapat satu pohon yang paling besar di tengah tengah sementara di sekitarannya terdapat beberapa tanaman hias. Bisa dibilang, pihak mall menerapkan konsep memasukkan unsur alam di lantai atas agar para pengunjung dapat menikmati segarnya alam tanpa harus menuju ke dalam pedalaman hutan.
“waahh, ini indah sekali” jelas Johan dengan melongo menatap pemandangan alam buatan tersebut.
“benar juga. ada air terjun buatan, ada pohon beringin terbesar di tengah tengah, ada beberapa pepohonan lainnya. Dan disekelilingnya terdapat semak semak dengan berbagai macam bentuk” jawab Odessa.
“apa kamu suka?” tanya Johan kepada Odessa.
“apa aku suka? Aku sangat amat suka” jawab Odessa memasang raut muka begitu bahagia.
“syukurlah kalau begitu. Di luar sini juga ada semacam tempat untuk melihat pemandangan kota dari atas sini. Apa kamu mau coba liat?” tanya Johan.
“boleh juga” jawab Odessa menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua berjalan ke arah tempat khusus untuk menikmati pemandangan kota malam hari. Disana terdapat kaca begitu tebal yang membentang begitu panjang. Para pengunjung dapat menikmati pemancangan luar mall tersebut dari balik kaca tersebut. Banyaknya pengunjung yang sekedar berfoto dan menikmati indahnya alam buatan tersebut, dan itu yang membuat para pengunjung tertarik dengan mall ini.
“rasanya aku ingin berlama lama disini” ucap Odessa seraya menatap pemandangan kota malam hari.
“maaf, kamu harus pualng jam 7 nanti. Itu karena pak Abdi memang ada acara dengan atasannya. Mau tidak mau, kamu harus pulang secepat itu” jawab Johan.
“kenapa kamu yang meminta maaf?, ini sudah lebih dari cukup. Kamu memberikan semuanya kepadaku saat aku ke kota. Aku benar benar senang” ucap Odessa.
“terimakasih karena sudah mau menemaniku berjalan jalan menikmati berbaai macam hal di kota” jelas Odessa seraya menyahut tangan Johan.
“sama sama, aku juga ikut senang” jawab Johan menggenggam erat tangan Odessa.
“apa kamu tidak lupa dengan janji Hanabi?” tanya Odessa.
“tidak akan pernah lupa. Terbang, melayang, menyala, meredup, dan kemudian selesai” jawab Johan.
“aku senang mendengarnya” jawab Odessa dengan senyum begitu tulus.
“sekarang sudah jam berapa?” tanya Odessa.
“sekarang masih jam setengah 7” jawab Johan.
“kita masih memiliki waktu 30 menit disini sebelum kita pulang” jawab Odessa.
“kamu mau apa lagi?” tanya Johan.
“aku mau jalan jalan lagi” jawab Odessa.
“itu tidak mungkin kan? Di luar begitu dingin, nanti kamu demam” jawab Johan.
“pokoknya aku mau jalan jalan” jawab Odessa dengan nada begitu manja.
“tidak boleh” jawab Johan.
“yaudah kalau ngga boleh, aku ngga mau pulang” ujar odesa dengan nada marah.
“apa kamu tau, kamu lebih lucu dan imut kalo marah” ucap Johan sedikit menggoda Odessa.
“apaansih, ngga lucu” jawab Odessa dengan raut muka begitu kesal seraya membuang mukanya.
“jangan gitu ah” ucap Johan sedikit menenangkan Odessa.
Dengan begitu jahil, Johan mengambil topi yang dikenakan oleh Odessa saat itu. Dengan kata lain, Johan membuka topinya dan membuat seluruh rambutnya terurai hingga punggung. Melihat hal itu, Odessa pun seketika akan menyahut topinya yang ada di genggaman tangan kanan Johan.
Namun Johan malah mengangkat topi tersebut tinggi tinggi. Dikarenakan tubuh Odessa yang lebih pendek dari Johan, maka dari itu Odessa melompat berakali kali untuk mengambil topinya dari tangan Johan.
“berikan padaku” ucap Odessa dengan melompat bekali kali hendak mengambil topinya.
“lompatlah lebih tinggi lagi” jawab Johan dengan tawa begitu lepas.
“apa kamu menghinaku karena tubuhku lebih pendek darimu?” tanya Odessa dengan masih melompat berniat mengambil topinya.
“memang benar, dasar cebol” jawab Johan begitu menjahili Odessa
“ihhh jahaatt” jawab Odessa masih melompat.
Namun saat itu, dengan tidak sengaja kaki kanan Odessa tersandung oleh kaki kirinya sendiri saat mendarat dari lompatannya. Hal itu membuat Odessa terdorong ke depan. Pada akhirnya, secara tidak sengaja tubuh Odessa menabrak tubuh Johan di hadapannya.
Muka Odessa menempel di dada Johan sementara kedua telapak tangannya sedang memegang kedua pundaknya. Melihat hal itu, mereka berdua benar benar begitu gugup dan salting sendiri.
“ma-maafkan aku” ucap Odessa dengan raut wajah yang memerah
“ti-tidak. Itu bukan salahmu. Ini salahku karena aku sudah menjahilimu” jawab Johan dengan wajah yang memerah pula.
“a-aku akan lepaskan” ucap Odessa.
“jangan lepaskan” sahut Johan.
Mendengar hal itu, Odessa spontan menatap wajah Johan. Nyatanya di posisi seperti itu, wajah mereka begitu dekat. Nafas Odessa yang sedikit terengah engah sebab melompat beberapa kali begitu hangat dirasakan di leher milik Johan.
“aku mencintaimu” ucap Johan.
“aku juga, aku juga mencintaimu” jawab Odessa dengan senyum begitu manis.
Namun disaat yang bersamaan pula, mereka sadar kalau mereka sedang berada di tengah keramaian dan tempat umum. Mereka sadar kalau mereka bisa saja dilihat dan dipandang oleh mata publik. Dengan begitu, Johan dan Odessa pun spontan melepas pelukan mereka.
“a-apa kita bisa pulang sekarang?” tanya Johan.
“gapapa, kita langsung pulang aja. Diluar udah dingin banget” jawab Odessa.
“yaudah, ayo” ajak Johan.
“baik” jawab Odessa.
Mereka berdua pun pada akhirnya berjalan kembali kerumah. Sembari memakan eskrim, mereka berjalan perlahan menuju ke parkiran bawah tanah. Mereka berdua lalu memakai helm dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.