
Ayah Aji membawa Johan untuk masuk kedalam kantor desa. Saat Johan melangkahkan kaki kedalam kantor desa, Johan benar benar terkejut bukan main. Pasalnya Johan terkejut saat melihat semua pemuda yang bertugas menjaga hutan itu dalam keadaan tidak sadarkan diri dipenuhi dengan lebam di muka dan lengan mereka.
“a-apa yang terjadi?” teriak Johan dengan begitu panik.
“mereka diserang oleh sekumpulan lelaki dewasa yang akan menebang hutan” jawab ayah Aji.
“bagaimana kondisi mereka? kapan mereka menyerang?” tanya Johan.
Saat itu pula, Johan mendengar dan melihat Yoga sedang berusaha memanggilnya dari kejauhan. Johan melihat Yoga yang saat itu dalam keadaan babak belur hingga tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Ia melihat Yoga yang melambaikan tangannya kepada Johan.
Spontan saat itu, Johan berlari menuju Yoga yang tergeletak lemas disana.
“apa kau baik baik saja?” tanya Johan dengan begitu panik.
“Kami berhasil mengusir para penebang hutan yang akan menebang hutan” ucap Yoga seraya meneteskan air matanya.
“tapi kenapa kamu malah menangis? Apa rasanya sakit? aku akan menelfon ambulans” ucap Johan.
“kita menyesal dan merasa bersalah karena kita tidak berhasil melindungi pohon Hornbeam di sebrang hutan” ucap Yoga.
“apa yang kau katakan? Kalian berhasil mengusirnya. Aku baru saja pergi kesana dan melihat kalau saja pohon itu masih berdiri kokoh” ucap Johan.
“kau benar, tapi mereka pasti akan datang untuk menebang pohon itu” jawab Yoga.
“kenapa mereka begitu berambisi untuk menebang pohon itu?” tanya Johan.
“salah satu dari kita sempat menguping pembicaraan para penebang hutan itu. Para penebang hutan akan menebang pohon Hornbeam karena mereka meyakini kalau saja pohon itu memiliki kandungan yang penting dalam pembuatan obat melawan kanker” jawab Yoga.
“obat pembuatan kanker? Apa itu serius?” tanya Johan.
“sebaiknya Johan ikhlaskan saja penebangan pohon itu. Mau tidak mau, mereka sudah mendapatkan ijin dari kepala farmasi di salah satu lab penelitian besar yang sangat amat membutuhkan kayu dari batang pohon hornbeam sebagai bahan baku itu” jawab Yoga.
“tapi, kalau pohonnya di tebang. Nanti Odessa bisa mati” gumam Johan seraya meneteskan air matanya.
“aku tidak mau tau. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi kesana dan membahayakan diri untuk melindungi pohon itu” tegas Yoga.
Mendengar hal itu, Johan menggenggam tangan kanan Yoga dengan kedua teapak tangannya. Johan menangis di tempat itu dan membiarkan tetesan air matanya mengenai telapak tangan Yoga dan mengalir hingga siku lengan.
“ini sudah tugasku untuk membantu saudaraku. Untung saja bukan kau yang melindungi pohon itu seorang diri, kalau tidak pasti kau sudah dihabisi disana” ucap Yoga dengan tawa senyumnya.
“baik, terimakasih banyak. Aku sangat amat menghargai pengorbanan kalian semua. Aku bangga dengan kalian semua” jawab Johan dengan meneteskan air matanya.
“sama sama, saudaraku” jawab Yoga.
“apa kau sudah minum obat?” tanya Johan.
“sudah. Obatnya pahit banget” jawab Yoga dengan sedikit tawanya.
“pasti sebentar lagi, tubuhmu akan baikan. Aku ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar” ucap Johan.
“baik” jawab Yoga.
Johan pun berdiri dan kemudian berjalan ke arah luar kantor desa itu. Johan membuka pintu tersebut dan menutupnya kembali. Johan segera berjalan ke arah mobil pak Abdi yang tengah terparkir di depan gapura desa.
