Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 28, Hilangnya tato dan Memburuknya kondisi mental Johan



Saat di perjalanan, jam setengah sembilan pagi, nyatanya perut mereka benar benar kosong dan keroncongan. Mereka dari pagi memang belum sarapan maupun minum air putih. Maka dari itu, Emilia pun meminta sang sopir untuk sementara beranjak ke supermarket terdekat. Mereka sedikit menunggu sampai mereka mendapati rest area.


Jam sepuluh pagi, nyatanya mereka baru saja masuk ke dalam tol dan bersinggah di rest area disana. Mereka benar benar ingin makan dan minum di tempat itu. Pada akhirnya, Johan dan semuanya pun seketika turun dari mobil dan kemudian membeli makanan yang mereka inginkan di supermarket tersebut.


Setelah mereka membeli makanan, minuman serta snack di supermarket tersebut, pak sopir pun melanjutkan perjalanannya. Disisi lain, Johan dan semua teman temannya itupun tengah sarapan. Pada akhirnya, sarapan makanan berat mereka pun habis setelah mereka berempat menghabiskan uang lebih dari seratus ribu hanya untuk sarapan di supermarket tersebut.


“heh, Johan. Aku minta air putih” ucap Nyoman.


“tuh ambil aja di kresek putih deket tas” jawab Johan seraya bermain game di ponsel nya.


“mana? Gaada” ujar Nyoman sembari melihat lihat sekitar.


“ada, di pinggir tas” jawab Johan yang tengah bermain game.


“ohh, ini ketemu” ucap Nyoman seraya mengambil botol air minum tersebut.


“ehh, aku juga mau, aku juga minta” ucap Emilia kepada Nyoman yang tengah meneguk air putih.


“hmmmpp pmhhmp” gumam Nyoman menggumam saat meneguk air putih.


“ohh iya, aku baru ingat. Jangan di habiskan air putihnya, aku masih belum minum obat” tegas Johan.


“iya iya, aku cuma dikit kok” ucap Emilia.


Sesaat setelah itu, Johan pun mengambil obat obatan yang ada di kantong kecil dalam tas miliknya itu dan kemudian membukanya satu persatu. Total ada empat buah pil obat yang begitu besar yang akan di minum oleh Johan saat itu juga. Johan pun memasukkan keempat obat tersebut di dalam mulutnya sekaligus dan kemudian meneguk air putih sebanyak mungkin.


“apa itu tidak berlebihan?” tanya Farel.


“enggak, ini memang sudah dalam dosis dokter” ucap Johan.


“padahal udah tau kalo kau masih sakit, tapi kemarin malam kau malah mau kabur. Dasar bodoh” jelas Jehian.


“iya tuh, bikin semua orang panik” ucap Nyoman.


“apalagi si Emilia yang berteriak teriak memanggil nama Johan di tengah hutan padahal Johan ada di samping danau” ucap Farel.


“heh, jangan bilang begitu, aku malu” bisik Emilia kepada Farel.


“hahahahaha, kenapa kalian mencariku di malam malam seperti itu?” tanya Johan seraya tertawa lepas.


“itu karena kau sendiri yang tiba tiba hilang, dasar bodoh” jawab Jehian dengan sedikit berteriak.


“bukannya aku tidak mau untuk pulang kemari, hanya saja aku ingin sedikit lebih lama untuk berada di bawah pohon itu. entah kenapa aku ingin selalu sendiri di tempat itu” ucap Johan dengan tersenyum tulus seraya menundukkan kepalanya.


“hah? kok? Kok kamu bisa ingat dimana kamu pingsan?” tanya Emilia begitu terkejut.


“iya juga, bagaimana bisa kau tau dimana kau pingsan padahal seharusnya orang yang pingsan tidak akan mengingat beberapa kejadian sebelum dirinya pingsan” sahut Farel.


“Emilia yang kasih tau aku kalo aku pingsan di bawah pohon” jawab Johan.


“kita semua tidak peduli kalau kau ingin sendiri atau tidak. Lagipula di tengah alam liar seperti itu, kau bisa saja dalam bahaya. Bukannya tidak memperbolehkanmu untuk pergi keluar seorang diri, hanya saja kita tau lemahnya tubuhmu. Kita berfikir kalau kau memang ingin kabur dari rumah” jelas Jehian memasang raut muka sedikit emosi.


