Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 100, Kepergian Odessa



“pergilah dari sini, biar aku yang akan menjaga pohonmu” teriak Johan.


“tapi-“ ucap Odessa terhenti.


“cepat pergilah!” sahut Johan berteriak dengan begitu kencang.


“apa apaan ini? kenapa kalian malah saling bercinta di sini? Apa kaian tidak tau kalau disini sedang ada proyek penebangan hutan? Atau kalian ingin mengganggu pekerjaan kami?” tanya pria tersebut.


“sialan kau bedebah!” teriak Johan kepada pria tersebut.


“kau memang anak yang kurang ajar. Menurut informasi yang telah kubaca. Kau pernah menusuk kaki para bawahanku minggu lalu. Dan entah kenapa, kau mengetahui operasi diam diam milik kami. Kau tau banyak mengenai apa yang akan terjadi kepada hutan ini. Kemampuanmu terlalu berbahaya. Kau adalah musuh terbesar dan akan menjadi resiko dari para penebang hutan. Aku akan melenyapkanmu” ucap lelaki tersebut seraya menatap tajam kedua bola mata Johan.


Lelaki itupun seketika mengarahkan pistolnya ke arah kepala Johan. Dengan penuh keyakinan, lelaki itu menarik pelatuk pistolnya dan membiarkan peluru tersebut melesat kencang. Beruntungnya saat itu, peluru tersebut tidak mengenai kepala Johan melainkan mengenai telapak tangan kiri Johan. Peluru itu melesat begitu kencang mengenai luka gigitan hari lalu yang sudah mulai sembuh. dikarenakan peluru tersebut menembus luka gigitan tersebut, luka itupun terbuka lagi dan mengeluarkan darah begitu segar seperti hari lalu.


Kedua lengan Johan bergetar begitu kesakitan. Johan menahan jeritannya dan menahan rasa sakitnya itu. Punggung tangan Johan mengeluarkan darah begitu banyak sehingga seluruh telapak tangan Johan diselimuti oleh darah merah yang begitu segar. Darah keluar bak air mancur, tak terhentikan walau Johan tidak banyak bergerak.


“pelurunya panas. Rasanya dagingku begitu dicabik cabik. Tepat mengenai telapak tanganku. Apa aku akan mati disini” fikir Johan seraya menatap telapak tangan kirinya itu.


“kalau kau ingin menebang pohonku, silahkan tebang saja. Asalkan jangan lukai Johan. Aku akan membiarkanmu menebang pohonku. Setelah menebangnya dan membawa kayu itu, tinggalkan aku dan Johan disini” teriak Odessa dengan begitu tegas menatap tajam mata lelaki tersebut.


“hmm, menarik juga. Kalau begitu baiklah. Aku tidak akan mengganggu bocah ini lagi. Jangan mengangguku untuk memenebang pohon ini dan bawa Johan pergi dari sini” ucap lelaki tersebut seraya mengambil gergaji mesin yang tergeletak di tanah.


“ja-jangan lakukan itu. Kumohon jangan lakukan. Aku akan membayarmu berapapun asalkan jangan tebang pohon milik Odessa” teriak isak tangis Johan begitu menjerit kencang.


“pohon langka tidak akan pernah bisa dibayar dengan uang. Aku hanya ingin menginginkan pohon ini dan tidak menginginkan uang recehan dari seorang bocah” jawab tegas lelaki itu.


“kumohon, jangan tebang pohon milik Odessa. Aku sangat memohon kepadamu. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan asalkan kau tidak menebang pohon milik Odessa” teriak histeris Johan.


“aku tidak memerlukan bantuan dari bocah tengik sepertimu” jawab pria tersebut.


Pria tersebut mneyalakan mesin gergaji mesin tersebut dan mulai menebang pohon milik Odessa. Terlihat jika pria tersebut mulai mendekatkan gergaji tersebut ke arah pohon milik Odessa. Hingga sampai gergaji tersebut mengenai kulit pohon dan kemudian mengikis batang pohon hingga setengah.


“jangaaaannn‼!” teriak Johan dengan teriakan melawan suara berisiknya mesin gergaji mesin tersebut.


“sudahlah, tidak apa apa. Kamu sudah tau kalau aku adalah roh pohon, dan jika pohonku ditebang, maka nyawaku juga tidak lama lagi” ucap Odessa seraya memegang telapak tangan kanan Johan.


“apa rasanya sakit di tubuhmu saat pohon itu menebangmu?” tanya Johan.


“apa yang kau katakan? Aku hanya penjaga pohon. Aku hanya bisa menyatu dengan pohon. Namun jiwaku masih ada di tubuh ini sementara pohon memiliki jiwanya sendiri sebagai makhluk hidup” jawab Odessa.


Sesaat setelah itu, pada kahirnya pohon Hornbeam milik Odessa pun tumbang. Hanya menyisakan sisa potongan dari batang pohon yang tersisa dan masih menancap disana. pria itupun kemudian membawa batang pohon tersebut menjauh dengan mengangkatnya. Pria itu begitu kuat hingga bisa mengangkat mentahan batang kayu yang begitu luar biasa berat.


“tenang saja, aku masih memiliki waktu beberapa menit sampai pada akhirnya aku akan pergi dari sini” ucap Odessa dengan senyum tulusnya.


“jangan pergi, aku tidak ingin kehilanganmu” teriak Johan.


“bagaimanapun juga, aku sudah menikmati masa masa terakhirku bersama denganmu di kota. Aku sangat menikmatinya” ucap Odessa seraya meneteskan air matanya.


“kau tau, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku akan selalu mengingat sumpah Hanabi kita” jawab Johan.


