Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 61, Kepulangan Johan



“rumahmu dimana?” tanya pak Abdi sang sopir.


“nggak jauh dari sini kok pak. Bapak tinggal belok kanan di perempatan depan dan lurus aja” jawab Johan.


“ohh, luayan deket juga ya” ucap pak Abdi.


Hanya memerlukan 3 menit perjalanan, pak Abdi dan Johan pun telah sampai di depan rumah Johan.


“apa kau yakin kalau aku tidak perlu ikut?” tanya pak Abdi.


“iya, aku yakin. aku ingin bertanggungjawab dengan gentle” ujar Johan dengan tatapan penuh keyakinan.


“aku benar benar tidak percaya pada perkataanmu. Aku akan menunggumu di luar sini. Sementara itu, bicaralah dengan ibumu. Kalau butuh apa apa, panggil aku di luar sini. Aku akan membantumu meyakinkan ibumu” ucap pak Abdi.


“terimakasih banyak, tunggu diluar ya. Kalo saya nggak keluar lebih dari lima menit, bapak bisa meninggalkan rumah ini” ucap Johan seraya berjalan membuka pagar rumahnya.


“buset, udah seperti di eksekusi mati aja nih bocah” fikir pak Abdi dalam hati.


“terimakasih banyak atas tumpangannya. Saya sudah meninggalkan uang di dalam laci mobil karena aku tau kalau kau tidak akan menerima uang dari anak kecil” ucap Johan.


“hmm, iya. Terimakasih banyak” jawab pak Abdi dalam mobil tersebut.


Pak abdi pun mematikan mesin mobilnya. Disisi lain, Johan berjalan mendekat ke pintu depan rumah. Nyatanya saat itu, jaringan wifi seketika tersambung ke ponsel Johan dan membuat Johan menerima semua pesan serta panggilan. Terdapat 30 panggilan lebih dari mamah dan teman temannya sementara banyaknya spam yang dikirim oleh teman temannya di kontak WhatsApp.


“buset, ternyata mereka beneran lagi cari aku. Ternyata aku tidak memiliki kuota. Dasar aku” ucap Johan menghela nafas berat seraya menepuk jidatnya.


Perlahan langkah yang Johan tapak menuju ke pintu depan rumah benar benar menyiksa mental dan detak jantung Johan. Detak jantung Johan berdetak dengan begitu cepat seiring dengan berjalannya waktu. Hingga pada akhirnya, Johan pun mengetuk pintu rumah dan menekan bel pintu rumahnya itu.


“ehh? Apa itu Johan?” tanya Emilia seraya mendengar suara bel pintu depan.


“lebih baik kamu coba periksa” jawab Nyoman.


“tidak perlu, biar aku saja yang membukakan pintu” sahut Jehian.


“terserah kalian” ucap Kahfi.


Saat itu pula Jehian pun berjalan ke arah pintu depan dan kemudian membukakan pintu. Nyatanya, Jehian benar benar luar biasa amat terkejut saat mendapati bahwa yang datang adalah pengirim paket dengan orang yang sama seperti kemarin saat mengirim paket di rumahnya kemarin hari.


“ehh? Bapak lagi” ucap Jehian.


“ehh? Bukannya rumahmu itu yang ada di blok sebelah?” ucap bapak kurir itu.


“ini rumah temen saya, pak. Kalau begitu, apa mau mengirim paket? Atas nama siapa?” tanya Jehian.


“emm, anu. Atas nama Mahesa Johan” jawab sang kurir itu.


“kalau begitu, saya akan terima” ujar Jehian.


“sebentar, saya akan foto” ucap sang kurir.


“baik” jawab Jehian.


Saat itu pula Jehian menerima kotak tersebut dan kemudian membiarkan dirinya di foto oleh pak kurir agar menjadi bukti bahwa barang sudah di terima oleh orang rumah.


“makasih banyak ya pak” ucap Jehian menutup pintu rumah.


“sama sama mas” jawab sang bapak kurir.