Saat Johan sampai di mobil, Johan berkata kepada pak Abdi yang tengah merokok dan meminum kopi di kursi sopir. “lebih baik bapak tinggal saja aku disini. Aku berniat untuk menginap disini. Lebih tepatnya di kantor desa. Aku takut alau pak Abdi menungguku, pak Abdi akan terlambat untuk bertemu dengan atasan pak Abdi. aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan dengan para tetua desa” tegas Johan.
“apa kau serius?” tanya pak Abdi.
“aku akan baik baik saja” jawab Johan dengan senyum palsunya.
“kalau begitu, aku akan meninggalkanmu disini. Jaga dirimu baik baik” tegas pak Abdi dengan menyalakan mesin mobilnya. Saat itu juga, mobil pak Abdi melaju kencang meninggalkan Johan seorang diri di depan gapura itu.
Setelah itu, Johan kemudan berjalan menuju ke danau Jalesveva yang berada di desa tersebut. Johan berniat iseng untuk berjalan jalan membiarkan tubuhnya diselimuti oleh udara yang begitu dingin saat itu.
Tidak lama setelah itu, Johan berfikir kalau Johan akan menemui Yoga kembali di kantor desa. Pada akhirnya, Johan pun kembali berjalan jalan di sekeliling danau tersebut dan pada akhirnya, namanya dipanggil oleh seorang lelaki yang ada di hulu danau tersebut.
“Johan? Apa itu kau?” teriak Adam dari kejauhan.
Mendengar suara Adam yang meneriakkan namanya, Johan spontan mencari keberadaan Adam. Hingga pada akhirnya, Johan melihat Adam yang sedang duduk di sebuah kursi kayu tua bersama dengan seorang perempuan disana.
Johan pun berjalan menuju ke arah Adam dan perempuan disampingnya itu.
“kenapa kau kemari? Apa kau mencariku?” tanya Adam.
“aku kemari karena mengantarkan Odessa pulang” jawab Johan.
“jadi, apakah pohon milik Odessa berada disini?” tanya Adam begitu terkejut.
“iya” jawab Johan.
“dan ini siapa?” tanya Johan kepada perempuan disampingnya.
“dia adalah Riana Dassilva, roh danau yang kumaksud” jawab Adam.
“senang bertemu denganmu, Riana” ucap Johan.
“sepertinya belum” jawab Johan.
“ehh? Belum? Maksudnya?” tanya Adam begitu terkejut.
“seperti apa yang kau bilang, roh alam tidak mungkin pernah hamil. Namun baru saja, Odessa dijemput oleh suaminya di depan mataku langsung. Mereka berdua membicarakan tentang anak yang ada di dalam kandungan Odessa. Dan itu membuatku… “ ucap Johan terhenti.
“itu membuatku…” ucap Johan terhenti kembali.
“apa kau ingin menangis?” tanya Adam.
“aku ingin menangis, tapi aku tidak bisa menangis di depan orang lain. Aku akan menangis sepuasku di dalam kamarku nanti” jawab Johan dengan senyum tawanya.
“hatimu benar benar kuat, apa kau yakin kalau Odessa adalah seorang manusia biasa?” tanya Riana.
“dia berkata kalau dia tidak mengetahui apapun mengenai roh alam dan dewi alam. Dia juga mengaku kalau dia sedang mengandung. Bahkan disaat kita berdua dalam perjalanan dalam mobil kemari, dia bahkan tertidur disampingku. Itu berlainan dengan apa yang dikatakan oleh Adam” jawab Johan.
“Adam benar juga. kita sebagai roh alam tidak perlu tidur, tidak perlu makan dan minum, tidak perlu beristirahat dan tidak bisa hamil. Tapi kita juga bisa berbohong kepada manusia” jawab Riana.
“maksudnya?” tanya Johan.
“apa kau yakin kalau Odessa tidak berbohong saat bersandiwara akan rencananya menyelamatkanmu dari para penebang hutan?” tanya Riana.
“bagaimana kau bisa tau?” tanya Johan.
“aku yang memberitahukan semuanya kepadanya” sahut Adam.
“aku akan memberithukan satu hal kepadamu” tegas Riana.
“apa itu?” tanya Johan.