“ti-tidak mungkin lah. Aku tidak mungkin melakukannya. Lagipula kenapa aku harus melakukannya?” ujar Johan seraya menahan tawanya.


“kita semua berfikir seperti itu karena kita takut kalau kau akan berubah kepribadian. Mungkin ini sedikit lucu untuk difikirkan, tapi dengan semua hal yang terjadi kepadamu sejauh ini, tidak menutup kemungkionan jika kau akan berubah kepribadian hanya dalam waktu sekejap. Kita takut kalau kau sedang tidak baik baik saja. Kita berfikir seperti itu karena kita sudah mendengar semuanya dari mendiang papahmu sebelum papahmu meninggal” jelas Nyoman.


“heh? Ma-maksudnya?” tanya Johan.


“papah kamu sudah menceritakan semuanya kepada Emilia dan Emilia pun sudah menceritakan semuanya kepada kami semua. Alasan mengapa kepribadianmu berubah semenjak tiga bulan lalu. Apa kau ingat?” tanya Jehian.


“mak-maksudnya? Kepribadian? Sifat? Apa yang berubah?” tanya Johan benar benar kebingungan.


“kalau kau tidak ingat kepribadianmu yang dahulu, kita masih ingat sangat jelas. Tiga bulan lalu, kau selalu datang kesekolah sangat awal. Kau selalu menjawab pertanyaan yang di lempar oleh guru di depan, dan saat itu kita sangat mensyukurinya karena bukan kita yang menjawabnya. Kau selalu belajar setiap malam dan mengingatkan kita untuk melakukan hal yang sama. Kau selalu piket tepat waktu. Kau selalu tertawa dengan lepas saat kita berkumpul di satu meja yang sama. Kau dulu bahkan mengatakan kepada kita kalau kau sempat menyukai Emilia, tapi aku tidak tau perasaanmu sekarang kepada Emilia menjadi seperti apa. Kau yang dahulu sangat periang, mudah sekali tertawa, selalu tersenyum, selalu menatap mata orang yang mengajakmu berbicara, selalu tersenyum saat orang lain ikut tersenyum, selalu bernyanyi riang bahkan berteriak teriak di dalam kelas, bahkan kau dahulu sempat pernah di lempar menggunakan penghapus papan tulis oleh guru di kelas sebelah karena kau begitu berisik. Semua kehangatan itulah yang kita semua sukai dari sifat Johan. Namun, semenjak tiga bulan lalu, dalam sehari semalam, sifat dan karaktermu secara tiba tiba sangat amat berubah. Kau tiba tiba sering terlambat masuk sekoolah, bahkan pakaianmu saat itu sangat tidak rapih. Kau selalu menundukkan kepala dan menggelengkannya saat guru melemparkanmu satu pertanyaan. Kau sudah tidak pernah belajar malam dan tidak pernah mengingatkan kita untuk melakukan seperti itu juga. Kau sudah selalu bolos piket. Kau juga sangat diam saat kita mengobrol bareng. Dan bahkan kau juga perlahan mulai menjauhi Emilia. Kau tiba tiba menjadi pendiam, selalu memasang tawa palsu, memasang senyum palsu, tatapan matamu kepada orang yang mengajamu bicara itu sangat kosong dan bahkan kita mengira bahwa kita mengobrol dengan orang yang sedang melamun. Kau tidak begitu senang jika melihat orang lain tersenyum bahagia, kau juga benar benar menjadi pendiam. Dan setelah itu semua, kau pun sudah sangat amat jarang untuk pergi ke sekolah. Kita merindukan sosok Johan yang selalu menghangatkan kita saat kita sedang bersama. Namun saat itu, kita benar benar berfikir entah kenapa Johan sudah benar benar berubah. Kita sempat berfikir apa mungkin dia sedang sakit. Pada akhirnya, beberapa hari yang lalu, kau pun masuk sekolah saat akan melaksanakan ujian tengah semester. Tapi walaupun saat itu kau datang ke sekolah, saat itu kau juga tidak berubah. Kau bahkan memasang senyum palsu. Kau bahkan menjauhi Emilia. Dan bahkan kau tidak peduli apakah kita baik baik saja jika kau bersikap seperti itu. Namun, kemarin lusa, sebelum papah kamu meninggal, beliau menceritakan semuanya kepada Emilia tentang apa yang terjadi tiga bulan yang lalu. Beliau berkata kalau kau mengalami serangan mental karena perceraian antara papahmu dan mam-“ ucap Jehian terhenti.


