
Disaat Odessa berjalan ke arah ruang guru, terdapat Johan yang saat itu sedang berdiri di depan pintu. Melihat itu, Odessa berlari ke arah Johan yang memang menunggu Odessa untuk kembali.
“neh, Johan” teriak Odessa.
“akhirnya kamu balik juga” ucap Johan dengan menghela nafas begitu lega.
“iya, aku hanya melihat melihat ke taman dan ke kantin. Di sana banyak foto2 makanan, aku jadi sedikit laper” ucap Odessa.
“kamu laper? Apa kita beli cemilan aja?” tanya Johan.
“boleh juga” jawab Odessa.
“sekarang sudah jam berapa?” tanya Johan.
“sekitar jam 3” jawab Odessa.
“kalau begitu, kita akan nonton film di kamarku sambil makan cemilan, apa kamu mau?” tanya Johan.
“kenapa kita tidak berkeliling seluruh kota?” tanya balik Odessa.
“itu karena sekarang masih sore dan masih panas. Lagipula, kalau sore hari, semua toko makanan atau toko lainnya kebanyakan masih tutup dan akan kembali saat malam hari. Sebenarnya aku juga ingin jalan jalan bersamamu berkeliling kota, namun hanya saja kita harus istirahat saat sore yang panas dan akan kembali berkeliling saat malam hari nanti. Apa kamu tidak keberatan hanya untuk menunggu?” tanya Johan.
“terserah” ucap Odessa memasang raut wajah cemberut.
“kamu jangan cemberut gitu, nanti cantiknya ilang loh” jelas Johan menggoda Odessa.
“janji nanti malem harus ajak aku keliling kota” jelas Odessa dengan nada begitu jutek.
“iya, janji” jawab Johan seraya menjulurkan jari kelingkingnya.
Melihat Johan yang menjulurkan jari kelingkingnya, Odessa tidak tau menahu mengenai itu. Odessa tidak tau kalau Odessa harus mengunci jari kelingkingnya kepada jari kelingking Johan. Bahkan Odessa berfikir kalau dirinya harus menjilat jari milik Johan tersebut.
“apa aku harus menjilat jarimu itu?” tanya Odessa dengan begitu polos.
“bu-bukan dijilat, dasar mesum. Jari kelingkingmu harus saling mengunci dengan jari kelingkingku” jelas Johan spontan sedikit berteriak terkejut.
“jari kelingkingku?” tanya balik Odessa.
“aahh sudahlah, ayo kita pulang” sahut Johan seraya menarik paksa telapak tangan kanan Odessa.
“ba-baik” jawab Odessa dengan tubuh yang tertarik.
“tangan Johan memegang tanganku. Rasaya hangat dan nyaman. Aku ingin selalu memegang tangannya selalu. Dan aku ingin selalu berada di sampingnya. Apa aku masih bisa? Mungkin jawabannya tidak” fikir Odessa dalam hati.
“kufikir aku harus melupakan masalahku dan harus membuat Johan senang disini. Aku harus melupakan pohonku dari sekarang” fikir Odessa dengan senyum lebarnya itu.
“neh Johan, kakiku capek, aku mau gendong” jelas Odessa seraya menarik tangan Johan.
“hah? gendong? Aku tidak tau apa aku kuat atau tidak” jawab Johan.
“kenapa?” tanya Odessa.
“kata otangtuaku, aku terlahir dalam kondisi sudah lemah dari lahir, bahkan aku kalah lomba lari dengan Emilia” jawab Johan.
“sayang banget, padahal aku pengen gendong” ucap Odessa.
“yaahh, maaf. Sebagai gantinya, aku akan membeli banyak sekali snack dan minuman buat kamu biar kita bisa nonton film lebih mantap jiwa luar biasa. Apa mau?” tanya Johan.
“iyadeh iya” jawab Odessa.
“kalau begitu, kita harus cepat, aku tidak ingin menunggu lagi” ucap Johan degan nada yang begitu tidak sabaran.
