Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 23, Perempuan di bawah Pohon



“seperti biasa, pekerjaannya memang menjadi koordinator dalam penebangan hutan. Maka dari itu, sang papah Johan pun menyuruh kita sebagai bawahannya untuk menebang beberapa pohon disini atas seijin surat perintah. Kita pun menebang beberapa pohon disini dan kemudian mengangkutnya di truk besar. Namun, sang papah Johan pun berkata bahwa dirinya menyuruh kita untuk membakar hutan ini. Dikarenakan pemerintah daerah menyuruh papah Johan untuk mencari lahan untuk pembangunan infrastruktur terbaru yang menjulang di tanah tersebut, maka papah Johan saat itu juga menyuruh kita untuk membakar saja pepohonan disini. Dikarenakan kita hanya ahli dalam penebangan hutan dan tidak ahli dalam pembakaran hutan, maka dari itu kita menolak mentah mentah perintah dari papah Johan. Tidak lama setelah itu, papah Johan pun merekrut sementara beberapa orang yang bisa dibilang masih belum ahli dalam tata koordinasi wilayah. Sang papah Johan menyuruh orang orang tersebut untuk membakar hutan secepatnya. Namun, seperti apa yang diduga dari awal, orang orang tersebut masih belum ahli sama seperti kita semua. Pada akhirnya, pembakaran hutan menjadi tidak terkendali dan tidak bisa di tangani oleh mereka semua. Sang papah pun benar benar menyerah atas insiden ini. Apalagi sang papah Johan mendengar bahwa kematian sang kakek Johan dikarenakan kebakaran tersebut, maka dari itu sang papah Johan begitu merasa bersalah. Beliau pun bunuh diri dengan menabrakkan dirinya sendiri di kereta yang masih berjalan. Sebelum itu, beliau mewasiatkan sebuah tugas terakhir kepada kami. Beliau berkata kalau dia ingin di makamkan di samping pemakaman sang kakek, sang nenek, dan sang mantan istrinya. Maka dari itu, dirinya pun di makamkan di samping sang kakek, sang nenek dan sang mantan istri di pendapa ini” jelas salah seorang teman papah Johan.


“jadi, dia benar benar meninggal dengan cara yang sama seperti apa yang dilakukan oleh mamah kandungku dulu” ucap Johan dengan tetesan air matanya,


Mendengar hal itu, seketika Emilia dan ketiga sahabatnya benar benar terkejut setengah mati. Pasalnya mereka mendengar bahwasanya sang ibunda kandung dari Johan meninggal dengan cara bunuh diri. Dan juga mereka mendengar kalau pemakaman sang ibunda kandung Johan berada di samping pemakaman sang papah kandung Johan.


“jadi mamah kandung Johan udah meninggal” fikir Emilia dan ketiga sahabatnya itu.


“aku nggak nyangka kalau mamah dan papah beneran meninggal dengan cara yang sama. Bener bener dua orang tua yang merepotkan. Kenapa kalian berdua harus melakukan itu?” ucap Johan seraya meneteskan air mata.


“kita akan membiarkanmu sementara disini, aku akan membawa teman temanmu untuk menunggu di luar pendapa ini” ucap salah seorang teman papah Johan kepada Johan.


“terimakasih banyak. Beri aku sedikti waktu untuk disini sementara sendiri” ucap Johan seraya berjalan ke arah samping makam sang ibunda.


“baik” ucap teman papah Johan itu.


Mereka semua pun segera berjalan meninggalkan Johan seorang diri di tengah pendapa tersebut. Nyatanya, fikiran Johan benar benar sudah sangat kacau saat itu. Perasaan Johan bercampur aduk menjadi satu. Johan merasa kecewa, merasa marah, merasa sedih, merasa gelisah, merasa takut, dan merasa bersalah. Nyatanya Johan benar benar sudah kehilangan kata kata lagi untuk mengungkapkan kesedihannya.


