
Mendengar suara itu, sang ibunda pun segera berjalan menuju ke ruang tamu. Dan benar saja, Emilia dan teman temannya serta sang ibunda melongo melihat kondisi Johan yang begitu lusuh dengan pakaian yang kotor dan kaki tanpa alas beserta rambut yang acak acakan.
“aku pulanggg, hufffttt capek banget parah. Panasss bangetttt” ucap Johan dengan lantang.
“neh, bagaimana kondisi kalian semua? Apa kalian baru bangun? Aku sudah menduganya. Hahahahahaha dasar kalian semua pemalas” ujar Johan dengan begitu lantang tertawa lepas.
“ehh, mamah udah pulang? mamah kapan pulang?. Ohh iya, buat mamah. Aku punya berita yang bener bener bagus banget. Aku seneng banget karena aku sudah melakukannya. Bener bener bahagia dan seneng banget. Syukurlah aku masih ada kesempatan untuk membantu mereka, atau kalau tidak semuanya akan tertebang. Itu hampir saja, hahahahahaha” ucap Johan dengan tawa yang benar benar riang lepas.
Melihat hal itu, mereka semua benar benar merasa aneh dengan perilaku Johan yang secara tiba tiba saja menjadi benar benar bahagia dan ceria. Mereka benar benar melihat Johan seperti Johan yang 3 bulan lalu. Emilia dan semua teman temannya benar benar merasa takjub dan terkejut akan perubahan karakter Johan yang dengan begitu cepat berubah menjadi Johan yang mereka kenal 3 bulan lalu.
“apa yang terjadi? apa ini benar benar Johan? Tidak, ini bukan sifat Johan yang sekarang, tapi sifat Johan yang kukenal 3 bulan lalu. Dia periang dan selalu berteriak saat mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Apa Johan sudah kembali?” fikir Emilia dalam hati.
Disisi lain, sang ibunda bersyukur dengan seribu syukur atas Johan yang tidak terluka satupun. Sang ibunda benar benar senang karena Johan bisa kembali dengan begitu bahagia. Namun sang ibunda juga harus bisa tetap tegas dalam mendidik anaknya.
“waaahhhhh, disini panas sekali. Padahal aku baru saja mendapatakan udara segar. Sayangnya di samping gedung, aku harus melewati kandang sapi. Benar benar bau kotoran sapi, hahahahahaha” ucap Johan dengan tawa terbahak bahak.
“huffttt, aku bener bener capek. Aku pengen istiraha-“ ucap Johan terhenti.
“darimana saja kamu? Dari kemarin malam kamu sudah tidak ada dirumah” sahut sang ibunda dengan begitu tegas.
“ehh, emm. Aku habis dari desa” jawab Johan dengan raut muka yang begitu ceria.
Sang ibunda pun perlahan berjalan mendekati Johan yang tengah bercerita panjang lebar mengenai desanya itu.
“dan apa mamah tau. Aku disana bertemu dengan para penebang. Saat itu juga aku membantu para warga untuk membasmi para penebang itu. Dan kita semua menang. Para rakyat Engkobappe menang!. Kita menang. Kita bisa menyelamatkan hutan kita lagi.dan apa mamah tau, aku sekarang bertemu dengan seorang perempu-“ ucap Johan terhenti.
Secara tiba tiba, sang ibunda menampar keras pipi Johan dengan benar benar keras hingga suara tamparan itu begitu satisfying. Muka Johan terlempar jauh ke samping kanan dengan begitu keras. Saat itu, muka Johan terlempar ke samping kanan dimana di sebelah kanan Johan terdapat para temannya yang tengah melihat Johan dengan tatapan yang begitu terkejut.
Saat sang ibunda menampar wajah Johan yang memiliki raut wajah yang begitu ceria, wajah Johan terlempar ke sebelah kanan. Saat itu pula semua teman temannya bisa melihat raut wajah Johan yang seketika berubah dari ceria, bahagia, senang, gembira menjadi kecewa, sedih, gelisah, marah, tak berdaya.
Johan membuka matanya lebar lebar dan memasang raut muka terkejut melongo. Saat itu, pipi Johan benar benar sudah sakit karena terkena tamparan dari dua orang dewasa sekaligus dan juga tamparan dari Callysta. Tamparan pertama dari paman Surya dan tamparan kedua dari mamahnya sendiri.
Dengan begitu kesal, Johan benar benar menahan rasa kecewanya. Karena saat itu, Johan berfikir kalau dirinya menceritakan tentang prestasinya saat menangkap para penebang hutan, mamahnya jadi tidak marah lagi dan berfikir untuk memaafkannya. Namun apa yang di ekspetasikan Johan tidak seindah realita yang di hadapi.
