Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 64, Membaiknya Mental Johan 3 bulan Lalu



Mereka berdua pun berjalan melewati tangga dan kemudian mengunci pintu kamar dari dalam. Seketika, sang ibunda menyuruh Johan untuk duduk di kasurnya sementara Johan berdiri di hadapannya.


“lepaskan semua pakaianmu” ucap sang ibunda.


“ehh? Bu-buat apa mah?” tanya Johan menatap kedua mata sang ibunda dengan matanya yang memerah.


“mamah ingin melihat apakah tubuhmu ada luka atau tidak” tegas sang ibunda.


“tapi mah, Johan baik baik saja. Johan tidak ada luka sama sekali” sahut Johan.


“kalau begitu, buktikan dengan cara lepaskan semua pakaianmu” ujar sang ibunda.


“ba-baik” jawab Johan.


Johan pun kemudian melepaskan semua pakaiannya terkecuali ****** ******** untuk menuupi anu. Sang ibunda pun melihat semua tubuh Johan tidak ada luka maupun lecet. Hanya saja seluruh tubuh Johan begitu putih pucat. Hal itu dikarenakan Johan tengah kedinginan. Faktanya saat itu Johan tengah demam dan berkeringat dingin. Tubuhnya meriang namun Johan berusaha untuk menghiraukannya.


Sang ibunda pun memegang jidat Johan dan mendapati bahwasanya Johan benar benar panas.


“kamu sekarang demam. Gantilah bajumu dengan pakaian yang lebih tebal. Mamah akan mengambilkannya untukmu” ujar sang ibunda berjalan ke arah lemari pakaian.


Sang ibunda pun memberikan sweater jingga dengan celana panjang yang hangat. Sang ibunda memberikan roti yang ada di dalam tasnya dan menyuruh Johan untuk memakannya. Selepas itu, sang ibunda memberikan sebotol air mineral bersama dengan obat penurun panas.


“cepat makan roti ini dan minum obat. Setelah itu, langsung istirahat dan tidur” tegas sang ibunda.


“ba-baik” ujar Johan seraya melahap roti pemberian sang ibunda.


Mamahnya juga mengambil kompres tempel dan menempelkannya ke dahi Johan agar panasnya cepat turun. Selepas itu, Johan pun segera meminum obatnya itu menggunakan air mineral yang telah sang ibunda berikan kepadanya barusan.


“sekarang, waktunya tidur. Jangan melakukan apa apa lagi. Jangan berulah dan bertingkah lagi” tegas sang ibunda.


“i-iya mah” jawab Johan seraya memasukkan kakinya ke dalam selimut.


Sang ibunda pun memegang tangan Johan yang begitu hangat dan kecil itu. Dengan begitu halus nan lembut, sang ibunda mencium telapak tangan kiri Johan tersebut.


“jangan buat mamahmu ini khawatir lagi” ucap sang ibunda dengan tatapan begitu lembut.


“i-iya mah, maaf” jawab Johan.


“sekarang tidurlah dan istirahat yang cukup” ujar sang ibunda menutupi semua bagian tubuh Johan menggunakan selimut.


“hmm, makasih banyak” ucap Johan.


Saat itu pula sang ibunda pun berjalan keluar kamar dengan menghembuskan nafas yang begitu lega. Benar benar begitu senang ketika sang ibu melihat anaknya yang hilang itu kembali dengan dalam kondisi yang baik baik saja.


“syukurlah tuhan, Johan baik baik saja. Aku sudah menjadi ibu yang buruk. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Aku pasti akan menyingkirkan desa dari fikiran Johan” fikir sang ibunda.


“syukurlah tuhan, aku baik baik saja. Aku sudah menjadi anak yang buruk. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Aku pasti akan kembali ke desa untuk membawa Odessa kemari. Itu pasti” fikir Johan dalam hati seraya menatap langit langit kamarnya.


“nah, sekarang dimana hp ku?” ucap Johan.


“ohh iya, hp ku masih di kantong celanaku yang tadi” ucap Johan menepuk jidatnya.


