
“akan ada seorang lelaki yang memiliki simbol murni dari leluhur Engkobappe bernama Wajayeja Valesveva yang sebelumnya berada di Valesveva Akuman. Simbol tersebut adalah simbol yang menunjukkan bahwa orang tersebut pernah berinteraksi secara langsung oleh sang Dewi Alam yaitu Greisha. Orang yang memiliki simbol tersebut adalah satu satunya orang yang mampu menjarahi perbatasan antara dunia alam roh dan manusia. Dan orang itu juga mempu menghidupkan roh yang sudah meninggal dengan memasuki dunia Willsh selama sang dewi alam yaitu Greisha belum tergantikan tahtanya oleh pengganti yang baru. Kakekmu berkata jika lelaki yang memiliki simbol murni tersebut akan muncul saat senja bersamaan dengan udara yang hangat serta mentari yang jingga cerah. Kita akan melihat lelaki tersebut dari ufuk timur dengan pancaran cahaya matahari penuh yang akan terbenam dari barat. Lelaki tersebut hendak menyelamatkan semua nyawa roh alam di wilayah kita. lelaki yang memiliki simbol tersebut adalah lelaki dari keturunan sang roh alam itu sendiri. simbol tersebut didapatkan ketika leluhur sang pemilik simbol tersebut meninggal dan berpindah ke anak cucunya” ucap sang wakil.
“jadi, apa kalian meyakini bahwa aku adalah lelaki tersebut?” tanya Johan.
“walaupun secara wasiat tidak tercantumkan nama dan umur lelaki itu, namun sang kakek mengatakan bahwa lelaki tersebut akan muncul di saat senja. Berbeda jauh dengan yang kau lakukan sekarang ini” jelas sang wakil.
“lalu, bagaimana kau bisa mendapatkan simbol tersebut di telapak kirimu itu?. didalam buku itu, dijelaskan kalau saja salah satu simbol yang tergambarkan di dalam buku tersebut dapat dimiliki oleh seseorang yang leluhurnya adalah seorang roh alam. Apa kau mengenal siapa dari sisilah keluargamu yang ternyata adalah roh alam?” tanya sang bendahara.
“seperti yang kalian ketahui sendiri, bahwasanya aku sudah bertemu dengan dewi alam secara langsung melewati mimpi. Aku sama sekali tidak tau akan apa yang terjadi dengan tato ku ini. tapi yang pasti, aku dapat berinteraksi dengan dewi alam melalui mimpi. Hujan yang saat ini turun adalah ulah dari Greisha. Dan beliau sendiri yang menyuruhku untuk menyelamatkan pepohonan di desa ini” jelas Johan.
“apa Greisha sendiri yang menyuruhmu untuk kemari dan menyelamatkan para roh pohon disini?” tanya sang ketua.
“iya, itu benar. Jam 12 malam, saat aku tertidur, dengan begitu gelisah dan raut muka yang begitu tergesa gesa, beliau menyuruhku untuk pergi ke desa. Dia berkata kalau saja ada para penebang hutan yang telah menewaskan banyak anaknya” jelas Johan.
“Greisha juga mengatakan kalau dia akan mengulur waktu dengan cara menurunkan hujan di daerah hutan. Oleh sebab itu, selagi Greisha sedang mengulur waktu, kita harus menangkap penebang hutan itu” ujar Johan dengan tatapan yang begitu meyakinkan.
“kalau begitu” ucap sang ketua.
“kita berempat tidak akan pernah melibatkan warga pengungsi. Biarkan kita berempat yang akan ikut denganmu” tegas sang ketua sedikit berteriak.
“heh? Haaaahhh?” teriak Johan begitu terkejut bertanya tanya.
“hey, tunggu. Yang kita hadapi adalah manusia yang sedikit berbahaya. Mereka akan melakukan apa saja demi kepuasan mereka sendiri. Mungkin ini akan sedikit berbahaya buatku tapi akan benar benar berbahaya untuk kalian. Apa kalian sadar akan posisi kedudukan kalian? jika kalian terluka bagaimana kondisi para pengungsi?” tegas Johan.
