
“kemarin malam, tepatnya jam 9 malam. Aku mendapatkan tugas untuk mengirimkan beberapa bahan pangan untuk donasi kepada korban kebakaran hutan di desa Engkobappe yang hampir membakar seluruh rumah warga. Akupun berniat untuk berangkat saat tengah malam agar jalanan menjadi sepi dan aku tidak perlu terjebak di belakang mobil lain di dalam tol. Tepatnya jam 12 malam, aku pun benar benar mengantuk, maka aku memutuskan untuk membeli kopi di warung dan menghisapo beberapa rokokku disana sembari menongkrong dengan temanku yang menjadi makelar bis. Aku pun nongkrong selama beberapa menit di halte bus dan berniat berangkat jam 1 pagi. Namun secara tiba tiba, ada seorang anak lelaki yang dalam keadaan nafas yang ngos ngosan bertanya kepada kita berdua mengenai bus yang berangkat malam. Anak laki laki itu adalah Johan. Di malam hari yang begitu dingin karena hujan yang sedikit begitu deras membawanya ke halte bus hanya agar pergi ke tujuannya. Dan aku menjawab kalau bus Restu adalah bus yang berangkat malam. Namun sayangnya, Johan terlambat untuk naik ke bis Restu itu karena terlambat lima menit sebelum bis tersebut berangkat”
“aku pun menanyakan kemana Johan akan pergi dan dia menjawab kalau dia akan pergi ke desa bernama Engkobappe. Aku yakin itu bukanlah sebuah kebetulan melainkan takdir yang memaksaku untuk memberi tumpangan Johan. Saat itu pula, aku memberinya tumpangan dan dia terlihat begitu senang dan bahagia. Kita berangkat pukul 1 malam hingga pukul 3.30 malam. Sesampainya disana, aku memarkirkannya ke gedung kantor desa tersebut. Aku membiarkan Johan berurusan dengan keempat tetua tersebut sementara aku dan para relawan disana mengangkut bahan pangan dari dalam mobil pick up tersebut. Beberapa menit kemudian, setelah aku selesai mengangkut semua barang bahan pangan tersebut, aku berniat untuk meninggalkannya di desa ini. Namun firasatku berkata kalau tidak ada hal yang baik jika aku melakukan itu. Maka dari itu, aku lebih memilih untuk ngopi bersama dengan para relawan disana”
“beberapa menit setelah itu, Johan keluar bersama dengan keempat tetua yang ada di desa itu. Johan keluar bersama dengan ketua, wakil, bendahara dan sekertaris desa tersebut. Entah apa yang di bicarakan oleh Johan di dalam gedung namun yang pasti, Johan mengajak para tetua tersebut untuk melakukan apa yang Johan inginkan. Di malam hari yang begitu dingin dan hujan yang luarbiasa deras dan lebat, Johan dan keempat tetua itu mengenakan jas hujan sembari membawa korek api, petasan, senter dan juga sepasang belati dan keris”
“aku tidak tau apa yang mereka akan lakukan, tapi aku melihat mereka berjalan menjauh dari gedung kantor desa itu. Dari kejauhan, aku melihat mereka berlima berpencar ke arah hutan yang berbeda beda dan aku tidak tau apa yang akan mereka lakukan. Setelah beberapa menit berlalu, dari gedung yang berjarak lumayan jauh dari hutan, aku mendengar layaknya petasan yang meledak bersamaan. Sepertinya, itu adalah puluhan petasan yang di ledakkan langsung. Aku tidak tau jumlah pastinya berapa, yang pasti petasan itu meledak secara bersamaan dan secara berderet”
“beberapa menit setelah petasan itu meledak, keempat lelaki tertua tersebut membawa beberapa tubuh orang yang mereka anggap sebagai penebang hutan sembarangan. Dengan kondisi dua kaki yang berlubang sebab di tikam, darah bercucuran sepanjang mereka berjalan. Kalau di hitung hitung, mungkin jumlahnya lebih dari 30 orang. Saat itu, mereka bolak balik, ke hutan, ke gedung, ke hutan lagi, dan ke gedung lagi hanya untuk menggendong para penebang hutan tersebut. Saat itu pula aku sedikit khawatir dan cemas dengan keadaan Johan dan berfikir mengapa Johan tidak kunjung kembali. Hingga pada akhirnya, mereka berempat berhasil membawa Johan bersama dengan dua orang lelaki dalam keadaan muka yang sudah begitu parah belepotan darah”
