Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 103, Kepolisian



“dimana Mahesa Johan? Apa dia membolos sekolah lagi?” tanya sang pengawas ujian.


“dia membolos lagi” jawab salah satu teman yang duduk di bangku belakang.


“Johan terlalu banyak bolos, pasti dia tidak naik kelas” ucap sang bendahara kelas.


“bukan hanya itu, dia mungkin akan dikeluarkan dari sekolah” jawab teman sebangkunya diikuti tawa oleh seluruh teman sekelas.


“memangnya Johan sudah berhenti sekolah?” tanya sang pengawas ujian.


“kita tidak tau, tapi mungkin Emilia yang tau” jawab salah seorang wakil kelas.


“ehh? A-aku?” tanya balik Emilia.


“iya, kamu kan yang paling deket sama Johan” jawab sang wakil kelas.


Mendengar semua ocehan teman sekelasnya membuat Farel begitu risih. Penghinaan kepada Johan pun tidak bisa dipungkiri lagi. Farel tidak bisa membiarkan sahabatnya dihina begitu saja. Farel seketika berdiri dari tempat duduknya dan kemudian berjalan kearah pengawas ujian.


“apa yang kau lakukan? Cepat duduk sana!” suruh sang pengawas ujian.


Farel pun mengeluarkan ponselnya dan kemudian menunjukkan foto yang berisi Johan tengah terbaring di kasur rumah sakit tak berdaya. Dengan berbisik dan mendekatkan mulutnya ke telinga sang pengawas ujian, Farel membisikkan sesuatu kepadanya.


“Johan sekarang sedang berjuang di rumah sakit. Kedua kakinya tertembak pistol begitu juga dengan telapak tangan kirinya. Jangan beritahu siapa siapa. Biar aku saja yang memberitahukannya kepada Emilia dan teman temanku yang lainnya. Dan juga, aku ingin meminta ijin kepadamu. Aku, Nyoman, Jehian dan Emilia untuk pulang terlebih dahulu sebentar lagi untuk pergi menuju rumahsakit tempat Johan sedang dirawat. Bagaimanapun juga, kita berempat adalah alasan mengapa kaki Johan di tembak. Maaf atas kelancanganku karena tidak memberitahukan ini kepada anda sebelumnya” tegas Farel berbisik.


“ba-baik, saya akan memberitahukannya kepada guru kesiswaan agar kamu diijinkan pulang terlebih dahulu” jawab sang pengawas ujian berjalan keluar kelas.


Disana hanya ada Farel yang berdiri di depan kelas sementara sang guru pengawas ujian pun telah pergi meninggalkan kelas. Mereka semua begitu kebingungan dengan apa yang terjadi kepada Farel dan mengapa Farel sampai bisa mengusir sang guru pengawas ujian.


“untuk Emilia, Nyoman dan Jehian. Bereskan barang barang kalian. Kita akan pulang sekarang juga” ucap Farel di samping meja guru depan.


Mendengar hal itu, semua teman sekelasnya begitu terkejut bukan main. Dengan seenaknya sediri, Farel menyuruh teman temannya untuk pulang tanpa menyelesaikan ujiannya terlebih dahulu.


“apa yang terjadi?” tanya sang wakil kelas.


“Emilia, cepat bereskan barang barangmu. Nyoman dan Jehian, cepat bereskan barang barangmu dan juga barangku, tolong” ucap Farel kepada mereka bertiga.


“katakan dahulu, apa yang kau pertujukkan kepada guru pengawas” tegas sang wakil kelas.


“kita mau kemana? Farel?” tanya Jehian.


“untuk kalian semua, tetap kerjakan ujian remedial kalian” tegas Farel.


Saat itu pula, sang pengaws ujian datang bersama sang kepala sekolah kedalam kelas itu. Melihat adanya kepala sekolah yang datang, mereka semua seketika terdiam di hadapannya. Sang pengawas ujian dan kepala sekolah itupun berjalan mendekati Farel yang tengah berdiri di depan kelas.