Jehian pun segera menutup pintu dan kemudian kembali ke habitatnya semula. Jehian pun memberikan kotak pesanan itu kepada sang ibunda dan membiarkan sang ibunda Johan memeriksa kotak tersebut.


“kira kira, apa yang di pesan oleh Johan?” ucap sang ibunda bertanya tanya.


“mungkin mainan” jawab Emilia.


“atau juga mungkin buku manga” jawab Jehian.


“kalau tidak, dia memesan Action Figure” jawab Farel.


“hah? action figure? Apa itu?” tanya sang paman Surya.


“seperti mainan namun hanya di pajang. Aku sangat yakin kalau itu adalah action figure” jelas Farel.


“kalau hanya mainan, kenapa harganya 3 juta?” tanya sang ibunda.


“hahhh? 3 juta?” teriak mereka semua begitu terkejut.


“iya, di keterangan harga yang tertulis disini, harganya 3 juta” ucap sang ibunda.


“emm, tapi kan memang action figure itu harganya sangat mahal. Bagaimana kalau kita buka saja” ucap Farel.


“iya, aku juga udah bener bener pernasaran ini” ujar Nyoman.


“kalian urus aja itu kotak, sekarang sudah jam 8 pagi. Lebih baik aku pulang. Anakku pasti sudah menungguku di rumah” sahut paman Surya seketika beranjak dari sofa ruang tengahnya itu.


“ehh? Udah mau pulang?” tanya sang ibunda.


“nanti aku akan kembali. Kalau Johan sudah pulang, jangan lupa kabari aku” ucap paman Surya seraya berjalan keluar rumah.


“hmm, iya” jawab Emilia.


Saat itu pula, paman Surya kembali di jam 8 pagi. Dimana saat jam itu, Johan baru saja hendak pulang dari desa. Disisi lain sang ibunda dan teman teman Johan yang sudah benar benar penasaran dengan isi kotak tersebut sudah tidak tahan lagi. Tangan mereka begitu gatal untuk membuka bungkusan kotak yang besarnya mirip dua kotak sepatu yang di tumpuk ke atas.


Emilia pun membuka kotak tersebut menggunakan cutter dan gunting dengan begitu lihat. selepas semuanya terbuka, mereka mendapati jika kemasan kardus tersebut benar benar mewah. Nyatanya itu bukanlah kardus, melainkan balok kayu yang sangat premium.


“wooaaahhhh” ucap mereka semua begitu terkagum dengan kemasan balok kayu tersebut.


Saat Kahfi membuka balok kayu tersebut, nyatanya masih terdapat banyak bubble wrap di dalamnya. Mereka pun mengeluarkan semua bubble wrap tersebut dan mendapati kalau saja di dalamnya terdapat 6 kotak berisi Action Figure dari berbagai karakter anime yang berbeda.


“jadi ini, action figure” ujar sang ibunda dengan menganggukkan kepalanya.


“dia memang suka mengoleksi action figure seperti ini. Sama seperti yang ada di dalam kamarnya, dia bahkan mungkin memiliki puluhan action figure dari berbagai anime yang berbeda” ucap Farel.


“memangnya action figure semahal itu?” tanya Emilia.


“kalau aku membeli action figure, aku selalu membeli yang versi chaara chibi agar lebih murah. Dan juga murah itu berkisar antara 400 ribu sampai 800 ribu. Tapi jika Johan membeli 6 action figure sekaligus dan seharga 3 juta, pasti dia mendapatkan diskon dari toko. Karena ini tidak mungkin semurah itu” ucap Jehian.


“aku pernah sesekali menguping isi kamar Johan. Dan kalau tidak salah, dia selalu mengikuti turnamen game perbulan. Dan juga aku kurang tau pasti berapa hadiahnya. Aku mendengar kalau dia diberi hadiah kisaran 200-250 dollar setiap menang turnamen” ujar sang ibunda.


“hah? 250 dollar? Kalau di konversikan kedalam rupiah berkisar tiga setengah juta” ujar Kahfi.