Johan pun mengambil ponselnya yang masih berada di dalam kantong celananya tadi. Johan pun kemudian mendapatkan pesan jika saja pesanaan AF miliknya sudah datang sebagai Jehian yang menerimanya. Melihat notifikasi seperti itu, Johan benar benar senang karena barang kesayangannya akhirnya datang juga.


“tapi bagaimana aku bisa mengambilnya di bawah? Aku sudah di suruh oleh mamah untuk tidur” fikir Johan dalam hati.


“emmm, mungkin aku akan beralasan ke kamar mandi” fikir Johan dalam hati.


Disisi lain, sang ibunda yang saat itu sudah bersama dengan paman Surya, pak Abdi dan semua teman teman Johan yang tengah duduk di ruang tamu sedang berbincang mengenai kejadian sebelumnya. Pak Abdi menjelaskan semuanya menenai perusahaan yang memberikan bantuan penyuluhan bahan pangan ke desa, uang kompensasi, dan lain lain.


Saat itu pula, Johan pun membuka pintu kamarnya dan menggunakan sandal seraya berjalan ke bawah.


“ahhh, aku benci celana ini. benar benar kegedean. Bahkan celananya menutupi kakiku dan sendalku” fikir Johan dalam hati.


Saat Johan berada di ruang tengah, ia pun mengendap endap saat mencari peti AF kesayangannya itu. Namun sayangnya, walaupun dirinya masih mengendap endap mencari peti AF nya itu, Emilia menyadari kehadiran Johan dan mengadukannya kepada sang ibunda.


Mendengar hal itu, sang ibunda pun segera mendatangi Johan yang tengah mengendap endap dengan begitu senyap.


“dimana wei?” fikir Johan.


Saat Johan membalikkan badannya, Johan mendapati jika sang ibunda sudah ada di baliknya itu. Melihat hal itu, Johan berteriak sangat kencang karena sangat amat terkejut.


“woaaaaahhhh” teriak Johan.


“apa yang kamu lakukan?” tanya sang ibunda.


“ehh, ti-tidak. Aku baru aja ke kamar mandi gara gara kebelet pipis, hehehe” ucap Johan.


“kalau begitu, cepat balik ke kamar” tegas sang ibunda.


“baik” jawab Johan kembali ke dalam kamarnya semula.


Saat Johan berada di dalam kamarnya, Johan masih tidak terima jika dirinya tidak melihat barang pesananannya itu. Johan benar benar gelisah dengan tangan yang sudah sangat gatal karena ingin merakit semua AF nya itu.


“alasan apa lagi yang harus ku katakan” fikir Johan.


“ohh iya, aku akan mengisi air putih di dalam botol. Sebelum itu, aku akan membuang airnya” ucap Johan seraya membuang air mineral di botolnya itu ke arah jendela luar.


Johan pun seketika berjalan ke luar kamarnya dan hendak mencari peti AF nya kembali dengan alasan mengambil air putih di galon. Johan berjalan menuruni tangga dan menuju ke galon dengan begitu santainya.


“ehh, nggak. Cuma mau isi botol air” jawab Johan memperlihatkan botol air mineralnya yang sudah kosong.


“ohh” jawab sang ibunda.


Johan pun segera mengisi botol tersebut dengan air putih. Johan pun meletakkan botol air mineralnya dan kemudian membiarkan kran galonnya mengisi perlahan.


“selama botolnya terisi, aku harus cepat. Ini antara hidup dan mati. Aku masih punya waktu sekitar 30 detik sampai botolnya penuh. Selama itu aku harus menemukannya” fikir Johan dalam hati.


Seketika saat itu pula, Johan benar benar fokus untuk mencari peti AF nya itu. Sampai pada akhirnya, Johan pun menemukan kotak AF nya itu di bawah meja ruang tengah. Dengan begitu cepat, Johan mengeluarkan kotak tersebut dan kemudian meletakkannya di atas kursi.


