
“ja-jadi, aku akan membersihkannya” ucap Emilia seraya mengambil baskom air hangat yang tergeletak di lantai.
“sebentar, biar aku lihat seberapa panas airnya. Aku akan mencelupkan tanganku kedalamnya” ucap Johan.
“i-iya” ujar Emilia memberikan baskom air hangatnya itu.
Sesaat setelah itu, Johan menyelupkan tangannya kedalam baskom tersebut dan merasa bahwa air di dalam baskom tersebut tidak begitu panas. Alhasil, Johan pun menyuruh Emilia agar merebus air di kompor agar air yang dihasilkan benar benar panas.
“ini masih terlalu dingin” ucap Johan.
“tapi, ini sudah cukup” ucap Emilia.
“memang ini bisa membersihkan darah yang mengering, tapi jika menggunakan air yang seperti ini, sisa sisa dari darahnya akan lengket di kulit. Lagipula ini juga tidak cocok untuk luka karena takutnya tidak bersih dan tidak higienis karena memakai pemanas otomatis dari kamar mandi” ucap Johan.
“sekarang, aku minta tolong rebus air di dapur saja. Karena jika kau mengambil air di kamar mandi yang sudah di panaskan, itu masih belum cukup panas” ucap Johan.
“ba-baiklah. aku akan merebus air sebentar. Tunggu dulu” ucap Emilia bergegas menuju ke dapur rumah tersebut.
Lima menit berlalu, nyatanya air rebusan Emilia pun sudah mendidih. Emilia menuangkannya ke wadah baskom yang lebih besar dan kemudian menambahkan sedikit air di dalamnya. Selepas itu, Emilia pun membawa baskom tersebut menuju ke dalam kamar Johan.
Saat Emilia membuka pintu kamar, nyatanya Emilia benar benar terkejut akan Johan yang saat itu tengah berdiri di depan cermin seraya mengenakan kaus hitam dan celana panjang hitam. Saat itu pula Johan juga sudah membereskan selimut serta spray ranjangnya yang terkena darah sebelumnya.
Emilia juga mendapati kalau tangan kiri Johan juga sudah bersih dengan perban yang baru. Semuanya telah Johan lakukan sendiri tanpa adanya bantuan dari seseorang. Melihat hal itu, Emilia begitu terkejut akan Johan yang melakukan semua itu seorang diri.
“a-apa kau melakukannya sendiri?” tanya Emilia.
“ma-maaf, aku tidak bisa menyuruhmu melakukannya” jawab Johan tersenyum tulus.
“tapi kau bilang? Airnya?” tanya Emilia.
“sudah, itu lupakan. Aku sudah mandi di kamar mandi. Dan semua anggota tubuhku akhirnya bersih. Aku juga sudah meletakkan spray dan selimut yang terkena darahku sendiri itu ke dalam keranjang pakaian kotor dan kemudian memasang kembali spray dan selimut yang baru. Aku juga sudah kembali segar karena sehabis mandi, jadi bisa dibilang tubuhku sekarang sudah baik baik saja. Hanya saja tangan kiriku yang masih nyeri karena luka. Maka dari itu, aku harus makan dan minum obat” jelas Johan.
“kau melakukannya sendiri?” tanya Emilia.
“iya, aku sendiri. Aku membalut tangan kiriku menggunakan perban di kotak P3K dirumah ini. Aku tidak tau apakah ini perban yang sama tapi yang pasti ini bisa menutup luka” jawab Johan.
“dan juga, aku tidak bisa menyuruhmu untuk melakukan hal seperti itu. Aku tidak akan menyuruhmu untuk mengganti spray dan membersihkan tubuhku. Aku tidak bisa merepotkanmu” ucap Johan dengan sedkit tawanya.
“oh, okelah kalau begitu. Aku mau meletakkan baskom ini ke dapur” ucap Emilia.
Emilia pun berjalan menuju ke dapur hendak membuang air rebusannya itu di wastafel. Sebelum membuangnya, Emilia menambahkan air dingin kedalamnya agar air yang terbuang tidak terlalu panas saat mengalir melewati pipa pembuangan air. Sembari membuang air tersebut, Emilia tidak kunjung henti untuk memikirkan tentang Johan yang terlalu memaksakan dirinya hanya demi Emilia seorang.
“apa yang kupikirkan? Dia sudah bisa melakukannya sendiri, kenapa aku juga harus sedih karena aku tidak bisa membantunya?” fikir Emilia dalam hati.
“tapi jujur, ini adalah kesempatan yang langka dimana aku dan Johan hanya berada di satu kamar dan bisa berduaan di dalam kamar itu. Tapi Johan lebih memilih untuk melakukannya seorang diri” fikir Emilia seraya membuang air rebusannya itu di wastafel dapur.