“waahhh, jadi dia mendapatkan uang perbulan sebanyak itu? dan dia menghabiskan bulan pertama uangnya. Kira kira, dia menghabiskan 6 juta sisanya untuk apa ya” fikir Nyoman.


“itu tidak penting. Sekarang adalah memikirkan kapan Johan bisa pulang” ucap sang ibunda.


“itu benar, tapi kita tidak boleh gegabah dan panik. Lebih baik tante istirahat dulu aja. Tante juga baru saja keluar dari rumah sakit” ucap Farel.


“Farel benar, lebih baik tante jangan terlalu banyak fikiran. Tante rebahan santuy saja di sofa tengah, kita yang akan berjaga di ruang tamu” ujar Emilia.


“ba-baik, makasih banyak” ujar sang ibunda.


Saat itu pula, sang ibunda rebahan santuy di sofa ruang tengah sementara Emilia dan teman temannya tengah duduk di ruang tamu. Sembari menunggu, mereka di hibur oleh lagu yang si putar oleh Emilia di dalam ponselnya. Lagu berjudul “Fana Merah Jambu - Fourtwnty” menghibur hati Emilia dengan tenang dan nyamannya. Namun itu tidak membuat hati kelima temannya tenang.


“woy, seleramu sampah” ucap Jehian.


“iyatuh, sampah banget” ucap Nyoman.


“heh, kalian tidak akan pernah mendengar suara semesta mengatakan bahwa jiwa yang lusuh bisa dimurnikan dan disucikan dengan lagu dari Fourtwnty ini. Kalian tau apa” ucap Emilia.


“pokoknya, lagunya sampah. Lebih baik lagu kita berempat” ucap Nyoman.


Seketika saat itu pula, Nyoman memutar lagu berjudul “Sasageyo – Linked Horizon, Shingeki no Kyojin Opening 2”. Dengan begitu semangat, Farel, Jehian dan Nyoman benar benar terbawa suasana lagu yang begitu bersemangat itu. Mereka bernyanyi dengan begitu keras dan bersemangat.


“apa kau tidak ikutan stress seperti mereka bertiga?” tanya Emilia kepada Kahfi seraya menatap ketiga temannya yang tengah menyanyi.


“tidak, anime bukanlah seleraku” jawab Kahfi seraya menatap sedih ketiga temannya itu.


“baguslah kalau begitu, nonton anime memang bagus dan seru, tapi jangan sesekali ikutan stress seperti mereka. Aku menonton anime tapi tidak se gila mereka. mereka sudah keterlaluan” ucap Emilia menatap sedih ketiga temannya itu.


“baguslah kalau begitu” ujar Kahfi menatap sedih mereka bertiga.


“mereka memang gila dari awal, itulah yang kusuka dari mereka” jawab Emilia.


“dasar kalian bertiga. Kalian menganggap kalau itu adalah lagu? Itu lebih mirip instrumen penyiksa telinga oleh algojo” ujar Kahfi.


“kau mana tau bagaimana perasaan kita saat tau kalau Ymir adalah seorang Titan” ucap Jehian.


“itu sangat amat luar biasa terkagum namun juga sedih” ucap Nyoman dengan mendramatisir keadaan.


“padahal kita sudah menganggap bahwa Ymir adalah manusia biasa yang berteman dengan Historia Reiss, namun sayangnya ia harus mati di makan oleh Porco. Benar benar menyedihkan” ucap Farel semakin mendramatisir.


“aku tidak peduli dengan Shingeki no Kyojin kalian. yang pasti, lagu yang sebenarnya adalah ini” ujar Kahfi memutar lagu dari ponselnya.


Saat itu pula, Kahfi memutar lagu “Gotye - Somebody That I Used To Know (feat. Kimbra) [Official Music Video]”. Ia pun menyanyi sesuai apa yang ada di lirik lagu dengan sempurna. Sama seperti sebelumnya, Emilia dan ketiga otaku itu benar benar merasa kalau lagu milik Kahfi benar benar sampah.


