Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 94, Sifat ke-ibuan Odessa



“jadi gini, mungkin ini sedikit mendadak, jadi pak Abdi ingin meminta maaf. Pak Abdi memiliki acara dengan atasan bapak. Maka dari itu, pak Abdi hanya bisa mengantarmu pulang bersama dengan Odessa pergi ke desa hanya pada jam 7 nanti malam. Selebihnya pak Abdi tidak akan bisa mengantarmu pulang bersama dengan Odessa” jelas pak Abdi.


“jadi, kita harus kembali saat jam 7?” tanya Johan.


“iya itu benar. Sekali lagi pak Abdi minta maaf karena memang waktu pak Abdi benar benar begitu mepet” ucap pak Abdi.


“ti-tidak apa apa pak. Sebisa mungkin aku akan kembali dengan Odessa jam 7 malam nanti. Bapak sekarang ada di mana?” tanya Johan.


“pak Abdi sekarang masih ada di gudang kantor. Pak Abdi sedang punya pekerjaan, jadi pak Abdi harus antarkan barang itu terlebih dahulu” jawab pak Abdi.


“kalau begitu, lanjutkan saja pekerjaan bapak. Kita akan berkemas untuk jam 7 nanti” jawab Johan.


“baik” jawab pak Abdi mematikan telfon tersebut.


Johan pun kembali meletakkan ponselnya ke dalam sakut celananya.


“siapa?” tanya Odessa.


‘pak Abdi, dia bilang dia akan mengantarkan kamu pulang nanti malam jam 7 karena pak Abdi sedang ada urusan mendadak” jawab Johan.


“jadi apa kita akan pergi ke taman mall?” tanya Odessa.


“pastinya. Namun kita akan berangkat lebih awal. Maaf ya karena jadwal malam kita jadi berantakan seperti ini” ucap Johan.


“hmm, tidak apa apa” jawab Odessa menganggukkan kepalanya.


“kalau begitu, apa mau jalan jalan di sekitar taman ini?” tanya Johan.


“boleh juga” jawab Odessa.


Saat itu pula, Johan menjulurkan tangannya dan menggandeng tangan Odessa. Mereka berdua pun berjalan jalan di sekitar taman yang memang diperuntukkan untuk warga yang akan berjalan jalan di sekitar taman.


Sambil berjalan, mereka menikmati indahnya pemandangan alam yang memanjakan mata. Mereka saling menggenggam tangan dengan begitu erat dengan bahu yang bersentuhan.


“cuacanya begitu enak” ucap Johan.


“iya benar, luar biasa nyaman. Udaranya hangat dan tidak begitu kencang” jawab Odessa.


“Greisha melaksanakan tugasnya dengan baik” jawab Johan.


Mendengar kata kata “Greisha” dari mulut Johan, Odessa seketika teringat perkataan sang dewi alam untuk menjauhi Johan. Namun sepertinya, Odessa tidak menuruti apa kata ibunya itu dengan baik dan memilih untuk terus mendekati Johan.


“ma-maaf, aku sudah berkata lancang. Apa kamu tau Greisha?” tanya Johan.


“ti-tidak tau” jawab Odessa.


“ma-maaf” ucap Johan.


“siapa dia? apa kamu memiliki hubungan khusus dengannya?” tanya Odessa.


“hah? hubungan khusus? Apa maksudnya?” tanya Johan sedikit terkejut.


“ma-maksudnya. Apa kamu sadar kalau dia menyukaimu?” tanya Odessa.


“itu tidak mungkin. Manusia biasa sepertiku tidak mungkin pernah dicintai oleh dewi agung” jawab Johan.


“benar juga, kalau difikir fikir, ibu tidak akan pernah memiliki rasa suka kepada manusia. Mungkin ibu hanya mengaguminya” fikir Odessa dalam hati.


“neh Johan” ucap Odessa.


“hmm, ada apa?” tanya Johan.


“apa kamu pernah berhubungan badan dengan seseorang?” tanya Odessa di tengah keramaian.


Mendengar ucapan Odessa yang seperti itu, tidak heran jika tatapan semua orang seketika menuju ke arah mereka berdua disana.