“hentikan itu, kau sudah tidak berhak untuk mengungkitnya lagi. Aku sudah memutuskan untuk melupakannya. Aku ingin melupakan semua itu” sahut Johan seraya menundukkan kepalanya.


“apa itu bena-“ tanya jehian terhenti.


“ma-maaf, kau tidak perlu semarah itu” ucap Jehian sedikit ketakutan.


“udah udah, jangan terbawa emosi” ucap Emilia seraya memegang telapak tangan kiri Johan.


Melihat itu, Johan seketika menyahut tangan kirinya tersebut dari genggaman tangan Emilia dengan begitu keras. Saat itu juga Johan teringat akan wajah rupa Odessa yang tengah memegang tangan kiri Johan. Memikirkan hal itu, seketika Johan menatap tangan telapak tangan kirinya itu.


Namun, hal yang mengejutkan terjadi. Nyatanya, tato yang berada di telapak tangan Johan secara tiba tiba menghilang. Johan pun sedikit panik namun dirinya masih bisa mengendalikan fikirannya. Johan pun berfikir apa yang terjadi dan bagaimana ini semua bisa terjadi. Johan pun berfikir kalau itu hanyalah dunia mimpi dan dia berfikir kalau dirinya akan bertemu dengan dewi alam, Greisha.


“Gerisha, iya namanya Greisha!” teriak Johan.


“hah a-apa yang kau katakan?” tanya Farel.


“Greisha! Greisha! Tolong aku? aku dimana?” teriak Johan begitu keras.


“udah hentikan itu, Johan” ucap Emilia seraya memegang kedua pundak Johan.


“Greisha, dimana tatoku? Dimana kamu?” teriak Johan seraya menghadap ke langit langit mobil dan membentangkan kedua tangannya.


Saat itu, Emilia dan semua teman temannya pun begitu ketakutan karena Johan yang benar benar bertingkah sangat aneh. Mereka benar benar melihat wajah Johan yang begitu ketakutan. Mereka melihat Johan yang berkeringat begitu deras, seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya itu.


Nyatanya, saat itu Johan benar benar begitu kebingungan dan benar benar bersedih. Pasalnya saat itu, Johan berfikir kalau dunia mimpi ini berlangsung saat dirinya masih belum terbangun dari pingsan di bawah pohon itu.


“bagaimana ini? apa aku masih belum bangun dari tidurku? Sejak kapan aku bermimpi ini? sejak kapan aku tertidur?” fikir Johan seraya menatap kedua telapak tangannya.


“ohh, iya. Greisha pernah mengatakan kepadaku kalau saja jika kita ingin terbangun dari mimpi, kita harus menggigit tangan kiri kita sendiri” fikir Johan dalam hati.


Saati itu pula, Johan pun seketika melihat telapak tangan kirinya sendiri. Dengan tatapan mata yang begitu ketakutan saat melihat johan, teman teman Johan saat itu benar benar ketakutan akan apa yang dilakukan oleh Johan. Dengan seketika, Johan pun menggigit tangannya sendiri dengan kekuatan penuh hingga darah di telapak tangannya itu bercucuran kemana mana.


“ahh sakit” teriak Johan begitu keras.


“tunggu dulu, kenapa aku masih belum terbangun dari tidurku? Apa jangan jangan aku masih belum menggigit tanganku dengan benar” fikir Johan dalam hati.


Maka dari itu, Johan pun sangat amat memaksakan dirinya untuk menggigit telapak tangan kirinya sendiri. Berkali kali Johan melakukannya, nyatanya darah yang bercucuran sudah memenuhi hidung, pipi, serta kedua lengan Johan. Saat itu Johan benar benar terbalut oleh darah segarnya sendiri.


Melihat hal itu, Emilia benar benar ketakutan begitu pula dengan teman temannya. Mereka semua berteriak dengan begitu keras karena ketakutan Johan yang memakan anggota tubuhnya sendiri. Melihat hal itu, seketika pak sopir tersebut seketika berhenti di pinggir jalan tol dan kemudian turun dari sana.


Dengan begitu kasarnya, Johan di paksa untuk tengkurap dengan posisi kedua tangan berada di belakang puggung., kedua tangannya pun di borgol begitu pula dengan kedua kakinya. Setelah itu, sang sopir itupun menekuk kedua kaki Johan hingga kedua kaki Johan menyentuh tangan yang berada di belakang punggung tersebut.


