
Namun faktanya, saat mamahnya sudah berdiri di hadapannya, beliau dengan spontan memeluk tubuh Johan dengan begitu erat. Hal itu membuat Johan benar benar terkejut dan membuka kedua matanya dengan begitu lebar.
“a-apa yang terjadi? kenapa mamah malah memelukku?” fikir Johan bertanya tanya.
“asal nak Johan tau, mamah kamu ini menangis semalaman karena kamu tidak pulang dan tidak ada kabar. Malam kemarin, hujan benar benar mengguyur dengan sangat deras. Mamah kamu ini bersih keras untuk mencarimu di tengah tengah hujan hingga pakaiannya basah kuyup. Padahal saat itu, mamah kamu menggunakan payung. Jadi mamah kamu benar benar lega saat melihatmu pulang sekarang ini” jelas sang papah.
“a-apa itu benar?” bisik Johan di dekat telinga kanan milik sang ibunda.
“maafkan mamah karena mamah kamu tidak berhasil menemukanmu di malam kemarin” jawab sang ibunda di dalam pelukannya.
Mendengar hal itu, Johan pun segera melepaskan pelukan sang ibunda dengan perlahan. terlihat dari raut wajah sang ibunda yang menteskan air mata, baliau tidak berbohong terhadap perasaannya dan benar benar lega saat Johan kembali kerumah.
Saat itu pula, Johan pun segera menarik tangan kanan papahnya dan menarik pula tangan kanan mamahnya itu. Johan pun menumpuk kedua tangan kanan tersebut menjadi satu dengan posisi tangan sang ibunda berada di atas tangan sang papah.
Saat itu pula, Johan pun mencium tangan tersebut menggunakan bibirnya. Dengan kata lain, Johan mencium punggung dua tangan sekaligus. Melihat hal itu, papah dan mamah Johan benar benar tersipu dan terharu dengan apa yang telah anaknya perbuat.
“aku pulang” ucap Johan seraya mencium kedua tangan kanan papah dan mamah.
Seketika itu pula pipi sang ibunda benar benar memerah dan terharu karena baru pertama kali ini dirinya menerima kecupan salam dari sang anak walaupun itu bukanlah anak kandung.
“maafkan Johan karena kemarin Johan keluar tanpa ijin” ucap Johan.
Saat itu pula, kedua orang tuanya benar benar terpaku dan mematung di tempat tersebut. Johan sudah meminta maaf dengan benar. Dengan begitu, mereka begitu bangga kepada Johan yang sekarang ini.
“maaf, tapi Johan sudah mulai kedinginan. Apalagi Johan juga kehujanan malam kemarin. Johan tidak enak badan. Johan mau tidur di kamar” ucap Johan seraya melepaskan genggaman tangannya dari kedua tangan kanan orang tuanya itu.
Johan pun berjalan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih mematung di ruang tamu. Johan berjalan ke ruang tengah dan kemudian berjalan ke tangga atas menuju ke kamarnya. Di tengah tengah jalan, sang ibunda pun memanggil Johan dan membuat Johan menghentikan langkah kakinya.
“nak Johan!” sahut sang ibunda kepada Johan yang tengah berjalan.
“iya, ada apa mah?” tanya Johan seraya menoleh kearah mamahnya yang berada di belakang.
“maafin mamah ya sayang” ucap sang ibunda seraya meneteskan air mata.
“maafin papah juga ya nak Johan, itu semua karena papah yang tidak meperdulikan perasaan kamu” ucap sang papah.
“gapapa koh mah, pah. Itu juga menjadi pelajaran juga buat Johan agar Johan lebih menjaga tidur dan kesehatan Johan. Mau tidak mau, Johan harus membiasakan hidup sehat dari sekarang. Dan itu juga berkat kalian berdua. walaupun aku tidak bisa menghasillkan uang dari komputerku lagi, tapi setidaknya masalah keuangan kalian terselesaikan” jawab Johan.
“kalo udah gaada yang di omongin, aku mau balik ke kamar, mau istirahat. Mamah juga harus istirahat. Takutnya mamah kena demam” ucap Johan seraya membalikkan badannya dan meninggalkan mereka berdua.
“iya, makasih banyak ya, nak Johan” jawab sang ibunda.
Johan pun berjalan meninggalkan mereka berdua di ruang tengah seraya mengusap pundaknya yang memberat sebab kelelahan. Dirinya pun membuka kamarnya dan mendapati kamarnya yang cerah dengan udara segar. Menurutnya, kamarnya benar benar berbeda dengan sebelumnya. Dan Johan pun merasa aneh dengan kondisi kamarnya yang baru ini. Dirinya pun membaringkan tubuhnya di kasur yang hangat nan empuk miliknya tersebut sembari mengingat ingat apa saja yang telah terjadi hari ini.
“aku melakukan apa yang dikatakan oleh seseorang yang berada didalam mimpiku, apa itu tidak apa?” fikir Johan dalam hati sembari menatap langit langit kamarnya.
