
“okelah, sekarang bantu aku buat ambil futon yang jatuh di bawah. Selepas itu, aku akan mengajari kalian cara untuk memasang futon di kamarku. Masing masing dari kalian membawa satu Futon termasuk Kahfi. Aku sudah menyiapkan masing masing futon untuk kalian semua” ucap Johan.
“ehh? Aku juga? kok aku ikutan? Pokoknya aku mau pulang” ucap Kahfi seraya memalingkan pandangannya.
“apa kau yakin akan melakukan itu? kunci rumahnya sekarang ada di mamah dan mamah sekarang sedang keluar kota bersama dengan papah. Jadi mamah menyuruhku untuk menginap di rumah Johan. Kalau kau masih bersih keras untuk pulang kerumah, apa kau mau tidur di teras rumah?” tanya Emilia kepada Kahfi.
“aaaaahhhhh, itu tidaak adill!” teriak Kahfi dengan nada begitu kesal.
Terpaksa Kahfi pun ikut mengambil futon yang tergeletak jatuh di dasar tangga. Satu persatu dari mereka pun mengambil futon mereka masing masing dan membawanya menuju ke dalam kamar.
“ihh, be-beratt” ucap Emilia berusaha mengangat futon yang masih tergeletak di bawah.
“tenang aja, kamu akan tidur di kasurku. Aku yang akan tidur di futon. Jadi, Siapkan saja kasurmu sendiri. Aku yang akan membawa futonku sendiri” jelas Johan seraya mengangkat futon itu.
“eh? Tapi kan-“ ucap Emilia terhenti.
“Cepat siapkan kasur tidurmu itu di kamar atas” sahut Johan dengan mengangkat futonnya ke pundak kirinya.
“oh-okelah” jawab Emilia segera berjalan ke lantai atas dan memasuki kamar.
Mereka pun masing masing membawa sebuah futon yang memang dibagikan oleh mereka masing masing 1 buah. Masing masing orang membawa satu futon meerka dan membawanya ke lantai atas dan kedalam kamar Johan.
Sesampainya mereka semua di dalam kamar, Johan segera mempraktekan cara mengedar dan menyiapkan futon dengan baik dan benar. Semua teman temannya pun segera mempraktekkan dengan baik apa yang di jelasakan oleh Johan saat itu pula.
“sudah jadi” ucap Johan dengan hasil yang sempurna.
“yaaaahhhh, aku juga sudah jadi” teriak Nyoman dengan begitu semangat.
“aku juga sudahhhhhh” teriak Farel menunjukkan futonnya.
“syukurlah, aku juga sudah bisa” ucap Kahfi menunjukkan futon miliknya pula.
“ternyata tidak terlalu susah, hanya mengedar seperti biasa” ucap Jehian.
“sepertinya seru” ucap Emilia sembari duduk di atas kasur.
“emm, ini sebenarnya tidak terlalu tebal. Maka dari itu, saat malam ini akan sedikit dingin. Nanti malam, jika kalian akan tidur, kalian harus menggunakan kaus kaki. Dan juga, ini tidak terlalu empuk, tapi tidak membuat punggung kalian sakit kok” ucap Johan.
“santai saja, itu sudah lebih dari cukup. Dan juga kita hanya melihat futon di anime dan tidak pernah merasakannya langsung. Kali ini, kita akan mencobanya” ucap Jehian.
“terserah kalian. Dikarenakan kalian sudah bisa memasang futon sendiri, jadi nanti malam aku tidak harus mengajari kalian lagi” ucap Johan.
“hah? memangnya nanti malam kau mau kemana?” tanya Kahfi.
“ti-tidak itu tidak penting. Sekarang yang penting adalah, sekarang masih jam 4 sore dan kalian sudah mengedar futon. Sekarang masih waktunya bersenang senang” ucap Johan.
“kau benar juga, ini masih waktunya bersenang senang” jawab Emilia.
“kalau begitu, aku akan membeli snack dan minuman soda lagi” ucap Kahfi.
“aku ikut” sahut Jehian.
“gaskan hayyuk” jawab Kahfi.
Mereka berdua pun seketika keluar kamar dan kemudian hendak menuju ke supermarket berniat membeli snack serta minuman soda. Sembali menunggu mereka kembali dari supermarket, Nyoman, Farel dan Johan pun kembali melipat futon mereka dan kemudian merapihkan kamar Johan.
Setelah beberapa saat mereka menunggu, pada akhirnya Jehian dan Kahfi pun kembali dengan sekantong kresek besar berisi penuh dengan snack dan minuman bersoda. Tidak lupa juga kalau mereka membawa laptop milik Jehian dan LCD Proyektor milik Emilia yang dibawa oleh Kahfi di dalam kotak besar.
“ehh? Apa yang kau bawa itu?” tanya Nyoman.
“KENAPA KAU MALAH MEMBAWA LCD PROYEKTORKU ITU? APA KAU MELEPASNYA DARI KAMARKU!? Tanya Emilia dengan aura membunuh kepada adiknya sendiri.