Saat itu pula, sang sopir menyatukan borgol yang mengikat kedua tangan dan kedua kaki menjadi satu. Dengan kata lain, Johan sudah benar benar tidak bisa melakukan apa apa lagi. Kedua tangan dan kakinya saling mengunci satu sama lain. Johan dalam keadaan tengkurap tidak berdaya.


“untuk saat ini, kita anggap kalau nak Johan sudah terkena gangguan jiwa. Walaupun kalian mengajaknya berbicara, kalian tidak akan pernah bisa untuk memahami apa yang Johan maksud. Sekarang, demi keamanan, silahkan Emilia untuk berpindah duduk di kursi depan di samping saya sementara teman teman Johan yaitu Nyoman, Farel dan Jehian ini akan tetap duduk di kursi belakang. Saya akan membenarkan bentuk kursi ini agar benar benar menjadi kursi yang saling berhadapan sama seperti dari awal kalian masuk” ucap tegas sang sopir itu.


Sang sopir pun seketika mengembalikan seperti semula kursi belakang sementara Emilia pun memutuskan untuk duduk di depan. Sebelum itu, sang sopir mengambil cairan alkohol di satu botol besar dan kemudian menyiramkannya ke luka milik Johan. Hal ini di lakukan agar tangan Johan tidak terkena infeksi. Apalagi luka tersebut terjadi karena sebuah gigitan gigi.


Johan pun seketika benar benar kesakitan. Johan berteriak dengan sangat keras kesakitan saat sang sopir menyiramkannya alkohol di tangan kirinya. Teriakan tersebut membuat Emilia meneteskan air mata saat mendengarnya sementara rasa kasihan dan prihatin menyelimuti Nyoman, Jehian serta Farel.


“saakiittt, itu perihh, hentikan ituuu” teriak Johan dengan tangis air mata yang bercucuran.


“tenang Johan, kau harus kuat. Mimpi ini benar benar begitu seperti nyata. Aku merasakan kesakitan yang luar biasa di dalam mimpi ini. Tenang saja, ini hanya mimpi! Ini hanya mimpi!” fikir Johan dalam hati.


Selepas melakukan itu, sang sopir pun kembali menutup pintu belakang dan kemudian kembali ke kursi sopirnya lagi. Sang sopir pun memasnag sabuk pengaman begitupula dengan Emilia yang tengah duduk disana. Disisi lain, Nyoman, Farel dan Jehian yang tengah duduk di kursi belakang hanya mengawasi tubuh Johan yang saat itu benar benar memberontak serta berteriak dengan meneriakan nama Greisha berkali kali.


“kurasa dia benar benar sudah gangguan jiwa” ucap Farel.


“aku menyesal kenapa aku harus mengatakannya, seharusnya sebagai teman, kita membantu dalam proses rehabilitasi dari trauma dan depresi yang tengah ia lalui saat ini. Bagaimanapun juga, Johan yang saat ini mungkin tidak menganggap kita sebagai teman” ucap Jehian.


“tidak apa, kau sudah berusaha untuk memperbaiki mental Johan dengan cara menanyakan bagaimana menenangkan dirinya” tegas sang sopir di kursi depan.


“apa pak sopir tau kondisi Johan?” tanya Emilia.


“para perawat dari rumah sakit sudah berpesan kepadaku kalau Johan bisa saja kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Aku bukanlah dokter psikolog, jadi aku sama sekali tidak mengerti bagaimana kondisi Johan saat ini” jawab tegas sang sopir.


Mereka pun terdiam terpaku dan tidak sekalipun mengobrol serta membicarakan sesuatu didalam mobil sepanjang perjalanan. Sang sopir pun merasa sedikit kasihan akan teman teman Johan karena perubahan karakter Johan yang begitu signifikan. Pada akhirnya, mereka sekalipun tidak berbicara maupun saling tatap muka disana selama perjalanan berlangsung.


Disisi lain, Johan yang saat itu sudah terpengaruh oleh obat obatan yang ia minum sebelumnya berdampak pada efek tubuh Johan yang seiring berjalannya waktu mulai melemas secara sendirinya. Pada akhirnya, Johan pun akhirnya tertidur disana dengan keadaan dan kondisi yang begitu menyedihkan. Johan berhenti bertirak maupun memberontak.