Perlahan, mata Johan pun tidak kuat lagi menahan kantuk akibat tubuhnya yang sebelumnya belum fit namun di tekan oleh kelelahan akibat berlari kencang. Entah mengapa Johan lebih mudah mengantuk daripada biasanya. Johan pun berfikir fikir apa mungkin dirinya terkena efek obat. Johan pun mulai tertidur lelap dengan pakaian tidur yang masih ia kenakan
Untuk yang kesekian kalinya, dirinya bermimpi berada tengah tengah padang rumput yang hijau nan luas. Disana terdapat Dewi Alam yang sudah berbaring di rerumputan ilalang sembari menatap cerahnya langit biru saat itu. Johan berjalan menemui sang Dewi Alam tersebut dan kemudian berbincang seperti halnya pertemuan mereka waktu lalu.
“permisi, Dewi. Saya benar benar tidak tau kenapa saya bisa masuk kedalam dunia mimpi ini lagi” ucap Johan dengan penuh lemah lembut.
“aku udah bilang sama kamu. Jangan bersikap formal kepadaku. Anggap aja aku adalah ibu kamu sendiri walau umurku bener bener jauh dibandingkan dengan umurmu” jawab sang Dewi Alam.
“memangnya umur Dewi berapa?” tanya Johan dengan polosnya.
“aku adalah anak dari Dewa Alam sebelumnya, yaitu ayahku sendiri. Maka dari itu, gelar penjaga alam menurun kepadaku. Umurku sebentar lagi menginjak 1500 tahun dan selama itu, aku sudah cukup melihat banyak manusia yang merusak alam” jawab sang Dewi Alam.
“hah? seribu? Udah gilak apa? apa Dewi ngga ngerasa capek untuk menjadi penjaga Alam?” tanya Johan.
“penjagaan alam memang tugasku, tapi aku juga memiliki bawahan. Seperti alam yang memiliki banyak unsur, penjaganya pun berbeda beda. Aku memiliki bawahan yang selalu menjaga setiap unsur dari alam. Contohnya adalah penjaga sungai, penjaga pohon, penjaga gunung dan bukit, penjaga kawah, penjaga danau, dan masih banyak lagi” jawab sang Dewi Alam.
“apakah mereka punya kekuatan super? Apa penjaga kawah dan penjaga gunung bukit bisa memancarkan lahar dari tangan mereka? Apa penjaga sungai dan danau bisa mengeluarkan air dari tubuh mereka?” tanya Johan.
“mereka tidak bisa melakukannya. Mereka hanya bertugas untuk menjaga dan melindunginya” jawab sang Dewi Alam.
“hah? bagaiumana cara mereka untuk melindunginya kalau mereka saja masih belum bisa bertemu dengan manusia?” tanya Johan.
“mereka tidak melindungi menggunakan tubuh mereka saat itu. mereka meminta kepada orang yang memiliki simbol tertentu. Tato itu sebenarnya adalah-” ucap sang dewi alam terhenti karena Johan seketika terbangun dari tidurnya.
Sesaat setelah itu, dengan benar benar menggantung cerita, secara tiba tiba Johan terbangun dari tidurnya karena mamahnya membangungkan Johan dari tidur. Johan pun terkejut dengan kedatangan mamahnya di samping ranjangnya itu. Saat itu pula, Johan mengangkat tubuhnya dan duduk di tempat itu karena terkejut akan kehadiran mamahnya yang tiba-tiba.
“wwhoooaaaahhh” teriak Johan begitu terkejut.
“bangun nak, sudah pagi” ucap sang ibunda kepada Johan.
“huufftt, bikin kaget aja. ada apa? sekarang kan hari sabtu” jawab Johan seraya mengusap matanya yang masih kantuk.
“iya mamah tau sekarang hari sabtu, tapi ada seseorang yang mencarimu” ujar sang ibunda.
“hah? Li-Lia? Kok kamu ada disini?” tanya Johan begitu terkejut.
“hehehe, maaf sebelumnya aku ngga bilang kalo aku mau mampir. Soalnya kemarin malam aku coba telefon tapi kamu sama sekali ngga angkat telefonku” jawab Emilia.
“maaf, aku ketiduran kemarin pagi” ujar Johan kembali mengusap matanya.
“sebenarnya aku sudah tidur berapa lama? Masa aku tidur seharian full?” fikir Johan bertanya tanya.
“kalian berdua mengobrolah di kamar ini, mamah keluar dulu ya” sahut sang ibunda berjalan keluar kamar Johan.
“baik, makasih banyak ya tante” ujar Emilia kepada sang ibunda Johan.
Sang ibunda pun keluar dari kamar tersebut dan kemudian menutup rapat pintu kamar Johan. Suasana berubah menjadi benar benar canggung dan sepi tanpa adanya topik pembicaraan satupun. Johan tidak masalah dengan kesunyian itu, namun sebagai perempuan yang selalu ceria dan periang, Emilia tidak tahan untuk berlama lama saling berdiaman.
“kenapa kemarin kamu ngga nungguin aku dan lebih pilih kabur dari rumah?” tanya Emilia dengan tatapan serius.
“maaf, saat itu aku dah dipengaruhi obat, jadi aku gabisa fikir jernih. Tolong ucapin permintaan maafku kepada mamahmu nanti” jawab Johan.
