Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 71, Johan dan Callysta



Disisi lain, Johan yang baru saja terbangun dari tidurnya pun langsung melihat jam dinding. Nyatanya saat itu sudah jam 2 siang. Johan sudah tidur terlalu lama karena efek obat. Johan sudah tidur kurang lebih 5 jam di pagi itu.


Johan beranjak dari kasur dan keluar kamar. Saat itu, Johan pun di kejutkan dengan kedatangan satu paman Surya dan pak Abdi di ruang tamu bersama dengan sang ibunda disana. Johan pun segera pergi ke kamar mandi untuk bersiap siap dan kemudian menemui mereka bertiga di ruang tamu.


“sekarang sudah jam 2 dan kau masih baru bangun?” tanya pak Abdi.


“bukan begitu, aku bangun sudah pagi tadi. Hanya saja gara gara ekef obat dari rumah sakit, aku jadi ngantuk lagi dan aku ketiduran” jawab Johan.


“kalau begitu makan dulu sini. Anak paman baru aja masak” ucap paman Surya menunjuk ke arah bungkusan yang berada di atas meja.


“itu apa?” tanya Johan.


“dia masih belajar masak sop dan kare. Mungkin rasanya tidak enak” jelas paman Surya.


“ohhh, jadi dia masih baru belajar” ucap Johan seraya menganggukkan kepalanya.


“dia ingin kau mencoba masakan buatannya sendiri. Katanya biar nak Johan tau kehebatannya” ujar paman Surya.


“ehh? Kenapa aku?” tanya Johan sedikit heran.


“paman juga tidak tau” jawab paman Surya.


“sekarang, apa dia tidak mau ikut kesini?” tanya Johan.


“dia sedang ada temannya dirumah. Jadi dia tidak ikut kemari” jawab paman Surya.


“kalau begitu, biar kita makan sama sama” ajak Johan.


“ehhh, ja-jangan. Ki-kita sudah cukup makan masakan dari dia. kita su-udah kenyang” jawab sang ibunda dengan begitu berkeringat dingin.


“i-iya, kita sudah makan. Sisanya tinggal nak Johan saja yang belum” ujar pak Abdi.


“lebih baik aku memakan mie instan setiap hari daripada memakan masakan anakku sendiri” fikir paman Surya dalam hati.


“yaudah deh kalau begitu” jawab Johan.


Johan pun mengambil dua mangkuk dari dapur dan membawanya ke ruang tamu. Johan menuang bungkus plastikan tersbeut ke dalam mangkuk hendak mencicipi masakan dari Callysta.


Johan pun menyuap sesendok kuah kare tersebut. Kemudian Johan pun menyuap sesendok kuah sayur sop tersebut. Seketika Johan pun mampu menyimpulkan rasa dari masakan tersebut.


“aku faham sekarang, mengapa kalian tidak ingin memakan masakan Callysta lagi” ucap Johan menatap mata mereka bertiga dengan sedikit tertawa.


“benar kan!? Kau pasti berfikir kalau rasanya benar benar tidak enak!” ucap paman Surya dengan begitu ngegas.


“ini bukan tidak enak, tapi masih belum selesai. Dari kuah kare ini, dia pasti menggunakan bumbu instan. Terlihat dari kuahnya yang begitu encer. Karena biasanya kuah kare itu begitu kental karena santan segar. Aku yakin dia saat memasukkan daging ayam ini dalam kondisi masih mentah dan tanpa jahe di dalamnya dan membuat aroma amis di dalam ayamnya tersebut tercampur menjadi satu. Lagipula kare ini sedikit hambar dan kurang beberapa tambahan lagi. dan juga kenapa dia malah memasukkan kecambah toge di dalam kare?”


“dan sekarang dari kuah sop nya benar benar segar. aku suka aroma sop yang tidak terlalu mencolok dalam segi kaldu. Hanya saja, dia pasti merebus sayuran ini terlebih dahulu dan kemudian memasukkan kaldu bubuknya. Ini sedikit salah dimana di dalam tanaman pasti masih terdapat sedikit aroma mentah dan sedikit pahit. Dia memasaknya terlebih dahulu dan membuat aroma mentah dari sayurannya tercampur menjadi satu. Itu membuat seisi kuah di dalam sop ini memiliki aroma sayur yang pahit dan mentah dan itu bisa merusak cita rasa dari kuah tersebut” jelas Johan mendeskripsikan masakan dari Callysta.