“jangan lupakan janji itu meski aku sudah tidak ada di dunia ini” ucap Odessa.


“jangan berkata seperti itu” ucap Johan.


“kamu tau? Aku hanya berbohong mengenai aku sudah memiliki suami. Aku hanya roh pohon yang akan terus menjaga pohon. Aku tidak akan bisa menikah maupun hamil. Walau aku benar benar ingin menikmati masa tua bersamamu, tapi kurasa itu tidak mungkin. Pada akhirnya, nasib semua pohon di bumi ini akan sama. semua pohon akan tertebang. Dan dalam puluhan tahun yang akan datang, semua pohon di bumi ini akan lenyap. Semua roh pohon akan kehilangan seseorang yang tercintanya seperti apa yang kurasakan sekarang. Tapi setidaknya, aku tidak bernasib seperti pohon yang akan datang. Aku bertemu dengan anak lelaki yang bodoh dan selalu sedih saat ditinggalkan keluarganya. Mau bagaimanapun juga, aku tidak ingin melihat ada seseorang yang menangis di bawah pohonku” jawab Odessa.


“mau bagaimanapun juga, rencanaku gagal. Aku ingin selalu melindungimu dan tidak ingin kamu terlibat dalam masalah ini. Aku berharap kalau kamu saat itu sudah pulang bersama dengan pak Abdi. Tapi sayangnya kamu malah tetap ikut terlibat. Kamu tidak bisa menyelamatkanku tapi kamu malah mendapatkan cedera serius. Emilia akan memarahimu. Mamah akan memarahimu. Nyoman akan memarahimu. Paman Surya akan memarahimu. Jehian akan memarahimu. Farel akan memarahimu. Dan juga, aku pasti akan marah kepadamu” ucap Odessa.


“maafkan aku karena aku tidak bisa menyelamatkanmu” ucap Johan.


“itu tidak masalah. Dari awal memang aku sudah mengetahui ini. Kamu tidak akan pernah meninggalkanku. Aku selalu takut saat pohonku akan di tebang, namun saat bertemu denganmu, aku merasa kalau aku akan baik baik saja” jawab Odessa.


“katakan pada mamah dan paman Surya kalau aku sudah pulang kerumahku. Katakan kepada Emilia kalau Johan sudah tidak bersedih lagi. Katakan pada Nyoman kalau dia harus menjaga ucapannya. Katakan pada Jehian kalau dia harus belajar untuk ujian kelulusan. Katakan pada Farel kalau dia harus membimbing teman temannya yang bodoh itu. Katakan pada pak Abdi kalau aku sangat berterimakasih. Katakan pada paman Surya kalau dia harus menjaga mamah Johan dengan sepenuh hatinya. Katakan pada Kahfi kalau dia harus minum jamu brotowali agar dia tidak sakit perut lagi. katakan pada Setya kalau dia harus lebih sopan kepada perempuan dan jangan terlalu sering mengajak orang lain balapan. Dan yang terakhir, katakan pada dirimu sendiri kalau kau masih ingin menjemputku dan selalu ingin mencintaiku” ucap Odessa dengan tetesan air mata dan senyum indah tulusnya.


“jangan, jangan katakan itu. jangan tinggalkan aku sendiri disini” ucap Johan dengan isak tangis air mata yang semakin menjadi jadi.


“katakan kepada Johan kalau Odessa akan selalu mencintainya. Odessa selalu mencintainya dan akan terus menerus mencintainya. Kalau Johan memiliki perempuan lain, aku tidak akan marah. Mungkin perempuan itu lebih cantik dan lebih baik dari Odessa yang tidak bisa melakukan apa apa dan hanya bisa menghabiskan uang Johan dan menjilat jarinya sendiri. Aku akan sangat senang jika Johan memang mencintai perempuan lain. Itu berarti Johan sudah mau mengikhlaskan kepergianku. Tapi aku akan marah kepada Johan kalau Johan melupakan Odessa. Mungkin bagi Johan, Odessa adalah perempuan yang merepotkan, Odessa adalah perempuan yang gila, Odessa adalah perempuan yang jorok, Odessa adalah perempuan pelacur yang hanya mempermainkan perasaan lelaki, Odessa adalah perempuan yang boros, Odessa adalah perempuan yang jelek dan bau, dan Odessa adalah perempuan yang pandai berbohong. Tapi aku tidak masalah jika dianggap sebagai sampah oleh Johan”


“karena aku mencintai Johan. Cintailah Odessa, maka Ai akan mencintaimu. Ai, Love You” ucap Odessa dengan senyum bahagia dan tetesan air mata.


“ja-jangan pergi. Aku mohon jangan perg-“ ucap Johan terhenti saat melihat tubuh Odessa mulai menghilang dari hadapannya.


“Odessa, kamu kemana? Jangan pergi. Jangan pergi. Jangan pergi‼!” teriak Johan dengan begitu kencang dan isak air matanya.


“cintai alam, maka Ai akan mencintaimu” bisik suara Odessa dari telinga kanan Johan.


“Odessa,jangan pergi. Jangan pergi. Odessaaa‼‼” teriak Johan dengan air mata begitu deras mengalir di pipi.


“jangan pergi, Odessa. Aku mencintaimu” ucap Johan dengan suara yang mulai melemah.


Lambat laun, tubuh Johan tidak terkendali. Nafas Johan sduah mulai terengah engah. Kepala Johan begitu pusing sementara Johan masih merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Seketika itu juga, Johan tidak sadarkan diri di tempat itu tanpa seorangpun tau jika Johan tergeletak disana.