“aku tidak tau, antara aku harus senang atau sedih. Antara bangga atau kecewa” fikir Emilia dalam hati.
Seketika saat itu pula, Johan pun datang ke dapur dengan membawa bungkusan nasi goreng sisa teman temannya itu. Johan berniat untuk mengimprovisasi rasa dari nasi goreng tersebut agar rasanya sedikit lebih masuk akal.
“ehh? Johan? Ada apa?” tanya Emilia.
“tidak apa. Aku hanya menghangatkan nasi goreng ini” jawab Johan seraya menyiapkan wajan dan menyalakan api kompor.
“kalau begitu, aku akan bantu” ucap Emilia.
“tidak usah, aku bisa sendiri kok” sahut Johan.
“dan terulang lagi” fikir Emilia dalam hati.
Johan pun seketika memasukkan nasi goreng tersebut ke dalam wajan dan kemudian mengaduknya dengan lihai. Johan menambahkan beberapa bumbu tambahan agar rasanya semakin nikmat.
“wahh, kamu jago juga ya?” ucap Emilia.
“kalau hanya memanaskan nasi goreng, jangan menggunakan api terlalu besar. Walaupun nasi goreng tidak akan bisa gosong, namun nasi nya akan kembali sedikit menggumpal dengan bumbu yang saling lengket. Maka dari itu, kalau ingin hanya menghangatkan, gunakan saja api kecil agar bumbu yang ada di dalam nasi goreng ini tidak terlalu asin dan lengket” ucap Johan.
“jadi, kenapa kamu malah menggunakan api besar?” tanya Emilia.
“karena sebelumnya, Nyoman sudah meletakkan terlalu banyak kecap, maka dari itu nasi yang ada di dalamnya akan saling lengket. Saat itu juga aku ingin memasaknya dengan adukkan ekstrim dengan tambahan bumbu bubuk lainnya” ucap Johan.
“adukkan ekstrim? Apa itu?” tanya Emilia.
“itu adalah metode mengaduk dengan cepat dan kuat agar masakan tidak lengket satu sama lain” ucap Johan.
Saat itu pula Johan mengaduk nasi goreng dengan begitu cepat dan kuat. Johan memegang gagang wajan menggunakan kain lap dan kemudian mengaduk nasi tersebut dengan begitu lihai. Selepas itu, Johan menambahkan beberapa bumbu lainnya di dalam nasi goreng tersebut.
“dikarekan adanya kecap yang sudah melekat di setiap bulir nasi, maka dari itu kita harus mengaduknya begitu rata. Kalau tidak, akan ada bagian yang terlalu asin dan ada pula bagian yang kurang asin” ucap Johan.
“ternyata kamu juga bisa masak ya” ujar Emilia.
“itu bukan seberapa jika di bandingkan dengan nasi goreng yang dahulu sempat kamu bawa kerumah” ucap Johan.
“mungkin aku akan memberi sedikit minyak agar tidak terlalu lengket dan tidak terlalu menggumpal” jelas Johan.
Setelah semua itu, Johan menyajikannya di satu piring. Melihat porsinya, mereka benar benar terkejut akan banyaknya nasi goreng tersebut. Pasalnya jika mereka melihat di dalam wajan, mereka melihat jika porsinya hanyalah sebuah porsi biasa pada umumnya. Namun saat Johan menuangkannya ke atas piring, barulah porsi tersebut terlihat begitu membunuh pemakannya.
“padahal kita tadi melihatnya sangat sedikit” ucap Emilia.
“kalau begitu, ayo kita makan bersama” ajak Johan.
“ehh? Aku baru saja makan, jadi aku masih kenyang” ucap Emilia.
“tidak apa, setidaknya coba makan sesuap” ucap Johan.
“iya juga, aku juga penasaran bagaimana rasa nasi goreng yang kau buat” jawab Emilia.
Saat itu juga, Johan pun membawa piring berisi nasi goreng tersebut ke dalam kamarnya dan meletakkannya di tikar tempat duduk semua teman temannya itu. Saat itu juga Johan mengambil dua sendok bersih di sana dan kemudian memakan nasi goreng tersebut bersama dengan Emilia.
Suapan pertama Emilia, nyatanya dia benar benar amat luar biasa terkagum akan rasa nasi goreng dengan bumbu yang biasa saja. Saat Johan menyuapnya, Johan pun merasakan hal yang sama. Nasi goreng itu benar benar luar biasa enak. Mereka berdua pun memakannya hingga tak tersisa sebulirpun.
“aaahhhhh, kenyang banget. Perutku hampir meletus” ucap Johan seraya memegangi perutnya.
“iya, aku juga. Kenyang banget” ujar Emilia dengan memegang perutnya sendiri.