“kenapa kamu kemarin malem ngga angkat telefon dari aku? Kemana aja kemarin?” tanya Emilia.
“aku mungkin terkena efek obat tidur, jadi aku begitu tertidur pulas. Bagaimanapun juga itu karena aku sering begadang dan kurang tidur. Buktinya aku sekarang bener bener lemes soalnya untuk seharian kemarin, aku belum makan sama sekali” ucap Johan.
“hmm, begitu. Kalo begitu, kebetulan aku udah bawakan bekal buat kamu. Aku sendiri yang buat” jelas Emilia sembari mengeluarkan kotak makanan dari dalam tasnya.
“wahhh, keliatannya enak tuh. Isinya apa aja?” tanya Johan begitu bersemangat.
“isinya nasi goreng, juga beberapa sosis ikan dan sosis gurita. Dan pangsit goreng juga ada didalemnya. Maaf jika masakanku terlalu sederhana, karena memang aku hanya bisa memasak makanan yang simpel” jelas Emilia.
“hah? sosis gurita? Aku mau!” sahut Johan dengan tidak sabaran.
“apa bener kamu mau makan masakanku? Kalo rasanya ngga enak gimana?” tanya Emilia.
“udah, jangan pesimis dulu. Pasti enak kok” ujar Johan memberikan jempolnya.
“yaudah, kalau begitu, nih makan dulu” jawab Emilia dengan tersenyum manis.
“tapi apa kamu udah makan?” tanya Johan.
“udah tadi di rumah” jawab Emilia.
“masa sih? Padahal ini masih jam 6 pagi loh. Emang kamu abis makan apa?” sahut Johan sedikti curiga.
“emm, anu. It-itu tadi, aku a-aku tadi abis maka-“ ucap Emilia terhenti.
“sebentar dulu” sahut Johan memotong ucapan Emilia.
Saat itu juga, Johan keluar dari kamarnya dan hendak pergi ke dapur di lantai bawah. Ia lalu mengambil sebuah piring kosong dan dua bauh sendok. Ia pun kembali ke kamarnya di lantai atas.
“nih piring. Buat kita berdua makan” tegas Johan.
“ehh, tap-tapi aku sudah mak-“ ucap Emilia terhenti karena suara keroncongan perutnya.
“tuhkan, masih laper. Udah, makan bareng sama aku. Lagipula kamu itu tidak pandai menghitung porsi” tegas Johan dengan memojokkan Emilia.
“yaahh, jadi ketahuan” jawab Emilia seraya sedikit tertawa
Satu persatu mereka menyuap makanan mereka itu hingga sampai perut mereka sudah terisi kembali. Pada akhirnya, mereka pun menyelesaikan makanan mereka dengan perut yang telah penuh. Mereka makan bersama di satu kamar dan satu jenis makanan yang sama pula.
“haahhhh, kau membuat nasi goreng porsi kuli” ucap Johan seraya memegang perutnya yang terlalu penuh itu.
“padahal kita berdua udah makan bareng, dan untungnya bisa abis. Seingatku, aku membuatnya dengan posri yang cukup, tapi kenapa jadinya banyak banget ya?” jelas Emilia bertanya tanya.
“lagipula, sosis guritamu itu benar benar enak dan manis, aku jadi makan banyak. Dan sekarang aku udah mual karena terlalu banyak makan sosis gurita tersebut” ucap Johan seraya memegangi perutnya menggunakan kedua tangannya.
“iya juga” ucap Emilia menganggukkan kepala.
Sesaat setelah itu, Emilia berjalan menuju jendela kamar dan kemudian membuka jendela kamar itu lebar lebar sehingga semua udaranya masuk begitupula dengan sinar mentari yang seketika menerangi kamar tersebut. Bagaimanapun juga, kamar Johan memang dipenuhi oleh poster gambar anime, kpop, dan juga game yang membuat Johan benar benar menjiwai dalam berperan menjadi ansos.
Angin berhembus kencang, Johan membawa dua buah kursi dan meletakkannya di hadapan jendela kamarnya. Johan dan Emilia duduk berdampingan dengan memandang pemandangan luar kamar Johan yang berupa jalanan kompleks pada umumnya yang tidak begitu bising akibat suara motor maupun mobil ataupun polusi udara yang diakibatkan asap kendaraan. Udara segar meniup mereka berdua dengan halus nan hangatnya. Johan pun menujulurkan tangan kirinya menuju jendela dan hendak meregangkan tubuhnya itu.
Namun, dengan tidak sengaja, Emilia melihat dengan jelas tato hitam yang terpapang jelas di telapak tangan kiri Johan. Melihat hal itu, Emilia spontan menyahut telapak tangan kiri Johan dan melihat dengan jelas gambar tato itu. Dengan sedikit perasaan marah dan terkejut, Emilia menanyakan mengenai tato tersebut.
“apa maksudnya ini? kenapa kamu pasang tato?” tanya Emilia dengan tatapan mata tajam nan tegas.
“tidak, itu bukan aku” ucap Johan terbatah batah.