Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 101, Memburuknya kondisi Johan



Seperti biasa, Johan bermimpi terbangun di satu padang rumput yang begitu luas dengan Greisha yang tengah berdiri di depannya. Dengan raut wajah begitu khawatir, Greisha memandangi Johan yang saat itu sedang berdiri di bawah pohon.


“apa kamu tidak apa apa?” tanya Greisha sedikit khawatir dan panik.


“aku sedang tidak baik baik saja” jawab Johan menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya.


“apa tubuhmu masih sakit?” tanya Greisha.


“kenapa kamu tidak memberitahukan kepadaku kalau Odessa adalah anakmu? Tidak mungkin bagimu untuk melupakan Odessa, anakmu sendiri. Kenapa tidak kau beritahukan semuanya dari awal?” tanya Johan dengan isak tangis air mata.


“maafkan aku, Johan. Aku tidak mengira akan jadi seperti ini” jawab Greisha.,


“jika kamu memberitahukannya dari awal, aku tidak akan pernah mengajak Odessa untuk pergi ke kota dan pastinya aku bisa menyelamatkan pohon Odessa” ucap Johan tidak kuasa menahan tangis air matanya.


“sekali lagi, maafkan aku” jawab Greisha sedikit menundukkan kepalanya.


“apa aku boleh memelukmu?. Aku sudah menganggapmu sebagai ibuku sendiri. Entah kenapa, aku saat ini sangat butuh pelukan” tanya Johan.


“peluklah aku dan ceritakan semua kesedihanmu itu. Disaat kamu menyembunyikan luka di bawah gerimis hujan, kau bisa melampiaskannya di pelukan ibumu ini. Tuangkanlah semua dan berikan semua” jawab Greisha seraya membentangkan kedua lengannya.


Saat itu juga, Johan memeluk tubuh Greisha dengan begitu erat. Johan menangis tersedu sedu di pelukan sang dewi alam. Bagaikan seorang anak kecil yang menangis akibat terjatuh dari sepeda, Johan menangis membasahi pakaian Greisha dengan air matanya itu.


“a-aku tidak ingin kehilangan Odessa. A-aku juga tidak ingin semua ini terjadi. I-ini semua kesalahanku karena aku tidak bisa melindunginya” ucap Johan dengan isak tangis tersedu sedu di pelukan Greisha.


“ini bukan salahmu. Sejak dahulu, manusia merusak alam demi kepentingan mereka. Lebih tepatnya, manusia begitu bergantung dengan alam.” Jawab Greisha.


“kamu benar. Mungkin aku yang tidak cukup kuat untuk menerima semua itu” jawab Johan.


“itu bukan salahmu” ucap Greisha seraya mengelus kepala Johan.


Johan pun melepas pelukannya dan mengusap air matanya yang berlinang di pipinya.


“aku sudah baikan sekarang. Terimakasih sudah anyak menemaniku di dunia mimpi dan menghiburku” ucap Johan sedikit tersenyum.


“tidak apa apa, itu tidak masalah” jawab Greisha.


“aku sudah melampiaskan semua kesedihanku. Dari awal, aku ingin menangis di dalam kamar. Namun sepertinya, jika ada pelukan sang ibu, kurasa itu sedikit lebih hangat dan menenangkan” ucap Johan.


“kalau begitu, aku sudah melampiaskan semuanya. Perasaanku sudah jauh lebih baik. Aku akan kembali” ucap Johan.


“hati hati di dunia dan kembalilah kedunia mimpi jika kau mau. Ibumu ini akan selalu menyambutmu” ucap Greisha.


“terimakasih banyak” jawab Johan.


Saat itu pula, Johan menggigit telapak tangan kirinya sendiri dan membuat Johan terbangun dari tidurnya. Saat itu, Johan sedang berada di dalam mobil ambulans dan dalam kondisi terbaring lemah. Johan terbaring di dalam mobil ambulans bersama dengan Farel dan Adam.


Johan menyadari kalau dirinya sedang rebahan di dalam mobil, namun Johan saat itu tidak sadar kalau dirinya sedang berada di dalam mobil ambulans. Dibelakang mobil ambulans, diikuti oleh mobil polisi yang dibawa oleh paman Surya. Kedua mobil itu membunyikan sirine di sepanjang jalan itu.


“Odessa, dimana Odessa?” tanya Johan.


“Johan? Kenapa kau sudah siuman?” tanya Adam begitu terkejut.


“ehh? Sudah bangun? Cepet banget” ucap Farel.


“dimana Odessa?” tanya Johan.


“kau terlalu memaksakan diri” jawab Adam.


“jadi begitu” ucap Johan seraya menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan kanannya.


“aku turut berdua cita atas Odessa” ucap Adam.


“tidak apa apa” jawab Johan dengan suara isak tangisnya.


“Adam dan aku sudah bertukar informasi mengenai Odessa Ai. Dan kita sudah memberitahukannya kepada paman Surya dan juga pak Abdi” ucap Farel.