“akupun menanyakan semuanya kepada sang ketua mengenai apa yang terjadi dan apa yang Johan lakukan. Maka dari itu, sang ketua dan para tetua lainnya pun tidak berniat untuk menutupi fakta dan menceritakannya dengan jujur. Mereka berkata kalau Johan sudah tau tentang penebangan tersebut semenjak Johan berada di dalam rumah. Entah bagaimana Johan bisa tau kalau akan ada penebangan hutan, tapi yang pasti, alasan Johan pergi ke desa itu tak lain adalah untuk melindungi pepohonan di hutan dari para penebang hutan sembarangan tersebut. Bahkan Johan rela membayarku seebsar 1 juta rupiah hanya untuk bisa ngebut dan sampai pada tujuan dengan cepat. Pak ketua juga berkata kalau sebenarnya, mereka tidak tau apa apa mengenai penebangan hutan itu. Dan mustahil bagi orang luar apalagi Johan yang berasal dari kota untuk mengetahuinya”
“pak ketua juga berkata, bahwa Johan di temukan tidak sadarkan diri sedang memeluk pohon yang berada di sisi lain hutan. Johan memeluk pohon yang berada di samping danau dan berada di samping rumah kayu yang sudah hangus terbakar. Entah apa yang Johan lakukan, namun Johan sepertinya memeluk erat pohon tersebut layaknya pohon tersebut adalah manusia. Setelah di hitung hitung, pak ketua berhasil melawan 6 orang penebang, pak wakil melwan 7 orang penebang, pak bendahara melawan 5 orang penebang sementara pak sekertaris melawan 7 orang penebang. Disisi lain, Johan yang berada di wilayang paling tengah dari hutan melawan 12 orang sendirian beserta dengan sang ketua yang membawa pistol. Ditambah lagi dengan 2 orang lagi yang berada di dekat pohon yang sedang Johan peluk ”
“pagi hari, pada saat itu pula, para tetua meyakini bahwa Johan sudah tidak sadarkan diri dan bisa di bilang pingsan. Namun entah mengapa, secara tiba tiba Johan mampu terbangun di jam yang masih begitu pagi. Johan terbangun dalam kondisi yang pegal pegal. Bahkan Johan tidak ingat jika dirinya telah tidak sadarkan diri dengan dalam kondisi memeluk pohon. Johan terbangun pada saat jam 5 pagi, dimana sudah seharusnya anak ramaja yang berhasil mengalahkan 14 orang lelaki sendirian merasa kelelahan dan tertidur dengan sangat lama. Pasalnya, Johan tidak sadarkan pukul 4 pagi namun Johan terbangun di jam 5 pagi. Itu adalah waktu istirahat yang tidak masuk akal dimana Johan sama sekali tidak bisa mengistirahatkan tubuhnya untuk sebentar saja. Bahkan saat itu, saat pagi hari Johan mengajak anak anak di desa itu bermain di dekat pohon tempat Johan memeluk pohon tersebut”
“hingga sampai kita berniat untuk pulang, kita berpamitan kepada mereka dan kemudian beranjak dari desa itu. Aku melihat dari kaca tengah, Johan tidak berhenti henti memasang raut muka senyum bahagia. Raut wajahnya yang sangat senang saat mengalahkan para penebang hutan yang akan merusak desa tempat kelahirannya itu benar benar terpapang jelas. Bahkan cara bicaranya pun berbeda. Johan begitu bersemangat dan dengan nada suara yang tinggi. Berbeda jauh dengan Johan yang kutemui saat kita baru pertama kali bertemu saat malam hari di halte bus”
“temanku, Surya akan menceritakan kronologi kejadian selanjutnya. Surya akan menceritakan kejadian yang dilakukan oleh Johan dan surya di rumah temanku Surya ini” jelas pak Abdi dengan panjang lebarnya.