“ti-tidak apa apa kan? Lagipula kita juga akan menginap di rumah Johan” ucap Kahfi.
“iya juga sih, kita akan menginap semalaman di rumah Johan. Mungkin kita juga butuh benda itu. yaudahlaah, pokoknya besok pagi, kau harus memasangnya kembali kedalam kamarku. Harus dipasang! Paham‼!” jawab Emilia.
“apa itu?” tanya Johan.
“ini akan sangat memudahkan kita untuk menonton film. Kita akan membesarkan layar kita disini agar seolah olah kita sedang menonton bioskop” ucap Kahfi.
“waahh hebat” sahut Farel.
“tapi aku tidak punya laptop” ucap Johan.
“santai saja, aku sudah membawa laptop. Jadi kita hanya akan menikmatinya malam ini” ucap Jehian.
“mantap” sahut Nyoman.
“kita bakal party malam ini” sahut Farel.
“ini pasti bakal seru” ucap Emilia.
“iya, ini pasti bakal seru” ucap Johan.
Seketika saat itu pula, Farel dan Nyoman mengedar karpet, Emilia dan Kahfi menyiapkan Proyektornya, Johan menutup jendela dan gorden sementara Jehian menypiapkan laptopnya. Selepas itu semua, sesaat setelah laptop menyala di layar proyektor, mereka memutuskan untuk menonton film horror.
“ehh, jangan film horror dong” ucap Farel sedikit ketakutan.
“tenang aja, ini tidak ada adegan jumpscare nya kok” ucap Jehian.
“tapi tetap aja ini film horror” ucap Farel.
“udah, gapapa. Ini pasti seru” ucap Kahfi.
“jangan lupa buka sncak nya di kantong kresek putih” ucap Jehian.
“soda ku mana?” tanya Emilia.
“jangan lupa di buang di tempatnya” sahut Johan.
Mereka benar benar menikmati keseluruhan film tersebut terkecuali Farel yang saat itu seringkali memalingkan pandangannya dengan sibuk bermain hp. Bagaimanapun juga, Farel benar benar penakut jika sudah berurusan dengan yang namanya hantu. Sampai pada akhirnya, film seri pertama mereka sudah tamat sampai jam 5 sore.
“akhirnya sudah abis” ucap Emilia dengan hembusan nafas leganya.
“seru banget parah” ucap Kahfi.
“tenang saja, ini masih seri pertama, aku ppunya 3 seri lagi. Kita akan party malam ini” ucap Jehian dengan senyum jahatnya.
“boleh juga” ucap Nyoman.
“apa kalian udah gila? Itu udah bener bener serem dan kalian masih ingin lanjut? Dasar otak udang” ucap Farel dengan begitu ketakutan.
“ehh? Memangnya kenapa?” tanya Emilia.
“kalian tau sendiri kalau aku tidak akan bisa tidur kalau aku habis menonton film horror” ucap Farel.
“kalau begitu, kau akan tidur di futon tengah” ucap Jehian.
“itu tidak berpengaruh. Bagaimana kalau kakiku di tarik oleh hantu rumah ini?” tanya Farel dengan begitu parno.
“tidak apa, mungkin kau hanya kehilangan satu kakimu. Kan masih ada satu kaki yang lain” ucap Johan diikuti taw semua temannya.
“bener bener jahat” ucap Farel dengan memasang raut muka memelas.
“tidak apa, sebentar lagi juga malam. Kalau kita menonton dua seri lagi, kita akan menamatkan film ini. Malam ini juga kita akan menamatkannya. Kalau kau ikut menamatkan film ini bersama sama, aku janji akan memberikan contekan ulangan minggu depan untukmu” ucap Jehian dengan begitu sumringah.
“emm, yaudahlah, aku ikut. Tapi kau harus memberikanku contekan remidialku minggu depan, apalagi buat Emilia. Aku ingin Emilia membantuku mengatasi semua remedialku” ucap Farel dengan sedikit terpaksa.
“apa boleh buat” jawab Emilia.
Saat itu pula, mereka semua pun segera menyetel film seri kedua dari seri sebelumnya yang telah mereka tonton. Nyatanya film tersebut berdurasi kurang lebih 2 jam. Saat itu, mereka menonton seri kedua di jam 5 sore dan berakhir di jam 7 malam. Farel benar benar menggigil ketakutan disepnajang film tersebut diputar.
“kalian benar benar algojo” teriak Farel dengan begitu sedih.
“tenang saja, kita akan istrirahat sebentar. Mataku juga lelah karena melihat cahaya ini begitu lama” jawab Emilia.
“sama, mataku juga” ucap Nyoman.
“apa kalian tidak ingin mandi?” tanya Johan.
“benar juga, mungkin kita akan sedikit lebih segar” ucap Jehian.