“aku akan memperbaiki masakannya dan akan mempersilahkan kalian untuk mencobanya” ucap Johan membawa dua mangkuk tersebut ke arah dapur.


Johan pun seketika merombak dan menambahkan beberapa bumbu lainnya kedalam dua makanan berkuah tersebut. Dengan begtiu lihai, Johan pun benar benar mengimprovisasi masakan dari Callysta.


Hanya membutuhkan waktu 10 menit saja, Johan mampu merubah cita rasa kedua masakan tersebut. Saat itu pula Johan pun membawanya ke ruang tamu dan mempersilahkan mereka bertiga untuk mencoba masakan tersebut.


“aku udah menambahkan beberapa bumbu untuk menutupi amis dan pahitnya dari kedua masakan ini. Silahkan kalian coba” ujar Johan.


“ba-baik” jawab mereka bertiga.


Mereka bertiga pun mengambil sendok dan kemudian menyuap kuah dari kedua masakan tersebut. Lain dari yang lain, nyatanya masakan tersebut berubah drastis. Mereka bertiga benar benar tercengang dengan rasa yang diberikan oleh Johan kepada kedua masakan tersebut.


“wooaahh ini benar benar berbeda dengan yang tadi” ucap paman Surya begitu terkejut.


“enak banget inimah” jawab pak Abdi.


“bahkan nak Johan lebih bisa memasak daripada mamahnya sendiri” ucap sang ibunda.


“ehh, bukan begitu. Ini adalah masakan Callysta. Aku hanya menambah beberapa bumbu dasarnya saja” jawab Johan merendahkan diri.


“kalau begitu, apa kau bisa mengajarkan Callysta cara memasak?. Jujur saja, dia sudah belajar masak lebih dari 2 bulan namun perkembangannya masih begitu lambat. Aku rasa dengan kau yang membantu Callysta, itu akan membantu perkembangannya juga. Sebagai orangtuanya, aku sedikti sedih melihat Callysta yang memasang raut wajah sedikit kecewa saat mengetahui masakan buatannya sendiri tidak enak” ucap paman Surya.


“boleh juga” jawab Johan.


“kalau begitu, apa kau bisa kesana sekarang? Dia sedang memasakkan masakan untuk teman temannya. Aku harap dia memasakkan hal yang sedikit lebih masuk akal untuk dimakan kepada teman temannya” jelas paman Surya.


“ehh? Sekarang? Serius?” tanya Johan begitu terekjut.


“apa kau sedang sibuk?” tanya pak Abdi.


“kalau aku pergi sekarang, aku tidak bisa menghubungi para penduduk desa agar menitipkan keamanan pohon Odessa kepada mereka. aku akan terlambat” fikir Johan dalam hati.


“ohh, benar juga. Aku bisa memanfaatkan pak Abdi untuk mengantarkanku ke desa seperti kemarin. Aku rasa orang itu berguna juga” fikir Johan dengan nada begitu jahat.


“okeeehhh, aku setuju untuk membantu memasak Callysta. Tapi aku punya syarat” ucap Johan.


“buset, ada syaratnya juga” ujar paman Surya.


“syarat ini hanya untuk pak Abdi saja. Jadi terserah pak Abdi untuk ikut atau tidak” jelas Johan.


“okeh” jawab pak Abdi.


“kalau begitu, kita bicara di luar saja” ucap Johan.


“ehh? Kenapa di luar?” tanya pak Abdi.


“sudahlah ikut saja” jawab Johan.


“mager bangeettt” gumam pak Abdi seraya bersandar lesu di sofa.


“cepetan kampred, ikut saja” ujar Johan ngegas.


“iya iya sabar” jawab pak Abdi seraya beranjak dari sofanya.