“untuk Farel, Emilia, Jehian dan Nyoman. Kalian boleh pergi sekarang. Sertakan surat keterangan dari kantor polisi terdekat atas kasus yang sedang dilaksanakan” tegas sang kepala sekolah.


“ada seorang polisi yang sedang mengurus ini, maka dari itu anda tidak perlu khawatir. Saya sudah menemui polisi tersebut dan berurusan dengannya. Polisi tersebut pun sudah mengidentifikasi data pribadi Johan. Polisi tersebut akan secepatnya memberi kepada pihak sekolah mengenai surat ijin milik ohan agar Johan tidak mengikuti kegiatan proses belajar mengajar di sekolah untuk sementara” jawab Farel sedikit menganggukkan kepalanya.


Mendengar adanya kata kata “kantor polisi” dan “pihak kepolisian” membuat teman sekelasnya begitu terkejut dan begitu ketakutan. Mereka juga sedikit terkejut karena Farel, Emilia, Jehian dan Nyoman terlibat dengan pihak keamanan negara itu.


“sebenarnya ada yang terjadi?” gumam sang wakil kelas.


“apa yang terjadi dengan mereka berempat?” gumam seluruh teman sekelas itu.


“kalau begitu, kita berempat pamit” ucap Farel.


“hati hati dijalan” jawab sang pengawas ujian.


Seketika itu pula, Emilia, Jehian, Nyoman dan Farel berjalan keluar kelas. Tidak lupa juga mereka mengecup tangan sang pengawas ujian dan kepala sekolah sebelum mereka keluar dari kelas. Setelah mereka berempat keluar, sang wakil kelas menanyakan hal itu kepada kepala sekolah tentang apa yang tengah terjadi.


“maaf atas kelancangan saya, tapi apa yang sebenarnya terjadi?” tanya sang wakil kelas.


“itu adalah rahasia mereka, dan kalian tidak perlu ikut campur. Apalagi kalian terlalu berfikir berlebihan tentang Johan. Hentikan ocehan kalian mengenai Johan dan jangan banyak bicara” tegas sang kepala sekolah.


Disisi lain, Farel sudah di jemput oleh mobil polisi yang ada di depan pagar sekolah. Melihat itu, seketika Farel mengerti bahwasanya paman Surya sudah menjemputnya di depan pagar sekolah.


“hey, Farel. Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kita di jemput oleh mobil polisi?” tanya Emilia dengan begitu ketakutan.


“pertanyaan kalian akan terjawab. Semua hal mengenai Johan dan apa yang Johan sembunyikan telah terbongkar. Aku dan Adam Abraham sudah membongkarnya. Apa aku terlihat keren?” tanya Farel membanggakan dirinya sendiri.


“kau lebih terlihat menakutkan” jawab Nyoman.


“menggarisbawahi apa yang kau katakan sebelumnya. Berarti kau sudah bertemu dengan Adam Abraham?” tanya Emilia sedikit terkejut.


“kita berdua sudah bertemu semalaman kemarin” jawabfarel.


“apa yang terjadi apa Adam Abraham sudah bertemu dengan Johan pula?” tanya Jehian.


“sudah” jawab Farel.


“lantas, apa yang terjadi?” tanya Emilia.


“berisik kau, bodoh!” sahut Nyoman menutup mulut Farel.


Mereka pun keluar dari gerbang sekolah dan telah di jemput oleh mobil polisi. Di dalamnya terdapat paman Surya seorang diri yangs edang menyetir mobil.


“kau lama sekali. dari mana saja?” tanya Farel seraya mengetuk jendela mobil polisi tersebut.


“maaf maaf, aku terlambat untuk membalas chat whatsapp darimu karena aku sedang keasyikan makan dengan mamah Johan” jawab paman Surya.