“benar benar selera yang jauh rendah” ucap Emilia.


“berisik, seleramu lebih payah” ucap Kahfi.


“selera kalian berdua sampah” ucap Jehian.


“selera kalian semua lah yang sampah” ucap Emilia.


“enak aja, selera kalian yang sampah” ucap Kahfi.


“sudah sudah, daripada berebut sampah, mending dengarkan lagu milik tante aja” ucap sang ibunda dari ruang tengah.


Sang ibunda pun segera menyambungkan ponselnya ke speaker bluethooth yang telah terpasang di setiap sudut ruangan. Seketika sang ibunda pun membuka YouTube dan kemudian memutar video yang berjudul “Iwan Fals Full Album Tanpa Iklan 3 jam”. Saat itu pula, mereka semua mendengarkan dengan lengkap semua lagu jadul dari sang legenda musik dunia.


Tiga jam berlalu semenjak jam 8. Mereka semua sudah lelah untuk duduk di sofa yang sama dan dalam suasana yang sama pula. Mereka hanya menunggu sambil bermain game dan menonton film di ponsel mereka masing masing. Hingga mereka tidak sadar kalau saat itu jam 11.30. Johan mengetuk pintu rumah dan membunyikan bel.


Johan benar benar gugup dan begitu takut akan keadaan yang ada di dalam rumah. Johan berfikir bagaimana dia mengatasi semua kegaduhan yang akan terjadi di dalam rumah.


“apa yang harus kulakukan? Apa yang harus ku katakan? Bagaimana ini?” fikir Johan dengan keringat dingin.


“apa aku harus berteriak karena sangat amat luar biasa bahagia? Atau aku harus merenung karena sedih?. Atau mungkin aku harus berpura pura kerasukan? Ehhh, tidak tidak. Aku tidak pernah kerasukan sebelumnya. Atau kalau tidak, aku harus diam saja?. Hmmm, mungkin ide pertama tidak buruk juga. Aku akan berteriak dengan begitu ceria dan sangat amat luar biasa bahagia hingga mereka terheran akan apa yang telah aku lakukan selama ini” fikir Johan dalam hati.


Johan kembali mengetuk dan membunyikan bel pintu rumah. Dikarenakan Johan sudah sedikit menunggu lama, Johan memutuskan untuk membuka pintu rumahnya sendiri itu.


“ehh, ada suara bel tuh, sama ada suara ketukan” ucap Emilia.


“hmm, apa iya? Aku tidak dengar” ucap Jehian.


“kalau begitu dengarkan dengan sedikit lebih fokus” ucap Emilia.


“tidak ada, tidak ada orang yang mengetuk pintu dan menekan bel” ujar Farel.


“iya, aku juga tidak dengar” ucap Nyoman.


“kalian dasar tidak percaya sama aku” ucap Emilia.


“tante, apa tante bisa mematikan musik tante sebentar?” teriak Emilia.


“ohh, iya. Sebentar” ucap sang ibunda seketika mematikan musik dari ponselnya itu.


“nahh, abis ini, dengarkan baik baik” ucap Emilia.


Beberapa detik berlalu, nyatanya mereka tidak mendapati kalau ada suara ketukan pintu dan bel rumah. Hal itu memmbuat mereka semua seketika mengolok olok Emilia.


“apalah si Lia ni, bikin kaget aja” ucap Jehian.


“iya tuh, padahal kita semua juga tid-“ ucap Nyoman terhenti.


“permisi, aku masuk” teriak Johan dari pintu rumah.


Johan pun berjalan masuk kedalam rumah dengan dalam kondisi baju dan rambut yang berantakan serta lusuh dan kotor sebab berkelahi dengan paman Surya. Saat itu, ia sama sekali tidak memakai alas kaki karena sepatunya yang tertinggal di dalam hutan.


“aku pulaaangggg” teriak Johan dengan begitu keras.