“a-apa yang kau katakan? Itu tidak sopan” ucap Johan.


“ma-maaf, aku hanya keceplosan. Sekali lagi aku minta maaf’ jawab Odessa.


“kenapa kamu menanyakan hal seperti itu? apa kamu kefikiran kalau aku sudah tidak perjaka?” tanya Johan.


“mu-mungkin saja” jawab Odessa.


“jujur saja, aku belum pernah berciuman sebelumnya selain denganmu. Apalagi lebih dari itu. Aku hanya akan melakukannya bersamamu esok hari nanti” jawab Johan.


“melakukannya bersamaku? Maksudnya?” tanya Odessa dengan nada begitu polos.


“ahh, sudahlah. Itu pembicaraan orang dewasa” sahut Johan.


“i-iya iya. Tapi apa kamu benar masih belum melakukannya?” tanya Odessa.


“masih belum dan tidak pernah” jelas Johan.


“ohhh, jadi begitu” ucap Odessa seraya menganggukkan kepalanya.


“emangnya kenapa? Kenapa kamu menanyakan hal sensitif seperti itu?” tanya Johan.


“tidak apa apa” jawab Odessa.


Beberapa menit berlalu, mereka pun sedikit kelelahan karena memang taman kota tersebut lumayan luas untuk dijarahi hanya dalam berjalan kaki. Pada akhirnya, mereka pun berhenti di satu taman bermain, dimana saat itu tidak sedikit orang dewasa dan anak anak yang saling menaiki ayunan dan jungkat jungkin satu sama lain. Banyak juga orang tua yang menemani anaknya untuk bermain di tempat bermain tersebut.


Pada saat mereka berjalan melewati wilayah bermain tersebut, mereka dikejutkan dengan adanya seorang anak kecil yang sedang berlari dengan begitu kencang. Seorang anak lelaki yang tengah berlari tanpa melihat jalan itu dengan cepat melesat di antara ramainya orang dewasa disana.


Namun di saat yang bersamaan, anak lelaki itupun menabrak tiang besi begitu keras hingga suaranya begitu satisfying. Anak tersebut pun menangis tidak karuan. Dirinya berteriak sangat maat kencang hingga perhatian semua orang tertuju kepada anak lelaki itu.


Anak itu menjerit kesakitan karena kepalanya yang terbentur cukup keras. Spontan saat itu, Odessa pun berlari meninggalkan Johan disana dan kemudian menjemput anak lelaki itu. Seketika Odessa pun mengangkat tubuh anak kecil itu dan kemudian memangkunya di kedua kakinya itu.


“apa kamu tidak apa apa?” tanya Odessa dengan begitu khawatir.


“kepalaku sakit, huuaaaaaaaa‼‼” teriak anak lelaki itu kembali menjerit menangis.


“kepalamu dipukul? Siapa yang nakal?” tanya Odessa dengan nada begitu halus.


“besi itu yang memukulku” jawab anak lelaki itu dengan menunjuk ke arah besi yang telah ia tabrak.


“ohh, jadi besi itu yang nakal? Kalau begitu, pukul besi nya agar besi nya bisa kapok” bujuk Odessa.


“tapi nanti, besi itu memukulku lagi” ucap anak lelaki tersebut dengan suara serak basah sehabis menangis itu.


“tidak apa apa, kalau besi itu memukul lagi, kamu pukul dia balik. Kamu kan anak kuat” jelas Odessa menenagkan hati anak kecil itu.


“kalau begitu, cepat pukul besi itu agar besi itu kapok” ucap Odessa dengan senyum tulusnya.


“hmm, iya’ jawab anak lelaki tersebut menganggukkan kepalanya.


Seketika saat itu pula, anak lelaki tersebut berdiri dari pangkuan Odessa dan kemudian berjalan ke arah besi yang telah ia tabrak sebelumnya. Dirinya pun memukul besi tersebut dengan telapak tangannya agar tidak sakit. Setelah memukulnya, anak lelaki itupun tersenyum lebar dan tidak menangis lagi. Bahkan anak lelaki itu tertawa saat memukul besi itu berkali kali.