“itu dia” ucap Johan dengan begitu senang.


Johan meletakkan kotak tersebut dan kemudian membuka kotak itu. Dengan begitu senang, Johan melihat terdapat 6 buah AF yang telah ia pesan.


“waaahhh, ini keren mampus” ucap Johan melongo.


Seketika Johan teringat bahwa Johan masih belum mematikan kran air galon yang mengisi botol air mineralnya itu. Spontan Johan menoleh ke arah galon dan mendapati jika airnya sudah meluap dan membanjiri lantai hingga menggenang. Melihat hal itu, Johan benar benar terkejut dan merasa bersalah.


Johan berlari meuju galon dan mematikan kran air galon tersebut. Banyaknya air yang menggenag itupun terlihat dari sang ibunda yang saat itu sedang berada di ruang tamu.


“wwooooeeehh, airnya tumpah tumpah. Rumahnya kena banjir. Tolong beri kami bansos, pemerintah!. Turunkan harga BBM” ucap Johan berbicara sendiri seraya mengelap lantai ruang tengah.


Melihat kelakuan Johan yang begitu ceroboh dan gegabah, sang ibunda benar benar heran. Sang ibunda menepuk jidatnya sendiri karena tidak habis fikir dengan apa yang di lakukan oleh Johan.


“nahh, dengan ini, lantainya sudah kering” ucap Johan dalam kondisi celana panjangnya yang sudah basah sebab air tersebut.


Johan pun segera mengambil botol air mineralnya itu dan kemudian berjalan hendak mengambil kotaknya yang ebrada di kursi sofa ruang tengah. Saat Johan membawa botol tersebut, nyatanya Johan melihat bahwa sang ibunda tengah menatapnya dengan tajam. Melihat hal itu, Johan pun dengan lantang berbicara kepada sang ibunda.


“i-iya aku akan tidur. Aku pasti tidur. Hehehe” ucap Johan dengan tubuh menggigil ketakutan.


Johan pun berlari menuju mengambil kotak tersebut dan kemudian berlari ke atas tangga menuju ke dalam kamarnya. Saat itu pula Johan pun meletakkan kotaknya di lantai dan kemudian duduk di depan kotak tersebut. Johan membuka satu persatu kemasan AF nya dan merakitnya sendiri.


“woaaahhh, sumpah ini keren banget. Karakter pertama, Maple dari anime Bofuri” ucap Johan dengan mengangkat karakter Maple tersebut tinggi tinggi.


“maple cakep parah sumpah” ucap Johan seraya meletakkan AF nya tersebut di sampingnya.


“karakter kedua yaitu, Sakurajima Mai dari anime Seishun Buta Yarou wa Bunny Girl Senpai no Yume wo Minai. Dia cakep banget sumpah. Tidak heran lagi kalau dia adalah artis” ucap Johan seraya meletakkan AF nya itu di sampingnya.


“karakter ketiga yaitu Kirigaya Kazuto atau Kirito dari Sword Art Online. Bener bener cool parah. Dan dia bawa dua pedang sekaligus” ucap Johan seraya meletakkan AF nya di sampingnya.


“karakter keempat yaitu Yuna dari Kuma Kuma Kuma Bear. Bener bener imut banget. Cebol parah. Sayangnya masih belom legal” ucap Johan seraya meletakkan AF nya di sampingnya.


“karakter kelima yaitu Elaina dari Majo no TabiTabi. Pokoknya Elaina the best lah. Elaina Wangy Wangy” ucap Johan seraya meletakkan AF nya di sampingnya.


“dan terakhir, menurutku yang paling keren dari keenam AF yang telah kubeli. Yaitu Ainz Ooal Gown dari Overlord. Bener bener gahar abis. Apalagi tengkoraknya itu. Serem banget parah. Seperti mamah yang lagi marah” ucap Johan seraya meletakkan AF nya di sampingnya.


“keenamnya sudah aku dapatkan. Sekarang aku harus meletakkannya di mana ya?” fikir Johan.