Melihat jika polisi yang dimaksud adalah paman Surya, teman teman Farel bisa menghelas nafas dan begitu lega.


“eh, paman Surya? Jadi kau adalah polisi?” tanya Emilia begitu terkejut bukan main.


“memang aku polisi” jawab paman Surya.


“tapi kenapa pakaianmu selalu gembel saat pergi kerumah Johan? Apa kau tidak memiliki pakaian lain? atau jangan jangan, gaji mu masih dibawah UMR?” tanya Nyoman.


“tutup mulutmu, dasar Nyoman mulut bau!. Perkataanmu menusuk banget” sahut paman Surya terpancing emosi.


“kalian terlalu banyak bicara. Cepat masuk kedalam mobil” tegas Farel.


“baik” jawab mereka semua.


Mereka pun masuk kedalam mobil polisi yang sedang dibawa oleh paman Surya. Hanya Farel seoranglah yang duduk di depan bersama dengan paman Surya sementara Emilia dan dua lainnya sedang duduk di belakang.


“apa kau sudah pergi kerumah sakit?” tanya Farel.


“sudah, dan disana ada mamah Johan” jawab paman Surya.


“apa yang terjadi disana?” tanya Farel.


“dia berperilaku aneh. Dia selalu melamun dan dia selalu ingin sendiri. Dia menyuruh mamahnya untuk menutup jendela dan gorden. Dia juga menyurutuh untuk mematikan lampu. Kamar itupun menjadi gelap gulita. Dia hanya menunduk dan tidak berbicara apa apa” jawab paman Surya.


“apa jangan jangan, dia masih teringat dengan Odessa?” tanya Farel.


“kurasa seperti itu” jawab paman Surya.


“kau bilang, Callysta akan ikut?” tanya Farel.


“iya, dia akan ikut” jawab paman Surya.


“aapapppaaaaaaa‼!????? Callysta?” sahut teriak Jehian di kursi belakang.


“a-apa yang kau bicarakan? Kau membuat jantungku berhenti berdetak sejenak” teriak Farel begitu marah.


“ma-maaf sudah mengejutkanmu. Tapi apa kau mengenal Callysta?” tanya Jehian.


“dia adalah anakku” jawab paman Surya.


“Callysta? Apa anak paman bernama Callysta Ayunda Natalia?” tanya Jehian.


“waah, jadi kau sudah mengenal anakku?” tanya balik paman Surya.


“jadi itu adalah anak paman?” tanya Jehian.


“yapp, itu adalah anakku satu satunya” jawab paman Surya.


“maka dari itu, aku harus memanggilmu dengan nama lain” jawab Jehian.


“kau akan memanggilku siapa?” tanya paman Surya.


“calon mertua” jawab Jehian.


Mendengar hal itu, seketika Nyoman dan Emilia begitut terkejut karena perkataan Jehian yang begitu nyeleneh. Mereka semua tertawa terbahak bahak karena mendengar ucapan penuh khayalan dari seorang lelaki yang belum pernah pacaran selama hidupnya.


“apa yang kalian tertawakan?” tanya Jehian sedikit kesal.


“bu-bukan seperti itu. Tapi apa dirumahmu tidak ada cermin? Kalau tidak, aku akan membelikannya untukmu. Agar kau tau seberapa jeleknya dirimu” jawab Nyoman tertawa terbahak bahak.


“dasar mulut bau kurang ajar!” teriak Jehian begitu marah.


“itu terserah Callysta. Apa dia mau denganmu atau tidak” jawab paman Surya.


“kalau dia mau? Apa kau tidak akan marah?” tanya Jehian.


“paman Surya tidak akan marah karena paman Surya tau kalau Callysta tidak akan mau denganmu” ucap Nyoman tertawa terbahak bahak diikuti oleh tawa semua temannya disana.


“dasar kurang ajaarr‼” teriak Jehian begitu marah dan kesal kepada Nyoman.