“apa kita akan berbelanja snack?” tanya Odessa.
“iya, kita akan berburu jajanan pinggir jalan disana dan pastinya akan sangat seru” ujar Johan dengan nada begitu semangatnya itu.
“akumah cuma ikut ikut doang” jawab Odessa.
Saat itu pula, mereka berdua pun segera berjalan ke arah parkiran motor dimana itu adalah tempat Johan memarkirkan motornya. Disaat itu pula, mereka berdua kembali mengenakan helm dan kemudian menyalakan mesin motor tersebut.
Mereka pun berrkeliling untuk mencari jajanan pinggir jalan dan alhasil mereka membeli beberapa snack. Mereka membeli satu porsi siomay, batagor, seblak, kebab, kerupuk pedas, dan lain lain. Hanya 5 menit mereka berkeliling, mereka sudah membeli sebanyak itu. Maka dari itu, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali kerumah.
Sesampainya dirumah, seperti biasa Johan memarkirkan motornya kedalam garasi dan kemudian berjalan kedalam rumah berdua. Mereka berdua sama sekali tidak mendapati paman Surya dan sang ibunda berada di dalam rumah. Maka dari itu, mereka berdua berfikir kalau paman Surya dan sang ibunda sedang keluar rumah.
“ehh, kok rumahnya sepi amat” ucap Odessa.
“mungkin mereka berdua lagi keluar” jawab Johan.
“jadi cuma kita berdua di rumah ini?” tanya balik Odessa.
“yoi, cuma kita berdua saja di dalam rumah ini” jawab Johan
“kamu nggak akan apa apain aku kan?” tanya Odessa dengan tatapan begitu halus nan lembut.
“ti-tidak, aku tidak akan melakukan apa apa. Aku bahkan ti-tidak kepikiran untuk melakukan hal itu sekarang” teriak Johan dengan begitu terkejut dan nada gugup.
“baiklah kalau begitu, aku merasa sedikit lebih aman” ucap Odessa sedikit menghembuskan nafasnya.
“udahlah, malah bahas yang begituan. Cepat keatas” tegas Johan.
“hmm, iya” jawab Odessa menganggukkan kepalanya,
Saat itu pula, mereka berdua pun berjalan ke lantai atas. Namun sebelum itu, Johan mengambil beberapa piring dan dua sendok untuk mereka makan jajanan yang baru saja mereka beli. Johan dan Odessa pun memasuki kamar. Di tempat itu, Johan sedang mempersiapkan film yang akan mereka tonton. Dikarenakan laptop dan komputer Johan sudah terjual, maka dari itu Johan dan Odessa terpaksa harus menonton di ponsel milik Johan.
“sebaiknya kamu ganti baju” ucap Johan.
“ehh? Ganti baju? Baju apa?” tanya Odessa.
“aku akan meminjamkanmu piyama, tapi kurasa ukuranya akan sedikit lebih besar. Lagipula piyamaku berwarna hitam, jadi mungkin akan sedikit cocok untuk tubuhmu” ucap Johan.
“boleh juga, apa aku boleh meminjamnya?” tanya Odessa.
Saat itu pula, Odessa pun membuka lemarinya dan kemudian mengambil piyama tersebut di lemari paling atas. Nyatanya, dikarenakan tubuh Odessa yang tidak dapat menjangkau rak paling atas tersebut, Odessa sampai melompat beberapa kali karena tubuhnya yang sedikit lebih pendek dari Johan itu.
Mendengar Odessa yang melompat lompat disana, membuat Johan tidak tega melihatnya. Nyatanya Johan tidak bermaksud untuk menjahili dan mengejek Odessa dengan tubuhnya yang begitu pendek itu. namun Johan tidak mampu menahan gelagak tawanya saat melihat polosnya Odessa yang hendak mengambil piyama di lemari atas.