Mereka berdua pun berjalan keluar rumah dan kemudian mengobrol dan berbincang disana mengenai desa.


“ehh? Ada apa?” tanya pak Abdi balik.


“aku ada urusan mengenai para tetua disana. Anggap saja aku akan melakukan penyelamatan seperti kemarin. Ini begitu genting gawat darurat. Sebentar lagi aku harus membantu mengajari Callysta memasak. Untuk itu aku butuh kecepatan dari mobilmu agar kita bisa kesana dengan cepat. Ini adalah rahasia jadi jangan sesekali mamah tau akan hal ini” ucap Johan sedikit berbisik.


“apa kau yakin? kenapa begitu buru buru?” tanya pak Abdi.


“anggap saja aku akan melakukan penyelamatan seperti kemarin hari. Namun bedanya, hari ini bukan penyelamatan hutan, namun hanya satu pohon berharga saja. Aku yakin kau tidak akan faham, maka dari itu ikut saja. Biaya bensin, tol, makanan, semuanya akan ku bayar menggunakan uang ku sendiri” ucap Johan.


“bukan begitu masalahnya” ucap pak Abdi.


“ada apa? Apa anda memiliki jadwal nanti?” tanya Johan.


“aku sudah berencana untuk memancing dengan teman temanku di kolam pemancingan” jawab pak Abdi.


“hmm, jadi begitu. Anda akan memancing di kolam pemancingan. Anda akan memancing ikan apa?” tanya Johan.


“ikan nila” jawab pak Abdi.


“pas banget. teman teman pak Abdi juga bisa ikut. Asal pak Abdi tau, di danau desa ku itu, semua jenis ikan tawar itu ada dan ukurannya sudah jauh dari ekspetasi. Kalian bisa memancing disana” jawab Johan.


“danau? Apa itu tidak apa apa?” tanya pak Abdi.


“tenang saja. Aku adalah cucu dari tetua desa itu. Kalian semua akan ku ijinkan memancing disana. Hanya saja jangan lupa untuk menjaga kebersihan dan tidak terlalu mengeksploitasi danau” tegas Johan.


“kalau begitu, aku baru setuju” jawab pak Abdi.


“nahh gitu dong” jawab Johan begitu senang.


Saat itu pula, mereka berdua pun kembali masuk kedalam ruang tamu dan kembali duduk di sofa. Dengan kata lain, mereka berdua telah membuat kesepakatan bersama. Saat itu pula, Johan memutuskan untuk membantu Callysta untuk belajar memasak dan kemudian barulah pergi ke desanya lagi.


“okelah, aku akan bantuin Callysta di rumah paman Surya. Aku akan bersiap siap dahulu dan kemudian berangkat ke rumah paman Surya” tegas Johan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


Saat itu pula, sang ibunda pun benar benar penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Johan bersama dengan pak Abdi.


“apa syarat dari Johan?” tanya sang ibunda.


“tidak apa apa. Dia bilang kalau dia hanya ingin aku antarkan ke mall terdekat hanya untuk membeli barang. Dia bilang kalau mamahnya tau, mamahnya pasti marah. Maka dari itu, jangan marah karena Johan memang benar benar ingin pergi ke mall untuk beli barang yang dia inginkan” jawab pak Abdi.


“dasar bocah itu. dia pasti akan beli action figure lagi” jelas sang ibunda seraya menggeleng gelengkan kepalanya dan menepuk jidatnya.


Saat itu pula, Johan pun segera keluar dari kamarnya dan kemudian hendak pergi ke rumah paman Surya yang nyatanya tidak terlalu jauh dari sini. Johan dan pak Abdi pun segera berjalan keluar rumah dan kemudian beranjak pergi ke rumah paman Surya untuk membantu Callysta memasak. Mereka berdua meninggalkan sang ibunda dan paman Surya berdua di rumah tersebut.


Pak Abdi pun menyuruh Johan pun masuk kedalam mobilnya. Saat itu pula, mereka berdua beranjak pergi menuju ke rumah paman Surya yang letaknya tidak jauh dari rumahnya itu. hanya berjarak sekitar kurang lebih 10 menit dari sana.