“ohh iya, aku ingat. Kalau nggak salah, aku pernah melempar AF Megumin ke pintu sampai kepalanya copot. Mungkin aku sudah simpan di dalam laci” fikir Johan


“ohh, iya benar” ucap Johan seraya melihat AF Megumin di dalam laci lemari samping ranjangnya.


“gimana ya caranya buat pasang kepalanya lagi? ini bukan patah, tapi hanya copot. Psati bisa di pasang lagi” ucap Johan berusaha memasang kepala Megumin itu kembali.


Bermenit menit Johan mengumpulkan konsentrasi jiwa dan raganya demi memasang kepala Megumin. Johan duduk di lantai ditemani oleh keenam Action Figure barunya itu. Tinggal sedikit lagi, kepala megumin bisa masuk, nyatanya sang ibunda tiba tiba membuka pintu kamar Johan dan memergoki Johan tengah duduk di lantai seraya mengurus semua Action Figure nya itu.


“yeaaahhhh, kepala meguminnya bisa masuk lagi” teriak Johan dalam kamar.


Saat itu pula sang ibunda melihat Johan yang tengah berteriak bangga dan senang saat duduk di bawah. Meihat sang ibunda yang secara tiba tiba saja masuk kamar, hal itu membuat Johan begitu ketakutan setengah mati.


“eh?” ucap Johan.


“kamu sudah bilang kalau kamu bakal tidur. Tapi kamu malah duduk di lantai yang dingin. Lagipula celanamu itu basah” ucap sang ibunda.


“hah? ma-maaf” teriak Johan.


“jangan terlalu kekanak kanakan dan ceroboh seperti ini” ucap sang ibunda seraya membuka pintu lemari pakaian Johan dan memberikan Johan celana panjang hangat yang baru.


“ba-baik, terimakasih banyak” ucap Johan.


“kalau kamu masih bersih keras tidak mau tidur dan masih ingin bermain dengan mainan mahalmu itu, mamah nggak akan segan segan merampas mainan kamu sampai kamu tidur” ancam sang ibunda.


“i-iyaaaa” teriak Johan ketakutan dengan seketika memasukkan keenam AF nya itu ke dalam kotak. Johan pun memasukkan AF Megumin ke dalam kotak tersebut dan kemudian Johan mendorong kotak tersebut hingga kotak itu meluncur jauh ke bawah ranjang Johan.


Seketika Johan memakai celana barunya itu dan kemudian melompat ke atas kasur. Johan seketika menyelimuti dan menutupi semua anggota bagian tubuhnya ke dalam selimut dan tidak membuat suara sedikitpun. Hingga sampai Johan mendengar bahwa pintu sudah tertutup, Johan pun sedikit merasa aman.


Johan mengeluarkan kepalanya dan menghirup udara segar. Saat itu pula Johan kembali mengambil kotak itu dan kemudian berfikir dimana pajangan yang cocok untuk Action Figure kali ini.


“hmm, enaknya aku taruh di mana ya” ucap Johan.


“ahhh, di atas meja belajarku ada sedikit ruang untuk keenam AF Baruku ini. Aku akan meletakkan semuanya di sana” ujar Johan.


Johan pun berniat meletakkan keenam AF barunya itu di sebuah rak gantung di atas meja belajarnya. Johan pun mengambil kursi kayu dan kemudian menaikinya. Namun, hasilnya Johan masih tidak bisa menggapai rak gantungnya itu karena terlalu tinggi.


“apa aku harus menaiki meja belajarku? Bodoamat lah, losss bolo tuhan!” ucap Johan memantabkan tekadnya.


Johan pun menaiki meja belajar dan kemudian meletakkan satu persatu AF tersebut di rak gantung yang sebenarnya sudah terdapat AF lama milik Johan. Namun saat itu, Johan melihat jika di rak tersebut masih ada ruang untuk para AF barunya itu. Maka dari itu, Johan berniat untuk mencampur AF lama dan AF baru menjadi satu di rak gantung yang sama.