“hahahahahaha, apa kamu tidak sampai?” tanya Johan dengan tawa terbahak bahak.
“apa kamu menjahiliku?” ucap Odessa tersulut emosi.
“bukan begitu, aku fikir kamu akan sampai untuk menggapainya” jelas Johan dengan sedikit tawa yang tersisa.
“dasar jahat, padahal kamu tau sendiri kalau aku lebih pendek dari tubuhmu” ucap Odessa dengan nada sebal.
Spontan saat itu, Johan pun berjalan menghampiri Odessa yang berada di dalam lemari tersebut. Saat itu pula, Johan menjulurkan lengan kanannya dan mengambil piyama di rak paling atas lemari miliknya itu.
Dengan kata lain, kedua tubuh mereka berdua saling bergesekan saat Johan sedikit berjinjit untuk mengambilnya. Punggung Odessa saling menempel dengan dada Johan. Itu membuat raut wajah Odessa benar benar begitu memerah tak terbendung.
“nih, pakai saja” ucap Johan seraya memberikan piyama miliknya kepada Odessa.
Saat itu pula, Johan bisa melihat kalau wajah Odessa benar benar memerah saat itu. Bagaimana tidak, mereka benar benar dekat hingga nafas mereka saling bertabrakan di balik pintu lemari tersebut. Odessa yang saat itu sedang membelakangi tubuh Johan tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang begitu memerah karena situasi seperti itu.
“mu-mukamu memerah. Apa kamu tidak apa apa?” tanya Johan.
“ti-tidak apa apa” jawab Odessa dengan nada begitu gugup.
“itu bukan kenapa napa. Wajahmu begitu memerah. Apa kamu demam?” tanya Johan seraya memegang tengkuk Odessa.
Merasa kalau tengkuknya dipegang oleh tangan Johan, seketika Odessa merasa sedikit geli hingga Odessa spontan membalikkan badannya. Saat itu pula, mereka berdua pun saling berhadapan dan saling bertatap mata di balik pintu lemari tersebut. Tatapan mereka tidak kunjung henti bersama dengan Johan yang masih memegang tengkuk belakang Odessa menggunakan telapak tangan kanannya.
Disaat yang bersamaan, Odessa pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Johan kepadanya. Odessa pun memegang tengkuk leher bagian belakang Johan dengan kedua telapak tangannya itu. Sampai saat itu, mereka berdua tidak kunjung henti saling bertatap mata.
Seiring berjalannya waktu, Odessa mulai mengalungkan kedua lengannya di leher belakang Johan. Muka mereka berdua perlahan mendekat dan begitu dekat. Johan pun mulai meraba raba area leher dari Odessa dengan begitu halus. Saat itu pula, Odessa pun menutup kedua matanya perlahan dan sedikit memiringkan kepalanya ke kanan.
Spontan Johan pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Odessa. Johan memejamkan matanya dan kemudian memiringkan kepalanya ke kiri. Hal itu mereka lakukan karena mereka sudah berniat untuk ciuman secara langsung. Kedua kaki Odessa menjinjit karena lebih tinggi tubuh Johan dibandingkan tubuhnya.
Mereka berdua terhanyut oleh suasana romansa yang begitu kental tersebut. Mereka berdua benar benar sudah kehilangan akal dan kesadaran saat melakukannya. Seakan akan mereka terbawa arus yang mendorong dan menghanyutkan mereka di suasana yang begitu nyaman nan hangat tersebut.
Namun, saat kedua bibir mereka akan saling menyentuh dan hanya berkisar kurang lebih 5 cm, terdengar suara ketukan pintu yang berasal dari pintu kamar Johan. Mereka berdua pun begitu terkejut dengan suara ketukan dari pintu kamar tersebut dan spontan membuka kedua mata mereka.