“seperti apa yang sudah kalian dengar sendiri. Johan berniat untuk menyelamatkan hutan desanya seorang diri. Jika kita mendengarnya, kita akan tertawa terbahak bahak karena kita sudah tau, bagaimana anak yang sudah lemah dari lahir melawan seorang lelaki dewasa. Namun, hari ini, Johan membuktikan dan membungkam kita semua bahwasanya Johan bisa melakukan hal yang bahkan tidak bisa kulakukan”
“pak Abdi dan Johan pun datang kerumahku karena pak Abdi berniat untuk menjengukku karena aku baru saja pulang dari rumah sakit. Saat itu, pak Abdi memberikan sekardus kopi yang telah ia bawa dari desa. Dia juga mengatakan kalau dia sedang mendapatkan penumpang yang tidak dikenal. Mendengar hal itu, aku sedikit curiga dengan apa yang telah di lakukan oleh temanku, pak Abdi ini.”
“namun, sepertinya Johan benar benar marah akan tamparan itu. Johan menendangku, bahkan bisa dikatakan saat kita bertengkar di dalam rumah, aku kalah telak dengan Johan. Benar benar tidak bisa di percaya” jelas paman Surya.
“tidak mungkin, Johan tidak akan pernah mungkin bisa melawan orang terdekatnya” sahut Emilia dengan tatapan tajam.
“aku tidak akan pernah menyalahkan kalian jika kalian tidak percaya kepadaku. Aku hanya perlu memberikan barang bukti kepada kalian. Ruang tamu tempat kita berdua bertengkar telah terekam kamera CCTV tetangga depan rumah. Maka dari itu, aku meminta rekaman CCTV tersebut dari tetanggaku untuk merekamnya dan kemudian mengirimnya kepadaku. Aku akan menujukkan kepada kalian seberapa ganas Johan kalian saat marah” ucap paman Surya memberikan ponsel yang berisi video rekaman CCTV miliknya itu.
Mereka semua pun seketika bergerombol dan berdesak desakan hanya untuk melihat pertarungan antara Johan dan paman Surya. Mereka melihat dengan begitu jelas bagaimana Johan bertarung dan mengalahkan paman Surya. Sebuah hal yang benar benar tidak bisa dipercaya dimana Johan yang memiliki tubuh yang begitu lemah mengalahkan seorang lelaki dewasa seorang polisi.
Mereka benar benar terkejut dengan apa yang terjadi kepada Johan. Mereka menganggap bahwa Johan telah terlewat batas dan memang harus di hukum. Bagaimanapun juga, Johan menyerang orang yang hendak menegurnya. Dan itu adalah satu kesalahan yang di lakukan oleh Johan.
“maaf, aku telah menyerang paman Surya” ucap Johan dengan tangis isaknya.
“yaahh, itu tidak apa apa. Tenang aja. Aku hanya menggigit lidahku. Gara garamu, aku jadi susah makan minum” ujar paman Surya sedikit tertawa.
“apa kalian brtiga tidak berbohong?” tanya sang ibunda kepada Johan, pak Abdi dan paman Surya.
“tidak” jawab mereka semua bersamaan.
“hmm, kalau begitu. Johan, ikut mamah ke dalam kamar” tegas sang ibunda berjalan ke kamar Johan yang berada di lantai atas.
“baik” jawab Johan mengusap air matanya.