“kenapa papah harus melakukan itu? papah membunuh kakek? Sementara mamah hanya diam saja dengan nenek disini? aku bener bener ingin bisa bergabung dengan kalian sekarang. Kalian semua sudah berkumpul bersama di satu tempat. Kalian membuatku iri. Aku ingin bersama dengan kalian juga. Aku sangat iri melihat kalian bisa mengobrol seperti biasa. Aku sangat ingin bisa bertemu dengan kalian berempat dan merayakan ulangtahunku yang beberapa hari lagi aku berulangtahun. Seandainya kalian semua masih hidup, aku akan mengundang kalian semua di rumah untuk makan kue dan meniup lilin bersama” ucap Johan benar benar menangis disana.


Johan menatap ke arah belakang dan mendapati jika semua temannya serta teman teman dari papah Johan itu saling sibuk mengobrol jauh di luar pendapa. Seketika itu pula Johan berfikir jika dirinya benar benar ingin melepaskan semua peraasannya itu. Johan mematikan lampu senternya dan meletakkan senter tersebut di samping makam sang ibunda.


Johan pun segera berlari ke arah yang berlawanan dari semua teman temannya itu. Dirinya berlari menjauhi pendapa hanya untuk mencari ketenangan hati. Dirinya berlari sembari isak tangis yang tiada henti. Dirinya keluar melompati pagar pemakaman dan kemudian berlari dengan sangat kencang menuju ke arah danau yang berada di samping rumah milik kakek dan neneknya itu.


Johan berlari dengan isak tangis yang masih menetes. Dirinya berlari hingga dirinya kemblai ke danau tempat memancing bersama kakek dan neneknya dahulu. Dengan nafas ngos ngosan, Johan pun mengusap air matanya dan kemudian berjalan seperti biasa menuju ke danau. Namun, saat dirinya berjalan mendekati danau, dirinya begitu terkejut saat melihat satu pohon yang tumbuh di samping danau tersebut.


Nyatanya, Johan begitu terkejut akan melihat pohon tersebut. Pasalnya, Johan mengenal pohon tersebut di buku pelajaran yang sempat dirinya baca. Johan pun menghampiri pohon tersebut dan kemudian memegang kulit kayu pohon itu.


“aku tau kalau pohon ini bernama pohon Hornbeam” ucap Johan seraya menyentuh kulit pohon tersebut.


Saat itu juga, seketika Johan benar benar terkejut akan benda yang menjatuhi kepalanya itu. Nyatanya, itu hanya sebuah bunga yang terjatuh dari pohon Hornbeam tersebut. Namun, itu tidak sembarang bunga. Nyatanya, bunga tersebut adalah bunga Sakura yang memiliki warna merah muda cerah nan indah.


“aku tau kalau ini adalah bunga sakura. Pohon ini mengembangkan bunga sakura” ucap Johan seraya mengusap tangannya ke arah kulit pohon tersebut.


Nyatanya, Johan seketika teringat akan ucapan sang ibunda. “belajar memang penting, namun pengalaman lebih baik dari belajar itu sendiri”. ucapan tersebut seketika terngiang di kepala Johan sesaat setelah Johan menyentuh kulit kayu tersebut. Nyatanya, saat itu fikiran Johan menganggap bahwa pohon tersebut adalah tubuh sang ibunda.


Seketika Johan menangis keras serta memeluk batang pohon tersebut dengan begitu erat. Johan menangis keras sembari memeluk erat pohon tersebut hingga tetesan air matanya mengenai salah satu akar pohon disana. Setelah lamanya Johan menangis, nyatanya Johan sudah benar benar berfikir kalau dia ingin sekalimenghampiri sang nenek, kakek, mamah dan papah Johan.


Sembari mengusap air matanya, Johan pun berkata “apa aku harus bergabung bersama dengan mamah, papah, kakek dan nenek?”


Johan pun seketika duduk dan bersandar di batang pohon tersebut. Nyatanya, batang pohon tersebut begitu besar sehingga memberikan papan bersandar dengan begitu lega. Seraya mengusap air matanya, nyatanya perasaan Johan masih begitu hancur lebur saat itu. Johan menekuk kedua kakinya dan kemudian memeluknya. Johan pun seketika meletakkan kepalanya ke lututnya itu.


“benar benar hancur” ucap Johan.


“apanya yang hancur?” tanya seorang perempuan di sampingnya.


“perasaanku” jawab Johan.


“emm, jadi kamu sakit hati. Apa sakit hati itu memang benar benar sesakit itu?” tanya perempuan tersebut.