“a-ada apa? Kenapa mamah malah menamparku? Aku salah apa? Aku menyelamatkan hutan dari para penebang, harusnya mamah bangga denganku. Tapi kenapa? Kenapa mamah malah menamparku dengan keras?. Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin” fikir Johan dalam hatinya yang mulai membercah sedih.
Nyatanya, Johan benar benar kecewa saat usahanya tidak di haragai. Johan meneteskan air mata dan kemudian menundukkan kepalanya. Tanpa ada suara, tanpa ada gerakan, tanpa ada ekspresi, Johan menangis menundukkan kepalanya di hadapan sang ibunda. Teman temannya saat itu menyadari bahwasanya Johan menangis hingga air matanya menetes ke lantai.
“mamah sudah bilang sama kamu, jangan pergi ke desa itu. Desa itu berbahaya. Bagaimana kalau kau di serang oleh orang yang tidak di kenal? Itu akan merepotkan teman temanmu sendiri” tegas sang ibunda.
“maaf” ucap Johan dengan suara begitu rendah murung.
“mamah tidak akan pernah mengijinkanmu untuk pergi ke desa itu lagi” tegas sang ibunda.
“maaf” ucap Johan dengan suara serak basahnya.
“maaf” ucap Johan dengan nada begitu murung.
“lihatlah kondisi tubuhmu sekarang. Bajumu kotor, kamu tidak memakai sepatu, rambutmu kotor dan acak acakan. Bagaimana kalau kamu terluka? Bagaimana caranya agar Johan mengerti kalau mamah kamu ingin mengkhawatirkanmu” ucap sang ibunda dengan nada begitu halus.
“maaf, maaf, maaf, maaf, maaf” ucap Johan sedikit berteriak seraya menggelengkan kepalanya.
“padahal seharusnya mamah bisa bangga karena aku bisa menyelamatkan alam, tapi kenapa aku malah di marahi dan di tampar?” fikir Johan dengan begitu sedih.
Saat itu pula, terdengar bunyi sebuah sepeda motor tua yang begitu berisik tengah terparkir di depan rumah mereka. Sesaat setelah itu, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah dan membunyikan bel. Saat Jehian membuka pintu, Jehian mendapati jika paman Surya bersama dengan pak Abdi tengah berada di pintu depan.
“ehh, paman Surya. Anda balik lagi. Johan baru aja balik. Katanya dia baru saja pulang dari desa” ucap Jehian.
“iya, aku tau” jawab sang paman Surya.
“kalau begitu, apakah anda teman paman Surya?” tanya Jehian.
“iya, aku temannya Surya, panggil aja Pak Abdi” ucap pak Abdi.
“baik pak Abdi dan paman Surya, Johan sudah ada di dalam dan kalian bisa menemui Johan” ucap Jehian.
“kalau begitu, permisi” ucap paman Surya dan pak Abdi berjalan memasuki rumah.
Mereka semua melihat paman Surya dan temannya yaitu pak Abdi tengah berjalan masuk kedalam rumah dan menghampiri Johan yang berada di hadapan sang ibunda.
“pe-permisi” ucap pak Abdi.
“ohh iya, silahkan. Mohon maaf, tapi anda siapa?” tanya sang ibunda Johan kepada pak Abdi.
“saya akan menjawab dan menjelaskan semuanya kepada kalian asalkan aku bisa mengembalikan uang 1 juta rupiah yang Johan berikan kepadaku di dalam laci mobil sebagai uang transportasinya. Menurutku itu terlalu berlebihan” ucap pak Abdi.
“ehh? Apa maksud anda?” tanya sang ibunda.
“apa kau kira anakmu ini pergi ke desa hingga rela membayarku 1 juta rupiah hanya untuk bermain main disana dan menghabiskan waktu di desa itu? kalau kau berfikir seperti itu, kau salah besar” ucap pak Abdi.
“apa yang kau katakan? Kau tidak sopan kepada sang tuan ruma-“ ucap sang ibunda terhenti.
“anakmu hampir membunuh 14 lelaki dewasa” sahut pak Abdi dengan nada merendah.
Mendengar hal itu, mereka semua begitu terkejut akan perkataan pak Abdi. Mereka semua menatap ke arah Johan yang saat itu tengah menangis dan menundukkan kepalanya.
“a-apa yang kau katakan? Itu tidak mungkin” ucap sang ibunda sedikit berteriak.
“aku tidak akan menyalahkanmu jika kau tidak mempercayaiku. Tapi aku akan menceritakan semuanya dengan begitu jujur tanpa adanya pengurangan maupun penambahan cerita” ucap pak Abdi.