
“kamu benar, dia benar benar memasak dengan begitu mantap” jawab sang ibunda kepada Emilia.
“perbedaan levelnya sudah sangat jauh” ucap Jehian.
“ini sudah level tingkat dewa” ucap paman Surya seraya menyeruput kuah sup Johan.
“kalau boleh tau, apa ada bahan lain yang kau masukkan?” tanya Kahfi.
“ehh, anu. 90% bahan bahan di dalam sup buatanku sama seperti buatan mamah dan Emilia. Aku hanya menambahkan kacang kacangan di dalamnya” ucap Johan.
“ehh? Kacang? Bukannya kamu alergi kacang?” tanya Emilia.
“tapi kan Lia suka kacang, jadi aku memasukkannya” jawab Johan.
“lagipula, aku keluar dari kamar hanya untuk pergi ke kamar mandi dan pengen mandi dan bukan berniat untuk makan. Aku hanya membantu kalian memasak” ucap Johan.
“itu sudah termasuk memasakkan makanan baru untuk kami” ucap Jehian.
“memangnya salah kalau aku memasakkan makanan untuk kalian” tanya balik Johan.
“kamu dapet resep ini dari mana?” tanya sang ibunda.
“emm, anu. A-aku mendapatkannya karena aku dulu sering masak di dapur nenek. Saat aku masih kecil dapur di rumah nenek masih menggunakan dapur kayu bakar. Dan jujur saja, masakannya akan jadi jauh jauh jauh jauh jauh jauh jauh lebih mantap jika memasaknya menggunakan api tungku seperti itu. Aku sudah merasakannya sendiri. Kalau kalian membandingkan masakanku yang sekarang dengan masakan buatan nenekku, masakanku masih seperti upil di sampingnya” ucap Johan.
“kalau masakan Johan saja sudah se enak ini, bagaimana dengan masakan neneknya?” ujar Jehian berfikir keras.
“itu sudah di luar logika” jawab Farel.
“yang pasti, aku bisa memasak karena nenekku yang mengajariku” tegas Johan.
“sekarang, aku pengen ke kamar mandi dan berendam air panas. Dadahhhh” ujar Johan seraya berjalan ke dalam kamar mandi.
“apa kita bisa menghabiskan sup ini?” tanya Farel.
“heh Farel, apa kau punya sopan santun! Johan adalah orang yang membuat sup ini, jadi sisakan sedikit untuknya” ucap Kahfi.
“tenang saja, kalian habisakan saja sup itu. Bagaimanapun juga aku alergi kacang” ucap Johan seraya menutup pintu kamar mandi.
“yeesssss” jawab Farel dengan begitu gembira.
Saat itu pula Johan pun segera menyalakan kran air panas dan kran air dingin di dalam sebuah bathtub yang kosong. Johan mengisi air tersebut menggunakan air hangat hingga bathtub nya penuh dengan air hangat.
Selama Johan menunggu, Johan membilas tubuhnya menggunakan air dingin di shower dan menggunakan sabun serta shampo disana. Hingga sampai air hangatnya memenuhi bathtub, Johan sudah dalam keadaan tubuh yang bersih.
Johan memasukkan seluruh tubuhnya di dalam bathtub dan kemudian bersantai seraya menatap langit langit kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Johan masih dapat mendengarkan suara berisiknya semua orang yang tengah berbincang di satu meja makan beserta dengan canda tawa mereka yang tertawa terbahak bahak disana.
“mereka semua mengingatkanku tentang kakek, nenek, papah dan mamahku. Andai saja mereka masih hidup dan tinggal bersama, mungkin aku tidak akan melarikan diri dan malah beralasan untuk pergi ke kamar mandi” fikir Johan dalam hati.
“padahal aku ingin sekali bergabung dengan mereka semua. Duduk di satu meja makan yang sama dan mengobrol mengenai hal yang lucu, tapi mengapa saat aku melakukannya, hatiku serasa sangat sakit. Aku merasa kalau mereka semua adalah kakek, nenek, papah dan mamahku” fikir Johan.
“hmm, sekarang sudah tidak lagi memikirkan tentang itu. Lagipula mereka semua juga sudah meninggal. Mereka pastinya juga sedang duduk dan meminum teh di satu meja makan yang sama. Berempat. Saling bergurau. Saling tersenyum. Tanpa kehadiranku. Ahhh…, aku merasa iri” fikir Johan.
Saat itu pula Johan pun keluar dari bathtub nya dan mulai membuka saluran air bathtub nya agar semua arinya terkuras habis. Setelah itu, Johan mengeringkan semua bagian tubuhnya menggunakan handuk dan kemudian kembali menggunakan pakaiannya itu lagi. Dengan begitu segar, Johan keluar dari kamar mandi dengan begitu bersemangat.
“aku lahir kembali” teriak Johan seraya keluar dari kamar mandi.
“ehh?” tanya mereka semua seraya menatap Johan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“rasanya benar benar segar. mantap abis. Aku jadi pengen beli popcorn” ujar Johan dengan semangatnya.
“heh, kamu itu masih belum tidur. Cepatlah kembali ke kamar dan tidurlah” tegas pak Abdi.