“kenapa kau menyembunyikan semua ini? kalau kita semua tau, aku bisa membantu” ucap Farel.


“berisik kalian berdua” tegas Johan dengan suara begitu berat.


“maaf” jawab Farel.


Perjalanan mereka hanya sebatas mengantarkan Johan pergi ke rumahsakit terdekat di desa itu. Mau tidak mau, Johan harus dirawwat seceparnya untuk menghentikan pendarahan dan mengeluarkan peluru yang masih menancap di dalam darah dagingnya itu. Pada akhirnya, Johan pun dibawa ke rumah sakit Waluyo Marsudi yang letaknya sedikit agak jauh dari desa. Johan dibawa ke ruang Instalagi Gawat Darurat untuk mendapatkan perawatan secepatnya.


Sementara Johan dirawat di ruangan itu, paman Surya, Farel dan Adam duduk di ruang tunggu untuk menantikan penjelasan dari para perawat. 30 menit berlalu, pada akhirnya para perawat pun keluar dari ruangannya.


“bagaimana kondisi Johan?” tanya paman Surya.


“untuk saat ini, ananda Johan masih belum bisa bangun dan sadar. Kita sudah berusaha untuk menutup lukanya, namun itu hanya sementara. Kita juga sudah membius Johan agar Johan tidak merasakan sakit. Kita mencoba memberi beberapa obat tidur untuk memaksanya beristirahat. Kami akan melakukan operasi untuk ananda Johan, dan kita membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga” jawab sang perawat.


“saya adalah papahnya, dan saya akan bertanggungjawab” tegas paman Surya.


“kalau begitu, kita akan melakukan operasi secepatnya. Silahkan untuk ayahanda dari ananda Johan untuk mengurus surat persetujuan di ruang administrasi. Kita akan memindahkan Johan ke rumahsakit untuk segera dioperasi” jawab sang perawat.


“kalau boleh tau, dimana letak rumahsakit yang akan mengoperasi Johan?” tanya Adam.


“Johan akan dioperasi di rumahsakit Anwar Saiful, di tengah kota” jawab sang perawat.


“itu lebih dekat dengan rumah” sahut Farel.


“kalau begitu, saya akan mengurus surat suratnya” jawab paman Surya seraya berjalan ke ruang administrasi.


“baik” jawab sang perawat tersebut.


Mobil ambulans pun keluar dari garasi untuk menjemput Johan dan akan memindahkan Johan ke rumahsakit tengah kota. Mobil ambulans Johan diikuti oleh mobil polisi yang dibawa oleh paman Surya itu. Adam dan Farel pun ikut dalam mobil polisi yang sedang dibawa oleh paman Surya.


Pak abdi yang saat itu sedang bersama dengan atasan kantornya pun meminta ijin karena ada urusan yang begitu mendadak. Saat pak Abdi mendengar jika Johan sedang akan dioperasi, pak Abdi begitu terkejut. saat itu pula hati pak Abdi begitu gelisah dan merasa bersalah. Pak Abdi meminta ijin kepada atasannya untuk melihat anaknya yang sedang di operasi di rumah sakit. Maka dari itu, sang atasan pun memilih untuk mengijinkannya.


Pak abdi seketika menjemput sang ibunda Johan dirumahnya menggunakan mobil. Spontan sang ibunda pun mengunci pintu rumah dan pagar. Sang ibunda masuk kedalam mobil milik pak Abdi dan kemudian beranjak pergi menuju ke rumah sakit tempat dimana Johan sedang dioperasi.


Sesampainya mereka berdua di rumah sakit, mereka berdua memarkirkan mobil tersebut di parkiran luar karena saat itu, parkiran bawah tanah begitu penuh. Mereka berdua menemui paman Surya yang berada di ruang tunggu depan ruang operasi.


Mereka berlima pun akhirnya berkumpul di satu tempat yang sama. Paman Surya, pak Abdi dan ibunda melihat ada Farel dan Adam yang saat itu sedang ikut bersama dengan paman Surya.


“apa yang terjadi dengan Johan? Kenapa nak Farel juga ikut? Dan ini siapa?” tanya sang ibunda.


“ini adalah Adam Abraham. Dia adalah teman Johan” jawab Farel.


“Teman Johan?” tanya sang ibunda begitu terkejut.


“sebelumnya, saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Mungkin saya sudah sedikit terkenal di berita karena saya melakukan hal gila, tapi saya tidak seperti apa yang diceritakan di berita itu” jawab Adam.


“kita sudah mendengar beritamu” jawab pak Abdi.


“kalau begitu,aku dan Farel akan menceritakan semuanya dengan lengkap kepada kalian bertiga. Kita berdua sudah mengetahui semuanya. Semua yang disembunyikan oleh Johan kepada kalian semua. Ini adalah alasan mengapa Johan sampai terluka seperti ini” jawab Adam.


“ceritakan semuanya” jawab sang ibunda.


Pada akhirnya, Farel dan Adam membeberkan semuanya kepada pak Abdi, paman Surya dan sang ibunda dengan begitu jelas. Dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menceritakan semuanya kepada mereka bertiga.