“apa besi itu sudah kapok?” tanya Odessa.


“besi nya menangis. Hahahahaha” jawab anak lelaki itu tertawa lepas.


“apa kealamu masih sakit? kalau masih sakit, kak Odessa punya obatnya” ucap Odessa dengan nada begitu halus.


“obat? Aku tidak mau. Rasanya pahit dan tidak enak” sahut anak lelaki tersebut seraya menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.


“ehh, jangan salah. Obat milik kak Odessa ini sangat enak. Rasanya manis. Apa kamu mau?” tanya Odessa.


“apa itu permen? Aku mau” jawab anak lelaki itu.


“sebentar yaa” jawab Odessa.


Saat itu pula, Odessa mengeluarkan sebuah permen dari saku celananya dan memberikannya kepada anak lekaki itu. Spontan anak lelaki itu benar benar begitu senang dan bahagia saat dirinya mendapatkan permen yang manis dan enak.


“makasih kakak” ucap anak lelaki itu seraya memeluk tubuh Odessa dengan begitu erat.


“kalau begitu, cepat di manakn obatnya biar kepalanya tidak sakit lagi” jawab Odessa.


“hmm, iya” jawab anak lelaki itu.


“apa kamu bisa membukanya?” tanya Odessa.


“tidak bisa, tolong bukakan” ucap anak lelaki tersebut memberikan permennya.


“mana permennya, biar kakak bukain bungkusannya” jawab Odessa.


Disisi lain, Johan yang tengah berdiri dari kejauhan benar benar merasa bangga melihat perilaku Odessa yang begitu peduli dengan anak kecil. Johan melihat Odessa yang sangat mudah disukai oleh anak anak disini.


“apa dia pacarmu?” tanya salah seorang lelaki di samping Johan.


“i-iya, dia pacarku” jawab Johan.


“dia benar benar pandai dalam merawat anak kecil. Dia begitu disukai oleh anak anak” ucap lelaki disamping Johan itu.


“a-apa benar?” tanya Johan sedikit tertawa.


Saat itu pula, Odessa pun kembali kepada Johan yang berdiri jauh disana. Dengan senyum yang begitu senang dan bahagia, Odessa berjalan ke arah Johan dengan ekspresi wajah yang begitu gembira.


“apa yang udah kamu lakukan?” tanya Johan kepada Odessa yang tengah berjalan ke arahnya.


“aku hanya menenangkannya saja. Dia hanya sedikit terbentur di besi, tapi sekarang sudah baik baik saja” jawab Odessa dengan senyum lebarnya.


“kenapa kamu begitu senang karena menenangkan anak kecil?” tanya Johan.


“mau tidak mau, aku harus bisa mengurus seorang anak. Kalau hanya satu anak, aku bisa mengatasinya” jawab Odessa.


“buseettt, udah cakep, udah siap pula jadi ibu rumah tangga. Mantep bener dah” fikir Johan dalam hati.


“ka-kalau begitu, apa kita bisa balik?” tanya Johan.


“hmm, boleh” jawab Odessa menganggukkan kepalanya.


Johan dan Odessa pun segera berjalan ke arah parkiran motor taman tersebut. Mereka berdua lalu menaiki motor dan tidak lupa memakai helm. Selepas itu, Johan pun segera menarik gasnya dan kemudian meninggalkan taman tersebut.


Mentari mulai terbenam, seluruh permukaan di wilayah itu dipenuhi dengan cahaya senja yang begitu memerah jingga. Udara mulai mendingin, tiupan udara mulai lebih kencang dari biasanya. Mereka berdua mulai merasakan dingin saat itu.


Pada akhirnya, mereka pun sampai di rumah tepat jam 6 sore. Johan segera memasukkan motornya kedalam garasi. Mereka berdua kemudian berjalan ke dalam rumah dan mendapati kalau saja paman Surya sedang berpakaian seragam polisi lengkap. Disana juga terdapat sang ibunda yang tengah menghadap laptopnya bersama dengan pak Abdi yang mengajari sang ibunda untuk mengoperasikan laptop.