“kau terlalu meremehkan orang hutan. Dasar orang kota. Sebelum kita berempat di tunjuk sebagai tetua di desa ini, kita adalah penebang hutan sekaligus petani. Kita sudah banyak menebang pohon dan mengangkat batang kayunya yang begitu berat. Di dalam tubuh ini masih tersimpan banyak sekali otot. Jadi kita bisa melawan siapapun juga di dalam hutan meski itu hewan liar. Walaupun rambut kita sudah mulai tumbuh uban, tapi tekad kita selalu melayang di atas awan” tegas sang bendahara.
“anjay, keren” jawab Johan sedikit terkesima.
“dia benar, kita adalah penebang hutan sebelum sang kakek melarang kita untuk menebang hutan lagi. Kita memiliki informasi dan pengalaman dalam menebang hutan, maka dari itu kita bisa mengetahui kualitas kayu yang baik. Dengan begitu, para penebang pastinya akan lebih cepat ditemukan” jelas sang sekertaris.
“aku akan sangat terbantu dengan bantuan kalian” teriak Johan dengan menundukkan kepalanya dengan penuh haru.
“kalau begitu, kita akan menyiapkan lima jas hujan dan lima senter. Strateginya adalah, kita harus berpencar ke seluruh hutan. Setelah salah satu dari kita menemukan pelaku penebangan hutan itu, kita akan menyalakan sebuah petasan dan senter yang kita arahkan ke langit langit. Dikarenakan senter itu adalah senter dengan cahaya yang begitu terang, kita bisa melihatnya dengan jelas. Pokoknya, saat di dalam hutan, siapkan dengan benar mata dan telinga kalian” tegas sang ketua.
“waah, ini bakal seru nih. Mirip di fim action” ucap sang sekertaris dengan begitu bersemangat.
“jangan terlalu terpancing emosi dengan menyerang penebang hutan itu. Pokoknya beri aba aba agar kita menghampiri seseorang yang membunyikan tanda itu” jelas sang bendahara.
“baik” tegas Johan.
“kalau begitu, kita akan membagikan rute yang akan kita lalui sendiri. Bagian hutan pinus adalah bagian sang sekertaris, itu adalah bagian paling timur dari hutan. Kemudian bagian hutan jati, adalah bagian yang bersebelahan dengan hutan pinus. Bagian itu adalah bagian sedikit lebih barat dari hutan pinus. Daerah itu akan di susuri oleh sang bendahara. Kemudian daerah hutan karet, itu yang akan di jarahi oleh Johan. Dimana itu adalah daerah bersampingan dengan hutan pinus. Hutan karet terletak di agak barat hutan jati. Kemudian beranjak sedikit ke barat, itu adalah daerah rawa dan perkebunan pepohonan buah buahan. Disana aku yang akan menjaganya. Dan yang terakhir, adalah daerah yang paling barat dari hutan. Yaitu perbatasan antara hutan dan danau. Disana banyak pohon cemara dan pepohonan lain. Itu yang akan di jarah oleh sang ketua” jelas sang wakil.
“jadi, bisa dibilang kalau kita menjarah lima arah sekaligus dengan Johan yang berada di paling tengah di antara kita berlima?” tanya sang bendahara.
“itu benar. Sekali lagi, aku akan urutkan mulai dari barat. Sang ketua berada di titik nomer satu sebagai penjarah paling barat. Kedua adalah aku yang menjarah kedua dari barat. Ketiga adalah Johan yang menjarah nomer tiga dari barat. Kemudian ada sang bendahara yang menjarah keempat dari barat, dan terakhir ada sang sekertaris yang akan menjarah nomer lima dari barat. Johan yang akan berada di tengah tengah kita. Dengan begitu, meskipun sang sekertaris menyalakan senternya dan membunyikan petasannya saat berada di paling timur, sang ketua yang berada di paling barat pun masih bisa melihat tanda dari sang sekertaris. Itu akan memudahkan kita untuk bertemu di satu titik” tegas sang wakil.