Selama kurang lebih 15 menit mereka bercerita panjang lebar, pada akhirnya mereka semua paham dengan apa yang mereka ceritakan. Mereka tau betul apa yang mereka maksud dan mereka tau benar apa yang Johan lakukan. Dimulai dari pertemuan pertama Odessa dan Johan sampai Johan mengetahui jika Odessa adalah roh pohon.


“ini semua salahku karena akulah orang yang selalu mengantarkan Johan pergi ke desa” sahut pak Abdi.


“siapapun juga tidak akan bisa menolak jika itu yang Johan inginkan” jawab paman Surya.


“untung saja, saat itu Adam menelfon Farel dengan segera dan Farel menelfonku. Kalau Adam tidak menelfon Farel dan Farel tidak menelfonku, mungkin Johan akan tergeletak sendirian di hutan itu sekarang ini” jawab paman Surya.


Tidak lama setelah itu, terdapat telfon dari ponsel paman Surya. Saat paman Surya membuka ponselnya, dia melihat kalau anaknya, Callysta lah yang sedang menelfonnya.


“halo, ada apa nak?” tanya paman Surya.


“papah sekarang ada dimana?” tanya Callysta.


“lagi di rumah sakit” jawab paman Surya.


“apa papah mau ambil obat lagi? bukannya kemarin hari baru saja ambil obat” tanya balik Callysta.


“Johan sedang dirawat” jawab paman Surya.


“hah? Johan? Ada apa dengannya?’ tanya Callysta begitu terkejut.


“Johan sedang sakit” jawab paman Surya.


“kalau begitu, apa aku harus kesana?” tanya Callysta.


“tidak perlu. Kamu besok harus sekolah” tegas paman Surya.


“sebentar saja, pah” ucap Callysta dengan nada begitu memohon.


“tidak boleh, kamu dirumah aja. besok setelah sekolah, kamu boleh kemari dan menjenguknya” tegas paman Surya kepada anaknya.


“ya-yaudah deh iya. Papah cepet pulang. Callysta udah masakin makanan buat papah” ucap Callysta.


“i-iya, aku akan makan masakanmu” jawab paman Surya.


“buset, aku harus memakan racun itu lagi” fikir paman Surya dengan begitu keringat dingin.


Paman surya kemudian mematikan telfonnya dan meletakkan ponselnya kenbali di kantong saku celananya. Sesaat setelah itu, barulah para perawat keluar dari ruang operasi seraya mendorong kasur berjalan yang diatasnya terdapat Johan yang sedang terbaring tidak berdaya. Disaat mereka melihat Johan yang tengah tidak sadarkan diri di kasur itu, mereka melihat Johan yang sedikit melirih kesakitan dan dengan wajah yang begitu pucat.


“apa Johan akan baik baik saja?” tanya sang ibunda dengan begitu khawatir.


“tanang saja ibu, Johan hanya tidak sadarkan diri hanya karena obat bius. Selama itu, Johan tidak akan merasakan sakit. Johan akan terbangun seperti semula saat obat biusnya sudah habis dan tidak bekerja lagi” jawab seorang perawat disna.


“tapi kenapa wajah Johan begitu pucat?” tanya paman Surya.


“itu karena Johan terlalu banyak kehilangan darah. Kita sudah mengeluarkan peluru dari dalam tubuh Johan. Jumlah banyaknya peluru adalah 3 butir. Kita juga sudah menutup luka secara menyeluruh. Butuh pemulihan kurang lebih 1 minggu. Dan selama itu, Johan harus di rawat inap di rumah sakit ini hingga Johan mampu menggerakkan kedua kakinya untuk berjalan” jelas perawat itu.


“apa Johan akan tidur disini?” tanya Farel.


“iya benar” jawab sang perawat.


“apa Johan sudah bisa dikunjungi?” tanya Adam.


“untuk saat ini, larangan bagi para penjenguk untuk menjenguk Johan masih berlaku. Namun untuk esok hari, kemungkinan besar Johan akan tersadar dan terbangun, dan saat itu juga kalian semua boleh menjenguk. Kalian bisa meninggalkan rumah sakit ini sekarang” jawab sang perawat.


“dimana kamar milik Johan?” tanya sang ibunda.


“Johan akan dirawat di lantai 2 nomer 29” jawab sang perawat itu.


“kalau begitu, terimakasih banyak atas bantuannya” ucap pak Abdi.


“sama sama bapak. Kita pergi dulu, permisi” ucap para perawat itu berjalan membawa Johan menuju ke lantai atas.


“baik” jawab sang ibunda.


Pertemuan singkat antara sang ibunda dan Johan itu hanya berlangsung sebentar. Hanya untuk semenit saja, sang ibunda bisa bernafas dengan lega karena Johan baik baik saja. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing masing. Pak Abdi mengantarkan Adam dan Farel kerumah mereka masing masing sementara paman Surya mengantarkan sang ibunda untuk pulang kerumahnya.