“kita sebagai roh alam bisa berbohong kepada manusia, tapi kita tidak bisa mengontrol emosi, apalagi saat menangis. Roh alam akan menangis jika roh alam menginginkan sesuatu kepada orang tercintanya” tegas Riana.
Mendengar hal itu, Johan seketika teringat perkataan Odessa. Johan mengingat perkataan Odessa saat mereka berdua sedang berada di taman kota. Johan mengingat Odessa menangis karena Odessa ingin dijemput selalu oleh Johan. Odessa menangis karena dia ingin Johan berjanji untuk selalu menjemputnya. Odessa menangis karena Johan bersumpah Hanabi.
“terbang, melayang, menyala, meredup dan kemudian selesai. Terbang, melayang, menyala, merdup dan kemudian selesai. Terbang, melayang, menyala, meredup dan kemudian selesai.. sekarang aku tau arti dari janji yang diberi nama” jawab Johan.
“apa yang kau katakan? Terbang? Meredup? Apa maksudnya?” tanya Adam.
“maaf, aku hanya menggumam” jawab Johan.
“Sekarang, apa kau tau keputusanmu?” tanya Riana.
“aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Jujur saja, aku takut. Jika aku yang sekarang menemui Odessa kembali bersama dengan suaminya, dan memang benar kalau Odessa adalah istri dari lelaki itu, Odessa pastinya akan membenciku.” jawab Johan.
“apa kau tidak tau apa yang dirasakan oleh Odessa sekarang ini?. Jika pohonnya tertebang, Odessa akan seketika lenyap dari dunia ini. Apa kau berifikir jika orang tidak akan takut jika kematiannya udah dekat?. Sama sepertimu, Odessa juga takut akan kematian. Tapi Odessa lebih mementingkanmu dan melupakan ketakutannya. Di hari pertama kali Odessa dan kau bertemu, Odessa selalu menghiburmu agar kamu tidak kesepian dan tenggelam dalam kesedihan lagi. Namun hari ini adalah pembuktian, bahwasanya kau harus membalas apa yang telah Odessa lakukan kepadamu” jawab Adam.
“tapi, bagaimana kalau-“ ucap Johan berhenti.
“jika kau terlambat, penebang hutan akan memotong pohon Odessa” sahut Adam memotong ucapan Johan.
“seorang roh alam yang kehilangan alam yang dilindunginya akan tersadar sejenak” ucap Riana.
“apa maksudnya?” tanya Johan.
“setelah pohon milik Odessa tertebang, Odessa hanya memiliki waktu sekitar 5 menit untuk hidup di dunia ini sampai pada akhirnya, seluruh tubuhnya akan berubah menjadi tanah” jawab Riana.
“kalau begitu, apa kau sudah memutuskan apa yang akan kau lakukan?. Pilihannya ada padamu. Kau akan pulang kerumah seraya menangis menyedihkan di dalam kamarmu sama seperti apa yang telah Odessa rencanakan, atau kau akan keluar dari rencana Odessa dan menyelamatkannya?” tanya Adam.
“aku sudah memutuskannya” jawab Johan.
“apa yang akan kau lakukan?” tanya Riana.
“aku tidak akan kehilangan perempuan yang kucintai” jawab Johan dengan tatapan mata begitu tegas.
“nahh, gitu dong. Sobatku” ucap Adam.
“Greisha, aku butuh bantuanmu. Izinkan aku untuk melindungi anakmu ini sekali lagi. dukung aku dan bantu aku, Greisha!” ucap Johan seraya memejamkan matanya.
“apa yang kau lakukan? Kenapa kau memanggil ibuku” tanya Riana.
“aku ingin ibumu itu membantuku untuk menyelamatkan Odessa” jawab Johan.
“apa itu akan berhasil?” tanya Adam.
“aku juga tidak tau. Aku sama sekali belum pernah mencobanya sebelumnya. Tapi aku percaya, Greisha pasti akan mendengarnya” jawab Johan.
“terserahmu” jawab Adam.
“kalau begitu, aku harus bergegas secepatnya” ucap Johan.
“hati hati di jalan dan jangan sampai kau terluka” jawab Adam dan Riana bersamaan.
“baik” jawab Johan menganggukkan kepalanya.