“terimakasih, aku menganggap itu sebagai pujian” jawab sang wakil.
“sekarang waktunya kita bergerak. Demi sang dewi alam dan anak anaknya, kita akan menyelamatkan semuanya” ucap sang ketua menyemangati anggota tetua lainnya.
Saat itu juga, mereka berlima pun segera beranjak dari meja bundar dan kemudian keluar dari ruangan tersebut. Sang wakil sedang mengambil beberapa jas hujan dan senter yang ada di gudang sementara lainnya bersama dengan Johan menunggu di luar gedung.
Saat Johan keluar dari gedung, nyatanya ia mendapati sang sopir pick up sedang duduk santai bersama dengan para pengangkut bahan pangan. Sang sopir sedang duduk santai dengan meminum secangkir kopi dan sebatang rokok seraya mengobrol bersama dengan para lelaki yang mengangkut bahan pangan dari pick up nya tadi.
“oyy, Johan. Kemari” ucap sang sopir.
“hmm, iya” jawab Johan berjalan mendekat.
“apa kau sudah mencoba minum kopi ini? benar benar luar biasa mantap gila” ucap sang sopir dengan memasang raut muka begitu bahagia.
“apa kau penyuka kopi?” tanya Johan.
“jangan di tanya lagi, saat aku bisa meminum kopi ini dari tangan orang Engkobappe langsung, jiwa penikmat kopi ku benar benar bergejolak dan berniat ingin mengganti air putih di dalam galon rumah dengan kopi ini” ucap sang sopir itu seraya menyeruput hangat kopi.
“mantap kan? Tapi jangan terlalu banyak, nani asam lambung bapak bisa naik” ujar Johan.
“siap, tenang saja” ujar sang sopir.
Saat itu pula, sang wakil datang dengan membawa lima buah jas hujan, lima buah senter dan lima belas buah petasa api anak anak beserta korek api. Sang wakil pun segera membagikan semua perlengkapan itu kepada semua anggota tetua dan Johan. Masing masing mendapat sebuah jas hujan, sebuah senter, tiga buah petasan dan sebuah korek api.
Namun, di tengah tengah lipatan jas hujan tersebut, mereka semua mendapati jika di kelima jas hujan tersebut, terdapat sebuah belati dan keris. Masing masing dari mereka mendapatkan sebuah belati dan keris untuk berjaga jaga.
“jangan di salah gunakan. Dan jangan menyerang mereka” tegas sang wakil seraya meletakkan belati dan keris tersebut di saku kemeja nya.
Saat itu, dikarekan keris dan belati tersebut sudah di lindungi oleh sarung belati dan sarung keris mereka, maka dari itu, Johan pun meletakkan kedua benda tajam tersebut di saku celananya. sesaat setelah itu, mereka berlima menggunakan jas hujan ponco dan mempersiapkan senter mereka di tangan kanan mereka masing masing.
“apa kalian sudah siap?” tanya sang ketua.
“sudah” jawab mereka semua.
“kalau begitu, untuk Johan yang masih belum mengenal hutan ini, pokoknya jalurmu adalah jalur di antara wakil dan bendahara. Kau ada di tengah tengah mereka. di sebrang hutan adalah bagian hutan yang sudah terbakar habis dan menjadi lahan kosong.” ucap sang ketua.
“baik, aku faham” tegas Johan.
“kalau begitu, kita berangkat” ucap sang wakil.
Mereka berlima pun segera berjalan melawan derasnya hujan dan menerobos angin yang cukup kencang saat itu. Mereka pun memulai berpencar saat mereka mulai masuk kedalam hutan. Johan berjalan di antara sang wakil dan sekertaris dan menandakan bahwa dia akan menyusuri hutan karet.