“hey Johan, kok aku sedikit mual ya?” tanya Emilia.
“mungkin kamu terlalu banyak makan nasi” jawab Johan.
“tapi entah kenapa perutku seperti berbunyi aneh” ucap Emilia.
“benarkah?” tanya Johan.
“coba saja pegang sendiri perutku” ucap Emilia.
“mana liat” ucap Johan benar benar terheran dan kebingungan.
Secara kebetulan sekali, Nyoman bersama dengan Jehian bertemu dengan Farel dan juga Kahfi. Mereka berempat ketemuan di depan rumah Johan. Melihat itu, mereka semua pun memarkir sepeda motor mereka dan kemudian memasuki rumah.
Mereka berempat pun kemudian menuju ke lantai atas dimana mereka hendak menuju ke kamar Johan. Saat mereka berempat membuka pintu kamar dengan begitu perlahan hingga tidak menimbulkan suara sama sekali, mereka pun membuka pintu kamar Johan dengan begitu lebar.
Saat itu pula, mereka melihat Johan dan Emilia yang melakukan hal yang aneh. Johan dan Emilia sama sekali tidak menyadari jika teman temannya sudah berada di belakang mereka.
“iya, benar. Seperti suara perut yang bergerak gerak” ucap Johan seraya memegangi perut Emilia.
“benarkan? Aku juga sedikit merasa mual” ucap Emilia.
“bisa gawat, apa aku terlalu banyak memasukkan itu?” tanya Johan benar benar panik.
“tidak, itu tidak apa kok. Malah semakin banyak kamu memasukkannya, semakin enak juga” jawab Emilia.
Mendengar pembicaraan Emilia dan Johan saat itu, teman temannya pun seketika melongo terheran dan terkejut bukan main. Pasalnya mereka berfikir yang tidak tidak saat mereka keluar. Mereka semua berfikir yang negatif saat Emilia dan Johan berduaan di dalam kamar.
Sesaat setelah itu, Kahfi dengan tidak sengaja menjatuhkan kaleng minuman soda yang telah ia beli sebelumnya. Mendengar hal itu, Emilia dan Johan pun begitu terkejut dan spontan menoleh ke arah belakang mereka. Emilia dan Johan pun melihat raut muka teman temannya yang begitu menyimpan amarah dengan begitu banyak pertanyaan yang membanjiri otak mereka.
“ehh? Kalian semua sudah balik” ucap Johan dengan senyuman hangatnya
“apa kalian sudah balik dari tadi? Kok kita berdua tidak mendengar kalian membuka pintu?” tanya Emilia.
“da-dasar mesum. Kau sudah jauh melampaui kami, Johan. Aku sebagai temanmu merasa bangga memiliki teman yang keperjakaannya sudah lenyap” ucap Jehian memasang raut muka bangga.
“hah? perjaka?” tanya Johan begitu heran.
“HAAAAHHH! KA-KALIAN SALAH FAHAMM‼” teriak Johan begitu terkejut dan panik.
“itu bukan seperti yang kalian fikirkan” teriak Johan.
“iya, kan? Emilia?” tanya Johan.
“ehh? Ada apa? Aku tidak faham sama sekali” ucap Emilia dengan begitu polosnya.
“tuhkan, kalian lihat sendiri. Emilia masih belum tau apa apa” ucap Johan dengan berteriak keras.
“tenang dulu, kenapa kau harus berteriak? Dibawa santai saja” ujar Nyoman.
“itu karena aku benar benar tidak melakukannya” teriak Johan.
“tapi, apa maksudnya perut Emilia berbunyi dan Emilia yang sedikit mual?” tanya Kahfi memasang raut muka yang memancarkan aura membunuh.
2 menit kemudian…
“ohh, jadi begitu. Jadi Emilia tidak sempat untuk membersihkan tubuh Johan dan saat Johan sudah terlanjur sudah mandi” ucap Farel seraya menganggukkan kepalanya.
“padahal saat itu aku ingin bantu Johan untuk membersihkan tubuhnya. Tapi sepertinya Johan sudah bisa melakukannya sendiri” ucap Emilia.
“emm, jadi begitu. Aku jadi penasaran bagaimana rasanya nasi gorengmu itu” ucap Nyoman.
“sayangnya sudah habiiisss” ucap Johan sedikit tertawa.
Saat itu, mereka duduk di tikar dengan posisi melingkar. Saat itu, mereka pun kembali lagi dengan topik pembicaraan yang benar benar random dan acak. Dimana hal itu sangat wajar di lakukan oleh para sahabat yang sedang berkumpul. Mereka mengobrol seperti biasa sembari memakan kue dan minuman yang telah Nyoman dan Jehian beli diluar.