“entahlah, namun sepertinya aku hanya merasakan sesak di dada dan pusing di kepala” jawab Johan.


“emm, begitu” ucap perempuan tersebut menganggukkan kepalanya.


Sesaat setelah percakapan singkat itu, Johan baru saja menyadari kalau dirinya sedang berbincang dengan seseorang. Nyatanya Johan benar benar terkejut dan heran serta bingung dengan siapa Johan berbincang. Johan pun seketika mengangkat kepalanya dan kemudian menoleh ke arah kanan.


Nyatanya, Johan melihat seorang perempuan seumurannya sedang duduk santai di sampingnya. Perempuan itu dengan santainya sedang bersandar di batang pohon tersebut sama seperti apa yang dilakukan Johan. Perempuan yang benar benar manis dan cantik, berambut hitam gelap dan panjang, lentik indah bulu matanya, merah muda serta mengkilap bibir kecilnya, lebar nan bercahaya kelopak matanya, kecil dan panjang jari jarinya, serta putih indah bersinar kulit wajahnya membuat suasana hati Johan saat itu begitu berubah drastis.


Nyatanya, Johan tidak pernah senyaman ini dalam hidupnya. Johan melihat kelopak mata perempuan di sampingnya yang lebar nan bercahaya tersebut tanpa berkedip sekalipun. Namun Johan masih merasa curiga dan masih berfikir keras bagaimana perempuan itu bisa kemari tanpa bantuan sedikitpun. Johan hanya melihat jika perempuan tersebut hanya memakai pakaian yang aneh.


“siapa kamu?” tanya Johan.


“hahahaha, pertanyaanmu bener bener nggak sopan. Padahal kita berdua baru aja ketemu” ucap perempuan tersebut tertawa dengan lantang.


“ma-maaf, aku salah bertanya. Namamu siapa?” tanya Johan.


“nama? Na-ma? Aku tidak tau namaku, hehehe” jawab perempuan tersebut dengan sedikit tawa dan menggaruk kepalanya.


“hah? kau tidak tau namamu sendiri? udah gila kali?” tanya Johan begitu terkejut.


“kata orang orang, saat aku terlahir, aku sudah di suruh melakukan pekerjaan. Dasar ibu yang nggak tanggungjawab” ucap perempuan tersebut dengan merasa kesal dan menggembungkan pipinya.


“jadi, apa sekarang kau tersesat?” tanya Johan.


“hmm, bisa dibilang iya” jawab perempuan itu dengan nada begitu bersemangat.


“padahal kamu sedang tersesat tapi kamu bener bener tenang” ucap Johan.


“memangnya aku peduli? Malah menurutku lebih baik aku disini daripada aku dirumah” jawab perempuan tersebut.


“hah? apa kamu kabur dari rumah?” tanya Johan.


“rumahmu ada dimana?” tanya Johan.


“rumahku sangat jauh dari sini. Kau tidak akan pernah mengetahui rumahku. Kalau kamu? Dimana rumahmu?” tanya perempuan itu.


“rumahku juga sangat jauh dari sini, kau tidak akan mengerti” jawab Johan.


“sekarang, apa kau tersesat juga?” tanya perempuan itu.


“nggak, aku nggak tersesat. Aku hanya berziarah di pemakaman orang tuaku” ucap Johan.


“aku turut berdua cita” ucap perempuan itu menurunkan konotasi suaranya.


“tidak apa, kamu udah menghiburku” ucap Johan tersenyum tulus.


“heh? Aku? menghiburmu? Jangan bercanda, hahahahaha” ucap perempuan itu tertawa terbahak bahak seraya memegangi perutnya.


“tidak apa, menurutku kamu teman ngobrol yang asik” ucap Johan dengan senyum begitu tulusnya.


“heh? Teman ngobrol? Ohh iya juga ya. Padahal kau manusia, bisa bisanya kita saling mengobrol. Padahal aku ini seora-“ ucap perempuan itu terhenti.


“sebentar, pakaianmu ini aneh banget. Darimana kau beli?” sahut Johan menyahut perkataan perempuan itu.


“heh? Kau bilang pakaianku ini aneh?” teriak perempuan itu begitu tersinggung.