“kalau begitu, kalian mandi dahulu. Aku ingin mengumpulkan jiwa jiwaku yang telah menghilang” ucap Farel seraya menidurkan tubuhnya di kasur Emilia.
“terserahmu” jawab Nyoman.
Saat itu, satu persatu dari mereka mandi di kamar mandi secara bergantian dan hanya Farel seorang diri di dalam kamar Johan. Saat itu, lampu kamar Johan sudah menyala dan hanya menyisakan Farel seorang diri di dalam kamar sementara semua teman temannya sedang berada di lantai bawah.
“mereka semua benar benar berani, aku tidak tau bagaimana kalau aku benar benar masuk kedalam film itu dan kemudian menghadapi hantu biarawati di sana? Mungkin aku lebih memilih untuk berlari dengan secepat cepatnya dan kemudian bersembunyi di restoran tengah kota yang ramai akan orang. Mungkin aku akan sedikit lebih aman disana” ucap Farel seraya mengusap mukanya.
“ehh? Apa aku sendirian di kamar ini?” tanya Farel seketika beranjak dari kasur tersebut dan melihat sekitar.
“kira kira mereka semua ada dimana?” tanya Farel bertanya tanya.
Farel pun seketika berjalan membuka pintu kamar dan kemudian berjalan keluar kamar. Selepas itu, Farel menuruni tangga dan mendapati jika semua teman temannya sedang duduk santai di sofa ruang tengah. Saat itu, mereka sedang berbincang seperti biasa dengan dalam keadaan pintu depan terbuka agar angin malam mendinginkan suasana di dalam rumah tersebut.
“kok kalian ada disini?” tanya Farel.
“gapapa, cuma pengen ganti suasana” jawab Jehian.
“kok aku laper yah” ucap Kahfi.
“sama, aku juga” ucap Nyoman.
“padahal kalian berdua yang paling banyak makan snack tadi” ucap Jehian.
“tapi itu cuma snack dan bukan nasi. Mana mungkin kita bisa kenyang gara gara makan snack? Manusia spesies mana yang bisa kenyang hanya makan itu?” tanya balik Nyoman.
“kalo begitu, gimana kalo kita masak sendiri? kalian yang beli bahan bahannya sementara aku dan Emilia yang masak” ucap Kahfi.
“ehh? Asal kalian tau, masakan Johan luar biasa mantap, apalagi saat memperbaiki nasi goreng milik Nyoman tadi siang” jelas Emilia.
“jadi Johan juga bisa masak ya, okelah biar Johan aja yang masak, aku biar ikut sama kalian buat beli bahan bahannya” ucap Kahfi.
“tunggu dulu, aku sama sekali tidak bisa masak. Nasi goreng milik Nyoman memang sudah enak dari awal, aku hanya menghangatkannya” ucap Johan.
“jangan merendah seperti itu, kau tidak pantas untuk berbohong” ucap Nyoman dengan tawa meremeh.
“tapi kan, nasi goreng punya Nyoman memang udah enak dari awal, aku cuma kasih beberapa bumbu doang. Suer, aku gabisa masak” ucap Johan seraya mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.
“jangan ngadi ngadi, aku tau kalau kau itu bisa masak. Kita akan membeli bahan bahannya. Barulah kau yang akan memasaknya” sahut Emilia.
“huufftt, i-iyadeh iya” jawab Johan dengan nada terpaksa dan pasrah.
Selepas itu, semua teman teman Johan terkecuali Emilia pun membeli bahan makanan yang akan mereka makan nantinya. Sementara, di dapur hanya ada Johan dan Emilia seorang.
“ahhhh, aku ngantuk” ucap Johan menguap lebar.
“Bantu aku masak dan jangan males malesan!” tegas Emilia.
“kamu kan bisa sendiri” ucap Johan dengan begitu santainya.
“aku gatau harus masak apa” ucap Emilia.
“kalau begitu, lebih baik masak sup hangat, lagipula ada tahu dan jamur di kulkas. Kita juga butuh telur dan beberapa kaldu” ucap Johan.
“naahh, kan kamu tau bahan bahannya. Sekarang kamu harus ajari aku masak” sahut Emilia.
“buset aku keceplosan” gumam Johan seraya menutup mulutnya.
“dahlah apa boleh buat” ucap Johan dengan begitu pasrah.
Johan pun segera memakai celemek masak milik papahnya dan juga Johan memasangkan celemek masak untuk Emilia milik ibundanya. Sesaat setelah itu, Johan menyiapkan semua bahan bahannya yang ada di rumahnya ke atas meja sembari menunggu bahan masakan mereka datang.
Johan saat itu hanya menyuruh Emilia dalam melakukan pekerjaannya. Bagaimanapun juga, Johan benar benar sangat malas jika di suruh untuk memasak di rumah. Johan lebih suka membeli makanan dari luar dan memakannya seorang diri di dalam kamarnya daripada memasaknya bersama dan memakannya bersama di meja makan.