Saat itu pula, Odessa melepas kedua lengannya yang sedang mengalungkan lengannya yang sebelumnya berada di leher belakang Johan. Odessa pun melemaskan kakinya hingga kedua kaki Odessa tidak jinjit kembali. Mereka berdua pun mulai sedikit tertawa karena waktu berdua mereka terganggu hanya karena ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
“dasar peganggu” ucap Johan dengan sedikit tertawa.
“cepet buka pintunya, siapa tau itu mamah kamu yang ketuk pintunya” ucap Odessa dengan senyum tawanya.
“iya iya” jawab Johan seraya berjalan ke arah pintu kamarnya.
Saat itu pula, Johan pun segera membukakan pintu kamarnya tersebut. Nyatanya terdapat paman Surya beserta pak Abdi dan sang ibunda sedang berdiri di depan pintu kamar Johan seraya membawa banyaknya kantong plastik berisi makanan.
“yo, Johan!” ucap pak Abdi memberikan salamnya.
“yo, pak Abdi. Ada apa kalian semua kemari?” tanya Johan.
“kita ingin berbincang bincang bersama Odessa di kamarmu sambil makan cemilan dan nonton film. Apa kau mau ikut?” tanya sang ibunda.
“apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak memiliki kamar lain selain kamarku?” tanya Johan dengan begitu kesal.
“sudahlah tidak apa apa, lagipula Odessa juga akan mengijinkannya. Boleh bukan?” sahut paman Surya.
“bo-boleh juga, paman Surya” jawab Odessa dari dalam kamar Johan.
“sudah dipastikan, kita akan menonton film dan memakan cemilan disini” teriak sang ibunda dengan begitu bersemangat.
“padahal aku sudah berniat untuk itu hanya berdua saja dengan Odessa, tapi apa yang para orang gila ini lakukan? Dasar pengganggu” fikir Johan dalam hati.
“yaudahdeh, masuk sana” ucap Johan dengan nada begitu terpaksa.
“yeeaayy, terimakasih” ucap sang ibunda dengan nada begitu manja.
“aku masuk” ucap paman Surya seraya berjalan menuju kedalam kamarnya.
“maafkan bapak, Johan. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah mereka, tapi aku tidak berdaya melawan keegoisan mereka” bisik pak Abdi di dekat telinga Johan.
“sayang sekali, benar benar sayang sekali” jawab Johan kepada pak Abdi.
“kalau sudah begini, aku akan ikut nonton film bersama mereka bertiga” ucap pak Abdi.
“terserah pak Abdi” jawab Johan seraya menghela nafas begitu panjang.
“kalau begitu, biar Odessa yang siapin minuman buat kalian semua di dapur” ucap Odessa seraya berjalan keluar kamar.
“aku juga akan membuatkannya” sahut Johan.
“tunggu dulu, biar aku saja yang membuatnya dengan Odessa, kau disini saja dengan pak Abdi dan paman Surya” sahut sang ibunda.
“huffttt, terserah kalian saja” jawab Johan dengan nada begitu terpaksa.
Saat itu pula, Odessa dan sang ibunda pun berjalan keluar kamar Johan dan menutup pintu kamarnya dari luar. Beberapa saat setelah itu, pak Abdi dan paman Surya pun menatap mata Johan dengan begitu tajam nan menyeramkan bak mengancam Johan.
Melihat hal itu, Johan benar benar terkejut dan tidak tau apa apa. Johan merasa terancam dan sedikit takut dengan apa yang mereka lakukan.
“ka-kalian melihat apa? Kenapa kalian berdua menatapku?” tanya Johan kepada paman Surya dan pak Abdi.
“satu pertanyaan untukmu” ucap pak Abdi.
“apa saja yang sudah kau lakukan dengan Odessa di kamar ini?” sahut paman Surya bertanya tanya.
“a-apa yang sudah kulakukan? Apa saja yang sudah kulakukan dengan Odessa? Aku tidak melakukan apa apa” jawab Johan.
“KAU TIDAK MELAKUKAN APA APA‼!” teriak mereka berdua dengan begitu terkejut.