“ehh, e-enggak. Maksudku bukan aneh. hanya saja pakaianmu ini mirip karakter perempuan bernama Yuuki Asuna di saat mode Elf. Mirip sekali dengan Asuna saat bernama Titania” ucap Johan.


“hah? Yuuki? Asu? Suna? Apa yang kau katakan?” tanya perempuan itu.


“heh? Kau tidak tau siapa itu Yuuki Asuna? Perempuan itu adalah salah satu karakter di anime Sword Art Online. Menurutku, pakaianmu ini mirip sekali dengan Yuuki Asuna saat scene Yuuki Asuna terkurung di sangkar raksasa di atas langit. Apa kau tidak familiar dengan cerita itu?” tanya Johan.


“aku hanya tau mengenai sangkar di atas langit, tapi aku tidak tau siapa Yuuki Asuna yang kau maksud. Lagipula namanya juga aneh” ucap perempuan itu.


“iyalah, karakter itu berasal dari industri anime Jepang” ucap Johan.


“dan juga, kenapa kamu malah bilang kalo pakaianku ini aneh?” tanya perempuan itu sedikit kesal.


“ehh, tidak. Aku hanya berfikir kalo kamu sedang cosplay” ucap Johan.


“dahlah, aku ngga ngerti apa yang kamu maksud” ucap perempuan itu.


“kalo ngga ngerti, gapapa sih. Banyak perempuan di luar sana juga kadang ngga ngerti sama apa yang aku omongin” ucap Johan seraya tersenyum sendiri.


“hah, sekarang kau bisa tersenyum” ucap perempuan itu seraya menunjuk ke arah mulut Johan.


“hah? ma-mana ada aku tersenyum. Aku masih sedih” ucap Johan dengan pipi memerah.


“udah, terima aja. Aku udah hibur kamu dari kesedihanmu itu” ucap perempuan itu membanggakan dirinya.


“heh? Mana ada. Aku masih sedih kok” ucap Johan dengan pipi yang semakin memerah.


“huufftt, padahal aku sudah capek capek untuk menghiburmu, tapi kamu masih ingin mengingat kejadian lamamu yang membuatmu itu sakit hati” ucap perempuan tersebut menghela nafas begitu dalam.


“ma-maaf sebelumnya, tapi aku tidak memintamu untuk menghiburku” jawab Johan.


“apa karena kamu masih ingin merasa sakit hati dan ingin mengingat semua yang membuatmu sakit hati? Kalau kamu masih ingin melakukan hal seperti itu, kamu tidak akan pernah bahagia bahkan hidupmu sudah enak” jawab permepuan itu.


“ma-maaf” jawab Johan.


“ehh? Kenapa kamu malah meminta maaf? Aku tidak ingin lelaki disampingku ini memasang raut muka sedih dan meneteskan air mata lagi. Lupakan semuanya dan ingatlah aku. Lupakan segalanya dan ingatlah perempuan disampingmu ini. Dengan begitu, tidak akan ada yang bisa membuatmu sedih kembali” jelas perempuan itu.


Mendengar perkataan perempuan tersebut, hati Johan begitu tersentuh. Johan merasa kalau perempuan itu begitu faham dengan apa yang ia alami sekarang ini. Johan pun tersadar dan memilih untuk mengikuti apa yang diperintahkan oleh perempuan itu.


“ka-kamu benar juga. kenapa kau harus mengingat hal yang membuatku sakit hati? Itu adalah hal yang bodoh” ucap Johan dengan sedikit tertawa.


“nahkan, itu yang ku tunggu tunggu” jawab perempuan itu.


“kenapa aku harus memasang raut muka sedih sedangkan aku bisa tersenyum lebar. Itu terlalu merepotkan” jawab Johan dengan tatapan begitu lebar.


“bagaimana? Apa kamu sudah mendingan?” tanya perempuan tersebut.


“Terimakasih banyak, kamu sudah begitu membuatku percaya diri kembali. dengan begini, aku jadi melupakan semua kesedihaknku” jawab Johan.


“kalau begitu, aku minta imbalan darimu” ucap perempuan tersebut.


“eh? Imbalan?” tanya Johan sedikit terkejut.


“beri aku nama” ucap perempuan itu.


“na-nama? Kamu ingin aku memberimu nama?” tanya Johan begitu terkejut.