Sesampainya di rumah paman Surya, nyatanya di depan teras rumah paman Surya terdapat 3 motor yang terparkir disana. Alhasil Johan pun memutuskan untuk turun dan menemui Callysta secara langsung dan membiarkan pak Abdi memarkirkan mobilnya di tempat lain.


Johan turun dan kemudian berjalan ke depan rumah paman Surya. Saat itu pula, Johan pun mengetuk pintu rumah paman Surya hendak menemui Callysta secara langsung. Nyatanya Johan mendapati jika saja terdapat Callysta dan teman perempuannya sedang mengobrol dengan begitu seru dan serius.


“permisi” salam Johan seraya mengetuk pintu rumah tersebut.


“lewati mas” jawab teman Callysta kepada Johan yang tengah berdiri di depan rumah.


“ehh? Lewati? Maksudnya?” fikir Johan dalam hati.


“pe-permisi” salam Johan kembali mengetuk pintu rumah tersebut.


“dasar mereka berempat sama sekali tidak memiliki sopan santun. Padahal jelas jelas aku ini seorang tamu tapi mereka malah sibuk mengobrol sendiri. Bahkan mereka tidak melihatku sekalipun” fikir Johan begitu jengkel.


“permisi” ucap Johan mengetuk pintu tersebut kembali.


“lewati mas” jawab Callysta seraya menatap Johan di luar.


“ehh? Jo-Johan? Ini kamu?” tanya Callysta dengan begitu terkejut.


“apa maksudnya kau bilang Lewati tadi?” tanya Johan seraya memasang raut wajah datar.


“aku fikir kamu itu pengamen” jawab Callysta.


“kurang ajar” jawab Johan memasang raut muka jengkel.


“jadi, ada apa kamu kemari?” tanya Callysta berjalan menghampiri Johan di pintu luar.


“sebelumnya aku minta maaf karena sudah mengganggu waktumu dengan teman temanmu. Tapi beberapa saat lalu, aku di suruh oleh papah kamu buat icipin masakan kamu di rumah” jelas Johan.


“ja-jadi, a-apakah enak?” tanya Callysta dengan raut muka sedikit malu.


“masih kurang” jawab Johan.


“jadi, apa kamu kemari buat mengejek makananku!?” tanya Callysta dengan sedikit ngegas.


“saat aku mencicipi masakanmu, aku merasa kalau ada yang kurang. Maka dari itu aku memperbaikinya. Aku pun kasih icip buat papah kamu, pak Abdi dan mamah aku, dan alhasil mereka suka. Papah kamu suruh aku buat kerumah ini. Katanya papah kamu, kamu sekarang mau masakin makanan buat temen temen kamu. Jadi papah kamu suruh aku buat bantu masakin makanan buat kamu” jelas Johan.


“bohong” singkat Callysta.


“ehh? Aku nggak bohong. Aku sekarang bawa masakanmu yang sudah aku coba perbaiki” jawab Johan memberikan beberapa kotak makanan.


“jadi ini masakanku yang tidak enak sudah kamu perbaiki di rumah kamu menjadi enak? Apa aku boleh coba?” tanya Callysta.


“coba aja” jawab Johan.


Saat itu pula, Callysta pun menyuap sup buatannya yang telah Johan perbaiki sebelumnya menggunakan sendok plastik yang telah Johan bawa sebelumnya. Saat itu pula, Callysta benar benar tidak percaya kalau Johan bisa memperbaiki masakannya dengan begitu sempurna.


“i-ini bukan masakanku. Pasti kamu memasak masakan yang baru dan membuang masakan buatanku” ucap Callysta.


“aku tidak memiliki waktu selama itu untuk melakukan hal yang merepotkan seperti itu. Sekarang, apa aku bisa mengajarimu memasak?” tanya Johan.


“tanpa berlama lama lagi, ayoo kita langsung cuuzzz” jawab Callysta seraya menarik paksa lengan tangan Johan dan masuk kedalam rumahnya.


“ehh, tu-tunggu” ujar Johan dengan kondisi tubuh yang tertarik keras.