“yaahhhh, padahal aku pengen beli popcorn di supermarket” ujar Johan dengan nada kecewa.
“sudahlah, nanti saja beli nya” ucap Jehian.
“kalau kau sudah istirahat, kita akan pergi ke sana untuk beli popcorn” ujar Nyoman.
“kalau kau tidur dulu, kau akan pergi ke mall nanti bersama dengan Emilia” ucap Kahfi.
“heh? Kok sama aku?” tanya Emilia begitu terkejut.
“apa kau tidak mau?” tanya Kahfi dengan nada menggoda.
“bu-bukannya tidak mau, tapi dia kan memang masih sakit” ucap Emilia dengan pipi yang memerah.
“ohhh, jadi Lia gamau” ucap Kahfi sedikit menggoda.
“ma-mau, aku mau” teriak Lia dengan pipi yang begitu merah.
“tapi aku gamau ke mall” jawab Johan dengan muka yang begitu polos.
“kenapa kau sangat tidak peka” teriak mereka semua yang ada di meja makan dengan begitu kesal.
“kalau kau tidak mau, kenapa tidak mengantarkan Emilia ke mall?” tanya sang ibunda.
“emm, anu. Johan. Tapi bagaimana dengan Odess-“ ucap pak Abdi terhenti.
“ohh, itu? jangan dibahas sekarang lah pak. Situasi nya sedang tidak baik” sahut Johan.
“ehh? Maksud kalian apa?” tanya Emilia.
“emm, mengenai desa, dia ingin menambah stok kopi disana” ucap Johan dengan sedikit panik.
“ohh, begitu” jawab Emilia.
“kalau begitu, sudah dipastikan kalau Emilia akan menemanimu ke mall bersama dengan Johan sementara kita akan tidur tiduran santai di rumah ini” ujar Jehian.
“dasar, si Johan fakboy. Aku punya perasaan kalau Callysta, anak dari Surya juga akan di sikat sama dia. Yahhh, inilah kehidupan anak remaja. Benar benar kehidupan cinta yang menarik” fikir pak Abdi dalam hati.
“tapi pertanyaannya, kenapa hanya Johan yang laku sementara teman temannya benar benar jomblo akut?” fikir pak Abdi dengan begitu keras.
“kalau begitu, yaudahlah. Aku mau tidur dulu” ucap Johan seraya berjalan ke kamarnya yang berada di lantai atas.
“hmm, selamat tidur pahlawan hutan” ucap Farel.
“selamat tidur, chef” ucap Jehian.
“cepatlah tidur, pangeranku” ucap Greisha yang berasal dari fikirannya. Mendengar hal itu Johan benar benar begitu terkejut dengan suara Greisha yang muncul secara tiba tiba. Mendengar hal itu, Johan seketika terhenti saat berada di tengah tengah tangga. Johan pun begitu bertanya tanya dengan suara Greisha yang terdengar begitu jelas di fikirannya.
“ehh? Ada apa ini? kenapa aku bisa mendengar suara dewi alam dengan begitu jelas? atau jangan jangan semua ini hanyalah mimpi?” fikir Johan bertanya tanya.
“tidak ini bukan mimpi” fikir Johan selepas Johan menatap tato yang berada di telapak tangan kirinya.
“kalau bukan mimpi, kenapa aku bisa mendengar suara Greisha dengan jelas? dimana dia sekarang? Atau jangan jangan dia menyuruhku untuk cepat tidur?” fikir Johan.
Melihat Johan yang seketika melamun dan terhenti di tengah jalan membuat mereka semua kebingungan dengan apa yang terjadi kepada Johan. Mengapa Johan secara tiba tiba terhenti dan melamun tidak jelas di tengah jalan.
“ada apa Johan?” tanya paman Surya.
“hey Johan? Jangan melamun di tengah jalan” ucap pak Abdi.
“kenapa? Tubuhku tidak bisa di gerakkan? Seluruh tubuhku benar benar lemas. Aku bahkan tidak merasakan kakiku sendiri” fikir Johan benar benar ketakuan.
Seketika itu juga Johan benar benar lemas tak berdaya di sana. Dengan tatapan yang perlahan mulai kabur, Johan pun hendak jatuh ke arah anak tangga ke bawah. Johan sudah tidak bisa merasakan kakinya sendiri dan pada akhirnya Johan akan jatuh ke arah anak tangga kebawah.
Saat itu juga, dengan begitu cepat dan cekatan, paman Surya dan pak Abdi berlari ke arah Johan yang akan jatuh. Dengan begitu cepat dan kuat, kedua lelaki itu dengan sergap menangkap tubuh Johan sebelum Johan terjatuh ke arah anak tangga kebawah tersebut. Paman Surya menangkap kepala dan badan bagian atas Johan sementara pak Abdi menangkap tubuh Johan bagian bawah.
“Johan!” teriak kedua lelaki itu seraya menangkap tubuh Johan.
Saat itu juga, Johan mimisan dan tidak sadarkan diri. Mereka berspekulasi jika Johan sudah kelelahan hebat. Namun semua lelahnya itu tertutupi oleh perasaan yang begitu bersemangat. Maka dari itu, Johan sekalipun tidak merasakan apa itu rasa pegal karena perasaan Johan menutupinya.